Kaliabu Menuju Desa Wisata Mitigasi Bencana

IMG_8453Sleman – Dalam mengantisipasi dan meminimalisasi ancaman bencana , warga masyarakat dusun Kaliabu, Banyuraden, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengadakan pelatihan water rescue dan pengoprasionalan perahu alumunium, Minggu (1/3).

Ketua Bulan Sabit Merah Indonesia, Bambang SE menyampaikan tujuan pelatihan water rescue adalah mengembangkan kesadaran bersama, mencoba menyiapkan rintisan tim water rescue, dan mendukung sosialisasi rintisan desa siaga bencana di kaliabu.

Humas Media Desa Banyuraden,Aryo Tejo menyampaikan pelatihan water rescue dan pengoperasian perahu alumuniaum berkerjasama dengan BSMI , PKPU, Thetrekkers serta Amega 91.9 FM. Selain diikuti warga Kaliabu, terdapat teman-teman dari berbagi komunitas yang ada di Yogyakarta.

Berawal dari kegiatan pembersihan sampah di sungai bedog dengan menggunakan perahu sampah pinjaman dari Thetrekkers Jogja oleh Komunitas Bedog Lestari (KBL). Muncul ide untuk berlatih tentang water rescue serta pengoprasionalan perahu almunium, tambah Aryo Tejo. Pelatihan water rescue dan pengoprasionalan perahu almunium ini sudah kedua kalinya dilaksanakan. Untuk pelatihan water rescue yang kedua ini, dihadiri oleh Komandan Kompi C 403 Kapten. Rajiko dan Kepala Desa Banyuraden Sudarisman.

Pada sambutan pembukaan pelatihan, Sudarisman menyampaikan bahwa Pemerintah Desa Banyuraden akan mendukung Komunitas Bedog Lestari untuk mewujudkan Kaliabu menjadi Desa Wisata Mitigasi Bencana. Sedangkan Komandan Kompi C 403, Kapten. Rajikoakan siap bersama warga masyarakat untuk bersama-sama menyiapkan diri dalam menghadapi bencana air maupun darat.

Disampaikan pula oleh Ketua KBL, Iskandar bahwa pihaknya siap jika ada rombongan yang ingin berkunjung ke Kaliabu untuk belajar bagaimana menolong orang yang yang terbawa arus.




250 Mahasiswi Ikuti Tari Pendet Massal

IMG_8339Sleman – Umat Hindu di Yogyakarta memperingati Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 di Komplek Candi Prambanan, Sleman, Minggu (1/3). Peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 dimeriahkan dengan Tari Pendet Masal. Sebanyak 250 Mahasiswi lintas agama dari berbagai universitas di Yogyakarta menari Tari Pendet secara masal.

Selain Tari Pendet Masal, diselenggarakan pula lomba Angklung dan Musik Kreatif yang diikuti oleh musisi jalanan sebanyak 16 peserta, dan lomba melukis yang diikuti oleh 70 anak anak sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA.

Sekretaris Umum peringatan Nyepi Tahun Baru Saka 1937, I Wayan Ordiyasa menyampaikan, peringatan Nyepi tahun ini secara nasional dipusatkan di Yogyakarta sehingga terasa istimewa tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Rangkaian kegiatan peringatan Hari Raya Nyepi tahun ini meliputi melasti atau labuhan, tawur kesanga, catur beratha dan Santi.

Acara labuhan akan dilaksanakan pada tanggal 5 Maret  di  Pantai Ngobaran, dan pada tanggal 15 Maret labuhan diselenggarakan di Pantai Parangkusumo, Bantul.  Untuk penyelenggaraan Tawur Agung Kesangga akan dilaksanakan di Candi Prambanan pada tanggal 20 Maret 2015.




40 Persen Kawasan Kumuh Ada di Depok

Sleman – Kasi Perumahan Swadaya Bidang Perumahan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Achmad Subhan mengungkapkan terdapat 45 kawasan kumuh yang tersebar di enam kecamatan. Sebanyak 40 persen di antaranya berada di wilayah Kecamatan Depok lantaran memiliki 18 kawasan kumuh.

“Enam kecamatan yang memiliki kawasan kumuh adalah Depok, Mlati, Gamping, Ngemplak, Ngaglik, dan Godean. Depok paling banyak kawasan kumuhnya karena di sana memang padat penduduknya,” ujar Subhan, Minggu (1/3).

Tahun ini, pemerintah berencana melakukan penataan terhadap 10 kawasan kumuh terlebih dahulu. Kecamatan Depok mendapatkan prioritas sehingga sebanyak enam kawasan kumuh di antaranya berada di wilayah tersebut.

“Dana yang dibutuhkan akan digelontorkan baik dari pemerintah pusat, propinsi, maupun kabupaten. Misalnya untuk membenahi jalannya yang jelek, kondisi drainasenya kurang bagus, atau bagaimana instalasi pengelolaan air limbahnya,” kata Subhan menerangkan.

Subhan menambahkan baru empat wilayah kecamatan yang kawasan kumuhnya akan ditata pada tahun 2015. Di antaranya adalah Kecamatan Depok, Mlati, Gamping, dan Ngaglik.

“Ini kami masih menunggu bagaimana kelanjutannya dari pemerintah pusat,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Depok Budiharjo mengaku wilayahnya memang bisa dibilang paling padat dibanding kecamatan lain.

“Kepadatan penduduk di Depok memang sangat tinggi sehingga kebutuhan akan pemukiman juga lebih besar. Hal ini yang memicu adanya beberapa kawasan kumuh,” ungkap Budi. Budi mengatakan masalah penataan kawasan kumuh telah ditangani DPUP Sleman dan pihak terkait lain.

 “Konsultan juga sudah mulai sosialisasi kepada masyarakat untuk pemetaan dan perencanaan pelaksanaan program ini,” kata mantan Camat Gamping itu.

Budi berharap, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam proses sosialisasi tersebut.

“Supaya tepat sasaran dan sesuai kebutuhan, masyarakat bisa membantu dengan menyebutkan apa kebutuhannya kepada tim di lapangan,” ucapnya menambahkan.




2014, Angka Kemiskinan di Sleman Turun

Sleman – Angka kemiskinan di Kabupaten Sleman mengalami penurunan di tahun 2014. Dari data yang diperoleh dari Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) Kabupaten Sleman, tercatat kepala keluarga (KK) yang tergolong miskin. 

“Jumlah tersebut berasal dari total keseluruhan KK di wilayah Sleman yang berjumlah ,” kata Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu SS MHum, Minggu (1/3).

Dijelaskan Yuni bahwa jumlah keluarga miskin tersebut mengalami penurunan. Sebelumnya pada tahun 2013, dari KK di Sleman, terdapat KK miskin.

“Secara presentase di tahun 2014 setidaknya ada 11,85 persen keluarga miskin, dan jumlah tersebut mengalami penurunan dimana tahun sebelumnya ada 13,89 persen,” kata Yuni.

Menurut Yuni, data-data tersebut adalah buah kerja keras Tim Penanggulangan Kemiskinan (TPK) yang keberadaannya sampai wilayah pedukuhan dan mendata setiap warganya yang tergolong miskin. Sebelumnya pemerintahan melalui Kementrian Sosial telah menunjuk Kabupaten Sleman sebagai pilot project pengentasan kemiskinan.

Hal tersebut dikarenakan TPK yang bekerja sampai tingkat bawah dapat mendapatkan hasil yang lebih valid.

“Ini merupakan terobosan dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat seperti LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa), PKK (Pembinaan Kesejahteraan Kelurga), hingga karang taruna,” tutur Yuni.

Yuni juga menilai anggota dan tokoh masyarakat desa yang tergabung dalam TPK akan dapat lebih mudah mengenali warganya yang miskin, dan melakukan pendataan secara akurat melalui Sistem Rujukan Terpadu (SRT) yang dikerjakan secara online.

Yuni juga mengakui angka penurunan pada tahun 2014 terbilang masih sedikit, akan tetapi Yuni tetap berharap dari keterlibatan TPK yang selama ini aktif di desa, dapat mengurangi angka kemiskinan secara signifikan.

“Selama ini penurunannya sedikit-sedikit, harapannya kedepan kami dapat mengentaskan angka kemiskinan lebih banyak lagi,” tutur Yuni.




Try Out UN SMK se-DIY Serentak 2-4 Maret

Sleman – Menghadapi Ujian Nasional (UN) April 2015 mendatang, semua SMK se-DIY dibawah koordinasi Pengurus Kelompok Kerja Kepala Sekolah Kejuruan (KKKSK) DIY akan melaksanakan penjajakan/uji coba (try out) UN secara serentak 2-4 Maret 2015. Mata pelajaran yang diuji cobakan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris.Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah Kejuruan (KKKSK) DIY, Drs Eka Setiadi MPd mengatakan, penjajakan UN yang diikuti 211 SMK atau sebanyak siswa se-DIY ini dimaksudkan agar para siswa siap dan sukses menghadapi UN.

“Kami berharap, dengan adanya try out sebelum UN ini nantinya hasil ujian siswa akan lebih baik dari Tatun-tahun sebelumnya,” katanya   di SMKN 1 Depok Sleman, kemarin.

Menurutnya, soal penjajakan UN disiapkan oleh Tim Penyusun soal yang terdiri dari guru-guru terpilih yang sebelumnya telah mengadakan workshop untuk penyusunan butir soal. Adapun soal penjajakan UN SMK se-DIY disiapkan mendekati soal UN yang sesungguhnya. Sebab disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Soal disiapkan dalam dua paket yang sama sekali berbeda. Ini dimaksudkan untuk mengurangi kesempatan siswa bekerja sama dengan peserta penjajakan lain,” imbuhnya.

Dengan adanya try out UN diharapkan siswa menjadi lebih siap dan percaya diri sehingga terhindar dari perilaku tidak jujur atau berbuat curang. Rasa percaya diri menghadapi UN akan membuat para siswa tidak mudah tergoda oleh oknum yang ingin memanfaatkan momentum UN ini misalnya dengan menawarkan kunci jawaban UN.

Menurut Eka, DIY yang selama ini dikenalpelaksanaan UN nya paling baik tentu harus ditingkatkan lagi.

“Dalam waktu satu minggu setelah pelaksanaan try out, diharapkan hasilnya sudah dapat diketahui oleh sekolah maupun siswa, sehingga sekolah dan siswa sudah mengetahui sejauh mana kesiapan menghadapi UN yang akan digelar 13-15 April 2015,” kata Eka yang juga sebagai Kepala SMKN 1 Depok.