BLH Sleman Tunggu Hasil Uji Lab Air Sumur yang Tercemar Sampah

Sleman – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sleman masih menunggu hasil uji laboratorium sampel air dari sumur warga yang diduga tercemari sampah TPS liar Sempu. Hal ini menyusul ada keluhan warga yang tinggal tak jauh dari TPS yang baru saja ditutup itu.

Kepala BLH Sleman, Drs Purwanto mengatakan pihaknya sudah mengambil sampel air sumur warga yang diduga tercemari. Selanjutnya pihaknya akan menunggu hasil penelitaan dari laboratorium untuk mengambil tindakan.

“Kami masih menunggu hasil penelitian dari sampel air sumur warga yang tercemar. Saat ini kami fokus pada penanganan sampah yang sudah menumpuk,” katanya saat dihubungi, Minggu (8/3).

BLH Sleman menutup paksa TPS liar tersebut, Kamis (5/3) lalu. BLH menilai keberadaan TPS liar tersebut telah mencemari lingkungan sekitar. Penutupan tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari warga sekitar setelah TPS liar beroperasi bertahun-tahun.

Diduga, tumpukan 12 meter di TPS tersebut telah mencemari rumah warga di radius 200 meter dari lokasi.




ABJ Ngaglik Sudah Tinggi

Sleman – Angka Bebas Jentik(ABJ) di wilayah Kecamatan Ngaglik sudah cukup tingggi dan ini  terjadi di Padukuhan Pedak Sinduharjo Ngagik yaitu 90,l %.

“Hal tersebut sesuai hasil monitoring yang dilakukan di Jumat (6/3) dari 80 KK ,terdapat 8  rumah masih dijumpai adanya jentik baik yang ada di bak mandi, tempat penampungan air, bekas kaleng maupun ban bekas,” kata Hindarti Wilujeng BSc dari Dinkes Sleman terkait pelaksanaan monitoring jentik di Ngaglik dan Depok, Minggu (8/3).

Sedangkan monitoring di  wilayah Depok dikatakan Hindari dari 107 KK ada 23 yang positif ada jentiknya hingga ABJ nya 78,5 %.

“Monitoring  melibatkan berbagai instansi tersebut antara lain Dari Dinkes Sleman sebagai leading Sektor, Polres Sleman, Kodim Sleman, Polsek , Koramil, dan Jumantik masing -masing Kecamatan, Desa dan dusun,” kata Hindari.

Menurut Hindari, dengan rendahnya ABJ tersebut menunjukkan bahwa ancaman DB masih cukup tinggi, untuk itulah peran serta semia pihak  sangaat diperlukan agar target ABJ 95 % bisa tercapai.

Dan rendahnya ABJ tersebut dimungkinkan belum rutinnya masyarakat  menguras tempat  air/bak mandi yang dua kali seminggu, untuk itu masyarakat diharapkan secara rutin menguraas tempat air tersebut. Disamping itu juga banyaknya sampah bisa berupa kaleng bekas, ban bekas maupun pot bunga yang tergenang air, dan itu perlu diwaspadai.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah bekas potongan bambu yang digenangi air,” tambahnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk mengurangi kasus DB perlu digerakkannya jumantik baik yang ada di Kecamatan, Desa maupun dusun . Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa untuk mencapai target AJB tidak harus dengan fogging, karena disamping fogging biayanya cukup tinggi juga kurang efektif, karena yang mati hanya nyamuknya sementara jentiknya tidak. Termasuk justru binatang yang lain bisa mati seperti cicak, padahal cicak adalah predator nyamuk.

Sedangkan Camat Ngaglik Anggoro Aji Sunaryono SH yang memimpin langsung gerakan jumantik tersebut menyampaikan bahwa gerakan Jumantik harus terus ditingkatkan mengingat bahaya yang ditimbulkan bila sesorang terkena DB bisa menimbulkan kematian.

Terkait dengan hal tersebut Anggoro berharap agar masyarakat selalu peduli dengan kebersihan lingkungan. Termasuk adanya barang bekas yang berpotensi untuk genangan air, seperti pot bunga yang ada airnya, ban bekas dan lainnya. Lebih lanjut disampaikan bahwa pada bulan Februari lalu ABJ di padukuhan Pedak masih 60 % tetapi saat ini sudah naik menjadi 90,1 % dan itu perlu dipertahankan bahkan harus ditingkatkan agar target ABJ 95 % bisa tercapai.

“Yang jelas agar kasus serupa pada bulan Februari lalu di pedukuhan Pedak tidak terjadi lagi kasus kematian anak,” kata Anggoro.