Kolaborasi Tari India dan Indonesia

IMG_0389Sleman – Dalam rangka mempererat hubungan dalam bidang kebudayaan antara pemerintah Indonesia dengan Kedutaan Besar India, PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur dan Ratu Boko, gelar pementasan Indian Folk Dance Group ‘Phoolon Ki Holi’ (Holi With Flower) di Ramayana Ballet, Komplek Taman Wisata Candi Prambanan, Sleman, Jumat (13/3)

Wakil Gubernur Yogyakarta Sri Paduka Paku alam IX menyampaikan kerjasama Indonesia dan India sudah terjalin berabad abad lamanya. Indonesia dan India memiliki kedekatan dan kesamaan yaitu sebagai negara demokrasi dan penduduk yang besar.

‘Phoolon Ki Holi’ adalah tarian ritual suci dengan menggunakan taburan ratusan bunga sebagai persembahan kepada para dewata. Phoolon Ki Holi akan menjadi puncak penampilan setelah diawali oleh Tarian Mayur Nritya (Tari Merak) dan Tarian Pethilan Ramayana Prambanan.

Tarian Mayur Nritya dan Phoolon Kali Holi di bawakan oleh Kelompok Tari dari Saqila Art Academy Of Mathura yang dipimpin oleh Pandhit Sharma.




Bupati Lakukan Pemantauan Jentik di Mlati

1303 SLEMAN PANTAU JENTIKSleman – Monitoring jentik yang dilakukan Jumat (13/3) di Pogung Sinduadi  Kecamatan Mlati Sleman  sangat istimewa karena langsung dipimpin oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI. Ikut mendampingi Bupati adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr Mafilindati Nuraini MKes, Camat Mlati Drs Sujudi MM, Kepala Desa Sinduadi  Senin Haryanto. 

Hasil monitoring yang dilakukan di Pogung yang terdiri  Pogung Kidul dari 78 KK yang dikunjungi negatif ada 51 KK dan yang positif ada jentiknya 27  KK hingga ABJ (Angka Bahaya Jentik) hanya 47,05 %, Pogung Rejo dari 52 KK yang dikunjungi 45 diantaranya negatif dan 7 KK positif ada jentiknya hingga ABJ nya 84,44 %, dan di Pogung Dalangan dari 31 KK, 23 KK negatif sedang 8 KK positif ada jentiknya hingga ABJ nya 65,22 %. Secara global maka di tiga TR tersebut yang negatif tidak ada jentiknya 119 KK dan yang positif ada jentiknya 42 KK hingga ABJ nya 64,70 %. Sementara angka bebas jentik minimal 95 %.

Sri Purnomo menyampaikan rendahnya ABJ di Pogung Sinduadi, untuk itu Sri Purnomo minta agar masyarakat peduli untuk menjaga kebersihan lingkungan. Dan yang terpenting untuk menjaga dan selalu menguras bak mandi minimal dua kali seminggu. Karena penyakit Demam Berdarah (DB) yang diserang tidak hanya balita dan anak-anak. Namun yang dewasa bahkan orang tuapun bisa kena DB.

“Karena yang kena saat ini justru yang berusia diatas 40 tahun,” tambah Sri Purnomo.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa kalau ada keluarga yang panas harus curiga kalau itu DB, dengan harapan untuk segera diperiksakan. Untuk itu Sri Purnomo berharap masyarakat selalu waspada dengan segala kemungkinan, termasuk mengamati tidak hanya bak mandi saja, tetapi juga tempat air yang lain seperti kulkas, pot bunga dan ban bekas yang tergenang air termasuk botol-botol yang tidak terpakai agar ditaruh yang benar /ditaruh terbalik.




BNN Sleman Galakkan Penyuluhan Bahaya Narkoba pada Pelajar

Sleman – Generasi muda khususnya pelajar merupakan sasaran yang empuk bagi peredaran narkoba karena pelajar ini masih dalam masa transisi dan maunya mencoba hal-hal yang dianggap baru namun seringkali membahayakan. Untuk itu Badan Narkotila Nasional (BNN) Sleman menggalakan penyuluhan tentang narkoba dan bahayanya bagi pelajar SMP N 2 Kalasan, Jumat (13/3). Penyuluhan ini dilakukan oleh Kepala BNN Sleman, Drs Kuntadi beserta jajarannya.

Menurut Kuntadi penyelenggaraan kegiatan penyuluhan bahaya Narkoba bagi generasi muda khususnya bagi siswa-siswi SMP ini merupakan salah satu upaya dalam memerangi penyalahgunaan narkoba.

“Perang terhadap narkoba perlu terus dilakukan, ini karena masalah narkoba merupakan ancaman serius bagi seluruh warga masyarakat, karena narkoba sudah merambah keseluruh penjuru wilayah Sleman, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, dari perguruan tinggi hingga SD, dari masyarakat biasa hingga kalangan pejabat,” kata Kuntadi.

Melalui penyuluhan ini Kuntadi berharap semua siswa untuk memiliki pengetahuan yang benar tentang narkoba dan bahayanya. Dengan harapan semua siswa dapat lebih waspada untuk tidak terjebak dalam penyalahgunaan narkoba dan membantu teman keluar dari penggunaan narkoba.

 Pelajar sebagai generasi muda, juga harus lebih aktif untuk sejak dini mengetahui bahaya narkoba baik melalui penyuluhan maupun dengan membaca-baca referensi tentang bahaya napza. Perlu diketahui bahwa banyak faktor yang menjadi penyebab penyalahgunaan narkoba, yang pertama adalah faktor diri yaitu diantaranya adalah rasa keingin tahuan yang besar untuk mencoba, untuk bersenang-senang serta untuk bisa diterima dalam satu komunitas.

Sedangkan faktor kedua adalah faktor lingkungan, yaitu di antaranya keluarga yang bermasalah, pergaulan yang salam maupun kurangnya aktifitas/menganggur. Yang terakhir adalah faktor ketersediaan narkoba di lingkungan sekitar. Saat ini akses untuk memperoleh narkoba semakin mudah dengan jenis dan harga narkoba yang sangat beragam. Terlebih lagi masih banyak laboratorium gelap produsen narkoba yang belum terungkap.

“Faktor-faktor tersebutlah yang harus di waspadai,” tutur Kuntadi.

Ditekankan Kuntadi bahwa penyuluhan bagi kalangan siswa-siswi, karena penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda semakin marak. Padahal, efek narkoba dapat merusak kesehatan manusia baik secara fisik, emosi, maupun perilaku pemakainya. Kuntadi juga mengingatkan agar para siswa tidak merokok karena merokok merupakan pintu awal bagi penyalahgunaan narkoba.

Sementara Kepala Sekolah SMP N 2 Kalasan, Nurul Wachidah mengatakan sekolahnya juga telah melakukan kegiatan penyuluhan narkoba maupun kesehatan pada umumnya kepada siswa melalui kader kesehatan remaja di sekolah maupun kegiatan penyuluhan tim UKS tiap hari Jumat. Sekolahnya saat ini ada 18 kelas terdiri dari 587 anak dan saat ini sedang menyiapkan untuk lomba sekolah sehat tingkat nasional sehingga kegiatan penyuluhan ini menjadi point tersendiri untuk menambah wawasan siswa tentang narkoba.

Guru kelas juga senantiasa menyisipkan kegiatan ini di setiap mata pelajaran dengan materi yang mudah dipahami oleh siswa sehingga benar-benar siswa dapat terhindar dari narkoba yang saat ini sedang marak peredarannya dikalangan generasi muda.




Pemkab Sleman Tolak Bayar Rekanan Nakal

Sleman – Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Sleman menolak membayar rekana sisa nilai proyek fisik yang terbengkalai. Pasalnya mangkraknya proyek yang bersumber dari APBD Kabupaten Sleman itu merupakan kesalahan rekanan yang memenangkan tender. Kepala DPKAD Sleman, Rini Murti Lestari mengatakan mangkraknya suatu proyek fisik bukan disebabkan oleh pemerintah. Hal ini lantaran proyek yang diselenggarakan telah dilimpahkan kepada rekanan.

“Jika terjadi masalah dalam pelaksanaannya ada masalah dan proyek tidak terselesaikan, maka tidak akan kami bayar. Karena rekanan tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya,” ungkap Rini, Jumat (13/3).

Hal ini lanjutnya menyusul terdapat dua proyek yang hingga saat ini tak terselesaikan. Yaitu Pasar Sleman dan kantor milik Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sleman. Persoalan setelah kontraktor pemenang tender tak sanggup menyelesaikan volume pekerjaan sesuai spesifikasi yang disepakati. Bahkan dari proyek fisik yang sudah tergarap, ditengarai ada sebagian yang tak sesuai bestek dan spesifikasi.

Menurutnya meski tiap rekanan yang mengerjakan proyek ditunjuk melalui lelang di Uni Layanan Pengadaan (ULP) yang berada dibawah intansinya, namun pihaknya tidak dapat mengatur siapa saja yang bakal menjadi pemenang tender. Hal ini lantaran sistem dijalankan secara komputerisasi sehingga penentuan calon pemenang tender tidak diketahui kompetensinya.

“Hanya yang tidak lengkap syarat adminitrasinya yang akan gugur, demikian aturannya. Sehingga petugas hanya menjalankan apa yang sudah sesuai dengan aturan,” paparnya.




BPBD Sleman Pantau Tebing Opak Yang Rawan Longsor

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman akan memantau tebing Sungai Opak terutama di Dudun Bokesan, Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman karena ada titik yang rawan longsor.

“Daerah Sindumartani memang ada permukiman yang pernah direlokasi karena ada potensi bencana banjir lahar dingin maupun tebing longsor. Namun apakah kondisi saat ini masih rawan atau tidak, akan kami lakukan pemantauan,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Sleman, Heru Saptono, kemarin.

Menurut Heru, wilayah Bokesan, Sindumartani, secara pasti apakah ada pemukiman di tepi sungai yang rawan longsor atau tidak, memang belum diketahuinya.

“Setelah erupsi Merapi 2010, ada relokasi permukiman di sana. Apakah yang rawan longsor itu di tempat yang sama, rumah mereka kembali ditempati atau tidak, kami belum bisa pastikan,” katanya.

Heru menambahkan jika benar warga kembali dari relokasi maka yang bersangkutan akan diajak rembugan bagaimana baiknya nanti.

“Jika memang berpotensi rawan longsor di tebing tepi sungai, kami akan bantu mencari solusi,” tambah Heru.

Heru mengatakan, pihaknya juga siap membantu jika memang nantinya membutuhkan pemasangan “Early Warning System” (EWS) atau sistem peringatan dini, baik untuk banjir lahar dingin atau khusus longsor.

“Kalau EWS khusus longsor memang belum ada yang kami pasang di tepi sungai berhulu Merapi. Selama ini untuk banjir lahar dingin saja,” tutur Heru.

EWS tersebut lanjutnya tersebar di beberapa titik Daerah Aliran Sungai (DAS) berhulu Merapi seperti di Sungai Gendol ada tiga titik, yaitu di Bronggang, Jambon, dan Jaranan. Kemudian, di Opak ada satu, di Kliwang. Sementara, di Sungai Boyong ada empat titik, di Turgo I dan II, Kemiri, dan Pulowatu. BPBD Sleman, ungkap Heru juga dibantu relawan pemantau sungai yang setiap saat melaporkan hasil pantauannya ketika terjadi hujan ataupun aliran di sungai.

Relawan di komunitas Forum Peduli Bumi (FPB) Ngemplak, Sleman mengaku khawatir ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayahnya. Terutama di Bokesan, Sindumartani. Karena di sana ada sekitar lima sampai sepuluh rumah yang posisi bangunannya terlalu dekat dengan tepi Sungai Opak.