14 Padukuhan Trimulyo Sleman Deklarasikan Sanitasi Total

Sleman – Program pembangunan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) desa Trimulyo Sleman secara resmi telah dideklerasikan oleh Kepala Desa Trimulyo Sleman, Suharjono, Spd di Balaidesa Trimulyo Sleman, Sabtu (14/3). Yang mengikuti Deklarasi tersebut semua kepala Dusun se Trimulyo yang jumlahnya 14 Padukuhan. Hadir pada kesempatan tersebut antara lain  Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Muspika Kecamatan Sleman. Deklarasi ditandai dengan pembacaan Ikrar dan penandatanganan bersama komitmen/deklarasi  desa stop BABS oleh semua Kepala Dukuh.

Sri Purnomo pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa memang diakui belum semua rumah tangga mempunyai jamban keluarga  dan masih ada mereka yang buang air besar sembarangan, artinya mereka buang air besar di kolam, dan sungai. Untuk menghilangkan BABS memang peran masyarakat sangat besar, karena itu Sri Purnomo minta agar masyarakat yang sudah mempunyai jamban keluarga untuk memberikan kesempatan kepada keluarga yang belum punya jamban sendiri untuk untuk ikut buang air besar ditempatnya. Hal tersebut salah satu upaya untuk mengurangi BABS.

Disampaikan Sri Purnomo untuk mengurangi BABS maka keluarga yang belum memiliki jamban keluarga sendiri untuk berusaha untuk mewujutkan jamban keluarga agar BABS nantinya bisa dihindarkan. Upaya tersebut sebagai langkah untuk mewujutkan dan meningkatkan derajat kesehatan di Kabupaten Sleman, tanpa peran serta masyarakat maka hal tersebut mustahil terwujut.

Yang juga tidah kalah pentingya menurut Sri Purnomo,  apabila BABS masih terjadi maka bisa jadi setiap buang air besar bisa diintip oleh orang yang iseng bahkan nakal dan itu cukup beresiko. Yang jelas tambah Sri Purnomo bahwa deklarasi tersebut jangan hanya seremonial belaka, namun yang lebih penting adalah tindakan nyata oleh masyarakat untuk menghilangkan BABS tersebut.

Sedangkan Kepala Desa Trimulyo, Suharjono  menyampaikan bahwa kegiatan STBM desa Trimulyo pemicuan dilaksanakan pada tahun 2014 di 14 Dusun, hasil pemicuan STBM tahun 2014 tersebut yaitu warga tidak mempunyai jamban sejumlah 123 KK, warga yang masih buang air besar sembarangan saejumlah 173 KK, sedangkan jumlah warga yang terpicu ingin berubah tidak buang air besar sembarangan sejumnlah 123 KK.




Sleman Miliki Obyek Wisata Baru

Lava Bantal BerbahSleman – Beragam objek wisata baru mulai bermunculan di Kabupaten Sleman. Antara lain bukit Sunrise Sumberwatu Kecamatan Prambanan, situs Lava Bantal Kecamatan Berbah, Monumen Plataran Selomartani Kecamatan Kalasan, Blue Lagoon di Kecamatan Ngemplak dan wisata sepeda di Turi. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman , Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM  mengatakan, munculnya objek wisata baru itu tak lepas dari peran dan kreativitas masyarakat sekitar. 

“Dulu orang tidak peduli dengan situs Lava Bantal. Tapi setelah ditetapkan sebagai situs Geoheritage, kini oleh masyarakat dijadikan obyek wisata,” kata Ayu, Minggu (15/3).

Menurut Ayu, Lava Bantal yang merupakan produk dari gunung api purba tersebut kini mulai ramai dikunjungi wisatawan. Hal itu tak lepas dari peran masyarakat sekitar yang mau mengelola situs tersebut. Selain dikelola, ternyata obyek tersebut juga mampu menjadi sumber perekonomian bagi masyarakat itu, Ayu menjelaskan bukit sunrise Sumberwatu ialah sebuah bukit yang lokasinya tidak jauh dari candi Ratu Boko. Potensi alamnya cukup menarik untuk dikunjungi terlebih saat matahari terbit. Sedangkan Blue Lagoon ialah wisata air yang berada di Desa Widodomartani Ngemplak.

“Tak mau kalah, sebuah desa wisata yang ada di Kecamatan Turi juga menyajikan wahana menarik yakni berpetualang dengan sepeda. Sedangkan monumen plataran ialah monumen peninggalan sejarah perjuangan,” jelasnya.




DBD Masih Jadi Skala Prioritas Penanganan

Sleman – Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes mengatakan bahwa pengendalian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi skala prioritas penanganan di Kabupaten Sleman, karena sudah menyebar di 17 Kecamatan.

Kasus DBD pada tahun 2012 ada 236 , tahun 2013 ada 736 kasus , ada kenaikan 500 kasus (220 %) dengan kematian 4 orang, dan pada tahun 2014 jumlah kasus DBD 538 kasus, hingga ada penurunan 26 % (198 kasus) dengan kematian 4 orang. “Sementara pada tahun 2015 sampai tanggal 11 Maret 2015 ada 205 kasus (Januari 99 kasus, Februari 106 kasus dengan kematian 4 orang),” kata Linda di Sleman, Minggu (15/3).

Lebih lanjut disampaikan Linda bahwa tingginya kenaikan DBD tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya pengaruh iklim (musim penghujan) sehingga banyak genangan air hujan yang potensial menjadi tempat perindukan nyamuk aedes aegypty. Ditambah lagi lanjut Linda dengan perilaku dari masyarakat yang kurang memperhatikan Perilaku hidup Bersih dan Sehat  (PHBS).

Menurut Linda, untuk mengantisipasi lonjakan kasus DBD yang diperkirakan masih akan terjadi sampai dengan bulan April 2015 Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman telah melakukan upaya antara lain membuat surat edaran tentang kewaspadaan dini terhadap KLB DBD kepada Camat dan fasilitas pelayanan kesehatan ( RS, Puskesmas dan Klinik), mengaktifkan tim Pokjanal DBD Kabupaten dan Kecamatan untuk melakukan monitoring dan pemantauan jentik berkala (PJB), melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) 1 Z 24 setelah menerima laporan, meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan gerakaan 3 M (menguras, mengubur, menimbun), pemberian larvasida dan melakukan fogging fokus bila ada indikasi.




25 Embung di Sleman Untuk Konservasi Air

Hemat AirSleman – Berkembangnya pertumbuhan penduduk diikuti dengan pertumbuhan kebutuhan untuk mendukung kehidupan dan penghidupan manusia dimana faktor yang dominan dalam kehidupan manusia yakni kebutuhan air. Di sisi lain potensi sumber daya air dari tahun ke tahun semakin terbatas sehingga untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup manusia baik air baku (minum, mandi, cuci dan lainnya), pertanian, perikanan dan lainnya perlu dilakukan pengaturan dan penghematan sehingga semua kebutuhan dapat terlayani dengan baik. 

Hal itu disampaikan Ir Sapto Winarno MT pada acara Kampanye Hemat Air yang dilaksanakan  di Embung Sendari Tirtoadi Mlati, Sabtu (14/3). Ditambahkan Sapto untuk menjaga keberlanjutan persediaan sumber daya air perlu dilakukan upaya konservasi sumber daya air dengan pembangunan embung, pembuatan sumur resapan, pembuatan biopori, memanen hujan dan lainnya.

Saat ini lanjut Sapto embung yang telah dibangun di Sleman mencapai 25 buah. Yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman 5 embung, Pemerintah Provinsi 12 embung dan Pemerintah Pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak 8 embung.

Dalam acara yang dihadiri oleh Assekda, Camat dan Kades serta kelompok OPPA Se Kabupaten Sleman, juga diadakan saa\rasehan dengan nara sumber dari UGM yakni Prof. DR Ir Sigit Supadmo, Arief Fakultas Pertanian UGM dengan materi hemat air untuk pertanian, DR Ing Ir  Agus Maryono Fakultas Teknik UGM dengan materi hemat air untuk air baku dengan peragaan alat memanen hujan, DR. Ir Heru Hendrayana Fakultas Teknik Geologi UGM dengan materi hemat air untuk penggunaan air tanah, Ir Hardaningsih MSI Fakultas Pertanian  UGM dengan materi hemat air untuk perikanan dan moderator Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak Agus Suprapto Kusmulyono, M

Sementara  Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dalam sambutannya mengatakan betapa penting dan strategisnya air bagi setiap mahluk hidup.  Air bagi kehidupan dan bagi masa depan adalah sangat vital, “sustainability of the life for our Nation”.

“Wilayah  kita yang tergolong beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, mungkin melihat air sebagai hal yang biasa-biasa saja. Namun semakin hari masyarakat semakin menyadari bahwa air bukan saja untuk digarap tetapi juga perlu untuk diselamatkan,” kata Sri Purnomo.

Pemkab Sleman juga senantiasa mengupayakan pengelolaan sumber daya air sesuai dengan tiga pilar utama yang diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yaitu yang pertama adalah konservasi sumber daya air, yang kedua adalah pendayagunaan sumber daya air dan ketiga yaitu pengendalian daya rusak air. Pendayagunaan sumber daya air yang dilakukan melalui pembangunan embung adalah untuk pertanian, perikanan, pariwisata bahkan nantinya dapat dikembangkan menjadi air minum pedesaan.

Namun demikian, tidak boleh ada kelompok masyarakat yang memonopoli Sumber daya air ini karena pada hakekatnya sumber daya air ini adalah milik bersama sehingga semua kepentingan masyarakat harus bisa terpenuhi secara adil dan merata. Kelompok pertanian, perikanan, pengguna air minum pedesaan juga diupayakan untuk duduk bersama dan berembug untuk menggunakan air secukupnya dan berkeadilan bagi semuanya.

Pemborosan terhadap air masih terjadi dimana-mana, baik penggunaan air untuk kepentingan irigasi maupun penggunaan air untuk kepentingan rumah tangga, industri dan jasa. Alangkah baiknya jika para pendidik mengingatkan para anak didiknya, senantiasa mengingatkan mereka untuk bersikap hemat terhadap penggunaan air. Kesadaran seperti itu memang perlu ditumbuhkan sejak dini, agar ketersediaan air tetap terjamin untuk generasi-generasi yang akan datang.

Selanjutnya acara juga ditandai dengan penebaran bibit ikan di embung Sendari dan penaman pohon buah-buahan oleh Bupati Sleman.