Bupati Bakal Lakukan Pendataan Ulang Reklame Liar di Wilayah Sleman

Sleman – Keberadaan reklame yang semrawut di wilayah Kabupaten Sleman menimbulkan berbagai dampak dan masalah. Diantaranya keberadaan papan promosi ini menyisakan sampah visual yang jamak ditemui di jalanan yang ada di Sleman.

Atas kondisi ini Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meminta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk melakukan pendataan ulang terkait keberadaan papan reklamen yang ada di Sleman. Hal tersebut menyusul adanya himbauan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, terkait penertiban reklame yang menjadi sumber masalah sampah visual.

“Atas himbauan ini, kami akan segera melakukan pendataan mana saja yang akan ditertibkan,” kata Sri Purnomo, Selasa (17/3).

Menurutnya, Pemkab sudah mulai mengomunikasikan hal ini kepada beberapa pemilik jasa reklame. Dengan demikian, diharapkan penyedia jasa iklan reklame akan menertibkan sendiri papan iklannya itu.

“Sudah dikomunikasikan, terutama di lokasi yang memang semrawut,” ujarnya.

Kendati demikian, upaya Pemkab ini terpentok dengan wewenang izin penyelenggaraan reklame terutama di jalan-jalan nasional. Padahal lokasi tersebut merupakan hutan reklamen seperti Jalan Solo.

“Untuk izinnya diampu Balai Besar Jalan Raya yang berkantor di Jawa Timur. Jadi adanya reklame itu bukan atas izin Pemkab Sleman, itu sudah di luar kewenangan kami,” katanya menjelaskan.




Bupati Ajak Masyarakat Sadar Keseimbangan Lingkungan dan Beradaptasi Dengan Iklim

Foto Bersama DamkarSleman – Upacara peringatan HUT Pemadam Kebakaran Kabupaten Sleman yang ke-96 di lapangan Pemda Kabupaten Sleman, Selasa (17/3). Sebagai Inspektur Upacara Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI yang  diikuti Pegawai  SKPD se kabupaten Sleman serta anggota Korpri di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman. Dalam kesempatan ini Sri Purnomo  mengatakan Peringatan  HUT Pemadam kebakaran kali ini mengajak semua pihak  untuk sadar akan keseimbangan lingkungan dan pentingnya beradaptasi dengan perubahan iklim. 

“Maka sebagai usaha preventif terhadap berbagai bencana serta kesiapsiagaan untuk meminimalisir jumlah korban,” kata Sri Purnomo.

Upacara  ini  dilakukan menurut Sri Purnomo sebagai salah satu bentuk apresiasi  kepada petugas pemadam kebakaran sekaligus sebagai gerakan seruan kepada masyarakat untuk bersama-sama mencegah kebakaran di pemukiman, kebakaran hutan guna menjaga dan mendukung kualitas ekosistem lingkungan hidup serta perwujudan gerakan penurunan emisi gas rumah kaca di Indonesia.

Bencana dan kebakaran menjadi tanggung jawab Daerah sebagaimana di amanatkan dalam UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan Daerah dan UU Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dimana pencegahan  dan Penanggulangan Kebakaran merupakan urusan concurrent bagi pemerintah dan urusan wajib yang bersifat pelayanan dasar bagi Pemerintah Daerah.

“Melihat tugas dan fungsi serta beban kerja dan tanggung jawab pemadam kebakaran sangatlah patut kita hargai yang setiap hari 24 jam siap siaga memadamkan kebakaran tanpa mengenal hari libur demi penyelamatan korban, tidak hanya korban kebakaran saja namun juga korban banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi maupun bencana lainnya,” tutur Sri Purnomo.

Dikatakan pula perkembangan pembangunan di setiap daerah kecenderungannya diikuti sejumlah masalah diantaranya semakin padatnya kawasan pemukiman yang meningkatkan ancaman kebakaran, serta alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukannya dan pembukaan hutan yang banyak menyebabkan permasalahan lingkungan.

Untuk itu Sri Purnomo  menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan kebakaran dan pengendalian alih fungsi lahan hijau untuk menjaga daya dukung lingkungan.

Pada kesempatan ini atas nama Pemerintah Daerah Sri Purnomo juga mengucapkan selamat ulang tahun ke 96 Pemadam Kebakaran, selamat ulang tahun ke 65 Satpol PP dan satuan perlindungan masyarakat yang ke- 53 serta disertai ucapan terima kasih atas pengabdiannya, semoga diusia yang semakin matang ini Satpol PP dan Satlinmas semakin solid dan profesional dalam mengemban tugasnya serta memberikan perlindungan yang maksimal kepada Masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono menambahkan bahwa jumlah kebakaran di Kabupaten Sleman dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2015,  yaitu pada tahun 2013 jumlah kebakaran mencapai 56 dengan angka kerugian sebesar Rp 6,435 miliar.

Tahun 2014 jumlah kebakaran 84 dengan jumlah kerugian mencapai Rp 4,289 miliar dan uantuk tahun 2015 sampai dengan bulan Februari jumlah kebakaran 16 kasus dengan jumlah kerugian mencapai Rp 1,290 miliar.




Kirab Budaya Ogoh-Ogoh Meriahkan Perayaan Nyepi

Sleman – Dalam rangka memeriahkan Hari Raya Nyepi yang upacaranya  dilaksanakan di komplek Candi Prambanan pada hari Jumat (20/3) mendatang akan diadakan kirab budaya ogoh-ogoh dan kirab lintas agama. Menurut salah satu panitia peringatan Nyepi DIY, Agung Suryahadi kepada wartawan di pres room Humas Sleman, Selasa (17/3) Nyepi akan berlangsung tanggal 21 Maret. Namun berbagai kegiatan dan upacara dilaksanakan pada hari Jumat (20/3) di komplek Candi Prambanan.

“Untuk mendukung peringatan Nyepi ini akan dilaksanakan kirab budaya dengan menampilkan beberapa kelompok kesenian di DIY seperti ogoh-ogoh, barongsai, jatilan, lintas agama, rebana, gunungan dan lainnya,” kata Agung yang didampingi Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dra Endah SW dan Manggala Kirab, I Ketut Idep S.

Dikatakan Agung, tujuan kirab ogoh-ogoh ini adalah mewujudkan toleransi beragama. Dan budaya merupakan satu-satunya untuk menyatukan masyarakat. Kirab ogoh-ogoh yang baru pertama dilaksanakan di Jogja ini direncanakan akan dilaksanakan setiap tahun mengiringi peringatan Hari Raya Nyepi dan akan dijadikan even pariwisata di Jogja sehingga bisa menarik wisatawan dan menjadi sarana promosi wisata di DIY.

“Kalau dibali ogoh-ogoh digambarkan bentuk orang, maka untuk ogoh-ogoh di Jogja ini kami harapkan memiliki ciri khas sendir dan flora fauna menjadi pilihannya,” tambah Agung. Peserta kirab ogoh-ogoh selain dari Kabupaten Sleman, juga dari Bantul dan Kota Yogyakarta.

Ditambahkan Ketut, kirab akan berlangsung dari Kepatihan hingga dititik nol. Namun peserta dari Kabupaten Sleman sebelum menuju ke Kepatihan akan mengatakan perjalanan dari Perempatan Monjali ke arah selatan di Jalan Nyi Condrolukito sampai diperempatan jalan baru, kemudian bersama-sama dengan ogoh-ogoh dari Prambanan bergabung dengan peserta kirab lainnya di Kepatihan.

“Setiap peserta kirab akan mengadakan pertunjukan di depan Gedung Agung selama 4 menit dan kemudian finish di alun-alun Utara. Peserta kirab diperkirakan mencapai 800 an orang yang tergabung dalam 19 kelompok.