40 Mata Air di Sleman Terancam Rusak

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan terdapat sekitar 40 mata air yang terancam rusak di Kabupaten Sleman. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat jika masyarakat tidak peduli dengan kelestarian alam. 

Oleh karena itu Sri Purnomo mengatakan upaya konservasi air sudah mendesak dilakukan. Terlebih, ketersediaan dan kualitas air di Sleman mempengaruhi kondisi air daerah lain di DIY.

Selain memelihara mata air, masyarakat juga perlu melakukan penanaman pohon di kawasan tangkapan air,” kata Sri Purnomo, Minggu (22/3).

Ditambahkan Sri Purnomo, Sleman adalah daerah resapan air bagi DIY karena itu menjaga kelestarian mata air menjadi salah satu kearifan lokal. Menurut Sri Purnomo, langkah yang terlihat sederhana pun bisa memberi pengaruh signifikan bagi ketersediaan air jika dilakukan bersama-sama.

“Misalnya menggiatkan penanaman pohon di pinggir sungai, halaman rumah, atau lokasi lainnya,” tutur Sri Purnomo.

Sementara  total sumber mata air di Kabupaten Sleman mencapai 600 titik. Namun, baru 182 sumber air yang debitnya teridentifikasi dan dimanfaatkan. Hingga tahun 2014 lalu, sumber mata air yang telah dibangun konstruksinya ada 37 buah dan dikelola oleh enam Organisasi Petugas Pengelola Mata Air (OPPMA).




Bupati Terima Penghargaan Ekonomi Kreatif

Sleman – Keberhasilan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Kabupaten Sleman mendapat apresiasi dan penghargaan dari Majalah SINDO Weekly. Penghargaan diberikan oleh Sekjen  Depdagri kepada Bupati Sleman di Hotel Sultan Jakarta bertepatan dengan ulang tahun ke – 3 majalah  SINDO Weekly, Kamis (19/3) malam lalu yang dikemas dalam acara SINDO Weekly Goverment Award 2015.

Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri PPN dan Kepala Bappenas ,Andrinof Caniago, Ketua DPD RI Irman Gusman juga hadir dalam acara tersebut. Sementara itu CEO MNC Group, Hary Tanoesodibjo mengatakan, penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi kepada pemerintah daerah atas peran aktif dalam pembangunan daerah sebagai ujung tombak pembangunan nasional.

“Saya rasa penghargaan ini bisa diambil hikmahnya, semoga kepala daerah akan menjadi besar. Indonesia dapat lebih maju, dan tentu kita akan banggakan bersama,” ujar Hary dalam sambutannya di Grand Ballroom Hotel Sultan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Goverment Award 2015 ini, telah menyediakan penghargaan 17 kategori, seperti, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi kreatif, peduli lingkungan, investasi, layanan publik, pariwisata, perempuan dan anak, tata kelola pemerintahan, keamanan dan toleransi, kreativitas peningkatan PAD, pemuda dan olahraga, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi, UMKM dan koperasi, dan heritage.

Penilaian penghargaan ini dilakukan oleh tim redaksi Sindo Weekly yang diketuai oleh Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Prof Dr Sudarsono Hardjosoekarto. Diawali oleh riset dari berbagai referensi, kemudian tim redaksi menentukan tiga nominator pemenang untuk masing-masing kategori. 

Bupati  Sri Purnomo mengatakan Pemkab Sleman dalam mengembangkan kreativitas masyarakat tidak hanya memfasilitasi peningkatan keterampilan masyarakat tetapi juga telah memfasilitasi kepegurusan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) produk-produk hasil karya masyarakat. 

Selain itu Pemkab Sleman juga memfasilitasi pengenalan produk dengan penyediaan showroom dan kegiatan pameran, memberikan kemudahan permodalan baik dengan dana pemberdayaan, perguliran modal serta menumbuhkan kemitraan dengan pemerintah, pebisnis dan akademisi.




Peredaran Pakaian Bekas Impor Perlu Mendapat Perhatian Serius

Sleman – Maraknya peredaran pakaian bekas impor pada kios-kios di sejumlah ruas jalan di wilayah Sleman  selama ini dinilai perlu mendapat perhatian yang serius. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, dr Sunartono MKes, Minggu (22/3). 

Menurut Sunartono konsumen dari pakaian-pakaian bekas import tersebut tidak dapat terjamin perlindungannya karena pakaian-pakaian tersebut potensial terkontaminasi bakteri, virus, atau jamur dari negara asal.

“Perlu dipahami bersama bahwa pakaian tersebut dinegara asal sudah termasuk dalam kategori limbah,” kata Sunartono.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk melindungi konsumen/masyarakat dari potensi penularan penyakit dari pakaian bekas tersebut Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menganjurkan kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Sleman agar tidak membeli dan menggunakan pakaian bekas asal impor, dan lebih memilih pekaian baru produk dalam negeri. Himbauan tersebut lanjut Sunartono, dimaksudkan untuk menghindarkan dari segala macam penyakit yang mungkin timbul bagi konsumen serta dalam rangka mendukung upaya menjaga harkat dan martabat bangsa.

Sunartono juga mengajak seluruh masyarakat Sleman untuk lebih menghargai dan menggunakan produk dalam negeri sebagai bentuk upaya bersama dalam mengangkat perekonomian daerah dan nasional. Himbauan tersebut disampaikan berdasarkan surat edaran Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan RI Nomor 48/SPK/SD/2/2015 tanggal 11 Pebruari 2015 tentang penanganan pakaian bekas asal impor.

Disamping itu Kementerian Perdagangan RI telah melakukan pengujian terhadap pakaian bekas asal impor yang beredar dipasar, dan dipastikan adanya cemaran bakteri dan jamur patogen yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Ditambahkan Sunartono selain itu himbauan yang dilakukan Pemkab Sleman tersebut  sesuai dengan surat edaran dari  Direktorat Jenderal Standarisasi dan perlindungan Konsumen yang salah satu poinnya menyebutkan bahwa pengujian terhadap 25 contoh pakaian bekas impor yang beredar di pasaran.

Hasil pengujian tersebut disamping  adanya cemaran bekteri dan jamur patogen yaang ditunjukkan oleh parameter pengujian Angka Lempeng Total (ALT) dan kapang pada semua contoh pakaian bekas yang nilainya cukup tinggi. Sedang kandungan mikroba pada pakaian bekas diantaranya memiliki nilai total mikroba sebesar koloni/g  dan kapang sebesar koloni/g.

Yang jelas cemaran mikroba yang sangat tinggi pada pakaian bekas tersebut dapat menimbulkan penyakit yang berawal dari kontak langsung  dengan kulit atau ditransmisikan oleh tangan manusia yang kemudian membawa infeksi masuk lewat mulut, hidung dan mata. Cemaran bakteri dan kapang dapat menyebabkan beragam gangguan kesehatan seperti gatal-gatal, bisul, jerawat, infeksi luka pada kulit manusia, gangguan pencernan bahkan infeksi pada saluran kelamin.




Bupati Resmikan Blue Lagoon di Ngemplak

Wisata AirSleman – Peringatan Hari Air dan Peresmian desa wisata Blue Lagoon ini adalah dua hal yang strategis dalam rangka melakukan upaya konservasi/pelestarian mata air di Kabupaten Sleman. Hal ini dikarenakan menjaga kelestarian mata air yang ada di Sleman bukanlah hal yang mudah dilakukan. Oleh karenanya, diharapkan agar menjaga kelestarian mata air di desa wisata Blue Lagoon ini patut diberikan dukungan sepenuhnya agar menjadi salah satu kearifan lokal di Kabupaten Sleman. 

Hal tersebuit disampaikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI saat peringataan Hari Air Sedunia dan peresmian Desaa wisata Blue Lagoon di Dusun Dalem, Widodomartani Ngemplak, Minggu (22/3). Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa sesuai dengan Tema Peringatan Hari Air Sedunia tahun ini yaitu “Water and Sustainable Development” atau “Air dan Pembangunan Berkelanjutan”, maka  harus mengkampanyekan 3 hal.

Pertama yaitu membangun penurapan, kedua memelihara mata air dan terakhir adalah melakukan penanaman pohon di kawasan tangkapan air. Oleh karena itu menurut Sri Purnomo  desa wisata Blue Lagoon di Wedomartani Ngemplak ini diharapkan untuk benar-benar dijadikan satu ikon konservasi di wilayah ini. Hal ini juga diharapkan dapat memotivasi masyarakat agar senantiasa memiliki kepedulian untuk Untuk itu saya sampaikan apresiasi sebesar-besarnya  karena telah menjalankan amanah bagi kepentingan masyarakat.

Ditambahkan Sri Purnomo bahwa saat ini terdapat sekitar 600 mata air yang tersebar di Kabupaten Sleman. Dari jumlah tersebut  yang dapat teridentifikasi debit mata airnya baru sekitar 182 mata air. Sedangkan jumlah mata air yang terancam yaitu sekitar 40 mata air.

“Jumlah mata air yang terancam tersebut diperkirakan akan meningkat jika kita tidak peduli dengan kelestariannya,” kata Sri Purnomo.

Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo mengajak seluruh warga masyarakat untuk melakukan upaya-upaya yang terlihat sederhana namun memiliki pengaruh yang cukup signifikan bagi ketersediaan air di sekitar kita. Penanaman pohon baik di pinggiran sungai, halaman rumah maupun di lokasi lainnya agar air hujan tidak langsung mengalir ke permukaan tanah perlu semakin digiatkan.

Sedangkan peresmian desa wisata itu sendiri ditandai dengan  pemecahan kendi, penanda tanganan prasasti, pengguntingan pita dan pelepasaan balon  oleh Bupati Sleman. Hadir pada kesempatan tersebut antara lain perwakilan dari Budpar Kabupaten Sleman, Camat Ngemplak Drs Subagyo. Salah satu warga setempat, Andy saat dijumpai saat peresmian menyampaikan bahwa  obyek wisata di Dusun Dalem tersebut setiap hari banyak dikunjungi wisatawan, lebih lebih pada hari libur.

Bahkan menurut Andy pendapatan selama 6 bulan sesuai yang dilaporkan ketua panitia mencapaai Rp 60 juta, hingga satu bulan nya mencapai Rp 10 juta. Untuk mengelola desa wisata tersebut memang masih banyak yang harus dibenahi. Yang jelas wisatawan kalau berkunjung di desa wisata Dalem Widodomartani Ngemplak dijamin akan puas dan senang, terutama mereka yang senang wisata air, karena disaamping airnya yang sangat jernih dan sejuk, fasilitas perahu kecil sudah ada, termasuk beberapa macam kuliner makanan khas pedesaan.