Pemkab Diminta Stop Izin Pembangunan Hotel dan Apartemen Baru

Sleman – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman untuk tidak memproses pengajuan izin pembangunan apartemen maupun hotel. Pasalnya hingga saat ini Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) belum selesai disusun. Wakil Ketua DPRD Sleman, Sofyan Setyo Darmawan mengatakanaturan ini sangat diperlukan dalam pembangunan di daerah. Terlebih dengan adanya RDTR dan perda tentang apartemen dan hotel, pemanfaatan lahan akan lebih teratur.

“Jadi Pemkab jangan hanya menerima dan memproses izin yang masuk. Meskipun di dalam prosesnya ada ketentuan. Aturan ini sebagai kontrol,” kata Sofyan dikantornya, Selasa (24/3).

Menurut Sofyan justru dengan menghentikan proses pengajuan izin hunian modern ini, Pemkab dapat mengontrol alih fungsi lahan di wilayahnya. Hal ini lantaran Pemkab memiliki dasar hukum yang kuat dalam penataan wilayah.

“Mungkin saat ini Sleman diuntungkan dengan banyaknya investasi yang masuk di daerah. Namun jika tidak terkontrol, maka dampak negatif dari pembagunan akan menjadi bumerang bagi Pemkab sendiri,” ungkapnya.

Sofyan menjelaskan dengan adanya RDTR, bukan hanya wilayah pembangunan pemukiman saja yang diatur dengan zonasi, namun di dalamnya juga akan diatur bentuk bangunan yang sesuai dengan zonasinya.

“Tentu akan ada perbedaan kebutuhan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, tidak bisa disamakan. Inilah yang perlu menjadi perhatian agar tidak menimbulkan konflik dengan masyarakat,” tutur Sofyan.




Sleman Targetkan Panen 301 Ribu Ton Padi

Sleman – Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menargetkan panen padi sebesar 301 ribu ton pada 2015. Hal tersebut melihat potensi panen yang besar di Kabupaten Sleman, yaitu mencapai 6,1 ton per hektare.

“Saat ini potensi panen di wilayah pertanian Sleman mencapai  hektar dari hektar lahan pertanian. Dengan rata-rata panen 6,1 ton per hektar, maka potensi panen padi yang didapat pada musim panen kali ini diperkirakan mencapai ,2 ton,” kata Widi di Sleman, Selasa (24/3).

Sementara di Kabupaten Sleman lanjutnya, musim panen padi rata-rata dilakukan hingga tiga kali dan satu kali panen palawija. Menurutnya dengan potensi tersebut, ia optimis target akan tercapai. Terlebih saat ini panen padi di wilayah Sleman sudah di atas target nasional sebesar 5,7 ton per hektar.

“Dengan ini, swasembada pangan di Sleman tetap akan terjaga. Kita sangat perlu mengapresiasi hal ini,” ungkapnya.

Widi menjelaskan besarnya capaian panen padi kali ini tidak dapat lepas dari peran serta petani. Bahkan peningkatan panen hampir terjadi semua daerah pertanian.

“Seperti Kecamatan Tempel, pada saat musim panen tahun lalu hasil rata-rata panen hanya mencapai 5 ton per hektar, namun di musim kali ini bisa meningkar hingga rata-rata 8,8 ton per hektar. Begitu pula Prambanan, yang sebelumnya rata-rata 7 ton per hektar, kini mencapai 9 ton per hektar. Peningkatannya sangat signifikan,” katanya menjelaskan.

Selain peningkatan kuantitas, kata Widi, kualitas hasil panen di musim ini juga meningkat. Hal ini lantaran penerapan sistem tanam terpadu yang dilakukan oleh kelompok petani di setiap daerah.

“Petani di Sleman mulai menyadari pentingnya sistem tanam terpadu seperti tanam jajar legowo hingga pengaturan pengairan yang cukup. Di samping itu, kebutuhan petani akan pupuk juga sudah terpenuhi, sehingga pemupuka dapat dilakukan secara seimbang,” katanya.




Bupati Canangkan DBKS Desa Harjobinangun Pakem

DBKSSleman – Kehadiran Tim Pokja Pembina Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) ini diharapkan dapat memacu semangat warga masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Pakem  untuk lebih aktif dan mandiri dalam melaksanakan program DBKS di wilayahnya. 

Diharapkan pula setelah kegiatan pencanangan  dan sosialisasi ini, program DBKS khususnya di Kabupaten Sleman dapat semakin berjalan lancar dan dinamis. Terlebih lagi, saat ini, banyak tantangan yang dihadapi oleh para pendidik yaitu khususnya guru di sekolah dan orangtua di lingkungan keluarga. Semakin canggihnya teknologi dan luasnya pergaulan anak sangat berpengaruh pada pandangan hidup, kepribadian serta perilaku anak itu sendiri saat mereka beranjak dewasa.

Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman, Drs Sri Purnomo MSI saat menerima Tim Pokja DBKS DIY di Desa Harjobinangun Pakem Sleman, Selasa (24/3) dalam rangka sosialisasi dan pencanangan DBKS. Pencanangan itu sendiri ditandai dengan pembukaan selubung papan nama oleh Bupati Sri Purnomo. Pencanangan sekaligus untuk desa Gayamharjo Kecamatan Prambanan dan Desa Lumbungrejo Kecamatan Tempel, sekaligus penyerahan papan nama.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa pendidikan agama telah diajarkan di sekolah dan lingkungan keluarga, namun yang paling berpengaruh pada anak adalah pendidikan agama yang diberikan di lingkungan keluarga.

“Penanaman pendidikan agama sejak dini dapat mempengaruhi pandangan hidup anak saat mereka telah tumbuh dewasa serta dapat menjadikan pegangan hidup saat mereka bergaul di lingkungan masyarakat yang lebih luas agar tidak mudah terpengaruh oleh perbuatan negatif,” kata Sri Purnomo.

Menurutnya pandangan antropologi keluarga adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal untuk berlindung, mendidik, berkembang, dan lain sebagainya. Inti sebuah keluarga adalah ayah, ibu dan anak. Keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam.

Pemkab Sleman juga senantiasa berupaya agar hal tersebut dapat dilaksanakan di Kabupaten Sleman, baik melalui program DBKS, Kabupaten Layak Anak maupun program lainnya.

“Untuk itu, saya mengharapkan dukungan seluruh kader DBKS dalam upaya membangun keharmonisan keluarga. Para kader DBKS inilah yang menjadi motivator dan penggerak kegiatan di tingkat yang paling bawah guna meningkatkan kualitas keluarga,” tutur Sri Purnomo.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain perwakilan Kantor Kemenag DIY , Kepala Kemenag Kabupaten Sleman  Ludfi Hamid, , Camat Pakem Djoni Suhartono. Sementara itu Kepala Desa Harjobinangun Pakem, Fajar Akbar Kurniawan SE MSi melaporkan bahwa mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu dari jumlah , beragama Kristen 54 orang, dan beragama Katholik 875 orang.

Sedang data pernikahan pada tahun 2014 ada 81 orang, perceraian 6, pernikahan dibawah umur 2, dan pada tahun 2015 terjadi 22 kaali pernikahan, perceraiaan 1 dan pernikahan dibawah umur 1.