Bupati dan Warga Tempel Lakukan Gerakan Membersihkan Irigasi

Kerja BaktiSleman – Warga Padukuhan Jlopo Desa Pondokrejo Kecamatan Tempel Sleman melakukan gotong royong memperbaiki saluran irigasi sepanjang 5 km yang berada disekitar Padukuhan Jlopo, minggu (29/3).

Ikut hadir dan menyemangati sekaligus terjun langsung dalam gotong royong tersebut antara lain Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Sekretaris Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral Aji Wulantoro SH, Kepala Bidang Pengairan Dinas SDAEM Ir Arif Pramana, Kepala Bidang PPSDA H Warsono, Kepala Desa Pondokrejo Tempel Raharja, Ketua P3A Pondokrejo Wunijo Ismail dan Kepala Dusun Jlopo Kasimin.

Kegiatan gotong royong membersihkan saluran irigasi tersebut berlangsung dari pagi hingga siang  meskipun ditengah terik matahari yang menyengat warga dengan antusias melaksanakan kegiatan, termasuk Bupati Sleman. Menurut Sri Purnomo, ia  tetap menyempatkan diri berbaur dengan masyarakat, itu dilakukan semata mata agar kegiatan kegotong royongan dan kerukunan masyarakat selalu dijaga dan ditingkatkan.

Karena itu Sri Purnomo mengajak pada masyarakat setempat agar terus meningkatkan kerjasama dan gotong royong bukan saja dibidang pertanian, namun disegala bidang misalnya siskamling.

“Yang jelas dengan irigasi yang baik dan lancar maka Insya Allah hasil pertanian khususnya padi akan lebih baik,” kata Sri Purnomo.

Tentunya lanjut Sri Purnomo jika sistem pengairannya baik. Kalau sistem pengairannya tidak baik maka hasilnya akan kurang baik, untuk itu agar sistem pengairan dan irigasinya selalu dijaga dengan baik. Meskipun di musim kemarau tetapi kalau sistem pengairan dan pembagiannya baik maka hasilnya juga akan baik.




PN Sleman Belum Menerima Petikan Putusan PK Mary Jane

Sleman – Meski Mahkamah Agung (MA) sudah mengeluarkan putusan menolak permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan terpidana mati Mary Jane Veloso, namun Pengadilan Negeri Sleman masih belum menerima petikan putusan tersebut.

Humas PN Sleman, Marliyus SH kepada wartawan, Jumat (27/3) menjelaskan, hingga Jumat siang, Tata Usaha PN Sleman belum menerima salinan tersebut. Menurut dia, jika salinan  putusan itu sudah diterima, selanjutnya akan disampaikan ke Ketua PN Sleman dan kemudian baru didisposisi untuk disampaikan ke semua pihak yang terkait.

“Kami, PN Sleman yang akan menyampaikan putusan PK dari Mahkamah Agung kepada pemohon PK. Memang itulah prosedurnya,” katanya.

Ia menambahkan, petikan itu pula akan disampaikan ke penasihat hukum dan Kejaksaan. Setelah menerima, ujarnya maka selanjutnya penanganan ada di tangan Jaksa.

Ketika ditanyakan apakah dimungkinan mengajukan PK lagi? Marliyus menjelaskan, pada dasarnya pengajukan PK itu hanya sekali dengan menyampaikan adanya novum atau bukti baru. Karena itu, imbuhnya, bukti baru seperti apa lagi yang dimiliki.

Marliyus juga menambahkan pengajuan PK tidak menunda eksekusi. “Kemarin itu ada pertimbangan karena ini menyangkut hukuman mati, maka kemudian tidak segera dieksekusi,” katanya.

Kapan petikan itu akan diterima PN Sleman? Marliyus juga tidak bisa memprediksi kapan petikan putusan PK dari MA tersebut akan diterima PN Sleman. Sebab lanjutnya  kesemuanya juga terkait dengan waktu pengiriman. Namun  yang jelas, ujarnya, jika PN Sleman sudah menerima, maka akan segera ditempuh prosedur yang selanjutnya.




Dinkes Terus Monitoring Jentik Berkala di Gamping

monitoring jentikSleman – ABJ (Angka Bebas Jentik) baik wilayah Kecamatan Gamping masih tergolong rendah, terutama di Padukuhan Bodeh Desa Ambarketawang Gamping yang hanya 74,10 % padahal sebelumnya 81%. Penurunan tersebut diakibatkan kurangnya pantauan Jentik di Padukuhan tersebut, karena itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman terus lakukan monitoring jentik di wilayah Gamping, Jumat (27/3).

Monitoring yang dilakukan tersebut melibatkan personil dari Polres Sleman , Kodim, Puskesmas Gamping I dan masyarakat setempat. ABJ tersebut berdasarkan pantauan di 112 Rumah di 8 RT, dari 112 rumah tersebut yang positif ada jentiknya 29 rumah. Jentik tersebut terdapat  baik yang ada di bak mandi, tempat penampungan air, bekas kaleng maupun ban bekas.

Sementara  Hindarti Wilujeng BSc dari Dinkes Sleman saat evaluasi menyampaikan bahwa rendahnya ABJ tersebut dimungkinkan belum rutinnya masyarakat  menguras tempat air/bak mandi yang dua kali seminggu, untuk itu masyarakat diharapkan secara rutin menguraas tempat air tersebut. Disamping itu juga banyaknya sampah bisa berupa kaleng bekas, ban bekas maupun pot bunga yang tergenang air, dan itu perlu diwaspadai, dan yang tidak kalah pentingnya adalah bekas potongan bambu yang digenangi air.

Lebih lanjut disampaikan bahwa untuk mengurangi kasus DB perlu digerakkannya jumantik baik yang ada di Kecamatan, Desa maupun dusun . Dan yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa untuk mencapai target AJB tidak harus dengan fogging, karena disamping fogging biayanya cukup tinggi juga kurang efektif, karena yang mati hanya nyamuknya sementara jentiknya tidak.

Sedangkan Sekcam Gamping Lasiman  yang memimpin langsung gerakan jumantik tersebut menyampaikan bahwa gerakan jumantik harus terus ditingkatkan mengingat bahaya yang ditimbulkan bila sesorang terkena DB bisa menimbulkan kematian. Terkait dengan hal tersebut Lasiman berharap agar masyarakat selalu peduli dengan kebersihan lingkungan. Termasuk adanya barang bekas yang berpotensi untuk genangan air, seperti pot bunga yang ada airnya, ban bekas dan lainnya.

Dikatakan Lasiman bahwa kedepan perlunya salah satu dusun sebagai percontohan dusun bebas jentik agar dapat menjadi percontohan dusun yang lain terutama di Desa Ambarketawang.




Perbaikan Gizi Masyarakat Harus Terus Ditingkatkan

Sleman – Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Mafilindati Nuraini  MKes  mengatakan percepatan perbaikan gizi masyarakat yang dilakukan oleh jajaran pemerintah bersama masyarakat harus makin terus ditingkatkan.  Hal ini perlu mengingat Indonesia mengalami masalah gizi yang cukup komplek, dan berdasarkan Global Nutrition tahun 2014 Indonesia masuk di dalam 17 negara di antara 117 negara yang mempunyai ketiga masalah gizi yaitu stunting (tubuh pendek), wasting (tubuh kurus) dan overwight (kegemukan).

“Di Kabupaten Sleman tahun 2014 angka stunting mencapai 12,87 % (DIY 14,32 %). wasting 4,02 % (DIY 3,89%) dan  overweight 5,82 % (DIY 5,84 %),” kata Linda ketika membuka

Seminar Ilmiah Antisipasi dini stunting  menuju bangsa sehat berprestasi di Auditorium MMTC Jogja, Sabtu (28/3). Seminar dalam rangka memperingati hari gizi nasional ke 55 tahun 2015 diikuti sekitar 300 lebih peserta terdiri dari Instansi teknis Pemkab Sleman, Seluruh Nutrisionis Puskesmas di lingkungan Dinas Kesehatan Sleman, dan mahasiswa wakil dari Perguruan Tinggi.

Selanjutnya Linda menjelaskan bahwa kekurangan gizi  pada awal kehidupan berdampak serius terhadap kualitas SDM di masa mendatang, untuk itu ada hal yang harus dilakukan sebagai upaya untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat. Di antaranya dengan memperkuat posyandu yang merupakan kunci suksesnya upaya perbaikan gizi masyarakat dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat yang diperkuat dengan penerapan gizi seimbang baik pada diri sendiri dalam keluarga, maupun di lingkungan masyarakat.

Sementara Miftakhul Jannah selaku ketua Panitia Seminar menghadirkan 3 nara sumber yakni Prof dr Madarina Julia MPH. Ph.D, dengan materi Antisipasi stunting dari aspek Metabolisme, Dr Susetyowati DCN, MKes dengan materi Antisipasi stunting dan aspek Nutrisi, dan Melina Dian Kusumadewi SPsi. MA. Psi dengan materi Menikah dini dengan kejadian stunting.




Penyandang Disabilitas Juga Miliki Pengaruh Besar Dalam Pembangunan di Sleman

Sleman – Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan, Dra Sri Murni Rahayu mengatakan  penyelenggaraan Rapat Kerja Cabang Pengurus Penyandang Desabilitas Indonesia(PPDI ) Kabupaten Sleman merupakan momen yang tepat untuk menyusun langkah dan rencana dalam mengoptimalkan peran PPDI bagi kemajuan dan kehidupan para penyandang Desabilitas di Sleman.

“Penyelenggaraan Rakercab ini juga merupakan kesempatan untuk menyusun program kerja yang mampu mengakomodasi dan memfasilitasi kepentingan para penyandang Desabilitas yang jumlahnya sekitar 6. 361 orang di Sleman saat ini,” kata Sri Murni Rahayu yang mewakili Bupati Sleman ketika membuka Rapat Kerja Cabang Pengurus Desabilitas Indonesia Kabupaten Sleman di Aula Kantor KBPMPP Kabupaten Sleman, Sabtu (28/3).

Dikatakan Sri Murni, para penyandang desabilitas adalah bagian dari masyarakat Sleman yang memiliki hak yang sama. Bahkan penyandang disabilitas ini, juga memberikan pengaruh besar bagi pembangunan dalam mewujudkan masyarakat Sleman yang lebih sejahtera yang merupakan visi Pembangunan Kabupaten Sleman yang ingin di capai.

Untuk itu diharapkan seluruh lembaga sosial kemasyarakatan dan pihak-pihak yang peduli pada para penyandang disabilitas dapat bersinergi untuk memberikan bantuan kepada para difabel. Dengan sinergi tersebut diharapkan dapat bersama-sama menggalang sumber yang ada dilingkungan kita untuk memperlancar kegiatan dan program PPDI yang di lakukan.

Sedang Ketua Penyelenggara, Aliyudin  mengatakan bahwa diadakannya raker cabang Pengurus PPDI Kabupaten Sleman ini agar kedepannya lebih solid, dan sangat berterimakasih sekali dari setiap SKPD Kabupaten Sleman sangat mendukung penuh atas diselenggarakannya raker cabang PPDI Sleman ini dan mudah-mudahan bagi semua anggota dan pengurus akan lebih solid lagi kedepannya dalam mengemban tugas.