6 Sekolah di Sleman Lolos Verifikasi Selenggarakan UN Online

Sleman – Kabid Kurikulum dan Kesiswaan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Sleman, Eri Wirdayana mengatakan dari hasil verifikasi Pustekom Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 6 sekolah yang ditunjuk sebagai penyelenggara UN berbasis CBT dinyatakan lulus. Sekolah penyelenggara tersebutantara lain SMKN 2 Depok, SMK Muhammadiyah Prambanan, SMKN 1 Kalasan, SMKN 1 Seyegan, SMKN 1 Godean, SMK Dirgantara.

“Kami sudah kumpulkan dan sampaikan hasil verifikasi. Selanjutnya sekolah perlu mematangkan persiapan yang sudah dilakukan terutama dalam hal teknis,” kata Eri, Senin (30/3).

Menurutnya hal-hal teknis tersebut meliputi kesiapan dan ketahanan unit komputer yang digunakan non-stop selama tiga sesi dalam sehari. Pihaknya meminta sekolah memastikan peralatan tersebut dapat digunakan optimal.

“Jangan sampai ada masalah saat pelaksanaan UN berlangsung,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia UN SMKN 2 Depok, Sriyana mengatakan melalui sistem baru tersebut, pelaksanaan UN dirasa lebih tertata. Pasalnya semua arsip baik hasil jawaban siswa maupun soal sudah terkelola dalam satu server.

“Dengan demikian inventaritasi lembar jawaban lebih rapi dan aman serta tidak khawatir terselip karena sudah tersistem,” ujarnya.

Guna pelaksanaan yang optimal, Sriyana yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala SMKN 2 Depok bidang kurikulum itu mengatakan intitusinya sudah menyiapkan unit komputer yang terbaik untuk digunakan dalam UN online mendatang.

“Komputer yang disiapkan sudah dioptimalkan, sehingga tidak digunakan untuk praktikum lagi. Namun untuk kebutuhan simulasi dan pelaksanaan UN,” paparnya.




Pemkab Sleman Gandeng TNI/Polri Awasi Distribusi Pupuk

Sleman – Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman menggandeng institusi TNI dan Polri dalam mengawasi proses distribusi pupuk di wilayah setempat. Hal ini dilakukan sebagai jaminan kepada petani terkait ketersediaan pupuk. Kepala DP2K Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan keberadaan pupuk di Sleman bagi sektor pertanian masih dirasa aman. Pasalnya, distribusinya dianggap merata di seluruh wilayah pertanian.

“Sejauh ini belum ada keluhan dari petani terkait distribusi pupuk yang tersendat, dengan demikian dapat dikatakan belum muncul kendala di tingkat petani dalam mendapatkan pupuk,” kata Widi, Senin (30/3).\

Menurutnya demi menjaga kestabilan tersebut, pihaknya menggandeng TNI dan Polri untuk ikut mengawasi proses pendistribusian pupuk hingga ke tingkat petani. Upaya ini untukmenghindari ulah oknum dalam mengambil keuntungan pribadi dengan melakukan penimbunan.

“Upaya penimbunan sangat merugikan, bukan hanya petani namun juga masyarakat. Karena jika petani kesulitan mendapatkan pupuk, maka dikhawatirkan akan berdampak pada hasil panen yang dicapai,” ungkapnya.

Terlebih, kata Widi, tindakan menimbun pupuk sudah masuk dalam pelanggaran hukum. Untuk itu, dengan terlibatnya institusi TNI dan Polri dalam pengawasan distribusi pupuk, diharapkan dapat mencegah hal yang tidak diinginkan.

“Sehingga jika ada pelanggaran, dapat segera ditindak dan tidak membawa dampak bagi petani,” katanya.

Pada musim panen kali ini, DP2K Sleman menargetkan panen padi sebesar 301 ribu ton pada 2015. Hal tersebut melihat potensi panen yang besar di kabupaten ini, yaitu mencapai 6,1 ton per hektar. Saat ini potensi panen di wilayah pertanian Sleman mencapai  hektar dari hektar lahan pertanian.

“Dengan rata-rata panen 6,1 ton per hektar, maka potensi panen padi yang didapat pada musim panen kali ini diperkirakan mencapai ,2 ton,” kata Widi menjelaskan.

Sementara itu, Kapt Armed Karmadi, Pasi Ops Kodim 032 Sleman menyampaikan pihaknya siap membantu dalam pengawasan pendistribusian pupuk kepada petani. Ia mengakui di kalangan petani pupuk terkadang sulit didapatkan.

“Padahal semestinya tidak demikian, karena pendistribusian disesuaikan kebutuhan petani. Namun apabila ada penyimpangan yang diketahui oleh petani, kami berharap peran sertanya sehingga hal ini dapat dicegah,” kata Armed.




Pemkab Terus Tingkatkan Kualitas Sarana Pengairan

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus meningkatkan kualitas sarana pengairan dengan melakukan pembangunan dan pemeliharaan sarana pengairan berupa sungai dan sempadan sungai, bendung, embung, dan daerah irigasi. 

Kualitas bendung dengan kategori sederhana telah ditingkatkan menjadi bendung teknis/ permanen sehingga jumlahnya meningkat dari 954 buah pada tahun 2010 menjadi 959 buah tahun 2014. Secara kualitas kondisi bendung permanen meningkat dari 63,28% menjadi 73,76%.

Demikian antara lain disampaikan Sekretaris DinasSumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman Aji Wulantoro, SH dalam sarasehan peringatan Hari Air se Dunia 2015 di embung Tirtomoyo Pundong III Tirtoadi Mlati Sleman, Senin (30/3). Sarasehan disampaikan oleh 2 nara sumber Prof Dr Ir Sigit Supadmo Arif M Eng. Dan Ir Edi Harmatno MSI, dengan peserta seluruh pengurus P3A se Kabupaten Sleman.

Dikatakan Aji Wulantara saat ini banyak perilaku manusia yang mengancam keberadaan air.  Pencemaran terjadi dimana-mana, tidak terkecuali air irigasi.  Banyak petani yang merasa resah karena pencemaran telah berdampak buruk pada sistem pertanian mereka.

Pencemaran ini terjadi karena banyaknya polutan yang masuk ke areal pertanian melalui jaringan irigasi. Polutan tersebut umumnya berupa limbah industri, limbah pasar, dan juga limbah rumah tangga baik padat (sampah) maupun cair.

“Beberapa waktu yang lalu kita baru saja memperingati Hari Air Sedunia yang mengambil tema yaitu Water and Sustainable Development atau Air dan Pembangunan Berkelanjutan, maka kita harus mengkampanyekan 3 hal. Pertama yaitu membangun penurapan, kedua memelihara mata air dan terakhir adalah melakukan penanaman pohon di kawasan tangkapan air,” kata Aji Wulantara.

Menurutnya Gerakan Irigasi Bersih (GIB) dilakukan karena irigasi memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertanian, dan diwilayah Kabupaten Sleman ini karena pertanian masih menjadi sektor tumpuan di Kabupaten Sleman, masyarakat yang bekerja pada sektor tersebut mencapai 23,56%. Oleh karena itu kegiatan untuk terus perlu melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga irigasi bagi pertanian.

Selain itu masyarakat juga harus memahami bahwa sampah yang dibuang disaluran irigasi akan memiliki dampak yang buruk bagi pertanian, oleh karena itu dengan mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah disaluran irigasi, dan juga mengedukasi masyarakat tentang pemilahan dan manajemen persampahan sehingga sampah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.