Bupati Canangkan DBKS Desa Harjobinangun Pakem

DBKSSleman – Kehadiran Tim Pokja Pembina Desa Binaan Keluarga Sakinah (DBKS) ini diharapkan dapat memacu semangat warga masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Pakem  untuk lebih aktif dan mandiri dalam melaksanakan program DBKS di wilayahnya. 

Diharapkan pula setelah kegiatan pencanangan  dan sosialisasi ini, program DBKS khususnya di Kabupaten Sleman dapat semakin berjalan lancar dan dinamis. Terlebih lagi, saat ini, banyak tantangan yang dihadapi oleh para pendidik yaitu khususnya guru di sekolah dan orangtua di lingkungan keluarga. Semakin canggihnya teknologi dan luasnya pergaulan anak sangat berpengaruh pada pandangan hidup, kepribadian serta perilaku anak itu sendiri saat mereka beranjak dewasa.

Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman, Drs Sri Purnomo MSI saat menerima Tim Pokja DBKS DIY di Desa Harjobinangun Pakem Sleman, Selasa (24/3) dalam rangka sosialisasi dan pencanangan DBKS. Pencanangan itu sendiri ditandai dengan pembukaan selubung papan nama oleh Bupati Sri Purnomo. Pencanangan sekaligus untuk desa Gayamharjo Kecamatan Prambanan dan Desa Lumbungrejo Kecamatan Tempel, sekaligus penyerahan papan nama.

Disampaikan Sri Purnomo bahwa pendidikan agama telah diajarkan di sekolah dan lingkungan keluarga, namun yang paling berpengaruh pada anak adalah pendidikan agama yang diberikan di lingkungan keluarga.

“Penanaman pendidikan agama sejak dini dapat mempengaruhi pandangan hidup anak saat mereka telah tumbuh dewasa serta dapat menjadikan pegangan hidup saat mereka bergaul di lingkungan masyarakat yang lebih luas agar tidak mudah terpengaruh oleh perbuatan negatif,” kata Sri Purnomo.

Menurutnya pandangan antropologi keluarga adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki tempat tinggal untuk berlindung, mendidik, berkembang, dan lain sebagainya. Inti sebuah keluarga adalah ayah, ibu dan anak. Keluarga muslim adalah keluarga yang mendasarkan aktivitasnya pada pembentukan keluarga yang sesuai dengan syariat Islam.

Pemkab Sleman juga senantiasa berupaya agar hal tersebut dapat dilaksanakan di Kabupaten Sleman, baik melalui program DBKS, Kabupaten Layak Anak maupun program lainnya.

“Untuk itu, saya mengharapkan dukungan seluruh kader DBKS dalam upaya membangun keharmonisan keluarga. Para kader DBKS inilah yang menjadi motivator dan penggerak kegiatan di tingkat yang paling bawah guna meningkatkan kualitas keluarga,” tutur Sri Purnomo.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain perwakilan Kantor Kemenag DIY , Kepala Kemenag Kabupaten Sleman  Ludfi Hamid, , Camat Pakem Djoni Suhartono. Sementara itu Kepala Desa Harjobinangun Pakem, Fajar Akbar Kurniawan SE MSi melaporkan bahwa mayoritas penduduknya beragama Islam yaitu dari jumlah , beragama Kristen 54 orang, dan beragama Katholik 875 orang.

Sedang data pernikahan pada tahun 2014 ada 81 orang, perceraian 6, pernikahan dibawah umur 2, dan pada tahun 2015 terjadi 22 kaali pernikahan, perceraiaan 1 dan pernikahan dibawah umur 1.




Padi di Sleman Diserang Neck Blast

Sleman – Meski bukan hama wereng, petani di Dusun Karongan, Jogotirto, Berbah, Sleman juga mengeluhkan adanya penyakit yang menyerang sebagian tanaman padi saat memasuki masa panen. Meski demikian, akibat yang ditimbulkan masih dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil panen.

“Namanya neck blast. Itu karena pengaruh hujan yang turun di siang hari. Di sini pakai urea jadi tidak begitu banyak. Neck blast di padi organik malah lebih banyak,” ungkap Siswanto, Ketua Kelompok Tani Sedyo Maju di Dusun Karongan Berbah, kemarin.

Sebenarnya, penyakit neck blast sudah diantisipasi dengan penggunaan pupuk yang seimbang. Jarak tanamnya pun sudah diatur agar tidak terlalu berdekatan.

“Fungsinya supaya tidak lembab. Dengan pola tanam jajar legowo atau tajarwo, akan ada udara yang masuk. Itu akan mengurangi kemungkinan munculnya neck blast,” papar Siswanto. Meski demikian, faktor cuaca tetap berada di luar kendali petani.

“Dari bawah itu tanamannya utuh, tapi sampai atas jadi coklat dan kering. Kalau padinya sudah tua memang tidak apa-apa. Kalau masih muda, yang bisa jadi kosong dan mengurangi jumlah bulir padinya,” kata Siswanto.

Sementara menurut Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, Ir Widi Sutikno MSi, penyakit neck blast memang wajar dialami tanaman padi pada musim hujan.

“Kondisi hujan begini memang berpengaruh. Bagian yang terserang itu bagian leher mulainya,” tutur Widi.

Neck blast juga dikenal dengan penyakit potong leher. Namun, menurut Widi, penyakit itu tidak terlalu mengancam persentase hasil panen.

“Jumlah padi atau wilayah yang terserang juga tidak banyak,” katanya menambahkan.




Pengembang Hotel dan Apartemen Harus Gunakan Air PDAM

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan munculnya penolakan atas pembangunan hotel dan apartemen di wilayah Sleman, menjadi perhatiannya. Sebab mayoritas penolakan yang muncul lantaran kekhawatiran akan gangguan lingkungan yang terjadi akibat pembangunan hotel maupun apartemen. 

Penolakan pembangunan aparteman yang sampaikan oleh warga Gadingan, Sinduharjo, Ngaglik langsung kepada Bupati Sleman belum lama ini juga dikarenakan warga khawatir pembangunan apartemen di lingkungannya akan berdampak menyusutnya sumber air yang ada. Terlebih penggunaan air pada hunian modern ini cukup besar jika dibandingkan keperluan warga.

Atas dasar tersebut, Sri Purnomo meminta pengembang hotel dan apartemen untuk lebih memanfaatkan air yang disediakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat. Hal tersebut diperlukan untuk menghindari konflik antar pengembang dengan warga sekitar lokasi pembangunan.

“Kebanyakan warga menolakan pembangunan hotel maupun apartemen karena permasalahan air, sehingga hal ini perlu menjadi perhatian pengembang,” kata Sri Purnomo, Senin (23/3).

Hal ini menyusul ketidakpercayaan atas pembuatan sumur dalam yang disyaratkan kepada pengembang. Untuk itu, penggunaan air dari PDAM menjadi solusi dalam permasalahan ini. Dengan menggunakan air dari PDAM tentu akan lebih terkontrol dan masyarakat pun tidak terganggu.

Untuk itu Sri Purnomo meminta PDAM Sleman siap permasalahan ini. Seperti pemenuhan atas kebutuhan air yang cukup besar di hunian modern ini dan jaminan atas gangguan instalasi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

“Hal ini tentu akan menjadi tantangan bagi PDAM sebagai pihak penyedia air yang dibutuhkan pada aparteman maupun perhotelan,” kata Sri Purnomo.

Sementara Direktur PDAM Sleman, Drs Dwi Nurwata mengaku siap akan kebutuhan suplai air yang besar ke apartemen dan perhotelan di Sleman. Terlebih, di tahun ini institusinya telah menyiapkan kebutuhan air untuk pelanggan-pelanggan besar. Khususnya di wilayah pengembangan hotel, apartemen, dan kondotel. Misalnya, di Depok, Mlati, dan Sleman.

“Agar tak mengganggu pelanggan air rumah tangga, PDAM akan menambah debit air antara 50-60 liter per detik. Hal ini dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan yang besar,” kata Dwi Nurwata.

Apalagi sampai akhir 2014 masih ada sisa debit air 70 liter per detik dan akan ditambah lagi.




Kabupaten Sleman Rentan Peredaran Narkoba

Sleman – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) dan Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Sleman menilai wilayah Kabupaten Sleman rentan dengan kasus peredaran narkoba. Bahkan terkorelasi secara erat dengan penyebaran virus HIV/AIDS

Demikian antara lain diungkapkan Kepala BNNK Slemanm Drs Kuntadi, kemarin. Karena itu lanjut Kuntadi, pihaknya ingin selalu menjalin koordinasi dengan berbagai pihak dalam upaya pencegahannya.

“Kebijakan dan strategi BNNK Sleman untuk menekan angka penyalahgunaan dan peredaran narkoba adalah dengan cara pencegahan, pemberdayaan masyarakat, rehabilitasi dan pemberantasan,” kata Kuntadi.

Menurut Kuntadi, untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut, BNNK Sleman melakukan berbagai kegiatan di antaranya “Focus Group Discussion” (FGD) untuk pemberdayaan masyarakat.

“Yang telah kami lakukan di antaranya FGD dalam rangka pemberdayaan lingkungan kerja swasta, dan pesertanya dari kalangan pekerja swasta,” tambahnya.

Sosialisasi tentang bahaya narkoba memang penting dilakukan untuk memberikan wawasan pengetahuan kepada pegawai swasta tentang bahaya penyalahgunaan narkoba, dan penyebaran AIDS.




40 Mata Air di Sleman Terancam Rusak

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan terdapat sekitar 40 mata air yang terancam rusak di Kabupaten Sleman. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat jika masyarakat tidak peduli dengan kelestarian alam. 

Oleh karena itu Sri Purnomo mengatakan upaya konservasi air sudah mendesak dilakukan. Terlebih, ketersediaan dan kualitas air di Sleman mempengaruhi kondisi air daerah lain di DIY.

Selain memelihara mata air, masyarakat juga perlu melakukan penanaman pohon di kawasan tangkapan air,” kata Sri Purnomo, Minggu (22/3).

Ditambahkan Sri Purnomo, Sleman adalah daerah resapan air bagi DIY karena itu menjaga kelestarian mata air menjadi salah satu kearifan lokal. Menurut Sri Purnomo, langkah yang terlihat sederhana pun bisa memberi pengaruh signifikan bagi ketersediaan air jika dilakukan bersama-sama.

“Misalnya menggiatkan penanaman pohon di pinggir sungai, halaman rumah, atau lokasi lainnya,” tutur Sri Purnomo.

Sementara  total sumber mata air di Kabupaten Sleman mencapai 600 titik. Namun, baru 182 sumber air yang debitnya teridentifikasi dan dimanfaatkan. Hingga tahun 2014 lalu, sumber mata air yang telah dibangun konstruksinya ada 37 buah dan dikelola oleh enam Organisasi Petugas Pengelola Mata Air (OPPMA).