Sleman Mendorong Petani Salak Berinovasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mendorong kalangan petani salak di daerah ini untuk berinovasi dengan meningkatkan nilai jual dari komoditi itu. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman Edi Sriharmanto, Selasa (7/4) mengatakan luas lahan salak di Sleman mencapai  hektar dan tidak akan ada lagi perluasan lahan.

“Kami berupaya mendorong perbaikan kualitas produksi dibandingkan menambah luas untuk meningkatkan hasilnya. Jika pohon-pohon itu sudah tua dan perlu diregenerasi, ya harus dipotong dan dirobohkan. Biar nanti tumbuh yang baru,” katanya.

Menurut Edi, tidak adanya perluasan lahan perkebunan salak pondoh salah satu alasannya untuk menjaga kestabilan lingkungan.

“Lahan di wilayah Sleman bagian timur, seperti Depok, Kalasan, dan Prambanan dikhususkan untuk tanaman padi. Kemudian, di tengah, seperti Turi dan Tempel untuk salak. Yang bagian atas, dekat Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) untuk hutan rakyat sebagai kawasan tempat resapan air. Kalau salak tidak bisa untuk resapan air, sehingga agar air tetap bisa terjaga, maka luas lahan salak tidak ditambah,” katanya.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Tanaman Pangan dan Hortikultura DPPK Kabupaten Sleman, Ananta mengatakan inovasi pembuatan salak jenis baru sudah berlangsung dari sebelumnya Kabupaten Sleman hanya dikenal dengan salak lokal, salak pondoh, dan salak pondoh super saat ini sudah muncul jenis lain.

“Seperti salak madu probo yang sudah didaftarkan di Kementerian Pertanian untuk mendapatkan label hak paten. Kemudian, ada jenis salak gading dan salak manggala. Untuk salak gading dan manggala belum didaftarkan hak patennya,” katanya.

Ananta mengatakan pembuatan salak jenis baru ini salah satunya dengan cara penyilangan perkawinan. “Penyerbukannya disilang,” ujarnya.

Ia mengatakan dengan adanya inovasi seperti ini, maka salak di Sleman diharapkan mempunyai nilai tambah yang lebih dibanding daerah-daerah lain, apalagi untuk jumlah produksi selama ini dirasa sudah mencukupi. Baik untuk memenuhi pasar lokal maupun diekspor.

“Setiap tahunnya hasil produksi petani dalam satu rumpun yang berisi dua hingga tiga pohon salak, menghasilkan enam kilogram, bahkan beberapa tahun terakhir ini ada peningkatan bisa sampai delapan hingga sembilan kilogram,” katanya.




320 CPNS Ikuti Diklat Pra Jabatan

prajabSleman – Sebanyak 329 orang CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) Golongan II dan III dari tenaga honores K-2 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengikuti diklat prajabatan. Pembukaan diklat prajabatan CPNS tersebut dilakukan oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Selasa (7/4).

Tujuan dan sasaran diklat seperti yang dilaporkan Kepala BKD Sleman, Drs H Iswoyo Hadiwarno untuk membentuk CPNS yang memiliki pengetahuan dan wawasan sebagai pelayan masyarakat diindikasikan dengan wawasan kebangsaan  sebagai dasar mengutamakan kepentingan Nasional dalam pelaksanaan tugas jabatannya, memahami sikap tidak korupsi dan mendorong percepatan pemberatasan korupsi serta memahami ketentuan kepegawaian berkaitan peran dan fungsi ASN dan kedudukan, kewajiban dan hak PNS.

Diklat diselenggarakan selama 6 hari, peserta diklat diasramakan dibagi dalam 8 angkatan, 2 angkatan CPNS Golongan II dan 6 Angkatan CPNS Gololongan III dimulai  dari tanggal 12 April hingga 3 Oktober 2015 di Gedung Gelanggang  Pemuda  Youth Center Bolawen Tlogoadi Mlati, Sleman. Peserta wajib untuk dapat lulus dari diklat prajabatan sebagai syarat untuk diangkat menjadi PNS.

Dalam sambutan pengarahan Sri Purnomo berharap para peserta Diklat Parjabatan adalah  Sumber Daya Manusia (SDM) yang terdidik, terlatih dan memiliki tanggung jawab yang penuh terhadap pekerjaan. Diklat Prajabatan merupakan sarana untuk membentuk sosok PNS yang setia dan taat pada negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini selaras Peraturan Kepala LAN (Perkalan) No. 18 Tahun 2014 yang menerangkan bahwa tujuan utama diklat prajabatan adalah terwujudnya PNS yang dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

“Melalui diklat prajabatan ini saudara diharapkan dapat memahami wawasan kebangsaan, memahami sikap untuk tidak korupsi dan mendorong percepatan pemberantasan korupsi di instansinya serta memahami pola pikir ASN sebagai pelayan masyarakat. Bebas korupsi serta memahami peran dan fungsinya sebagai aparatur sipil negara,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo, era sekarang yang semakin kompleks menuntut ketangguhan dan profesionalisme PNS sebagai pelayan masyarakat. Berkenaan dengan hal tersebut saya menekankan dan mengingatkan kepada seluruh peserta Diklat  untuk senantiasa belajar dan bekerja bersungguh – sungguh, berangkat dari hati yang suci dan ikhlas, agar apa yang kita harapkan yaitu masyarakat mandiri, sejahtera lahir batin dapat terwujud. Sebagai aparatur pemerintah dituntut untuk cerdas, kreatif dan penuh inovasi, serta kapabel dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan.

“Jangan sampai dalam melaksanakan tugas, saudara hanya menunggu perintah dari atasan. Saudara harus pro aktif dalam melihat situasi di unit kerja saudara. Karena hanya dengan sikap pro aktif, kreatif dan inovatif, maka saudara dapat mengikuti perkembangan dan perubahan yang senantiasa terjadi di tengah-tengah   masyarakat kita,” pesan Sri Purnomo.




Ta’mir Masjid Agung Sleman Dilantik Bupati

DSC_1903bernasSleman – Takmir Masjid adalah sekumpulan orang yang mempunyai kewajiban memakmurkan masjid dan masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata. Tapi masjid juga berfungsi sebagai pusat pemberdayaan umat melalui kegiatan-kegiatannya yang positif dan bermanfaat. Salah satunya dengan turut serta para pengurus atautakmir masjid dalam peningkatan ilmu pengetahuan selain agama seperti yang saat ini telah berjalan melalui TPA dan TPQ dengan menambah materi lainnya.

Demikian disampaikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI usai melantik Pengurus Ta’mir Masjid Agung Sleman periode 2015 – 2020, Selasa (7/4). Ta’mir Masjid Agung dengan Ketua Umum dr H Sunartono MKes (Sekda Sleman), Ketua I Drs H Lutfi Hamid MAg (Kepala Kemenag Sleman) dan Ketua II Dra Hj Suyamsih MPd (Assek II). Sekretaris  Drs H HerySutopo MM MSC. Dan di bawahnya ada koordinantor bidang, yakni Bidang Administrasi H Ichsanudin, Bidang Imaroh H Nurhuda SAg, Bidang PHBI dan Dakwah Drs H Nur Hamid , Bidang Ibadah Sosial Riyanto SAG, Bidang Ri’ayah (Pemeliharaan) Sukarno SH.

Sri Purnomo juga menyampaikan bahwa Masjid Agung Sleman sampai sekarang sudah berusia sekitar 25 tahun, dibangun sejak kepemimpinan Drs H  Samirin (1985) dan diselesaikan oleh Drs Arifin Ilyas. Sebagai masjid Agung tentu harus merupakan kebanggaan masyarakat Sleman, untuk itu ke depan Masjid Agung Sleman akan dibangun kubah yang megah sehingga bila dilihat dari dekat terlihat indah dan dilihat dari atas sudah kelihatan itulah Masjid Agung Sleman.

“Ini menjadi tugas berat ta’mir Masjid Agung yang baru untuk mewujudkannya. Selain itu karpat Masjid Agung juga sudah ketinggalan sehingga perlu diganti yang baru dari permadani dan pembenahan maupun pemeliharaan bagian-bagian masjid lainnya,” kata Sri Purnomo.

Dalam kesempatan yang sama juga dilakukan pembentukan paguyuban kaum Rois se Kabupaten Sleman yang diprakarsai oleh Drs H Hafid Asrom. Menanggapi acara ini Bupati Sleman menegaskan peran kaum rois di tengah masyarakat selalu dibutuhkan seperti dalam acara khitanan, mantenan, kematian, orang sakit dan lain sebagainya.

Pekerjaan tersebut lebih banyak bersifat sosial atau gotong royong padahal kegiatan yang diemban sangat berat. Untuk memberi penghormatan serta penghargaan yang tinggi atas pengabdiannya. Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat melakukan pembinaan Rois rutin setiap tahun dan juga memberikan bantuan kesejahteraan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Kaum Rois adalah sosok yang sangat dicari orang di kala susah dan kadang ditinggalkan dikala senang, sosok Rois merupakan individu yang sudah langka di era yang serba materialis, pekerjaan mereka dilaksanakan dengan senang dan semangat tinggi,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga berpesan agar Rois banyak mengambil peranan di tengah masyarakat, utamanya dalam pembinaan umat. Artinya harus memberikan pencerahan kepada masyarakat jika terjadi sikap yang bertentangan norma dan nilai agama. Selain itu, rois juga punya tugas dalam memimpin masyarakat dalam konteks pembinaan secara spiritual keagamaan. Termasuk memandu dalam berbagai tradisi keagamaan.




BPBD Sleman Tingkatkan Kemampuan Relawan

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman berencana menggiatkan pelatihan kepada para relawan bencana untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan penanggulangan bencana.

“Setidaknya sudah ada dua kejadian, relawan dievakuasi ketika melakukan pertolongan di waktu bencana dalam tiga tahun terakhir ini di Sleman,” kata Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Kabupaten Sleman, Heru Saptono, kemarin.

Menurut Heru, pelatihan kepada para relawan ini memang harus dilakukan secara berkesinambungan. Berkaca dari kejadian berupa pertolongan kepada relawan yang sedang melakukan evakuasi saat bencana, memang harus terus ditingkatkan kemampuan mereka.

“Keterampilan dalam evakuasi atau penyelamatan, memang harus ditingkatkan. Mudah-mudahan bisa dalam waktu dekat diadakan pelatihan,” katanya.

Heru juga mengharapkan setiap relawan tidak hanya mempunyai keterampilan masalah teknis saja. Namun juga dalam manajerialnya. Sehingga ketika dalam melakukan evakuasi, jangan menyepelekan risikonya. Heru menambahkan pelatihan relawan ini setiap tahunnnya selalu ada. Baik dalam navigasi darat ataupun air. Karena di wilayah Kabupaten Sleman terdapat hujan serta sungai. Serta ancaman dari
aktivitas Gunung Merapi.

“Pernah kami lakukan latihan navigasi darat di Gunung Merapi. Beberapa anggota `rescue` dilatih mencari suatu titik di dalam hutan. Selain itu juga navigasi air. Mengingat ancaman terjadinya bencana di sungai juga ada, seperti banjir lahar dingin, atau orang tenggelam,” tutur Heru.

Heru mengatakan kejadian evakuasi terhadap relawan di Sleman ini, tercatat saat bencana puting beliung di Kalasan pada Desember 2012 silam. Saat orang relawan terjatuh dari pohon, dan harus dirawat di rumah sakit. Kemudian, peristiwa kedua pada Maret 2015 lalu. Saat bencana puting beliung menerpa di Kecamatan Tempel dan Turi. Seoran relawan dari komunitas Peduli Merapi jatuh dari pohon juga ketika melakukan evakuasi.

Sementara itu, Kepala Seksi Operasional dan Kedaruratan, BPBD Kabupaten Sleman, Nugroho Utomo, mengatakan tugas relawan memang sangat dekat dengan risiko. Untuk itu, perlu adanya bekal yang memadai dalam kemampuan “rescue”.

“Peningkatan kemampuan ini, memang sudah diagendakannya. Paling lambat, akan rutin diberikan pada tahun 2016. Namun, hanya diberikan kepada relawan yang memang berada di lapangan dan dapat dimobilisasi,” katanya.