PPD dan Gelar Budaya 2015 Untuk Dorong Kepariwisataan

Sleman– Untuk mendorong potensi-potensi Sleman agar lebih berdaya saing dan mampu mendorong kepariwisataan dengan lebih optimal. BPPS (Badan Promosi Pariwisata Sleman ) didukung Pemkab Sleman akan menyelenggarakan Pameran Potensi Daerah (PPD) dan Gelar Budaya Sleman 2015.

“Pameran ini diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari jadi Kabupaten Sleman ke 99 tahun 2015. Pameran dan gelar budaya tersebut  untuk lebih mendekatkan dan mengenalkan potensi ekonomi dan keragaman budaya dari 17 kecamatan, produk UKM, swasta, dan Kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Rabu (8/4).

Disisi lain dikatakan Sri Winarti, PPDh dan Gelar Budaya Kabupaten Sleman memiliki potensi yang besar untuk menjadi event tujuan wisata. Kegiatan ini akan digelar selama 10 hari di Komplek Gedung Serbaguna Denggung mulai 24 April hingga 3 Mei 2015.

Pengunjung yang akan meramaikan kegiatan ini berasal dari berbagai lapisan masyarakat Sleman, dan diharapkan kegiatan tersebut dapat menarik  pengunjung dari luar kabupaten Sleman dan bahkan juga dapat menjadi salah satu bagian  agenda wisata Sleman.

“Pameran Potensi Daerah dan Gelar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2015 akan menampilkan dan mengenalkan  berbagai kegiatan budaya dan seni  tradisional dari 17 Kecamatan yang terdapat di Kabupaten Sleman,” kata Sri Winarti.

Selain juga mengekspose potensi hasil karya siswa seluruh sekolah di Kabupaten Sleman. Menurut rencana stan yang disediakan sebanyak 239 stan, yang menyajikan informasi kebijakan Pemerinah Kabupaten Sleman, display  dan penjualan produk hasil UKM dan Hasil Pertanian, potensi dan karya siswa, serta sajian atraksi gelar budaya dan seni 17 kecamatan yang dimeriahkan dengan berbagai lomba dan festival seni siswa.

Sementara  Ketua BPPS, Jono Lesmana sebagai penyelenggara menjelaskan bahwa kemasan pameran dan gelar budaya kali ini dikemas secara berbeda yang tujuannya adalah memberikan kenyamanan bagi pengunjung maupun peserta pameran dan gelar budaya. Kepesertaan Kecamatan dalam pameran yang biasanya tiap kecamatan hanya membuka 2 stand kali ini dari 17 kecamatan rata-rata membuka 3 sampai dengan 4 stand.

Dengan demikian stand kecamatan akan mempunyai ruang lebih sebagai media display potensi-potensi desa dari wilayah kecamatan tersebut. Layout pintu masuk utama berada pada sisi utara lapangan Denggung menghadap ke timur, dan pintu pendukung ada berada pada sisi selatan ruas jalan Turgo. Dan untuk dapat memberikan kenyamanan bagi penonton dan pengisi acara gelar budaya, layout panggung budaya berada di depan Gedung Kesenian Sleman menghadap ke timur.

 Pameran Potensi Daerah dan Gelar Budaya Kabupaten Sleman Tahun 2015 mengangkat tema Penguatan keragaman budaya dan potensi ekonomi lokal untuk wujudkan kemandirian dalam menyongsong masyarakat ekonomi ASEAN 2015

Stand akan dibagi dalam 6 zone yakni stand zona A (Gedung Serbaguna) sebanyak 33 unit. Zone ini diperuntukan bagi Perusahaan Swasta, Instansi Pemerintah, BUMN/BUMD, Perbankan, Perguruan Tinggi, Penerbit, toko buku dengan kontribusi Rp1,750 juta/ per unit.

Zona  B (lingkungan parkir Gedung Serbaguna) sebanyak 53 unit. Sebanyak 30 stan untuk binaan Dikpora berupa Stand Pendidikan dengan nilai kontribusi khusus Rp13,500 juta. Sebanyak 20 stan digunakan untuk stand instansi pemerintah di luar Pemkab Sleman @ Rp (instansi luar Sleman), Stand UKM Sleman binaan pemkab Sleman @ , non binaan/ mandiri Rp UKM dari luar Pemkab Sleman .

Sebanyak 3 stand untuk perusahaan otomotif (tanpa Fasilitas Tenda) @ Rp 3 juta. Stand  zona C (Jl. Turgo) sebanyak 62 unit untuk stand instansi pemerintah, kecamatan, desa, swasta dan UKM dengan kontribusi Stand Instansi Pemkab Sleman dan dari luar Pemkab Sleman Rp , Stand UKM Pemkab Sleman @ Rp1juta, Stand Perusahaan non otomotif dan perbankan  @ Rp1 juta.

Stand zona D Pertanian (Parkir taman Denggung sisi Barat), sebanyak 36 stand diperuntukan stand Pertanian, UKM, Untuk kontribusi Dinas P2K dan binaan @ Rp. , UKM non Binaan dari Kabupaten Sleman @ Rp. , UKM dari luar Kabupaten Sleman @ Rp 1 juta.

Stand E  (Parkir taman Denggung sisi selatan), sebanyak 14 stand kuliner, UKM dan  Permainan anak. Kontribusi untuk stand kuliner dan UKM binaan SKPD Pemkab  Sleman @ Rp , Untuk stand kuliner, UKM non binaan  @ Rp , untuk stand kuliner dan UKM dari luar Pemkab Sleman @ , Kapling permainan anak 10×10 Rp12,500 juta.

Sementara untuk Stand F (Jl Turgo sisi Utara Lapangan Denggung) sebanyak 38 untuk stand Pemerintah, Museum, lembaga/ organisasi profesi, display produk UKM, dan 3 perusahaan otomotif. Kontribusi untuk stand instansi Pemerintah @ Rp , Museum @ Rp , lembaga/ organisasi profesi @ Rp , Stand perusahaan otomotif @ Rp 3 juta.




Ekspor Olahan Salak Sleman Terkendala Jumlah Produksi

Sleman – Berbagai produk olahan buah salak dari Kabupaten Sleman ternyata diminati pasar internasional, namun untuk memenuhi permintaan ekspor masih terkendala jumlah produksi.

“Salah satu produk olahan tersebut berupa keripik salak. Sudah ada permintaan untuk dikirim ke Amerika, hanya saja jumlah produksi belum memenuhi permintaan ekspor,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Edi Sriharmanto, Kamis (9/4).

Menurut Edi, hasil olahan yang dibuat menjadi keripik mendapatkan respon yang positif untuk pasar internasional.

“Keripik salak sudah ada permintaan, untuk dikirim ke Amerika. Tapi kami masih belum menyanggupi karena hasil produksi keripik salak saat ini baru mencukupi untuk pasar lokal saja,” kata Edi.

Ia mengatakan, sekitar empat sampai lima alat pengolah keripik salak yang ada saat ini, hanya bisa menghasilkan 20 kilogram saja per harinya.

“Satu alat pengolah, hanya bisa sekitar lima kilogram. Sementara, permintaan untuk diekspor satu bulannya satu ton,” tambahnya.

Edi mengatakan, kendati demikian pihaknya yakin hasil olahan keripik salak nantinya juga bisa untuk diekspor. Tinggal menunggu kesiapan para petani salak saja.

“Memang baru dipersiapkan untuk meningkatkan jumlah produksi sehingga mampu memenuhi kebutuhan ekspor,” tutur Edi.

Dikatakan pula, masalah kebutuhan alat pengolah tersebut, pihaknya akan mengajukan ke pusat agar bisa terfasilitasi dan memaksimalkan hasil produksinya.

“Selain olahan keripik salak, juga kopi salak. Namun, untuk jenis ini masih terlalu dini jika ingin diekspor. Karena masih membutuhkan pengakuan juga. Untuk kopi salak, masih belum berpikir ke arah sana,”katanya.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ananta menambahkan, ke dua jenis olahan dari salak tersebut saat ini memang terus dikembangkan.

“Harapannya ke depan memang bisa diekspor. Sekarang baru kami dorong,” katanya.




Ratusan Mata Air di Sleman Belum Terkelola

Sleman – Ratusan mata air di Sleman belum dikelola secara optimal. Padahal potensi sumber daya air di Kabupaten Sleman ini sangat besar. Dinas Sumber Daya Air Energi Mineral (SDAEM) Sleman mencatat mata air di wilayah ini mencapai lebih dari 800 titik mata air. Namun yang terkelola oleh masyarakat baru 182 titik saja. Ironisnya, 40 titik mata air terancam keberadaannya lantaran terjadinya kerusakan lingkungan.

Kepala Bidang Penyedia dan Pembinaan Sumber Daya Air (PPSDA) Dinas SDAEM Sleman, Warsono mengatakan ancaman yang terjadi antara lain hilangnya mata air lantaran timbunan material maupun sampah. Terlebih kebanyakan mata air berada di lereng Gunung Merapi.

“Saat ini kami terus berupaya melakukan pelestarian mata air melalui konservasi, baik secara fisik maupun sosial,” kata Warsono di ruang kerjanya, kemarin.

Menurut Warsono, konservasi secara fisik dilakukan dengan pembangunan penurapan atau pengumpul air di titik munculnya mata air. Selain itu, PPSDA juga membangun pemanfaat sumber daya air dengan embung talut permanen di sekitar mata air.

“Kegiatan fisik ini dilakukan untuk melindungi mata air, karena terdapat mata air yang muncul saat musim hujan saja. Sehingga diperlukan pengelolaan agar sumber dayanya dapat dimanfaatkan saat musim kemarau tiba,” ungkapnya.




Desa Hargobinangun Pakem Dikukuhkan Sebagai Desa Tangguh Bencana

DSC_2075bernasSleman – Kondisi Kabupaten Sleman yang rawan bencana membutuhkan masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi bencana yang dapat terjadi kapan saja. Masyarakat yang tangguh bencana yakni masyarakat yang mampu mengantisipasi dan meminimalisir kekuatan yang merusak melalui proses adaptasi. Mereka juga mampu mengelola dan menjaga struktur dan fungsi dasar tertentu ketika terjadi bencana. 

Dan jika terkena dampak bencana, mereka dapat membangun kehidupannya menjadi normal kembali atau paling tidak dengan cepat memulihkan diri secara mandiri. Hal tersebut disampaikan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI ketika  mengukuhkan Desa Hargobinangun Kecamatan Pakem sebagai Desa Tangguh Bencana di Barak Pengungsian Pandanpuro Hargobinangun Pakem, Kamis (9/4).

Lebih lanjut Sri Purnomo menambahkan pembinaan dan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) mutlak diperlukan di wilayah Kabupaten Sleman. Karena masyarakat merupakan penerima dampak langsung dari bencana dan sekaligus sebagai pelaku pertama dan langsung yang akan merespon bencana di sekitarnya. Maka masyarakat perlu dibekali dalam konteks pemberdayaan agar tidak hanya siap menghadapi bencana tapi juga tangguh menanggulanginya.

Perlu disadari bahwa dalam setiap mitigasi bencana, dukungan dari masyarakat dan dukungan tim relawan mutlak diperlukan. Masyarakat juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam meng­ha­dapi bencana, dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam menentukan langkah-langkah yang tepat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa.

Menurut Sri Purnomo sampai saat ini sudah ada 5 desa tangguh bencana setelah sebelumnya sepanjang tahun 2014 telah dibentuk 4 desa tangguh bencana di antaranya di Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan, Kepuharjo Cangkringan, Sindumartani Ngemplak dan Girikerto Turi.

Selain mengembangkan desa tangguh bencana, berbagai pemangku kepentingan turut serta menguatkan kapasitas lokal karena penanggulangan bencana harus dilakukan sinergis antara masyarakat, pemerintah dan swasta.

Sebelum dilakukan pengukuhan juga diadakan gladi lapang penanggulana bencana letusan gunung Merapi kerjasama BPBD DIY dengan BPBD Sleman, yang diikuti sekitar 210 peserta dari 12 padukuhan di Hargobinangun serta dilakukan penandatanganan MOU komitmen pemanfaatan sarana milik swasta yang dapat digunakan untuk mitigasi bencana bagi pengamanan masyarakat yakni UII, PPPG Kesenian dan RS Grasia.

Juga MOU pemanfaatan sarana antar desa yakni dengan desa tetangga Harjobinangun dan Pakembinangun Pakem. Kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan prasasti sekolah tangguh bencana bagi SDN Kiyaran I Wukirsari Cangkringan, SDN Umbulharjo Cangkringan dan SMPN I Cangkringan yang ketiga sekolah tersebut juga mendapat bantuan 1 buah HT dari Pemkab Sleman. Dalam kesempatan ini Kepala BPBD DIY juga menyerahkan bantuan 1 buah Cain sow kepada Pemerintah Desa Hargobinangun Pakem.