Bupati Buka Pameran Potensi Daerah

IMG_2106Sleman – Pameran Potensi Daerah (PPD) dan Gelar Budaya Sleman tahun 2015 secara resmi telah dibuka oleh Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang didampingi  Wakil Bupati, Yuni Satia Rahayu SS MHum di gedung Serbaguna Sleman, Jumat (24/4) sore. Pembukaan  ditandai dengan pemukulan gong dan pemotongan buntal.

Penyelenggaraan pameran Potensi Daerah dan Gelar Ragam Budaya dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Jadi Ke – 99 Kabupaten Sleman ini bukan hanya ajang tes pasar namun juga merupakan sarana yang strategis untuk menunjukkan keunggulan masing-masing produk.

Oleh karena itu, Sleman harus terus berupaya menguatkan dan mengembangkan produk lokal baik dari segi jenis produk  maupun kualitasnya. Hal ini dikarenakan kenyataan bahwa di Sleman telah tumbuh pesat produk hasil usaha ekonomi kreatif yang mampu mengembangkan dinamika perekonomian masyarakat.

Bupati Sri Purnomo dalam sambutannya mengatakan penyeleng­garaan pa­mer­an potensi daerah dan gelar ragam budaya tahun 2015 merupakan salah satu upaya yang strategis untuk mempro­mosikan dan menggali berbagai potensi yang dimiliki Sleman kepada ma­sya­rakat luas. Terlebih lagi di akhir tahun 2015 ini mulai dilaksanakan pasar bebas ASEAN,  harus siap berkompetisi dengan produk-produk dari luar negeri.

Untuk  menyemarakkan pameran potensi daerah, setiap hari dari pukul – WIB akan digelar Festival dan lomba seni Siswa Nasional dari semua jenjang pendidikan sekolah, dan  gelar ragam budaya dari 17 kecamatan berupa kesenian yang menampilkan kurang lebih 30 pelaku seni dari masing-masing kecamatan pada pukul WIB-selesai.

Bagi 5 penampil terbaik Festival Ragam Budaya  akan mendapatkan hadiah uang pembinaan  total Rp dari Bank Sleman. Untuk memotivasi keseriusan para peserta pameran dalam menampilkan stand,   juga diselenggarakan lomba stand dengan total hadiah uang pembinaan Rp 5 juta

Pembukaan pameran dimeriahkan dengan tarian tepak-tepak pawestri dan penampilan langencarito dengan lakon ande-ande lumut.




Gorong Gorong Ambles Jalan Terputus

2404 SLEMAN AMBLESSleman– Gorong-gorong di jalan Watuadeg, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem Sleman, Kamis (23/4) malam ambles. Akibatnya badan jalan berlobang dengan diameter sekitar lima meter dan kedalaman sekitar tiga meter. Amblesnya gorong-gorong ini, jalan Provinsi yang menghubungkan Magelang – Tempel – Pakem – Klaten/Boyolali terputus. Pengguna jalan harus memutar sejauh lima kilometer.

Haryanto, warga setempat menyebutkan gorong-gorong tersebut ambles sekitar pukul WIB, Kamis malam. “Sorenya hujan deras,” katanya. Haryanto juga menjelaskan, sebelumnya terlihat retakan-retakan pada aspal.

“Mungkin aliran air sudah mengikis bagian bawah gorong-gorong,” ujarnya.

Setelah mulai terlihat lubang, warga kemudian menutup jalan agar tidak ada pengguna jalan yang terperosok. Selain merusakkan jalan, aliran air yang menghancurkan jaringan air bersih milik warga.

“Ada sekitar 200 warga yang menghadapi kesulitan air bersih. Warga masih berusaha memperbaiki jaringan air bersih ini,” jelasnya.

Sementara rusaknya jalan, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI menyebutkan kerusakan itu ada di jalan Provinsi. Sehingga lanjutnya, penanganannya menjadi tanggung jawab Provinsi DIY. Sebelumnya jembatan Pules di jalur yang sama runtuh akibat terjangan  banjir pada Rabu (22/4) malam.

Saat ini Dinas PU DIY sedang melakukan persiapan penyusunan jembatan darurat sebelum pembangunan kembali jembatan permanen.




Sleman Pentaskan Seni Unggulan di Bali

Sleman – Kontingen Kabupaten Sleman, dalam misi kebudayaan ke Gianyar, Bali, akan mementaskan tarian berjudul “Kridha Jatirasa”, Minggu 26 April 2015 di Balai Budaya Kabupaten Gianyar.

“Pementasan bertajuk “Semalam Gelar Seni dan Budaya DIY di Gianyar” yang dikoordinasikan Dinas Kebudayaan DIY untuk menyemarakkan HUT ke-244 Kabupaten Gianyar,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM, Jumat (24/4).

Menurut dia, tarian yang merupakan representasi DIY tersebut digambarkan dalam sebuah pertunjukkan tarian “medley” lima kesenian rakyat, yaitu badui asal Kabupaten Sleman, angguk (Kabupaten Kulonprogo), reog keprajuritan (Kota Yogyakarta), montro (Kabupaten Bantul), dan tayub (Kabupaten Gunungkidul).

“Tarian tersebut didukung 18 penari dan sembilan pengrawit (penabuh gamelan),” katanya.

Sedangkan sebagai sutradara Agus Sukino, penata tari Nurul Dwi Utami, dan penata iringan Sukoco.

“Dalam kesempatan tersebut masing-masing kabupaten/kota di DIY menampilkan seni pertunjukan di antaranya berupa musik kreatif, sajian upacara adat, fashion show, dan fragmen tari klasik Yogyakarta,” katanya.

Ayu mengatakan, kontingen Kabupaten Sleman membawakan tarian “Kridha Jatirasa” yang mengungkapkan rasa persatuan dan kesatuan eksistensi seni di DIY.

“Keberagaman budaya dan seni bersatu padu memperkuat jati diri dan melambangkan kokohnya keistimewaan DIY, bagaikan untaian mutu manikam yang terangkai dari ujung barat hingga ujung timur DIY,” katanya.

Ia mengatakan, tarian tersebut merupakan aktualisasi semua jenis kesenian rakyat unggulan khas kabupaten/kota di seluruh DIY.

“Diharapkan sajian seni pertunjukan di Bali tersebut dapat lebih mengenalkan potensi budaya DIY di kalangan masyarakat Bali maupun sekaligus wisatawan asing yang berada di lokasi pertunjukan,” katanya.




Data BPBD Sleman: 95 Rumah Terendam Banjir Luapan Sungai Gajah Wong

Sleman – Hujan deras yang terjadi pada Rabu (22/4) malam telah menyebabkan Sungai Gajah Wong di Desa Caturtunggal, Depok Sleman meluap. Kondisi ini tersebut membuat puluhan rumah warga di desa setempat terendam semalaman. 

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyebutkan total terdapat 95 rumah warga di Padukuhan Mrican dan Papringan terdampak banjir. Rumah-rumah warga yang berada di bantaran Sungai Gajah Wong tersebut berupa bangunan permanen dan berdiri di atas tanah kas desa.

Kepala Dusun Mrican, Sumarji mengatakan warga yang tinggal di bantaran sungai yang melintasi tiga Kabupaten/Kota itu menyewa kepada Pemerintah Desa (Pemdes) Caturtunggal. Warga pun sudah tinggal di lokasi tersebut sejak puluhan tahun silam.

“Di Kampung Pringgodani ada 48 rumah yang terdampak banjir karena berada di dereta paling pinggir Sungai Gajah Wong,” ungkapnya, kemarin.

Menurutnya kejadian banjir sering terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah hulu Sungai Gajah Wong. Namun peristiwa banjir yang terkadi pada Rabu malam itu merupakan banjir terbesar yang dirasakan warga.

“Sebenarnya warga sudah melakukan antisipasi dengan membangun tanggul berupa pagar batubata, namun karena arus sungai yang kuat membuat tanggul ambrol. Tidak ada laporan korban, baik luka maupun jiwa akibat peristiwa ini,” paparnya.




Kerugian Banjir di Sleman Capai Miliaran Rupiah

Sleman – Bencana alam banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Sleman Rabu (22/4) malam, mengakibatkan 4 jembatan ambrol, dan kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

“Akibatkan hujan deras tersebut mengakibatkan sejumlah sungai meluap, selain terjadi banjir yang menggenangi beberapa rumah warga, sedikitnya empat jembatan putus akibat tergerus air,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan, Jumat (24/4).

Menurut dia, salah satu jembatan yang putus tersebut adalah jembatan penghubung Kecamatan Turi dan Pakem yang ada di Dusun Pules. Akibat kejadian ini, akses antarkecamatan ini sempat lumpuh total.

“Langkah penanganan darurat, kami dibantu warga dan TNI membangun jembatan dari konstruksi bambu,” katanya.

Selain itu, kata dia, jembatan di tiga titik lainnya juga rusak parah. Diantaranya infrastruktur penghubung Dusun Bayen dan Surodadi di Desa Donokerto Kecamatan Turi, serta jembatan di Desa Tegaltirto dan Sendangtirto Kecamatan Berbah.

“Kami melakukan identifikasi. Namun taksiran sementara, kerugian mencapai lebih dari Rp 1 miliar,” ujarnya.

Ia mengatakan, selain jembatan ambrol, luapan air sungai juga menyebabkan talud di beberapa titik, rusak.

“Dari laporan yang masuk ke BPBD, kerusakan talud jalan maupun sungai ada di Desa Donokerto Turi, dan Desa Purwobinangun Pakem,” ungkapnya.

Makwan mengatakan, pada Rabu (22/4) malam, puluhan KK juga sempat mengungsi di rumah penduduk yang tidak terendam banjir. Para pengungsi tercatat berasal dari Dusun Mrican Caturtunggal dan Grinjing Papringan, masing-masing sebanyak 48 dan 46 KK.

“Warga di dua dusun tersebut sempat mengungsi karena rumahnya terendam. Tapi hanya beberapa jam saja, setelah itu mereka langsung pulang ke rumah masing-masing,” katanya.

Selain rumah penduduk, luapan air Sungai Gajahwong juga merendam gedung SD Muhammadiyah Grinjing hingga ketinggian 30 cm. Namun musibah itu tidak sampai mengganggu aktivitas belajar-mengajar karena esok hari setelahnya langsung dilakukan kerjabakti oleh warga.

“Guna membantu warga, BPBD Sleman telah mendistribusikan peralatan dan logistik pangan,” tambahnya.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD DIY, Danang Samsu mengatakan, perbaikan jembatan Pules akan dilakukan oleh Provinsi. Tim dari instansi terkait telah terjun ke lapangan untuk memantau tingkat kerusakan.

“Kejadian itu bukan banjir lahar dingin dari Gunung Merapi karena tidak ada material vulkanik yang terbawa aliran air,” imbuhnya.

BPBD DIY mengimbau masyarakat tidak panik dengan adanya isu peningkatan aktivitas Merapi.

“Dari hasil koordinasi dengan BPPTKG Yogyakarta dipastikan Gunung Merapi dalam kondisi aman, dan masih berstatus normal,” katanya.