Dua Pelajar Sleman Garap UN di Lapas Cebongan

ujianSleman – Dua siswa mengikuti Ujian Nasional (UN) di Lapas Cebongan, Senin (13/4). Mereka terpaksa mengerjakan ujian di lapas karena kasus hukum yang dijalaninya. Kedua pelajar tersebut semuanya warga Sleman yakni Wi (18) dan Ri. Mereka mengikuti ujian di aula lapas setempat tidak dalam waktu yang bersamaan.

Ri yang merupakan siswa SMK di Sleman dan terjerat kasus pencurian ini terlebih dahulu menjalani ujian sekitar pukul WIB. Sementara Wi yang sudah menjalani hukuman 2 tahun 2 bulan 18 hari dalam kasus penganiayaan hingga menewaskan seorang pelajar yang mengikuti kejar paket C ini, menjalani ujian sekitar pukul WIB. Selama ujian, para siswa diawasi tim pengawas dari sekolah maupun Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sleman.

Kalapas Cebongan, Supriyanto menjelaskan, sebelum menjalankan ujian, keduanya terlebih dahulu sarapan pagi. Ujian dilaksanakan dalam waktu berbeda mengingat salah satu warga binaannya itu mengikuti kejar paket C. Sebelumnya, lanjut Supriyanto, pihak lapas memberikan keleluasaan kepada keduanya untuk belajar.

“Selama pra ujian kami memberikan kebebasan mereka untuk belajar. Mereka juga kami tempatkan di ruang khusus sehingga lebih fokus belajar untuk menghadapi ujian. Para orangtua juga kooperatif dengan mengirim buku pelajaran kepada keduanya. Semangat belajar keduanya juga bagus,” jelas Supriyanto kepada wartawan.




BPBD Perluas Titik Pengungsian

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memperluas titik pengungsian yang digunakan saat terjadi bencana erupsi Gunung Merapi. Hal tersebut guna sebagai persiapan menghadapi letusan ekplosif dari gunung tersebut. Kepala  BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan saat ini Sleman telah memiliki 35 titik pengungsian bencana erupsi Gunung Merapi. Di antaranya terdapat 12 titik berupa barak pengungsian yang dapat digunakan untuk menampung warga di wilayah terdampak.

“Dari titik-titik tersebut, selain lokasi pengungsian yang disediakan oleh pemerintah, terdapat juga lokasi pengungsian yang bekerja sama dengan pihak di luar pemerintahan. Seperti aula perkantoran dan rumah sakit,” kata Julisetiono, Minggu (12/4).

Menurut Julisetiono, jumlah titik pengungsian tersebut masih kurang jika dibandingkan dengan estimasi pengungsi yang diperkirakan mencapai 30 ribu jiwa. Pasalnya letusan eksplosif Gunung Merapi akan membawa dampak cukup luas bagi wilayah Sleman.

“Jika letusan bersifat efusif, jumlah ini masih mencukupi dengan estimasi pengungsi sebanyak 14 ribu hingga 15 ribu jiwa di tiga wilayah kecamatan, Cangkringan, Pakem, dan Turi. Untuk itu, saat ini kami terus menghitung kapasitas titi pengungsian yang ada, apakah sudah ideal atau perlu ditambah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan 35 titik pengungsian yang sudah ada tersebut terbagi dalam beberapa tipe. Yakni titik pengungsian bergeser, setengah bergeser, dan tetap. Pemanfaatannya berdasarkan bencana erupsi yang sedang terjadi.

“Warga yang mengungsi akan diarahkan di titik aman yang paling dekat terlebih dahulu (pengungsian bergeser), kemudian evakuasi dilanjutkan ke lokasi pengungsian yang sudah ditentukan (pengungsian setengah bergeser). Namun jika erupsi yang terjadi lebih besar, maka akan evakuasi dilanjutkan ke titik yang lebih aman. Semua dilakukan berdasarkan prosedur yang sudah ditentukan dan masyarakat perlu memahaminya,” kata Julisetiono.




11.460 Siswa SMA/SMK di Sleman Ikut Ujian Nasional

Sleman – Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk SMA/SMK di Sleman terdiri dari dua jenis yaitu CBT (Computer Based Test) dan PBT (Paper Based Test). Di Sleman SMK yang menyelenggarakan CBT adalah SMK N 2 Depok, SMK 1 Kalasan, SMK Muhammadiyan Prambanan, SMK N 1 Seyegan dan SMK 1 ujian CBT tersebut Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman sudah bekoordinasi dengan PLN agar tidak terjadi pemadaman listrik selama 4 hari.

“Jika terjadi kondisi listrik mati pihak sekolah telah menyediakan genset dan untuk antisipasi penguatan atas perangkat komputer dan sistem didah dipersiapkan server dengan jumlah dan kapasitas yang mencukupi. UN dengan sistem CBT tersebut akan belangsung 3 shift,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Sleman, Arif Haryono SH, kemarin.

Menurut Arif, pelaksanaan UN SMA/SMK tersebut sudah dikoordinasikan di tingkat pokja dan sekolah, untuk SMA ada 4 pokja dan SMK ada 5 pokja. Jumlah peserta UN ada siswa yang terdiri dari SMA ada 4945 siswa, dari 59 sekolah, penyelenggara UN ada 48, sedangkan yang menggabung ada 11 sekolah. Untuk SMK jumlah peserta UN sebanyak 6515 siswa, dari 55 sekolah, penyelenggara UN sebanyak 48 sekolah dan yang menggabung 7 sekolah.

Dari peserta UN di Kabupaten Sleman tersebut ada yang mengikuti UN tidak di sekolah tapi di LP karena tersangkut kasus hukum, yaitu 1 orang di LP Cebongan, 1 orang LP  Wirogunan, 1 orang di LP Anak Wonosari.

“Di samping itu ada 4 anak berkebutuhan khusus yaitu 1 tuna rungu (MAN Maguwoharjo), 2 Low Vision (MAN Maguwoharjo dan SMA 1 Ngaglik) dan 1 lemah pendengaran (SMK Budi Mulia 2),” kata Arif.

Arif menambahkan bahwa untuk UN tahun 2015 ini hasil UN tidak menentukan kelulusan siswa, namun untuk kelulusan ada salah satu syaratnya yaitu mengikuti UN. Surat Keterangan Hasil UN tahun 2015 ini juga merupakan dasar seleksi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya. Sedangkan kelulusan siswa ditentukan oleh Rapat Dewan Guru. Materi Soal untuk UN SMA/SMK ini berdasarkan pada KTSP 2006.




Pemkab Tingkatkan Kualitas Sarana Pengairan

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus meningkatkan kualitas sarana pengairan dengan melakukan pembangunan dan pemeliharaan sarana pengairan berupa sungai dan sempadan sungai, bendung, embung, dan daerah irigasi.

“Kualitas bendung dengan kategori sederhana telah ditingkatkan menjadi bendung teknis atau permanen sehingga jumlahnya meningkat dari 954 buah pada tahun 2010 menjadi 959 buah tahun 2014,” kata Sekretaris Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Aji Wulantara SH kepada wartawan, Minggu (12/4).

Menurut Aji, secara kualitas, kondisi bendung permanen meningkat dari 63,28 persen menjadi 73,76 persen. Irigasi juga memiliki fungsi yang sangat penting bagi pertanian, dan di wilayah Kabupaten Sleman apalagi pertanian masih menjadi sektor tumpuan. Masyarakat yang bekerja pada sektor tersebut mencapai 23,56 persen. Oleh karena itu kegiatan gerakan irigasi bersih di Sleman perlu terus dilakukan dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga irigasi bagi pertanian.

“Selain itu masyarakat juga harus memahami bahwa sampah yang dibuang di saluran irigasi akan memiliki dampak yang buruk bagi pertanian. Oleh karena selain mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah di saluran irigasi, juga mengedukasi masyarakat tentang pemilahan dan manajemen persampahan sehingga sampah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Aji.

Diakui, saat ini banyak perilaku manusia yang mengancam keberadaan air. Pencemaran terjadi dimana-mana, tidak terkecuali air irigasi. Banyak petani yang merasa resah karena pencemaran telah berdampak buruk pada sistem pertanian mereka.

“Pencemaran ini terjadi karena banyaknya polutan yang masuk ke areal pertanian melalui jaringan irigasi. Polutan tersebut umumnya berupa limbah industri, limbah pasar, dan juga limbah rumah tangga baik padat (sampah) maupun cair,” tambah Aji.




Jambore Siaran Nasional Kunjungi Museum Gunung Merapi

IMG_1453Sleman – Peserta Jambore Siaran Nasional (JAMSINAS) RRI kunjungi Museum Gunung Merapi  dalam rangka Jambore Siaran Nasional (JAMSINAS) ke – 4 tahun 2015, Jum’at (10/4). 

JAMSINAS sudah menjadi agenda rutin yang digelar setiap 2 tahun skali. Diadakannya JAMSINAS untuk ajang silaturahmi antar angkasawan – angkasawati insan penyiar RRI di seluruh Indonesia. Dan, kali ini merupakan jambore ke – 4 yang berlangsung di Yogyakarta, setelah sebelumnya selalu di luar Pulau Jawa.

Ketua Panitia JAMSINAS ke – 4, Sudiman Bonaparte mengatakan bahwa RRI tidak hanya menyampaikan informasi tapi juga menghibur korban bencana yang mendapatkan musibah. Ketika ada bencana apapun 1×24 jam RRI harus hadir menyelenggarakan siaran dan bahkan pengalaman di padang ada juga studio tenda pelipur lara.

Kunjungan ke Museum Gunung Merapi ialah peserta ingin melihat kronologi peristiwa gunung merapi sebagai bahan renungan, ketika nantinya di daerah menghadapi hal yang sama.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sleman Sri Purnomo berpesan setelah kembalinya peserta JAMSINAS ke wilayah masing – masing agar menyampaikan apa yang telah dilihat di Kebupaten Sleman, sehingga warga masyarakat tertarik untuk datang ke Kabupaten Sleman.