Kerugian Banjir di Sleman Capai Miliaran Rupiah

Sleman – Bencana alam banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Sleman Rabu (22/4) malam, mengakibatkan 4 jembatan ambrol, dan kerugian ditaksir mencapai miliaran rupiah.

“Akibatkan hujan deras tersebut mengakibatkan sejumlah sungai meluap, selain terjadi banjir yang menggenangi beberapa rumah warga, sedikitnya empat jembatan putus akibat tergerus air,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan, Jumat (24/4).

Menurut dia, salah satu jembatan yang putus tersebut adalah jembatan penghubung Kecamatan Turi dan Pakem yang ada di Dusun Pules. Akibat kejadian ini, akses antarkecamatan ini sempat lumpuh total.

“Langkah penanganan darurat, kami dibantu warga dan TNI membangun jembatan dari konstruksi bambu,” katanya.

Selain itu, kata dia, jembatan di tiga titik lainnya juga rusak parah. Diantaranya infrastruktur penghubung Dusun Bayen dan Surodadi di Desa Donokerto Kecamatan Turi, serta jembatan di Desa Tegaltirto dan Sendangtirto Kecamatan Berbah.

“Kami melakukan identifikasi. Namun taksiran sementara, kerugian mencapai lebih dari Rp 1 miliar,” ujarnya.

Ia mengatakan, selain jembatan ambrol, luapan air sungai juga menyebabkan talud di beberapa titik, rusak.

“Dari laporan yang masuk ke BPBD, kerusakan talud jalan maupun sungai ada di Desa Donokerto Turi, dan Desa Purwobinangun Pakem,” ungkapnya.

Makwan mengatakan, pada Rabu (22/4) malam, puluhan KK juga sempat mengungsi di rumah penduduk yang tidak terendam banjir. Para pengungsi tercatat berasal dari Dusun Mrican Caturtunggal dan Grinjing Papringan, masing-masing sebanyak 48 dan 46 KK.

“Warga di dua dusun tersebut sempat mengungsi karena rumahnya terendam. Tapi hanya beberapa jam saja, setelah itu mereka langsung pulang ke rumah masing-masing,” katanya.

Selain rumah penduduk, luapan air Sungai Gajahwong juga merendam gedung SD Muhammadiyah Grinjing hingga ketinggian 30 cm. Namun musibah itu tidak sampai mengganggu aktivitas belajar-mengajar karena esok hari setelahnya langsung dilakukan kerjabakti oleh warga.

“Guna membantu warga, BPBD Sleman telah mendistribusikan peralatan dan logistik pangan,” tambahnya.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD DIY, Danang Samsu mengatakan, perbaikan jembatan Pules akan dilakukan oleh Provinsi. Tim dari instansi terkait telah terjun ke lapangan untuk memantau tingkat kerusakan.

“Kejadian itu bukan banjir lahar dingin dari Gunung Merapi karena tidak ada material vulkanik yang terbawa aliran air,” imbuhnya.

BPBD DIY mengimbau masyarakat tidak panik dengan adanya isu peningkatan aktivitas Merapi.

“Dari hasil koordinasi dengan BPPTKG Yogyakarta dipastikan Gunung Merapi dalam kondisi aman, dan masih berstatus normal,” katanya.




Warga di Bantaran Sungai Diminta Waspadai Banjir Susulan

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meminta warga yang ada di bantaran sungai terutama Sungai Gajah Wong untuk terus waspada terhadap kemungkinan meluapnya air sungai. Hal ini lantaran kondisi iklim yang masih berpotensi hujan deras.

“Hujan kemungkinan masih terus ada, sehingga warga harus tetap waspada agar kejadian semacam ini tidak menimbulkan kerugian yang besar,” kata Sri Purnomo terkait meluapnya sungai Gajah Wong, kemarin.

Akibat meluapnya sungai Gajah Wong pada hari Rabu (22/4) malam memang mengakibatkan puluhan rumah penduduk di wilayah Kecamatan Depok terendam air. Sri Purnomo juga mengakui jika tempat tinggal warga dibantaran banyak yang tidak layak. Lantaran berada dekat dengan bantaran sungai yang riskan terjadi luapan arus sungai. Menurut Sri Purnomo saat ini yang terpenting keselamatan warga.

“Kami sudah memberikan himbauan agar tidak lengah dan setiap waktu harus siap menyelamatkan diri saat bencana banjir terjadi,”kata Sri Purnomo.

Kondisi pemukiman padat penduduk yang ada di bantaran sungai ini sering ditemui di daerah perkotaan. Seperti halnya di Caturtunggal, Depok yang berbatasan dengan wilayah Kota Yogyakarta.

“Yang terpenting saat ini jangan sampai ada rumah baru yang berdiri di bantara sungai karena dapat memperbesar resiko bencana banjir,” kata Sri Purnomo.

Pihaknya juga berjanji akan melakukan penataan secara bertahap di lokasi padat penduduk tersebut. Tujuannya untuk mengurai kepadatan dan menjauhkan masyarakat dari bencana yang setiap saat mengancam. Dikatakan Sri Purnomo, permasalahan ini akan dibahas bersama SKPD dan pihak lainnya. Karena permasalahan ini cukup kompleks.




Triwulan Pertama PBB Sleman Capai Rp 6,9 Miliar

Sleman – Perolehan sementara Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Perkotaan dan Pedesaan Kabupaten Sleman hingga akhir triwulan pertama tahun 2015 ini telah mencapai Rp 6,9 miliar. Pemasukan tertinggi dari Kecamatan Depok Rp 1,8 miliar, kemudian Ngaglik Rp 786 juta dan Mlati Rp 778 juta.

Demikian antara lain disampaikan Sekretaris Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sleman, Haris Sutarta, kemarin. Menurut Haris, untuk pemasukan terendah dari Kecamatan Moyudan dan Minggir, masing-masing di kisaran Rp 50 juta.

“Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendongkrak penerimaan pajak daerah. Salah satunya melalui intensifikasi wajib pajak. Kami juga rutin melakukan sosialisasi sekaligus untuk mengingatkan wajib pajak terkait penerimaan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT),” kata Haris.

Selain PBB P2, lanjut Haris, Dispenda Sleman juga mengurusi beberapa jenis pajak lain. Diantaranya hotel, restoran, reklame, hiburan, parkir, mineral bukan logam dan batuan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan penerangan jalan umum.

“Dari semua pajak itu, PBB P2 masih menjadi tumpuan Sleman dalam hal pemasukan daerah. Bahkan sektor pajak bumi dan bangunan menempati porsi 10 persen dari total pendapatan asli daerah,” katanya.

Haris mengatakan, diharapkan pemerintah pusat mengkaji dengan serius wacana penghapusan PBB yang beberapa waktu lalu sempat digulirkan.

“PBB merupakan salah satu andalan PAD Kabupaten Sleman,” tambah Haris.

Dikatakan Haris, jika rencana itu disetujui, Sleman akan kehilangan puluhan miliar potensi pajak.

“Tahun lalu, pemasukan dari PBB-P2 saja mencapai Rp 58 miliar. Sementara tahun 2015 ini, ketetapan pajak tersebut sebesar Rp 74,4 miliar dari objek pajak,” tuturnya.




Kemandirian Masyarakat Didorong Untuk Hadapi MEA

Sleman – Masyarakat di Kabupaten Sleman terus didorong kemandiriannya untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu caranya melalui Pameran Potensi Daerah dan Gelar Budaya Kabupaten Sleman pada 24 April hingga 3 Mei 2015 Demikian disampaikan Ketua Badan Promosi Pariwisata Sleman Jono Lesmana, di Sleman, Kamis (23/4).

Menurut Jono dengan pameran lebih memprioritaskan untuk mengedukasikan masyarakat dan mengomunikasikan antara masyarakat dan pemerintah daerah.

“Harapannya kunjungan dari masyarakat mendapat informasi mengenaimasalah pemerintahan, ekonomi, dan pendidikan,” kata Jono.

Melalui pameran juga lebih menekankan kemandirian, bagaimana upaya masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi maupun pangan, menghadapi MEA 2015.

“Kalau tidak mandiri hanya dimanfaatkan sebagai pasar oleh negara-negara lain. Justru kami mendorong agar pelaku usaha untuk meningkatkan kulaitas dan mampu ekspor,” katanya.

Jono mengatakan dengan ada tampilan produk pertanian dan kehutanan, dapat menggugah masyarakat bagaimana dapat memenuhi kebutuhan pangan.

“Kami edukasi masyarakat sadar memanfaatkan halaman, lahan kosong dan berbagai potensi lainnya untuk memenuhi kebutuhan, jadi tidak hanya sekadar mampu membeli tapi mampu mencukupi secara mandiri,” papar Jono.




Bupati Kunjungi Beberapa Lokasi Bencana Akibat Hujan Deras

Bantuan AlatSleman – Akibat hujan deras yang terjadi Rabu (22/4) sore mengakibatkan beberapa jembatan dan sejumlah pemukiman rusak. Kerusakan terparah berupa putusnya jembatan yang terjadi di jalan Provinsi yang menghubungkan Kecamatan Turi dan Pakem yang merupakan jalur alternatif Kecamatan Tempel-Kecamatan Pakem, tepatnya di Pules Lor/ Surodadi Desa Girikerto Kecamatan Turi.

Jembatan yang putus sepanjang kurang lebih 6 meter dengan kedalaman sungai 4 meter. Akibat putusnya jembatan tersebut arus lalu lintas dialihkan ke jalur selatan, dari lampu merah Kecamatan Turi ketimur hingga sampai Pulowatu.

Kondisi jembatan yang putus tersebut telah ditinjau Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Kamis (23/4) yang pada kesempatan tersebut didampingi antara lain Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasita SH MHum, Kepala Dinas PUP Nurbandi, Camat Turi dan Camat Pakem. Putusnya jembatan tersebut mengakibatkan kerugian mencapai ratusan juta rupiah.

Sri Purnomo menyampaikan bahwa putusnya jembataan tersebut menjadikan arus lalu lintas jalur selatan menjadi semakin padat. Untuk mengatasi hal tersebut Pemkab Sleman akan segera memperbaiki meskipun darurat agar cepat berfungsi lagi, sedang untuk membangun jembatan secara permanen tentu membutuhkan waktu yang lama.

Lebih lanjut Sri Purnomo menyampaikan bahwa jembatan yang putus tersebut merupakan jembatan lama yang masih berupa gorong-gorong. Disamping meninjau jembatan di Poles Lor, Sri Purnomo melajutkan peninjauan jembatan Desa Kali Mangut di Surodadi Lor yang juga putus akibat hujan, sedang jalan Kabupaten di Nangsri Lor yang semula mulus juga rusak tergerus luapan kali di sisi kiri-kanan jalan.

Sedangakn banjir di Padukuhan Glagah Ombo mengakibatkan lonsornya talud, dan di Cepet Purwobinangun Pakem talud sepanjang 25 meter longsor dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp 30 juta. Sementara di Kalireso talud jalan Provinsi ambrol termasuk rumah yang ada didekatnya sebagian tergerus air kerugian talud diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

Sementara 3 rumah yang tertimpa pohon beberapa waktu lalu yang menimpa rumah Yuliono di Duwet Sendangadi Mlati, Wiratmono di Gondang Banyurejo Tempel dan salah satu warga Ngino juga mendapat bantuan dari PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur dan Boko berupa uang total Rp 20 juta.

Bantuan diserahkan oleh Kepala Program Kerja Bina Lingkungan PT Taman Wisata Candi Prambanan, Borobudur dan Boko, Repto Pranowo dan diterima Bupati Sri Purnomo, dan selanjutnya diserahkan kepada 3 warga yang mendapat bantuan. Penyerahan tersebut berlangsung di Duwet Sendangadi Mlati. Ditempat lain tepatnya di Padukuhan Mrican Pringgodani Depok sebanyak 48 rumah juga terendam air hingga sepinggang akibat luapan kali Gajah Wong.

Ditempat tersebut Sri Purnomo menyerahkan bantuan karung/bagor sebagai tanggul kali. Sedang di padukuhan Grinjing Papringan Caturtunggal Depok sebanyak 46 rumah juga terendam air setinggi 1 meter yang diakibatkan juga meluapnya kali Gajah Wong. Ditempat tersebut Sri Purnomo juga menyerahkan bantuan peralatan kerja berupa antara lain angkong, sekop dan peralatan lainnya.