Pemkab Gelar Dialog Antisipasi Konflik Sosial
Sleman – Dalam upaya menggali pokok-pokok pikiran tentang toleransi dan kerukunan umat beragama, sebagai bahan merumuskan kebijakan pemerintah dalam memelihara kerukunan Umat beragama di Kabupaten Sleman, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyelenggarakan dialog antar umat beragama yang bertajuk Antisipasi Konflik Sosial Untuk Menjaga Kehidupan Beragama Yang Harmonis Di Kabupaten Sleman.
Kegiatan ini di selenggarakan di Aula Lantai 3 Pemkab Sleman, Kamis (23/4) yang diikuti oleh perwakilan dari MUI, Majelis Agama Khatolik, Majelis Agama Kristen, Majelis Agama Hindu, Majelis Agama Budha, serta ormas keagamaan yang ada di Kabupaten Sleman.
Bupati Sleman, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Asisten Sekda Bidang Pemerintahan, Sunaryo SHCn mengatakan bahwa kegiatan dialog ini merupakan kegiatan yang strategis untuk menghimpun informasi dan deteksi secara dini terkait dengan permasalahan yang ada didalam masyarkat, baik permasalahan sosial ataupun permasalahan yang disebabkan oleh perbedaan keyakinan dan agama.
Dengan deteksi dini terhadap permasalahan-permasalahan tersebut diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan dan juga tindakan pencegahan. Hal ini mengingat kondisi masyarakat Sleman yang heterogen dengan berbagai latar belakang, memiliki potensi akan munculnya gesekan atau konflik, yang pada akhirnya akan merugikan kita semua.
Selain itu, keberadaan Kabupaten Sleman sebagai daerah tujuan pendidikan dan pariwisata, menuntut seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga citra Sleman dan DIY yang nyaman dan kondusif. Terlebih lagi, bergulirnya roda kehidupan masyarakat, sangat tergantung dengan terciptanya suasana yang aman dan kondusif, jauh dari konflik dan maraknya kriminalitas.
Menurut Bupati, perbedaan agama dan kepercayaan seringkali dijadikan alat pemecah persatuan dan kerukunan umat oleh kelompok-kelompok tertentu atau bahkan untuk berhadapan dengan kebijakan pemerintah. Hal ini dimungkinkan karena kelompok-kelompok tersebut sering lupa dengan makna dan hakikat dari Bhineka Tunggal Ika yang melekat pada lambang negara kita.
Belakangan ini perbedaan agama dan kepercayaan seringkali dijadikan pemicu konflik, baik horisontal maupun vertikal oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab.
Berkenaan hal tersebut, dikatakan Bupati diperlukan peran serta tokoh agama dan pemuka agama dalam mewujudkan tri kerukunan demi menjaga keutuhan bangsa dan negara kesatuan RI. Hal ini sangat berperan penting untuk memberikan pemahaman yang lebih dinamis tentang kerukunan intern, antar dan antara umat beragama dengan pemerintah.
Selain itu peran serta tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan serta mewujudkan peningkatan dan kesadaran umat beragama dalam mempererat persaudaraan sesama penganut umat beragama.
Oleh karenanya, melalui kegiatan dialog antar umat beragama ini, Bupati berharap, kesadaran akan kerukunan hidup umat beragama yang dinamis, humanis dan demokratis dapat ditransformasikan kepada masyarakat ditataran grassroot.***

