Lomba Masak Bahan Salak

DSC_2992bernasSleman – Salak ternyata bisa diolah menjadi beraneka macam olahan baik olahan basah maupun kering. Seperti halnya dalam lomba masak berbahan dasar salak dalam rangka memeriahkan dan menyemarakkan Peringatan Hari Jadi Ke 99 yang dilaksanakan  di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Jumat (8/5). Pizza salak dan sate salak merupakan olahan basah yang menarik perhatian dan merupakan terobosan baru dalam olahan berbahan dasar salak. Selain itu juga dodol salak, tart salak, puding salak, nastar salak, brownis salak,geplak salak dan lainnya.

Lomba dilaksanakan oleh panitia Hari Jadi Sleman ke 99 bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman. Menurut Ny Hj Kustini Sri Purnomo Ketua Tim Penggerak PKK Sleman dipilihnya bahan dasar salak karena buah salak merupakan buah khas Sleman yang cukup melimpah di Sleman dan pada saat panen raya harga salak anjlok. Untuk mengatasi masalah itu dengan mengolah salak menjadi aneka macam produk yang tidak hanya dinikmati buahnya yang segar saja namun diolah jadi berbagai macam olahan basah maupun kering.

Dengan diolah menjadi berbagai olahan akan meningkatkan nilai ekonomis salak. Lomba dilaksanakan bertahap mulai dari tingkat desa yang diikuti oleh seluruh padukuhan di Sleman sejumlah 1212 padukuhan kemudian tingkat Kecamatan dan juara I dan II di tingkat Kecamatan berhak mengikuti lomba di tingkat Kabupaten yakni sejumlah 34 kelompok olahan basah dan 34 olahan kering.

Bertindak sebagai juri dari Pusat kajian makanan tradisional UGM Zaki Utama  dan Prof DR Ir Sri Anggraini, Agus Lidwines dari Rumah Pastry dan Culinary Wahyu Austin, Fl Nurwahyuni dari Tarakanita Collage, Chef Suswanto dari Jogjakarta Plaza Hotel, Ir Sumirah dari Poltekes DIY.

Setelah melalui penjurian yang ketat akhirnya yang terpilih untuk jenis olahan kering sebagai juara I Kecamatan Semple salak Naningsih Pakem, Juara II Cokies Daging Kelapa Nanik Maryani dari Ngemplak, Juara III Nastar salak Yuniasih dari Godean, juara IV Puff kering salak Tri Asri Astiani dar Seyegan dan Juara V oleh Tatik dari Kalsan.

Sementara untuk olahan basah juara I Cup cake salak Nur Kumarawati dari Gamping,  juara II Sate Salak Hj. Rofiah dari Mlati dan Juara III Mafin Salak Oleh Hasanah sofi dari Moyudan, Juara IV Jenang Salak Ny Sukarjo Seyegan dan Juara V Klapertaart Roti oleh Nanik Sri Palupi dari Sleman. Para juara masing masing menerima tropy, piagam dan uang pembinaan. Hadiah diserahkan oleh Ketua Tim  Penggerak PKK dan Ketua Hari Jadi Sleman Sukarno SH.




Layanan PDAM Sleman Belum Merata

Sleman – Pencapaian layanan air bersih kepada masyarakat Sleman dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman masih jauh dari target. Pasalnya, layanan tersebut baru dapat diakses oleh 20 persen warga Kabupaten Sleman. Demikian diungkapkan Direktur PDAM Sleman, Dwi Nurwanta SE MM kepada wartawan di Sleman, Jumat (8/5).

Menurut Dwi,  saat ini capaian layanan yang diberikan baru mencapai sekitar 200 ribu penduduk Kabupaten Sleman. Dan ternyata jumlah tersebut masih jauh dari target nasional sebesar 68 persen dari jumlah penduduk.

“Saat ini sambungan pipa PDAM di Sleman terdapat 27 sambungan. Secara prosentase, baru mencapai 20 persen dari target,” kata Dwi.

Diungkapkan Dwi, hal tersebut terjadi lantaran layanan penyediaan air bersih bagi di Kabupaten Sleman tidak hanya disediakan oleh PDAM Sleman namun juga oleh organisasi pengelola air yang dikelola oleh beberapa Pemerintah Desa (Pemdes). Selain itu, warga yang tinggal di daerah batas kota masih dilayani oleh PDAM Kota Jogja seperti Kecamatan Mlati dan sebagian Depok.

Sementara itu, warga Sleman juga masih banyak yang mengandalkan sumber air mandiri seperti dari sumur-sumur yang dibuat oleh warga di lingkungan tempat tinggal. Dengan tercukupinya kebutuhan air tersebut, maka warga enggan menggunakan layanan PDAM.***




‬Hari Sabtu dan Minggu 30 Grup Jathilan Akan Berlaga di Denggung

Sleman – Sebanyak 30 grup kesenian jathilan dari 17 Kecamatan se Kabupaten Sleman akan berunjuk ketrampilan dan berlaga dalam event Festival Jathilan Sleman Tahun 2015, Sabtu dan Minggu 9 – 10 Mei 2015 mulai puku WIB di Lapangan Denggung Beran Sleman.

“Ajang ini untuk memperebutkan tropi kejuaraan dan uang pembinaan yang berjumlah total Rp 25 juta,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Jumat (8/5).
Dikatakan Ayu  bahwa Festival Jathilan Sleman merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan mengembangkan seni tradisional kerakyatan khususnya jathilan dalam bingkai kearifan lokal seni budaya dalam rangka mendukung Jogja Istimewa di Kabupaten Sleman. Selain itu juga untuk membangkitkan kembali grup-grup jathilan di wilayah Kabupaten Sleman dalam iklim kompetisi, serta memberikan ruang gerak dalam berekspresi bagi seniman jathilan.
Festival Jatihlan Kabupaten Sleman tahun 2015 akan berlangsung selama 2 hari yang diikuti oleh 30 grup yang direkomendasikan oleh masing-masing kecamatan. Adapun Festival Jathilan Sleman tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, 9 – 10 Mei 2015 mulai pukul WIB hingga selesai di parkir Utara Lapangan Denggung atau Depan Gedung Kesenian Kabupaten Sleman.
Pada hari Sabtu 9 Mei 2015 akan tampil 15 grup jathilan, yaitu Ngesti Rahayu Turonggo Manunggal dari Cangkringan, Kridho Among Taruno dari Berbah, Kridho Mudho Setyo Krebet dari Ngemplak, Guntur Wahyu Buwono dari Cangkringan, Eko Turonggo Mudo dari Tempel, Kudo Langen Ndriyo dari Pakem, Sadar Budoyo dari Minggir, Turonggo Mudho Budoyo dari kecamatan Sleman, Kudo Taruno dari Ngemplak, Bekso Mudho Wiromo dari Gamping, Melati Tegalrejo dari Kalasan, Turonggo Krida Tama dari kecamatan Sleman, Turonggo Mudho Bendan dari Kalasan, Turonggo Jati dari Turi, dan Budaya Manunggal dari Pakem.
Sedangkan pada hari Minggu 10 Mei 2015 juga akan tampil 15 grup, yaitu Turangga Satrio Wijil dari kecamatan Depok, Turonggo Satrio Mudho dari Prambanan, Sekar Gadung dari Turi, Arum Turonggo Mudo dari Godean, Cahyo Tirto Manunggal dari Mlati, Ngesti Turonggo Budoyo dari Mlati, Kudha Nalendra dari Moyudan, Laras Giri Seta dari Gamping, Turonggo Macho Budoyo dari Prambanan, Satrio Turonggo Seta dari Ngaglik, Turonggo Panca Wisesa dari Godean, Agung Mudo dari Seyegan, Putra Garuda Manunggal dari Tempel, Kudo Utomo dari Ngaglik dan Mekar Budoyo dari Seyegan.
Ayu mengharapkan bahwa event spesial di akhir pekan yang berupa Festival Jathilan Sleman 2015 dapat menjadikan ajang hiburan sekaligus wahana apresiasi bagi para pelaku dan pecinta seni serta wisatawan baik domestik maupun manca negara.



Grand Final Dimas Diajeng Cilik 2015 Digelar Minggu Malam

Sleman – Pemilihan Dimas Diajeng Cilik Sleman 2015. hampir berakhir. Ke 30 finalis telah menjalani rangkaian kegiatan pembekalan diantaranya tentang kebudayaan, destinasi wisata Sleman dan DIY, wisata budaya Jamasan Ageng, pemberdayaan anak, bakti sosial, dan famtrip ke berbagai destinasi, dan lainnya. Grand Final akan diselenggarakan Minggu malam 10 Mei 2015 mulai pukul WIB di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Demikian dikatakan Ketua Panitia Pemilihan Aryanti Dyah Maharani, SST di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Yogyakarta, Jumat (8/5). Aryanti Dyah Maharani atau yang akrab dipanggil Diajeng Rani tersebut menambahkan bahwa ke 30 finalis atau 15 pasang Dimas Diajeng Cilik selama perjalanannya dari bulan Maret hingga awal Mei ini dilakukan penilaian secara intens dan obyektif. Sehingga nantinya di saat Grand Final dapat terpilih urutan prestasi yang benar-benar berdasarkan kemampuan dan ketrampilan yang sebenarnya.

Ke 30 finalis yang akan berlaga untuk memperebutkan Gelar Dimas Diajeng Sleman 2015 adalah untuk dimas Abiyu Safabakas dari SDI Al-Azhar 31 Yogyakarta, Abner Herlambang (SD Model Sleman), Alexius Farrel (SD Budi Utama), Aloysius Pijar (SD Model Sleman), Asto Tunas (SD Model Sleman), Benedictus Radit (SD Budi Utama), Duma Kidung (SDI Al-Azhar 31 Yogyakarta), Giovanno Suryo (SD Budi Utama), Gencar Randy (N Sleman 1), Ivano Wildan (SD Model Sleman), M. Abel (SD Muhammadiyah Condongcatur), M. Danis Arkan (SD Model Sleman), Maheswatama (SD Model Sleman), R. Muh. Fajar (SD Gedongkiwo), Rauzan Kusuma (SD Sorogenen 1).

Sedangkan untuk diajeng adalah RA Julian (SDN Sorogenen), Annisa Saras (SD Muhammadiyah Sleman), Atikah Istiqomah (SD Model Sleman), Dominique Naura (SD Model Sleman), Elena Feda (SD Tamansiswa Jetis), Febia Anggun (SD Sleman 1), Gabriela Amanda (SD Model Sleman), Galuh Hanindya (SD Ungaran 1), Hazullay Shava (SD Sleman 1), Laudya Chelsea (SD Model Sleman), Naora Anjani (SD Lempuyangwangi), Nasywa Safira, Putri Aulia (SD Model Sleman), Radiva Intan (SD Model Sleman), Zana Mufliha (SDN 1 Sleman).

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM berharap event pemilihan Dinas Diajeng Cilik Sleman 2015 ini benar-benar menghasilkan generasi bibit unggul yang memiliki intelektualitas tinggi dan ketangguhan moral serta sebagai salah satu ikon sumberdaya manusia yang mumpuni, sehat, cerdas, kreatif, enerjik, berwawasan luas. Sehingga diharapkan mereka mampu mengemban dengan baik sebagai duta kebudayaan dan pariwisata bagi Kabupaten Sleman pada khususnya dan DIY pada umumnya.




Temu Sastra antara Sastrawan dan Siswa

Sleman – Temu sastra antara Sastrawan dan siswa tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama  dengan tajuk  “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya “ yang berlangsung di SMPN I Sleman, kemarin  diprakarsai Direktorat Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman. Acara yang dikemas sarasehan tersebut nampak sangat klasik, karena peserta terutama siswa semuanya berpakaian adat Jawa sorjan untuk siswa laki-laki dan kebaya untuk siswa perempuan.

Acara tersebut diikuti perwakilan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama , guru bahasa dan sastra Indonesia, Kepala Sekolah, Komite sekolah, Dewan pendidikan  dan pejabat dinas pendidikan kabupaten dan propinsi. Tujuan dari kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya tersebut antara lain memperkenalkan kepada siswa/siswi cara membaca dan mengapresiasikan pelajaran sastra,  membangkitkan rasa ingin tahu siswa tentang pelajaran sastra melalui pembacaan puisi, sajak, drama dan lainnya.

Disamping itu untuk memotivasi siswa untuk membaca dan membuat karya sastra, juga memberikan pemahaman tentang pelajaran bahasa dan sastra sebagai pelajaran  yang menyenangkan dan menjanjikan hari esok yang lebih baik.

Bertindak sebagai nara sumber pada kegiatan tersebut  dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan antara lain Drs Aliyas , Drs Elifati Daeli, Drs Adi Syahbana MSi, Supriyono, MSi dan Agus Suharyanto ,MA.

Hadir pada kesempatan tersebut antara lain Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sleman Arif Haryono SH, mewakili Bupati Sleman, yang dalam sambutannya  menyampaikan bahwa kita bukan hanya memiliki warisan sastra Indonesia saja tetapi juga punya kekayaan sastra Jawa dan Melayu untuk itu agar siswa tetap dapat mempelajari dan melestarikan. Sehingga akan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan siswa.

Dalam pelaksanaan sastrawan bicara siswa bertanya ini dilaksanakan dengan metode yang sederhana yakni metode ceramah oleh para sastrawan tentang hal-hal yang berkaitan dengan karya sastra dihadapan siswa/siswi. Metode demontrasi yakni para sastrawan dan siswa membacakan puisi, sajak, cerpen dan drama dengan mendemontrasikan apa yang diperankannya dalam puisi, cerpen, drama dan sajak serta musikalisasi puisi.

Dan yang terakhir siswa bertanya kepada sastrawan tentang sastra, puisi, sajak dan drama serta musikalisasi puisi kemudian para sastrawan menjawab satu persatu pertanyaan siswa. Pertanyaan siswa sangat bervariasi antara lain tentang latar belakang pribadi sastrawan, pemahaman sastra, puisi, sajak dan drama serta musikalisasi puisi. Melalui kegiatan tanya jawab ini para sastrawan senantiasa berusaha memberikan daya tarik kepada para siswa untuk mempelajari sastra, puisi, sajak, drama dan musikalisasi puisi serta penghayatannya.