Satgas Narkoba Sendangsari Minggir Dikukuhkan

Sleman – Satgas anti Narkoba Desa Sendangsari Kecamatan Minggir secara resmi telah dikukuhkan oleh Wakil Bupati Sleman, DR Yuni Satia Rahayu SS MHum yang ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan, Kamis (13/5). Hadir pada kesempatan antara lain Kepala Dinas Nakersos Drs Untoro Budiharjo, Staf Ahli Bupati Bidang Hukum daan Politik Jasim Sumirat SH.

Yuni menyampaikan bahwa dengan dilantiknya Satgas ”GANDASARI” ini diharapkan akan semakin menumbuhkembangkan budaya dan gerakan anti napza. Pada akhirnya masyarakat khususnya generasi muda akan semakin terhindar dan terbebas dari penyalahgunaan napza.

Yuni berharap satgas ini dapat bekerja dengan maksimal dan senantiasa berkoordinasi dan bersinergi dengan berbagai pihak agar perang melawan napza ini dapat berjalan efektif. Yuni juga  prihatin dengan masalah penyalahgunaan narkoba ini. Hal ini karena masalah narkoba merupakan ancaman serius bagi seluruh warga masyarakat. Peredaran narkoba sudah me­ram­bah hampir keseluruh penjuru wilayah Sleman, baik di perkotaan maupun di pedesaan, dari SD hingga perguru­an tinggi, dari masyarakat biasa hingga kalangan pejabat.

“Yang lebih memprihatinkan lagi adalah sekalipun sudah banyak jatuh korban jiwa dan banyak pengguna narkoba yang di­pen­jara, namun masih saja ada warga masyarakat yang ter­je­bak dalam penyalahgunaan narkoba,” kata Yuni.

Berkenaan dengan hal tersebut  mengharapkan kepa­da seluruh anggota organisasi kemasya­rakatan maupun LSM, tidak hanya yang masuk dalam anggota satgas,  untuk meningkatkan peran dan kepeduliannya terhadap maraknya penyalahgunaan dan peredaran napza. Selaku pribadi mau­­pun Pemerintah Kabupaten Sleman akan men­du­kung setiap kegiatan yang bertujuan untuk memberantas narkoba.

“Kita harus teliti dan bertindak cermat  terhadap maraknya kasus narkoba yang terjadi dewasa ini. Peredaran narkoba tidak saja terjadi di pusat-pusat kota, namun saat ini sudah me­­ram­­­bah ke perkampungan,” tutur Yuni.

Oleh karena itu penanggu­lang­­an masa­lah nar­ko­tika adalah kewajiban  semua pihak. Upa­­ya untuk memerangi narkoba, memerlukan strategi yang tepat. Hal ini dikarenakan per­edaran narkoba dilakukan de­ngan cara-cara yang terorganisir dan sitematis. Untuk  itu guna melawan peredaran narkoba harus dilakukan de­ngan cara-cara yang sistematis dan teroganisir pula, agar lebih efektif dan efisien.

Pemerintah pusat juga serius dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran narkoba, tentunya masih segar dalam ingatan kita bahwa beberapa waktu yang lalu pemerintah melalui aparat penegak hukumnya telah melaksanakan eksekusi hukuman mati terhadap para gembong narkoba.

Upaya pemerintah tersebut patut diapresiasi karena Negara Kesatuan Republik Indonesia benar-benar serius memerangi penyalahgunaan dan peredaran narkoba.  Selain itu penegakan hukum yang tegas terhadap para gembong-gembong narkoba ini juga diharapkan dapat memberikan efek jera kepada pengedar dan juga pengguna narkoba.




Pipa Saluran Bocor, Distribusi Air Bersih di Prambanan Terhambat

Sleman – Mendekati musim kemarau, distribusi air bersih bagi warga Prambanan mengalami hambatan. Hal ini lantaran pipa saluran yang mengalirkan air bersih dari resevoir di daerah setempat mengalami kebocoran. Kondisi tersebut membuat distribusi air bagi masyarakat yang terdampak kekeringan setiap tahunnya itu terhambat. Hal tersebut dikhawatirkan warga akan kembali merasakan dampak kekeringan di tahun ini meski sistem resevoir air bersih sudah dibangun di daerah itu. 

Organisasi Pengelola dan Pemakai Air (OPPA) Prambanan menemukan 15 titik kebocoran di sistem resevoir III di wilayah Desa Gayamharjo. Kebocoran terjadi disebabkan dinding pipa yang keropos karena karat.

“Itu baru di satu wilayah saja. Untuk menghadapi kemarau di tahun ini, kami melakukan pengecekan pada pipa-pipa saluran yang menuju bak penampungan warga,” ungkap Mujimen, Ketua OPPA Prambanan, kemarin.

Menurutnya dengan adanya kerusakan tersebut, warga di daerah distribusi tidak teraliri lantaran sampungan yang terputus. Kondisi ini dipengaruhi letak pipa berdiameter 4 hingga 8 inchi yang berada di daerah perbukitan batu sehingga rawan terdampak longsor.

“Selain itu, pipa-pipa yang ada di pemukiman warga riskan untuk terputus lantaran banyak yang melintang di jalan. Saat ini kami sedang memetakan mana saja yang terputus,” paparnya.

Total warga yang menjadi sasaran pendistribusian air bersih dibawah pengelolaan OPPA sekitar KK di lima desa di Prambanan. Desa-desa tersebut antara lain Gayamharjo, Sumberharjo, Wukirharjo, Bokoharjo, dan Sambirejo.




Hadapi Kemarau PDAM Sleman Mulai Siapkan Sumber Air Cadangan

Sleman – Mendekati musim kemarau yang akan datang, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman telah menyiapkan sejumlah sumber air. Hal tersebut dilakukan untuk menyukupi suplai air di beberapa wilayah yang rawan kekeringan.

Demikian dikatakan Direktur PDAM Sleman, Dwi Nurwata SE MM, kemarin. Menurut Dwi,  selain menyukupi kebutuhan masyarakat di daerah rawan kekeringan, rencana tersebut bertujuan untuk menjaga suplai air selama kemarau. Pasalnya, sejumlah sumber air utama seringkali mengalami penurunan debit.

Dikatakan Dwi, Daerah rawan kekeringan antara lain Gamping dan Prambanan. Kedua wilayah ini sulit mengakses air dari sumber saat musim kemarau. “Untuk itu menjadi prioritas,” tutur Dwi.

Ditambahkan pula bahwa selain sumber air di Umbul Wadon, selama musim hujan pihaknya juga telah mempersiapkan sumber air di antaranya Embung Tambak Boyo di Depok dan Embung Bedog di Godean. Selain itu PDAM Sleman juga akan memanfaatkan resevoir (bak penampungan) Tambak Rejo, Tempel dengan kapasitas 50 meter kubik dan sumur dalam di wilayah Ngaglik yang memiliki debit sebesar 70 liter per detik.

Sumber air ini dapat dimanfaatkan selama musim kemarau sehingga dapat menjangkau wilayah Gamping. Sedangkan untuk wilayah Prambanan terutama di perbukitan, akan disuplai dengan cara droping air di bak-bak penampungan yang telah tersedia.

Diungkapkan Dwi  setiap musim kemarau PDAM Sleman mengalami penurunan kapasitas air sekitar 10 hingga 15 persen. Namun dengan adanya sumber air cadangan tersebut, kebutuhan suplai air ke pelanggan diklaim dapat terpenuhi.

“Saat ini kami juga sedang mempersiapkan sejumlah embung untuk dijadikan sumber air alternatif. Namun embung yang akan dimanfaatkan harus memiliki debit air yang stabil saat musim kemarau sehingga tidak mengganggu kebutuhan warga yang sudah terlebih dahulu memanfaatkan sumber tersebut,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Aji Wulantara SH mengatakan dalam menghadapi musim kemarau, pihaknya sudah memetakan sumber air mana saja yang dapat dimanfaatkan warga. Saat ini Sleman memiliki 189 sumber air baik berupa embung maupun tuk yang tersebar secara merata di 17 kecamatan.

“Dalam pemanfaatannya ada yang sudah dikelola oleh Pemkab Sleman melalui PDAM maupun organisasi pengelola air yang dijalankan oleh masyarakat secara langsung,” paparnya.