Dua Kecamatan Rawan Kekurangan Air Bersih

Sleman – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sleman telah mempersiapkan rencana suplai air untuk wilayah yang rawan kekeringan jika musim kemarau tiba. Ada 2 daerah yang dinilai rawan kekurangan air bersih yaitu  Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Gamping.

“Untuk musim kemarau ada daerah Prambanan timur yaitu Gayamharjo dan Gamping bagian atas yang biasa alami rawan kekeringan  jadi butuh suplai air,” kata Direktur PDAM Sleman, Dwi Nurwata SE MM, Jumat (21/5).

Menurut Dwi, rencananya, PDAM akan memberi bantuan berupa dropping air menggunakan truk tangki secara berkala. Air itu akan didistribusikan kepada warga yang terdampak kemarau dan dibagi secara bergiliran.

Dikatakan Dwi, Prambanan dan Gamping selalu menjadi daerah langganan saat kekeringan sehingga perlu mendapat bantuan air dari PDAM saat musim kemarau tiba. Warga di Prambanan kebanyakan menggunakan air melalui saluran PAMDes. Namun karena sumber air saat musim kemarau kering sehingga air pun tidak sampai mengalir ke rumah-rumah warga. Oleh karena itu PDAM rutin memberi bantuan air setiap kemarau tiba.

Dwi mengatakan meski setiap musim kemarau PDAM mengalami penurunan kapasitas air sekitar 10%-15% namun PDAM masih memiliki cadangan besar untuk suplai air ke daerah Prambanan maupun Gamping.

“Kalau di Sleman tengah PDAM punya sumur 70 liter per detik di Ngaglik kalau di Sleman barat ada reservoir (bak penampungan) di wilayah Tambak Rejo, Tempel sebesar 50 kibik. Cukup untuk suplai air,” tambah Dwi.

Selain itu, PDAM juga dapat memanfaatkan air dari embung. Apalagi embung di Sleman yang dapat dimanfaatkan PDAM itu ada Tambak Boyo di Condong Catur lalu ada juga Cokro Bedok di Godean. Ya sekitar lima embung bisa dimanfaatkan PDAM.

Meski untuk tahun 2015 ini pemanfaatannya belum dapat maksimal, Dwi menargetkan 2017 nanti kelima embung yang ia maksud itu sudah dapat diakses oleh PDAM. Selain mengandalkan embung Tambak Boyo, Cokro Bedok, dan sisa debit 70 liter per detik yamg masih dimiliki PDAM pada tahun 2014 lalu, PDAM Sleman masih mempunyai cadangan air di sumber air Umbul Wadon Cangkringan. Di umbul ini, PDAM memiliki jatah debit air 85 liter per detik.

“Karena Umbul Wadon dipakai banyak pihak maka jatah PDAM 85 liter per detik,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Sumber Daya Air Energi dan Mineral (SDAEM) Sleman, Aji Wulantara SH mengatakan, untuk meminimalisir kekurangan air saat kemarau, pihaknya akan berkoordinasi dengan PDAM. Menurutnya, Sleman memiliki banyak sumber air yang dapat dimanfaatkan warga. Sleman sendiri tercatat ada 189 mata air yang  dimanfaatkan oleh warga.

Pihaknya juga sudah mencatat bahwa Prambanan memang menjadi salah satu kecamatan yang selalu krisis air saat kemarau. Oleh karena itu, Aji akan merekomendasikan Prambanan untuk mendapat bantuan air dari PDAM.




Disperindagkop Sleman Belum Ambil Tindakan

Sleman – Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sleman belum mengambil tindakan dalam menanggapi kabar peredaran beras plastik. Pasalnya sejauh ini belum ada instruksi resmi untuk melakukan pemeriksaan di pasar.

“Kami masih menunggu kepastian kabar peredaran berasa plastik ini dari kementerian. Kami belum ada instruksi untuk melakukan pemeriksaan di pasaran,” kata Kepala Disperindakop Sleman, Drs Pustopo dikantornya, Jumat (22/5).

Namun menurutnya jika mendapatkan kepastian kabar tersebut, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY. Pihaknya juga akan langsung melakukan tindakan untuk kasus tersebut.

“Kalau ada instruksi, langsung kami laksanakan karena sudah ada dasarnya,” katanya.

Pustopo juga mengungkapkan bahwa pencegahan peredaran beras sintetis itu sulit dilakukan. Hal ini lantaran beras merupakan barang bebas.

“Pantuan beras baru sebatas keberadaan stok dan harga, untuk peredaran beras plastik belum,” ungkapnya.




Disbudpar Upayakan Ruang Berekpresi Bagi Seniman

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman terus berupaya mencukupi kebutuhan ruang berekspresi bagi para seniman di Kabupaten Sleman. Demikian disampaikan Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM kepada wartawan di Sleman, Jumat (22/5). 

Menurut Ayu hal ini dilakukan karena para pelaku seni dan budaya di Kabupaten Sleman saat ini terkendala ruang untuk berekspresi. Kondisi berakibat  pada kurang berkembangnya kegiatan seni di Kabupaten Sleman.

“Saat ini kita  terus mengupayakan tercukupinya kebutuhan ruang berekspresi bagi para seniman di Sleman,” kata Ayu didampingi Sekretaris Disbudpar, Dra Endah Sri Widiastuti.

Salah satu cara yang dilakukan adalah  dengan memperbanyak pertunjukan seni di kantong-kantong wisata dan budaya yang tersebar di 17 kecamatan. Kantong wisata dan budaya yang dimaksud diantaranya adalah desa wisata. Menurutnya desa wisata merupakan lokasi yang ideal untuk mengembangkan kreatifitas seni dan budaya. Apalagi potensi kesenian dan budaya di Sleman sangat besar, namun diperlukan fasilitas untuk menyalurkan kreatifitas dari pelakunya.

“Kami melihat kebutuhan para pelaku seni adalah ruang untuk berekspresi, untuk itu perlu disediakan agar tidak terhenti kreatifitasnya,” tutur Ayu.

Dengan disediakannya ruang berekspresi tersebut, lanjut  Ayu, keberadaan seni dan budaya dapat menjadi obyek wisata yang dapat ditawarkan oleh Disbudpar Sleman. Hal ini mengingat Kabupaten Sleman hanya memiliki sedikit obyek wisata alam. Berbeda dengan Kabupaten Gunungkidul misalnya yang punya obyek wisata alam yang banyak, sehingga banyak yang tertarik. Sedangkan Sleman, potensi yang bisa ditonjolkan adalah seni budayanya. Sehingga perlu dikemas secara kreatif.