Pemkab Sleman Sidak Peredaran Beras Plastik di 3 Pasar

2505 SLEMAN BERASSleman – Pemerintah Kabupaten Sleman melakukan sidak ke pedagang pasar untuk mengecek kemungkinan adanya peredaran beras plastik di Slemanm Senin (25/5). Sebagai sampel sidak dilakukan di 3 pasar yaitu pasar Sleman, pasar Denggung dan pasar Kolombo.

Tindakan ini dilakukan Pemkab Sleman sebagai respon atas adanya kabar beredarnya beras plastik di wilayahnya. Dalam sidak ini dilakukan pengujian secara sederhana dengan memasukkan beras ke dalam air. Cara sederhana ini untuk mengetahui apakah beras mengambang atau tenggelam. Bila mengambang maka disinyalir merupakan beras plastik. Dari 3 lokasi ini tidak ditemukan adanya beras yg dijual pedagang pasar yang terindikasi beras plastik.

Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Ir Widi Sutikno MSi mengatakan meski dari uji sederhana dengan memasukkan beras ke air tidak ditemukan indikasi beras plastik namun pemerintah akan menindaklanjuti dengan uji laboratorium. Pada sidak ini pemerintah mengambil sampel beras dari para pedagang untuk diuji di laboratorium. Meski tidak ditemukan beras yang diindikasikan sebagai beras plastik Widi Sutikno tetap menghimbau agar masyarakat berhati-hati saat membeli beras.

Widi Sutikno menyarankan kepada masyarakat agar membeli beras dari hasil panen petani Sleman saja. Sementara Kapolres Sleman, AKBP Faried Zulkarnaen SIK menyampaikan bahwa pihaknya sudah menerima laporan dari masyarakat tentang adanya beras plastik di Sleman.

Dan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat ini pihak Polres sedang melakukan pemeriksaan saksi – saksi dan melakukan uji laboratorium. Namun sampai saat ini Polres belum bisa menyampaikan kesimpulan dari kasus ini karena masih menunggu hasil laboratorium.

“Saat ini Polres Sleman menyimpan barang bukti berupa beras 9 kg dan beras yang sudah dimasak 2 ons,” kata Faried.

Sidak yang dilaksanakan Pemkab Sleman ini melibatkan berbagai instansi yaitu Dinas Pasar, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Bagian Perekonomian, Bagian Humas, Polres dan Kodim Sleman.




Bupati Resmikan Bank Sampah “Handayani” Panggung Sariharjo

2505 SLEMAN BANK SAMPAHSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meresmikan bank sampah Sleman “Handayani” yang didirikan warga Panggung Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik Sleman, Senin (25/5). Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pemberian bantuan tong sampah oleh Bupati. 

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Drs Purwanto mengatakan bersamaan dengan peresmian bank sampah Handayani ini juga diundang jejaring seluruh pengelola sampah di Sleman. Karena Bank sampah Handayani akan dijadikan induk bank sampah mandiri di Sleman.

Disampaikan Purwanto bahwa dengan jumlah penduduk Sleman sebanyak 1,3 juta jiwa menghasilkan sampah 2,65 liter per hari dengan timbunan sampah 3200 meter kubik per hari. Dan dari sampah itu yang diangkut dengan armada menuju TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hanya 427 meter kubik per hari.

“Dan sampah jenis apapun bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan,” kata Purwanto.

Sementara lanjut Purwanto, di Sleman ini ada bank sampah 29, transfer depo 13 dan tempat pengolahan sampah dari seluruh Sleman ada 6. Sehingga lanjut Purwanto peran masyarakat sangat penting dalam pengelolaan sampah. Sementara Ketua Bank Sampah “Handayani”, Sri Handayani mengatakan berdirinya bank sampah Handayani ini pada tahun 2013 dengan anggota sebanyak 120 orang.

Keberadaan bank sampah di Panggung ini terus disosialisasikan dan saat ini jumlah nasabahnya sudah mencapai 1300 nasabah sebagai anggota yang terdiri dari 996 individu dan sisanya kelompok. Hasil produksi pengolahan limbah berupa tas, dompet dan lainnya dengan pemasaran hasil mulai sampai Jakarta, Lampung  juga Palembang.

“Berkat adanya bimbingan dari Kantor BLH Sleman, bank sampah Handayani teris meningkatkan jejaring pengelolaan bank sampah mandiri di Sleman,” kata Sri Handayani.

Sedang Bupati Sri Purnomo menyampaikan ucapan selamat untuk kelompok pengelola sampah Handayani yang mampu menjadi bank sampah secara mandiri dan menjadi induk jejaring pengelolaan sampah mandiri di Sleman.
Sri Purnomo juga mencontohkan saat ini masih banyak orang yang belum memiliki kesadaran dalam membuang sampah. Hal ini diketahui karena masih ada warga yang suka membuang sampah di jembatan.

Sri Purnomo juga meminta ilmu pengelolaan sampah mandiri ini bisa disampaikan kepada warga lainnya untuk bisa mengelola sampah dengan baik. Apalagi didaerah Sariharjo Ngaglik banyak tumbuh rumah makan sehingga masalah sampah mandiri harus semakin diperkuat. Pendampingan pengelolaan jejaring sampah di Sleman harus terus dilakukan.***




Pemkab Miliki Keterbatasan Dalam Pengelolaan Sampah

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan pemerintah daerah memiliki keterbatasan dalam upaya pengelolaan sampah di Kabupaten Sleman sementara sebagai daerah padat pemukiman, Sleman dihadapkan pada tantangan untuk mengelola persampahan dengan baik.

“Persampahan dapat menjadi potensi jika dikelola secara professional namun sebaliknya jika persampahan tidak ditanggulangi sejak dini maka dapat menjadi masalah,” kata Sri Purnomo ketika memberikan pengarahan pada jejaring pengelola sampah mandiri di Dusun Panggung Sariharjo Ngaglik Sleman, Senin (25/5).

Sri Purnomo juga menyatakan keprihatinannya dengan lemahnya kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah. Sementara pemilahan sampah merupakan langkah awal untuk memperpanjang usia hidup sampah. Kondisi ini memicu penurunan kualitas lingkungan yang memperburuk kesehatan masyarakat.

“Dengan adanya bank sampah, masalah sampah dapat ditangani tidak hanya karena dapat mewujudkan lingkungan yang sehat, rapi dan bersih namun juga sekaligus memberikan nilai tambah pada sampah yang selama ini hanya dibuang. Sampah organik diolah kembali menjadi kompos sedangkan sampah anorganik dapat diolah menjadi berbagai benda kerajinan yang memiliki nilai jual sehingga dapat meningkatkan perekonomian kerluarga” kata Sri Purnomo.

Karena itu melalui forum jejaring pengelola sampah diharapkan agar setiap bank sampah di Kabupaten Sleman tidak bosan-bosannya mensosialisasikan kepada masyarakat tentang pentingnya meminimalisir penggunaan sampah plastik yang sulit diurai.

Setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengelola sampah rumah tangganya masing-masing. Karena itu Sri Purnomo berharap sampah yang disetor ke bank sampah telah melalui proses pemilahan untuk memudahkan petugas bank sampah dalam mengelola sampah.

Sri Purnomo juga menghimbau kepada para ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang untuk bergabung dalam pengelolaan bank sampah. Berbagai kegiatan industri kerajinan berbahan dasar sampah merupakan kesempatan untuk memperkuat perekonomian keluarga.

“Saya mengingatkan bahwa sampah tetap memiliki nilai ekonomis jika kita mampu mengolahnya dengan benar. Tantangan ini harus menjadi motivasi bagi kita untuk lebih kreatif dan berinovasi. Masalah sampah dan limbah selalu ada terkait dengan peningkatan jumlah penduduk dan berkurangnya lahan terbuka akibat perluasan area pemukiman,” tambah Sri Purnomo.

Pengelolaan masalah sampah dan limbah juga sangat berkaitan dengan pembiasaan cara hidup yang sehat kepada masyarakat sebagai upaya preventif bagi penanganan masalah sampah dan limbah. Oleh karena itu, sangat diharapkan adanya peran serta aktif dari berbagai tokoh masyarakat dan LSM atau NGO untuk membantu upaya pembiasaan pola hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.