Laporan Keuangan Pemkab Sleman 2014 Peroleh Opini WTP Tanpa Paragraf Penjelasan

WTPSleman – BPK Perwakilan Provinsi DIY menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan  Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD ) Kabupaen Sleman Tahun Anggaran 2014 kepada Bupati Sleman dan Ketua DPRD Sleman.

Hal ini dilakukan untuk memenuhi amanat  UU Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan  Negara. Laporan yang diserahkan terdiri dari tiga laporan, yaitu Atas Laporan Keuangan, LHP Atas Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, dan LHP Atas Sistem Pengendalian Intern. BPK RI memberikan opini mengenai kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.
“Pertimbangan dalam pemberian opini atas laporan Keuangan antara lain adalah kesesuaian dengan standar Akutansi Pemerintahan, kecukupan pengungkapan, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta efektifitas sistem  pengendalian intern,” kata Kepala BPK Perwakilan DIY, Drs Parna MM.
Lebih lanjut disampaikan Parna, berdasarkan hasil pemeriksaan BPK dapat disimpulkan bahwa untuk Tahun Anggaran 2014 Kabupaten Sleman berhasil memperoleh  Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dengan tanpa paragraf penjelas.
Sementara Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI  mewakili 4 Kabupaten dan Kota  mengatakan  Laporan Hasil Pemeriksaan ini sejalan dengan komitmen Pemkab/Pemkot dalam mewujudkan good governance. Dalam upaya mewujudkan good governance tersebut, seluruh Pemkab/Pemkot senantiasa berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan yang benar-benar bersih dan baik.
Terlebih lagi salah  satu  unsur  untuk  mewujudkan  akuntabilitas  pada  Pemda  adalah  transparansi keuangan  negara,  hal ini merupakan kewajiban  Pemda  untuk  memberikan  pertanggungjawaban, menyajikan  dan  melaporkan segala aktivitas dan kegiatan  yang terkait dengan  menggunakan uang publik kepada pihak yang   memiliki   hak   dan   kewenangan   untuk   meminta   pertanggungjawaban.
Pemerintah  Daerah  sebagai  pihak  yang  ditugasi  menjalankan  roda  pemerintahan, pembangunan  dan  layanan  sosial  masyarakat  wajib  menyampaikan  laporan  pertanggung jawaban  keuangan daerahnya  untuk  dinilai. Pemerintah  daerah dituntut agar pengelolaan  keuangan  daerahnya dilakukan secara baik  dan  dapat  mewujudkan  tujuan pemerintahan yang bersih (clean goverment), dimana pengelolaan keuangan daerah yang baik adalah   kemampuan   mengontrol   kebijakan   keuangan daerah   secara   ekonomis,   efisien, transparan dan akuntabel.
Salah satu upaya untuk mencapai pemerintahan yang bersih dan baik adalah dengan mentargetkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP), seperti yang diraih Pemerintah Kabupaten Sleman saat ini. Pada penyampaian LHP BPK tahun ini Pemkab Sleman memperoleh opini WTP tanpa paragraf penjelas.
Hal ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan, karena Pemkab Sleman telah memperoleh opini WTP 4 kali berturut-turut, dan kali ini benar-benar tanpa paragraf penjelas.  Hal ini menunjukkan kinerja seluruh SKPD yang ada di Kabupaten Sleman dalam hal pelaporan keuangn Pemerintah Daerah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan ke arah yang positif. Sri Purnomo, berharap ke depan Pemkab Sleman dapat mempertahankan prestasi ini, dan dapat mewujudkan cita-cita pemerintahan yang yang transparan, efisien, bersih, ekonomis dan akuntabel.



Sleman Akan Perbanyak Pangkalan Gas Elpiji 3 Kg

Sleman – Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Ir Sapto Winarno mengatakan dalam rangka menanggulangi kelangkaan gas elpiji 3 kg, maka di Kabupaten Sleman akan diperbanyak pangkalan-pangkalan gas elpiji 3 kg.

“Dinas SDAEM juga akan menggelar operasi pasar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Sleman selama 3 hari yaitu tanggal 27, 28 dan 29 Mei 2015,” kata Sapto kepada wartawan di Press Room Pemkab Sleman, Kamis (28/5).

Dikatakan Sapto, tanggal 27 Mei 2015 operasi pasar berlangsung di Kecamatan Turi, Tempel, Godean, Cangkringan, Ngemplak, dan Ngaglik. Sedangkan tanggal 28 Mei 2015 di Kecamatan Sleman, Minggir, Seyegan, Mlati, Depok, Kalasan dan  pada tanggal 29 Mei 2015 operasi pasar berlangsung di Kecamatan Prambanan, Berbah, Gamping, Pakem dan Moyudan.

“Pada saat ini di Kabupaten Sleman terdapat 1365 pangkalan gas elpiji dan 17 agen,” ungkap Sapto.

Pangkalan-pangkalan gas elpiji tersebut diharapkan langsung menjual gas elpiji 3 kg kepada konsumen/pengguna yang tepat sasaran yaitu rumah tangga dan pengusaha kecil mikro, tiap orang dengan menunjukkan KTP wilayah kecamatan setempat dapat membeli gas elpiji maksimal 2

tabung, dan tidak melayani penjualan ke pengecer, warga juga diberikan tanda tinta di jari. Harga resmi tabung elpiji 3 kg adalah Rp per tabung. “Pangkalan yang nakal  akan diberikan teguran dan pembinaan,” tambah Sapto.




Pemkab Adakan Safari Gerakan Gemar Membaca

Sleman – Dalam rangka menggalakkan kembali budaya gemar membaca serta memasyarakatkan perpustakaan sebagai upaya meningkatkan minat baca masyarakat, Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sleman bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca dengan tema ”Membangun Karakter Bangsa melalui Membaca dengan Memberdayakan Perpustakaan”.

Safari Gerakan Gemar Membaca diikuti sejumlah peserta  dari masyarakat umum, kepala sekolah, pemerhati perpustakaan desa dan komunitas, siswa SMA, LSM, organisasi profesi, PKK, Karang Taruna, budayawan, media cetak dan elektronik serta SKPD terkait, yang berlangsung di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (28/5).

Hadir dalam acara tersebut, Esti Wijayanti, anggota Komisi X DPR RI serta Dra Suyamsih , Asisten Sekda Bidang Pembangunan. Bertindak sebagai narasumber dalam acara ini adalah Lucia Damayanti MHum (Kepala Direktorat Deposit Bahan Pustaka Perpusnas RI), Budi Wibowo SH MM (Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY) dan Dra Sri Hartati (Kepala Kantor Perpustakaan Daerah Sleman).

Menurut Sri Hartati, kegiatan ini dimaksudkan guna mendorong seluruh lapisan masyarakat belajar sepanjang hayat (long life education). Sementara Suyamsih  melalui kegiatan ini  juga menyampaikan ajakan kepada seluruh masyarakat untuk membudayakan membaca dari lingkungan terkecil di rumah masing-masing, di sekolah, perkantoran dan di berbagai kesempatan.

Hal ini dikarenakan membaca bukan lagi sebuah kewajiban karena masih berada di bangku sekolah akan tetapi sebagai kebutuhan untuk terus menambah pengetahuan setiap saat. Sedangkan kepada para pengelola perpustakaan, Suyamsih berharap agar ke depannya  pengelolaan perpustakaan dan taman bacaan di Kabupaten Sleman dapat lebih meningkat kualitasnya. Dengan kualitas perpustakaan yang baik dan strategi pengelolaan perpustakaan yang tepat maka minat baca masyarakat juga dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu.

Kegiatan  ini juga diharapkan dapat memberikan motivasi bagi para pengelola perpustakaan desa, taman bacaan serta masyarakat dalamperan sertanya mengembangkan perpustakaan di tempatnya masing-masing. Dihimbau kepada pengurus perpustakaan untuk kreatif menciptakan inovasi sehingga anak-anak kita tertarik untuk datang ke perpustakaan. Seyogyanya perpustakaan menjadi rujukan pertama untuk mencari informasi.

Berkenaan dengan hal tersebut, momen ini diharapkan mampu menjadi titik tolak bagi masyarakat untuk semakin mengenal perpustakaan dan memanfaatkan perpustakaan sebagi pusat ilmu dan informasi.




Warga Diminta Tidak Resah Tanggapi Isu Beras Plastik

Sleman – Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Kabupaten Sleman, Drs Untoro Budiharjo menghimbau warga di Sleman untuk tidak resah dan membesarkan isu beredarnya beras plastik terutama beras raskin (beras untuk keluarga miskin). Sebab untuk membuktikan adanya beras plastik tersebut perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

“Jangan mudah percaya isu yang belum tentu kebenarannya, karena keberada beras plastik harus dibuktikan dengan penelitian,” kata Untoro, Kamis (28/5).

Untoro juga meminta warga tidak mudah mengklaim beras yang dibelinya dari pasar merupakan beras plastik, karena hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini karena dalam menanak beras, banyak faktor yang mempengaruhi, kurang air bisa akibatkan beras “pero” atau agak keras dan lainnya.

“Banyak faktor yang perlu diperhatikan, nanti terlalu lembek diklaim beras palsu, tidak bisa matang dikira beras plastik. Sebaiknya diperhatikan dulu masalahnya apa. Mungkin karena kebanyakan atau kurang air, tegangan listrik kurang saat memasak menggunakan peralatan elektroknik,” tutur Untoro.

Seperti diketahui Rabu (27/5) di Desa Tridadi Kecamatan Sleman telah  disalurkan Beras Raskin dan uji Tanak Beras Bersama Kabulog Regional DIY  Langgeng Wisnu Adinugroho dan hasil uji tanak beras raskin tersebut matang saat ditanak dan dicicipi bersama-sama.