TK Budi Utama Maju Lomba Sekolah Sehat Tingkat Nasional

DSC_2880 bernasSleman – TK Budi Utama Sinduadi Mlati yang bermotokan  ”Sekolahku Hijau, Aku Sehat, Prestasi Hebat ” ternyata juga hebat, karena mampu menjadi wakil DIY dalam Lomba Sekolah Sehat (LSS) tingkat nasional yang evaluasinya dilaksanakan, Rabu (3/6). Prestasi yang dicapai TK Budi Utama tersebut tidak lepas dari peran berbagai pihak, bukan saja hanya pihak sekolah semata, tetapi juga dari Tim Pembina UKS tingkat Kecamatan dan Tingkat Kabupaten Sleman serta Dinas Kesehatan. 

Keberhasilan tersebut juga berkat misi dari UKS TK Budi Utama yang melaksanakan Trias UKS, melaksanakan program sekolah sehat secara optimal, membiasakan serta membudayakan perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tim penilai tingkat nasional tersebut secara resmi diterima oleh Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI di Aula TK Budi Utama dan jajaran Dinas Kesehatan maupun Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga.

Pada kesempatan tersebut Sri Purnomo menyampaikan bahwa penyelenggaraan LSS ini tidak saja bermanfaat bagi sekolah yang dipilih, namun juga bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Sleman. Hal ini dikarenakan sekolah merupakan salah satu tempat yang dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran akan pentingnya menjaga kesehatan lingkungan sehingga para guru, karyawan dan murid dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.

Selain itu, kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah, secara tidak langsung dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar para siswa.

“Namun demikian jangan sampai lomba sekolah sehat ini hanya memacu sekolah untuk tampil pada saat penilaian saja namun harus menjadi budaya sehari-hari dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah,” kata Sri Purnomo.

Guna lebih mengoptimalkan upaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat, selain melalui UKS, pihak sekolah menerapkan adanya Bank Sampah Sekolah yang bisa mendidik siswa agar tidak membuang sampah sembarangan dan bisa memanfaatkan sampah yang sudah dipilah untuk membuat prakarya sekolah.

Sementara itu ketua tim penilai dr Aan Natalia Utami dari Kementrian Kesehatan RI mengatakan kegiatan evaluasi ini melibatkan Kementrian Kesehatan, Kementrian Pendidikan, Kementrian Dalam Negeri dan Kementrian Agama RI. Evaluasi yang dilakukan akan secara menyeluruh mulai dari lingkungan sekolah, upaya-upaya menjaga kesehatan dan kebersihan (PHBS), sarana prasarana dan pelauyanan UKS yang dilakukan sekolah bersama anak didiknya, sehingga diperoleh bukti nyata dilapangan.

Dihadapan Tim Penilai siswa TK Budi Utama menyuguhkan kebolehannya dalam kegiatan UKS dengan penampilan laskar UKS. Siswa TK tersebut mempraktekan kegiatan mengelola kebun sekolah dari menanam, memanen hingga memasaknya sampai menjadi siap saji serta praktek cuci tangan dengan sabun yang benar. Dilanjutkan dengan pemaparan profil sekolah oleh Kepala Sekolah, Farah Herastuti SPsi.

Dijelaskan Farah, saat ini sekolah Budi Utama memiliki 107 anak didik dengan TK A 3 kelas 46 anak, TK B 3 kelas 61. Lingkungan sekolah dibuat ramah lingkungan dengan banyak ditanam pepohonan buah-buahan dan sayuran seperti pohon apukat, durian, nangka, mangga, belimbing, markisa, kebun sayur dan polowija, tanaman obat dan lainnya. Bangunan sekolah juga dibuat dengan jendela besar dan tembok dalam kelas tidak penuh sehingga akan banyak sirkulasi udara dan tidak pake ac.

Selanjutnya tim langsung mengadakan peninjauan ke ruang-ruang kelas, ruang UKS, kamar mandi, halaman sekolah, kebun, kantin. Penilaian dilanjutkan ke Kecamatan Mlati sebagai Tim Pembina tingkat Kecamatan dan ke Dinas Pendidikan dan Olah Raga Sleman sebagai Tim Pembina Tingkat Kabupaten. Tim Penilai Jumat, juga akan mengadakan penilaian ke SMP  2 Kalasan yang diajukan oleh DIY untuk dinilai oleh Tim Pusat dalam kegiatan UKS.




Menambah Pangkalan Syaratnya Harus Memiliki Gudang

Sleman – Guna menekan harga elpiji 3 kg yang harganya melambung tinggi di pasaran,  Dinas Sumber Daya Air dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman akan menambah pangkalan. Dan bagi warga yan ingin  membuka pangkalan  syaratnya harus memiliki gudang sebagai tempat penyimpanan. Demikian disampaikan Kepala SDAEM Sleman, Ir Sapto Winarno, Rabu (3/6).

Menurut Sapto berdasarkan SK Gubernur , HET DIY adalah di tingkat pangkalan. Namun ketika sampai di tingkat pengecer, harga yang dipatok bisa mencapai Rp bahkan lebih. Sapto mengakui jumlah pangkalan masih kurang sedangkan pengecer semakin banyak.

“Maka kami akan meningkatkan jumlah pangkalan di setiap kecamatan,” kata Sapto.

Saat ini jumlah agen di Sleman berjumlah 17 sedangkan jumlah pangkalan ada titik.

Saat ini lanjutnya SDAEM masih melakukan maping di tiap kecamatan. Dan  jumlah pangkalan tidak akan disamakan antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya. Maping pangkalan akan berdasarkan kepadatan penduduk. Seperti diwilayah  Depok dan Cangkringan, jumlah pangkalan sudah beda karena kepadatan penduduknya beda.

“Pangkalan memang hanya mendapat keuntungan sedikit dari penjualan elpiji tiga kilogram yakni sekitar per tabung. Untuk itu, kegiatan pangkalan ini dapat disandingkan dengan kegiatan penjualan sembako,” tutur Sapto.

Sementara surat permohonan pendirian pangkalan dapat diajukan melalui SDAEM. Selanjutnya akan diteruskan ke Hiswana Migas. Selanjutnya akan ditinjau dari segi kepadatan dan juga kelayakan. Kelayakan meliputi lokasi, jangkauan mobil masuk gudang, dan juga kepemilikan minimal 50 tabung.

Jika sudah disetujui dan dapat beroperasi, pangkalan akan mendapat jatah distribusi gas melon sebanyak 50-60 tabung per minggu. Harga yang dipatok pangkalan adalah standar HET sehingga konsumen dapat menghemat belanjanya dibanding membeli gas melon di pengecer. Untuk itu, jumlah pangkalan akan semakin ditingkatkan agar menekan harga tinggi yang berlaku di tingkat pengecer.

Adapun jumlah pangkalan di Kabupaten Sleman saat ini berjumlah . Kecamatan Berbah 65 pangkalan, Cangkringan 41, Depok 150, Gamping 120, Godean 95, Kalasan 97, Minggir 40, Mlati 130, Moyudan 40, Ngaglik 76, Ngemplak 88, Pakem 47, Seyegan 108, Sleman 84, Tempel 107, Turi 42, dan Prambanan 35 pangkalan. Dua desa di Prambanan yang belum memiliki pangkalan adalah Desa Wukirharjo dan Sambirejo.




Tlatar Seneng Jadi Tempat Wisata Baru di Sleman

Tlatar SenengSleman – Kabupaten Sleman memiliki potensi alam yang banyak menarik untuk dijadikan tempat wisata. Salah satunya adalah lokasi bekas penambangan batu breksi di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Lokasi tersebu menjadi tempat wisata baru di Kabupaten Sleman dengan nama Tlatar Seneng.

“Wisata Tlatar Seneng di Sambirejo Prambanan ini telah diresmikan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X hari Jumat (30/5) malam,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Rabu (3/6).

Tlatar Seneng di lokasi bekas penambangan batu breksi di Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan tersebut tepatnya berada sekitar 1 kilometer sebelah barat dari Candi Ijo.

Dikatakan Sri Winarti, oleh masyarakat setempat, tebing yang sebagian telah rusak lantaran diambil materialnya itu kini dikembangkan menjadi objek wisata baru dengan sebutan Taman Tebing Breksi, Gunung Purba Candi Ijo.

“Pada kesempatan tersebut Gubernur juga meresmikan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tlatar Seneng yang mengelola Taman Tebing Breksi,” kata Sri Winarti.

Pada awalnya masyarakat hanya tahu tebing yang ditambang hanya bebatuan breksi yang digunakan untuk bahan bangunan, namun setelah ada penelitian, bebatuan itu rupanya merupakan endapan abu vulkanik dari Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunungkidul yang harus dilestarikan.

“Melihat pengunjung yang terus berdatangan, kemudian dijadikan taman wisata baru. Bagian depan tebing yang ditambang dibuat panggung pentas permanen dengan tempat duduk dari batu dibuat melingkar,” tambah Sri Winarti.

Sorot lampu yang ada di sekitar panggung dengan latar belakang tebing menjadikan panggung di dalam bebas itu terasa megah. Selain itu, kawasan di sekitar lokasi panggung yang memiliki luas lahan sekitar 4 hektare dengan medan naik-turun bisa dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas motor trail. Ke depan, di lokasi tersebut akan ditambah fasilitas yang bisa digunakan untuk kegiatan out bound.

Usai peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, Gubernur saat meresmikan lanjut Sri Winarti sempat berdialog dengan masyarakat Sambirejo. Masyarakat Sambirejo  mendukung adanya tempat wisata baru di bekas tambang namun berharap masyarakat terlibat langsung dalam operasional kegiatan.

Karena dengan dilarangnya menambang tentu akan hilang mata pencaharian yang telah dilakukan selama puluhan tahun menambang. Dalam kesempatan tersebut Gubernur juga menyerahkan sepenuhnya apa keinginan dari masyarakat yang kehilangan mata pencaharian. Karena masyarakat dalam waktu dekat butuh penghasilan maka perlu segera dirumuskan apakah dengan peternakan, perikanan atau kegiatan lain yang langsung dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Gubernur menambahkan pengelolaan tempat wisata di lokasi ini seyogyanya disinergikan dengan tempat wisata lain seperti di Lava bantal Berbah sehingga akan menjadi satu paket yang menarik bagi wisatawan. Usai dialog juga dipentaskan pagelaran seni budaya perwakilan Kabupaten/Kota se DIY dari para peserta Jambore Pramuka se DIY. Karena di tempat tersebut juga diadakan kemah Jambore Pramuka se DIY yang jumlahnya mencapai 400 orang peserta, sehingga menambah suasana semakin semarak.