Miras Hasil Operasi 5 Bulan Dimusnahkan

DSC_1164bernasSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bekerjasama dengan jajaran Polres Sleman dan Kejaksaan Sleman telah melakukan pemusnahan barang bukti minuman keras (miras) hasil operasi selama 5 bulan sejak Januari hingga Mei 2015.

“Pemusnahan barang bukti miras tersebut sudah dilakukan hari Rabu (17/6) dilapangan Pemkab Sleman dengan disaksikan Bupati Sleman, Ketua DPRD Sleman, Kapolres, Kepala Kejaksaan Negeri Sleman dan para pejabat Sleman,” kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sleman, Drs Joko Supriyanto, Kamis (18/6).

Dikatakan Joko Supriyanto, pemusnahan miras  tersebut dilakukan dalam rangka penegakan Perda Kabupaten Sleman nomor 8 tahun 2007 tentang pelarangan pengedaran, penjualan dan penggunaan minuman beralkohol dan telah diajukan ke Pengadilan Negeri Sleman.

Barang bukti  miras yang dimusnahkan tersebut sebanyak minuman beralkohol (botol, kaleng, plastik). Dari jumlah tersebut  terdiri dari minuman beralkohol pabrikan sebanyak botol dan 22 kaleng  dan minuman beralkohol non pabrikan sebanyak 657 botol dan 5 plastik  ukuran setengah kilogram. Jenis minuman beralkohol yang dimusnahkan dengan Stomwalles tersebur berupa antara lain Anggur Kolesom 66 botol, Heineken 149 botol,Bir bintang 449 botol dan 16 berupa kaleng, Bir bali hay 198 botol,Vodka 108 botol, dan lainnya.

Sebelum pemusnahan Miras dilakukan dengan penandatangan berita acara oleh Bupati Sleman dengan saksi dari Kejari Sleman, Kapolres Sleman dan Pengadilan Negeri Sleman serta Ketua DPRD Sleman. Barang bukti meras yang dimusnahkan tersebut hasil operasi sebanyak 15 kali dan telah dilaksanakan sidang di pengadilan negeri sleman sebanyak 5 kali. Sedang jumlah pelanggar yang diajukan ke sidang Pengadilan Negeri Sleman sebanyak 23 orang pelanggar yang merupakan penjual minuman beralkohol.




197 Anggota Korpri Yang Pensiun Terima Tali Asih

1706 SLEMAN TALI ASIHSleman – Sebanyak 197 orang anggota Korpri yang purna tugas per 1 Januari s/d 1 Juni 2015 mendapat tali asih dari Korpri Sleman. Pemberian tali asih dilaksanakan di Pendopo Parasamnya Sleman oleh Ketua Dewan Pembina Korpri Sleman dr Suanrtono MKes, Rabu (17/6). Acara ini juga dihadiri Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI, Assek III, Sekretaris Korpri Sleman dan Pengurusnya dan Sekretaris Korpri DIY.

Menurut Sekretaris Korpri Sleman, Endang Kusmawati  SSos pemberian tali asih ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan bagi anggota yang purna tugas sekaligus sebagai sarana silaturahmi. Dari 197 orang penerima purna tugas ini rinciannya 156 orang memasuki batas usia pensiun, 17 orang pensiun dini, 19 orang meninggal dunia dan 5 orang pindah tugas ke daerah lain. Tali asih berupa uang sebesar Rp 1 juta bagi purna tugas dan yang alih tugas mendapatkan Rp 500 ribu. Iuran yang dibayarkan Rp 5 ribu setiap bulan dari PNS yang purna tugas baru mencapai Rp 140 ribu sehingga iuran dari PNS aktif mensubsidi kepada anggota yang purna tugas. Ini merupakan cerminan jiwa korsa anggota Korpri Sleman.

Sedangkan Drs Mawardi Hadi Suyitno, mantan Kepala Sekolah SMAN I Prambanan, sebagai pensiunan saat ini merasa bersyukur karena selain mendapat tali asih dari Korpri juga telah mendapat pelatihan kewirausahaan untuk bekal di masa pensiun. Bagi para pensiunan tidak mengalami power sindrom lagi karena banyak yang membuka usaha baru. Seperti yang  saat ini lagi boming para pensiunan PNS juga ada yang membukan usaha asah dan dagang batu akik serta usaha dan kegiatan produktif lainnya.

Sementara  Sri Purnomo menyampaikan pemberian tali asih ini merupakan wujud apresiasi Korpri Kabupaten Sleman serta wujud kebersamaan seluruh keluarga besar Korpri. Terwujudnya pemberian tali asih bagi ibu/bapak purna tugas ini merupakan bentuk kepedulian  sesama anggota Korpri dan merupakan salah satu bentuk penghargaan dalam kesatuan Korps. Tali asih ini juga hendaknya dapat dimaknai sebagai upaya untuk mempererat tali silaturahmi diantara anggota Korpri.

Selain itu, tali asih juga merupakan salah satu wujud implementasi jiwa korsa Korpri sehingga  janganlah tali asih ini dilihat dari besaran nominalnya namun wujud kebersamaan seluruh anggota Korpri yang diharapkan dapat menjadi satu kenangan tersendiri.

“Saya yakin dengan kebersamaan dan kekompakan seluruh anggotanya,  Korpri Sleman mampu meningkatkan kesejahteraannya” kata Sri Purnomo.

Dari seluruh anggota Korpri yang berjumlah lebih dari PNS, 97% dari jumlah tersebut telah tergabung dalam iuran tali asih dan dana sosial Korpri. Hal ini tentunya sangat membanggakan karena anggota Korpri telah memiliki kesadaran untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama anggota. Untuk itu kedepannya memang sangat diperlukan kerjasama dengan pihak swasta agar wujud kepedulian tersebut juga semakin meningkat.

Diharapkan dengan kepedulian dan kebersamaan yang semakin solid maka kinerja dan profesionalisme Korpri juga semakin meningkat. Sesuai dengan tema HUT Korpri ke 43 yaitu Memperkokoh jiwa korps, netralitas dan profesionalitas pegawai aparatur sipil negara dalam mendukung suksesi kepemimpinan menuju bangsa yang maju dan sejahtera.

“Maka saya harapkan profesionalisme Korpri Sleman benar-benar dapat ditunjukkan melalui berbagai layanan yang membantu anggotanya untuk meningkatkan kesejahteraannya,” tutur Sri Purnomo.




Pendonor Darah di Sleman Capai 9.600 Orang

1706 SLEMAN DONOR DARAHSleman – Hari Donor darah se Dunia yang jatuh pada 14 Juni 2015, diperingati oleh PMI Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, kemarin. Tamu undangan selain SKPD di Kabupaten Sleman, Camat, Kades juga para pendonor yang telah mendonorkan darahnya di Kabupaten Sleman 50 kali sampai dengan 100 kali sejumlah  80 orang dan para pendonor ini juga diberi kenang-kenangan oleh Bupati Sleman.

Ketua PMI Sleman, dr Sunartono MKes mengatakan untuk tahun 2014 jumlah pendonor mencapai orang golongan darah A , B 1572, O dan AB 390. Sementara untuk tahun 2015 ini sampai dengan 17 Juni 2015 mencapai orang dengan golongan darah A 342, B 421, O 581 dan AB 110.

Pada saat acara berlangsung juga disediakan bus donor darah dan diperoleh 7 pendonor. Sementara untuk stok darah pada bulan puasa dipastikan aman dan saat ini PMI Sleman telah menggunakan Informasi Teknologi (IT) dalam melayani pendonor sehingga langsung mendapat apresiasi setelah donor darah dan pada saat waktunya tiba untuk donor darah kembali telah otomatis diingatkan dengan IT.

Dalam kesempatan ini juga diundang pasien yang rutin melakukan transfusi darah karena penyakit Thlasemia yakni tidak dapat memproduksi darah sehingga harus transfusi sejak balita hingga saat ini usia 29 tahun. Orangtua pasien merasa sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih, karena berkat para pendonor anaknya masih bisa hidup karena banyak penderita seperti anaknya sudah tidak dapat tertolong.

Hadir pula Suraji seorang yang sehari-hari menjadi relawan PMI Sleman usia 37 tahun juga pernah mengalami penyakit DB dan sempat kritis karena kesulitan mencari stok darah malam menjelang Idul Fitri. Kesulitan ini karena kebutuhan darah pada saat itu banyak sementara orang sudah sibuk menyiapkan lebaran pada pagi harinya.

Namun berkat pertolongan Tuhan dan para pendonor akhirnya jiwanya dapat tertolong. Sementara Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI menyampaikan aksi donor darah yang merupakan aksi sosial ini selain untuk memupuk rasa kepedulian terhadap sesama juga merupakan ibadah kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sri Purnomo berharap agar aksi donor darah tidak hanya dilakukan pada event-event tertentu saja namun menjadi kebiasaan  sehat yang dilakukan setiap triwulan. Karena pada dasarnya aksi donor darah tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima donor namun juga bagi pendonor guna menurunkan berbagai resiko penyakit berbahaya yang direduksi melalui pembaharuan sel-sel darah secara rutin. Sirkulasi darah yang baik akan meningkatkan metabolisme dan merevitalisasi tubuh.




Sleman Masih Miliki Potensi Pengembangan Usaha Kreatif

Sleman – Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan Sleman, Dra Sudarningsih MSI menyampaikan bahwa potensi Kabupaten Sleman meliputi berbagai bidang usaha yang didukung oleh ketersediaantenaga kerja terampil dan terdidik. Selain itu juga potensi masyarakat yang ramah, heterogen, keamanan yang kondusif, kemudahan aksesibilitas serta ketersediaan infrastruktur jalan, listrik dan air yang dibutuhkan investor dalam kapasitas sangat memadai.

“Kondisi ini diharapkan dapat menjadi keunggulan tersendiri bagi Kabupaten Sleman,” kata Sudarningsih dalam forum komunikasi investasi di Sleman, Rabu (17/6).

Dengan berbagai akses kemudahan tersebut menurut Sudarningsih, Kabupaten Sleman masih berpotensi bagi pengembangan usaha-usaha kreatif. Berdasarkan data yang ada, di Kabupaten Sleman, pada tahun 2015, nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) meningkat menjadi kurang lebih 231,963 juta US dollar. Sedangkan nilai investasi PMDN Rp ,866 miliar.

“Peningkatan tersebut tentu saja cukup menggembirakan namun juga perlu kita  benahi pula hal-hal yang berkaitan dengan perizinan dan sebagainya. Jangan sampai investor yang menanamkan modalnya di Sleman menjadi terkendala dengan perizinan dan berbagai dokumen yang diperlukan untuk berinvestasi,” kata Sudarningsih.

Disampaikan pula bahwa kemudahan untuk mengajukan pengurusan izin PMDN yang sekarang bisa dilakukan di BPMPPT juga merupakan salah satu wujud dukungan bagi komitmen pemerintah untuk memperbaiki bentuk pelayanan bagi para investor.

Ditambahkan Sudarningsih bahwa dalam berbagai kesempatan Bupati Sleman juga telah menghimbau agar perusahaan-perusahaan yang telah memperoleh perizinan penanaman modal juga semakin tertib mentaati Perka BKPM Nomor 5 Tahun 2013 khususnya dalam hal pelaporan LKPM secara berkala kepada BPMPTSP Kabupaten/Kota, BKPMPTSP Propinsi dan BKPM RI.

Ketertiban penyampaian LKPM dapat dilihat dari data yang dihimpun BPMPPT Sleman yaitu dari 90 investor, baru 55% yang menyampaikan LKPM. Ketertiban untuk menyampaikan LKPM merupakan salah satu dukungan untuk mewujudkan iklim investasi yang kondusif.

Selain itu, bagi masyarakat umum, Pemkab Sleman telah melakukan pembenahan-pembenahan kaitannya dengan bentuk-bentuk pelayanan perizinan di Kabupaten Sleman. Dalam SK Bupati Nomor 13/ tentang pelimpahan kewenangan bupati kepada camat yang diundangkan pada tanggal 30 Januari 2015, beberapa Perizinan yang dapat diurus di tingkat kecamatan meliputi Surat Keterangan Tata Bangunan dan Lingkungan (SKTBL), Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Gangguan, dan Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan Hidup.




Potensi Keberagaman Budaya Bisa Datangkan Devisa

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan bila melihat potensi keberagaman yang ada di Indonesia, tentunya memiliki manfaat besar, seperti dalam bidang bahasa, kebudayaan daerah yang berwujud dalam bahasa daerah dapat memperkaya perbendaharaan istilah dalam bahasa Indonesia. 

Kemudian dalam bidang pariwisata, potensi keberagaman budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata di Indonesia yang bisa mendatangkan devisa. Pemikiran yang timbul dari sumber daya manusia di masing-masing daerah dapat pula dijadikan acuan bagi pembangunan nasional.

“Berkaitan dengan hal ini, saya ingin mengingatkan kembali bahwa kondisi masyarakat Sleman yang heterogen ini dengan berbagai latar belakang budaya, agama adat istiadat dan lain-lain, sering kali dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang tidak menyukai keanekaragaman ini sehingga menyebabkan munculnya gesekan atau konflik, yang pada akhirnya akan merugikan kita semua,” kata Sri Purnomo usai menghadiri dialog budaya di Sleman, Rabu (17/6).

Sri Purnomo juga mengajak semua pihak untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, untuk menggugah masyarakat kembali mengaplikasikan nilai-nilai budaya sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus mulai menanamkan kembali kearifan lokal yang merupakan warisan adiluhung dari leluhur. Langkah ini dapat dimulai dari diri sendiri, hubungan keluarga, dan dalam hubungan kemasyarakatan untuk menghadapi tantangan dan menanggulangi permasalahan secara komprehensif,” kata Sri Purnomo.

Ditambahkan Sri Purnomo bahwa hanya bangsa yang menghargai sejarah dan budayanyalah bangsa bisa menjadi besar dan kuat. Untuk itu jangan sekali-kali melupakan sejarah dan budaya sendiri. Namun kenyataannya yang terjadi adalah memudarnya budaya di berbagai lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketahanan budaya masyarakat semakin rentan terhadap perubahan globalisasi, terjadinya ketegangan, ketidakserasian antar masyarakat dan terkikisnya nilai-nilai keluhuran di dalam masyarakat.

Menurut Sri Purnomo dengan dialog budaya dapat mengeleminasi konflik terbuka di masyarakat yang kerap berujung pada kekerasan, akiÀÀbat adanya berbagai perbedaan. Dengan dialog budaya diharapkan akan membangun kesadaran bersama dalam masyarakat, bahwa perbedaan yang muncul merupakan suatu keniscayaan.

“Melalui dialog budaya akan ditemukan kebenaran bersama. Selain itu dengan melakukan dialog budaya selain akan membangun kesadaran bersama yang nantinya dapat mengeleminasi konflik dan menciptakan kehidupan yang harmonis,” tutur Sri Purnomo.