Eksekutif Diminta Tinjau Ulang Anggaran Penggandaan Daftar Pemilih

Sleman – Ketua DPRD Sleman, Haris Sugiharta meminta kepada eksekutif untuk meninjau ulang anggaran penggandaan, seperti fotokopi bukti daftar pemilih, Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Mengingat fotokopi DPS dan DPT sangat dibutuhkan masyarakat untuk memantau namanya sudah masuk atau belum.

“Kami minta kalau bisa anggaran untuk penggandaan bisa ditambah. Karena ini menyangkut kelancaran pelaksanaan Pilkades itu sendiri,” kata Haris, kemarin.

Haris juga berharap, pelaksanaan Pilkades bisa serentak 9 Agustus 2015 mendatang. Mengingat sekarang ini sudah ada 35 desa yang kadesnya diisi Penjabat (Pj) oleh PNS baik dari Sekdes PNS maupun PNS dari kecamatan.
“Pj itu kan tidak bisa mengambil keputusan. Makanya pelaksanaan lebih cepat akan lebih baik karena kebijakan akan langsung bisa diambil kades yang baru,” katanya.

Sementara minimnya anggaran untuk penggandaan seperti fotokopi bukti daftar pemilih, Daftar Pemilih Sementara (DPS) dan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dikeluhkan Sekretariat Pilkades yang berada di desa.  Sementara anggaran dari APBDes hanya bisa digunakan pada saat hari H Pilkades.

Anggota Panitia Pilkades Banyurejo Tempel, Irwan Darmanta mengatakan, dalam pelaksanaan Pilkades pada Agustus 2015 nanti, Desa Banyurejo Tempel mendapatkan anggaran Rp 100 juta lebih. Anggaran itu sudah termasuk untuk honor panitia, KPPS, konsumsi, penggandaan di sekretariat dan lainnya.

“Untuk lainnya tidak masalah karena sudah sesuai dengan rencana atau proposal. Tapi untuk anggaran penggandaan sangat tidak cukup karena kami hanya mendapatkan anggaran Rp 355 ribu saja,” kata Irwan, kemarin .

Menurutnya, anggaran penggadaan itu sudah digunakan untuk fotokopi bukti pendaftar pemilih 2015 sebesar Rp . Padahal fotokopi DPS dan DPT belum dilakukan sehingga anggaran itu tidak cukup untuk penggandaan.

“Semakin banyak fotokopi yang ditempelkan, seperti DPS dan DPT akan bisa meminimalisir warga yang belum masuk DPT. Tapi kalau yang ditempel sedikit, masyarakat susah melakukan pemantauan,” ujarnya.

Pihaknya belum mengetahui untuk menutup kekurangan anggaran penggandaan di sekretariat panitia Pilkades desa. Jika akan diambilkan dari APBDes tidak diperbolehkan karena hanya bisa digunakan pada hari H.




Pantauan di Pasar Balangan Minggir Ditemukan Makanan Berpengawet

Sleman – Meningkatnya kebutuhan pokok di bulan Ramadan  2015 ini membuat sebagian pedagang dan produsen berbuat curang dengan memproduksi dan memperjualbelikan barang yang membahayakan untuk dikomsumsi. Seperti dijumpai di Pasar Balangan Minggir, ada sebagian barang makanan/jajanan yang diberi pewarna yang bukan peruntukannya maupun bahan pengawet seperti Borax.

Saat dilakukan pemantauan barang di pasar Balangan Minggir Jumat (19/6) yang melibatkan beberapa SKPD seperti Dinas Pasar Sleman, Dinas Perindakop, Satpol PP Sleman maupun Balai POM Jogja, ditemukan beberapa jenis makanan/jajanan olahan yang menggunakan bahan pengawet dan pewarna bukan untuk peruntukannya.

Beberapa makanan tersebut seperti tahu isi setelah dilakukan uji laboratorium ternyata menggunakan bahan pewarna untuk pakaian yaitu methanil yellow, kue bolu emprit berwarna merah juga menggunakan pewarna methanil yellow, kue makanan kecil Sakura juga menggunakan bahan pewarna methanil yellow, juga lempeng singkong diketahui juga menggunakan pewarna methanil yellow.

Sedangkan beberapa jenis makanan/kue yang tidak mengandung bahan pengawet maupun pewarna pakaian antara lain   kue mangkok, ager-ager, rambak/krecek, kue cipir, cincau dan bakso, itu semua belum menjamin bebas dari borax maupun methanil yellow, karena itu hanya hasil lab yang dilakukan di Pasar Balangan dengan mengambil sample beberapa jenis makanan.

Sementara  Kepala Dinas pasar Sleman, Dra Tri Endah Yitnani saat dijumpai disela sela pantauan barang di pasar Balangan mengatakan bahwa pantauan barang tersebut dilakukan untuk melindungi konsumen dari barang yang tidak layak untuk dikomsumsi. Barang-barang yang dipantau tersebut terutama bahan kebutuhan pokok maupun jenis makanan siap saji yang banyak dijajakan di pasar.

Setelah dilakuan pantauan di pasar Balangan ternyata tidak ditemukan makanan yang sudah kedaluwarsa, namun barang yang dijajakan dan dijual tersebut sebagian sudah mendekati tanggal kadaluwarsa. Tetapi ada beberapa jenis makanan/jajanan yang siap saji yang ditemukan menggunakan bahan pengawet borax maupun zat pewarna yng tidak semestinya yaitu methanil yellow.

“Diharapkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih barang maupun makanan yang siap saji,” kata Endah.

Paling tidak lanjutnya harus memperhatikan makanan tersebut warna makanan tersebut, secara kasat mata paling tidak akan beda makanan yang menggunakan pewarna pakaian maupun pewarna makanan. Jenis makanan yang menggunakan bahan pengawet maupun pewarna tersebut menurut beberapa pedagang berasal dari luar Sleman. Dalam pantauan barang tersebut Kepala Dinas didampingi dari balai POM Jogja yaitu Endang Istri dan Sri Susilowati, juga dari Satpol PP.




‪Polres Sleman Tangkap Tiga Penculik‬

Sleman – Polres Sleman berhasil mengungkap kasus penculikan terhadap seorang pedagang pakaian, SW. Tiga pelaku penculikan Al dua perempuan pacar Al, Wl dan An. Kapolres Sleman, AKB Faried Zulkarnaen didampingi Kasat Reskrim AK Danang Bagus Anggoro, Jumat (19/6)menjelaskan aksi penculikan terjadi pada Rabu (17/6) lalu.

Modusnya, Wl meminta SW datang ke kos-kosan Wl di bilangan Gamping Kabupaten Sleman dengan membawa pakaian yang dijual. Wl beralasan akan membeli pakaian dalam jumlah banyak untuk dijual lagi. Terlebih lagi pacar Wl yang juga salah satu pelaku adalah seorang pedagang. Tanpa curiga, SW kemudian mendatangi kos-kosan Wl di Gamping dengan membawa setumpuk pakaian yang dibawa dengan mobil.

“Saat tiba di kos-kosan selain Wl sudah ada Al dan An. Tidak berapa lama bertemu, SW segera dilumpuhkan dan kaki tangannya diikat dengan lakban demikian pula mulutnya. “Pelaku juga memaksa korban menyerahkan PIN ATM beserta kartunya,” kata Kapolres.

Dengan berbekal PIN, para pelaku menguras puluhan juta rupiah milik korban. Tidak sampai disitu, Kapolres menambahkan ketiganya kemudian membawa korban ke Jawa Barat. Namun ketiganya belum mengaku keperluannya. Dalam perjalanan ke Jawa Barat itu, SW berhasil melarikan diri dan lapor polisi. Ketiga pelaku kemudian lari dengan membawa mobil milik korban.

“Kami menangkap ketiganya di Tegal, Jawa Tengah,” jelas Kapolres.

Kasat Reskrim Polres Sleman AK Danang Bagus menambahkan sebelum dibawa ke Jawa Barat korban sempat dibawa ke Kaliurang dan di tempat ini mengalami pelecehan seksual. Ketiganya kini masih menjalani pemeriksaan intensif di Polres Sleman. “Kami periksa dengan kasus pencurian dengan kekerasan, penyekapan, serta perbuatan pidana lainnya,” katanya.




Jarak Tarling Jauh Jangan Jadi Masalah

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan kegiatan safari tarawih keliling (tarling) dimaksudkan sebagai sarana silaturahmi dengan masyarakat sekaligus menengok jajaran Perangkat wilayah di bawah. Untuk itu pejabat yang sudah mendapat jadwal diusahakan berangkat dan koordinator regu pagi harinya diharapkan mengingatkan untuk malam harinya ada jadwal safari tarling.

“Jarak yang jauh jangan menjadi masalah karena di bulan puasa ini semakin jaraknya jauh maka pahalanya akan lebih banyak,” kata Sri Purnomo ketika mengawali safari tarling Pejabat Pemerintah Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (18/6) malam.

Menurut Sri Purnomo tujuan diadakan safari tarling  adalah di samping mendapat barokah bulan Ramadan juga untuk siar Islam, memakmurkan masjid dan silaturahmi antara pejabat dengan masyarakat untuk menjalin komunikasi yang positif.

“Sehingga kegiatan ini agar diprioritaskan karena masyarakat tentunya sudah menunggu dan menyiapkan segala sesuatu jauh hari sebelumnya, sehingga nanti tidak mengecewakan masyarakat,” kata Sri Purnomo.

Sri Purnomo juga mengharapkan agar ta’mir masjid yang menjadi lokasi safari tarling untuk jam mulai dilaksanakan sholat isa’ jangan terburu-buru karena peserta safari tarling lokasi rumah jauh-jauh dan niatnya tarling adalah untuk sholat berjamaah.

Sementara Drs Heri Sutopo MM, Kepala Bagian Kesra mengatakan untuk tahun ini Tim yang mengikuti terdiri dari Forum Pimpinan Daerah, Ketua dan Wakil Ketua DPRD, pejabat eselon II dan III serta Pimpinan BUMD ditambah dari staf Kementrian Agama Sleman, dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing sejumlah 30 orang. Koordinator Tim safari tarawih keliling untuk Regu I Sekda Sleman dr Sunartono MKes, Regu II Dra Suyamsih MPd (Assekda Bidang Pembangunan), Regu III Sunaryo SH CN (Assekda Bidang Pemerintahan) dan Regu IV Ir Nurbandi (Kepala Dinas PUP) Kabupaten Sleman.