32 Kades Lama Maju Lagi di Pilkades Serentak

Sleman – Sebanyak 32 bakal calon (balon) incumbent akan ikut andil dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) yang digelar serentak di tahun 2015 ini. Para kades yang masih menjabat itu akan bersaing dengan 84 balon lainnya.

Kasubag Administrasi Pemerintahan Desa Setda Sleman, Wawan Widiantoro mengatakan dalam tahapan penjaringan balon kades yang dilakukan pada 8 hingga 18 Juni, terdapat 116 balon yang mengajukan diri.

Balon tersebut berasal dari 35 yang akan mengikuti Pilkades gelombang pertama yang dilaksanakan Pemkab Sleman.

“Dalam gelombang pertama, dari 86 desa hanya 35 desa yang akan menyelenggarakan Pilkades. Hanya tiga desa yang kadesnya tidak mencalonkan kembali, di antaranya Desa Sariharjo Kecamatan Ngaglik, Desa Wonokerto Kecamatan Turi dan Desa Bangunkerto, Turi,” kata Wawan, kemarin.

Menurutnya setelah melakukan penyaringan, Bagian Pemdes lalu melakukan penyaringan terhadap balon yang mendaftarakan diri. Tahap tersebut dilakukan mulai 22 juni hingga 23 juli 2015.

“Kami melakukan percermatan terhadap kelengkapan persyaratan balon. Kemudian hasilnya akan diumumkan pada 24 Juli,” paparnya.

Adapun persyaratan utama dalam pencalonan kades di antaranya umur balon minimal 25 tahun, dan menempuh pendidikan minimal tingkat SMP. Selain itu, balon belum pernah menjabat menjadi kades hingga tiga periode.

“Dalam tahapan ini, kami juga melakuka klarifikasi kepada balon. Untuk calon incumbent terdapat sejumlah persyaratan khusus yang harus dipenuhi,” jelasnya.




Disperindagkop Dampingi UMKM Bidik Peluang Pasar

Sleman – Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Sleman melakukan pendampingan dan pembinaan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) agar dapat membidik pasar dengan tepat sehingga produk mereka diminati masyarakat.

“Selama ini pelaku UMKM lebih banyak fokus ke masalah produksinya, namun kadang untuk pemasarannya kurang diperhitungkan,” kata Kepala Disperindagkop Kabupaten Sleman Drs Pustopo, Senin (29/6).

Dikatakan Pustopo dalam pemasaran produk UMKM memang banyak strategi yang dapat dilakukan, mulai dari penentuan harga produk, pengemasan hingga kualitas dari produk yang dihasilkan.

Menurut Pustopo, yang kadang juga menjadi kelemahan adalah dalam penentuan harga produk, tidak jarang pelaku UMKM menghargai jasa atau tenaga dirinya sendiri terlalu mahal, sehingga jika digabungkan dengan harga bahan produksi harga produk yang dihasilkan jadi mahal. Begitu juga dalam pengemasan produk yang terkadang kurang menarik sehingga mengurangi minat terhadap produk yang dihasilkan.

“Kemasan akan menjadi daya tarik awal dari produk, ketika orang tertarik dengan melihat kemasan yang cantik maka akan mendorong juga minat untuk membelinya,” kata Pustopo.

Dicontohkan Pustopo, seperti masyarakat di tiga kecamatan di lereng Gunung Merapi yakni Kecamatan Turi, Tempel dan Pakem yang merupakan daerah penghasil salak pondoh di Sleman. Masyarakat di tiga wilayah tersebut mencoba berinovasi dengan berbagai produk olahan buah salak.

“Namun karena strategi pemasarannya belum baik maka akhirnya mereka juga kesulitan dalam memasarkan produknya,” katanya.

Untuk itu lanjut Pustopo, salah satu upaya untuk membantu UMKM dilakukan juga dengan mengikutkan pameran-pameran atau bazar-bazar untuk lebih memperkenalkan produk kepada masyarakat.

“Seperti saat ini kami menggandeng 93 UMKM di Sleman untuk mengikuti pasar lebaran di halaman Kantor Disperindagkop Sleman mulai 29 Juni hingga 6 Juli. Harapan kami Pasar Lebaran ini dapat semakin memperkenalkan produk UMKM kepada masyarakat luas,” tutur Pustopo.