TPID Sleman Jamin Infrastruktur Distribusi Sembako Baik

Sleman – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sleman, memastikan infrastruktur untuk distribusi bahan kebutuhan pokok selama Puasa dan Lebaran 2015 dalam kondisi baik hingga ke daerahpelosok.

“Kondisi infrastruktur untuk distribusi bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnnya saat ini dalam kondisi baik, minimal hingga tingkat desa,” kata Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sleman, dr Sunartono MKes, kemarin.

Menurut Sunartono, dengan adanya jaminan tersebut maka dipastikan pula distribusi bahan kebutuhan pokok lancar hingga pelosok Sleman.

“Dengan lancarnya distribusi bahan kebutuhan pokok hingga ke pelosok maka masyarakat juga akan semakin mudah untuk menjangkaunya. Selain itu infrastruktur yang baik juga akan membantu dalam produksi bahan kebutuhan pokok,” kata Sunartono.

Ditambahkan pula bahwa untuk ketersediaan dan kecukupan bahan pokok dari pantauan yang dilakukan khususnya terhadap sembilan bahan pokok, saat ini masih mencukupi, khususnya beras.

“Saat ini di lumbung-lumbung desa masih terdapat 159,564 ton beras, padahal kebutuhan cuma sekitar ton, belum yang ada di Bulog. Persediaan beras ini dapat dikatakan surplus, bahkan untuk lima bulan ke depan,” katanya.

Sunartono mengatakan, kondisi tersebut juga termasuk untuk komoditas daging sapi, daging ayam, telur dan cabai merah masih cukup.

“Saat ini persediaan daging sapi, daging ayam, telur dan cabai merah masih sangat cukup, dan terdistribusi hingga tingkat desa,”  tutur Sunartono.

Jika kemudian ada sesuatu di lapangan terkait dengan ketersediaan bahan pangan maupun kenaikan harga yang drastis, Pemkab siap melakukan operasi pasar. Selain ketercukupan dan ketersediaan kebutuhan pokok, Pemkab  juga memantau keamanan pangan baik yang beredar di pasar tradisional maupun swalayan.

“Fokus keamanan pangan ini, kami berkoordinasi dengan Balai POM, Dinkes Sleman, Diserindagkop dan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. Pantauan keamanan dari bahan makanan tambahan yangberbahaya, pewarna kimia. Bahan olahan seperti formalin, borax serta barang-barang hasil olahan pabrikan dan industri rumah tangga (IRT) yang kedaluarsa, berjamur dan kemasan rusak,” tambah Sunartono.




Ramadan, Operasi Anjal Ditingkatkan

Sleman – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman pada bulan puasa Ramadan ini selain terus melakukan operasi minuman keras (miras) juga mulai menggalakkan operasi anak jalanan (anjal) serta pengemis, gelandangan, dan orang tak dikenal (PGOT).

Hal ini dilakukan kareba pada bulan puasa keberadaan anjal dan PGOT cederung mengalami peningkatan. Demikian disampaikan Kepala Satpol PP Sleman, Drs Joko Supriyanto di Sleman, Senin (22/6). Menurut Joko mengatakan penertiban anjal dan PGOT ini telah menjadi agenda rutin selain operasi miras. Apalagi kebanyakan anjal dan PGOT memanfaatkan bulan Ramadan untuk meminta sedekah kepada masyarakat.

“Momen puasa sering dimanfaatkan untuk meminta sedekah, apalagi banyak masyarakat khususnya umat muslim yang berlomba-lomba untuk bersedekah di bulan Ramadan,” kata Joko.

Dijelaskan Joko, untuk penanganan anjal dan PGOT, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Tenaga kerja dan Sosial (Disnkersos) Kabupaten Sleman. Hal ini lantaran usai ditertibkan, anjal dan PGOT yang terjaring akan dibawa ke panti sosial milik Dinas Sosial DIY.

“Setelah kami jaring, maka wewenang untuk pembinaan berada dibawah Dinsos DIY dan dipantau oleh Disnakersos Sleman,” tutur Joko.

Joko menyebutkan di luar Ramadan, Satpol PP merazia hingga puluhan anjal dan PGOT dalam sekali operasi. Terakhir pada bulan Mei, Satpol PP Sleman berhasil menjaring 28 orang anjal dan PGOT. Diakui Joko dari temuan tersebut dan kondisi lingkungan, diperkirakan ada peningkatan anjal dan PGOT.

“Meski demikian, biasanya mereka datang dari luar DIY, ada yang berasal dari Purworejo hingga daerah Semarang,” kata Joko.

Adapun titik-titik yang dinilai rawan sebagai tempat beraksinya anjal dan PGOT, antara lain sekitaran Prambanan, Jalan Monjali, simpang Kentungan, Demakijo, dan Flyover Janti.




Petani Moyudan Diminta Tingkatkan Produksi Padi

DSC_5810bernasSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan melihat dengan kondisi wilayah Gamplong Desa Sumberahayu Kecamatan Moyudan  khususnya dan Sleman Barat umumnya, sebagai daerah yang merupakan lahan pertanian para petaninya diharapkan mampu meningkatkan produksi pangan.

“Para petani Moyudan, khususnya Sleman barat sebagai daerah pertanian saya harapkan mampu meningkatkan  produksi pangan khususnya beras karena berdasarkan evaluasi ternyata masih kurang dari target yang ditentukan,” kata Sri Purnomo, kemarin usai mengikuti kegiatan safari tarawih keliling (tarling) di masjid Baiturrohman Gamplong Sumberahayu Moyudan Sleman.

Menurut Sri Purnomo kegiatan tarling juga selain sebagai sarana silaturahmi kepada masyarakat di Kabupaten Sleman, juga  sebagai upaya penyerapan aspirasi masyarakat terkait program dan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sleman, agar kedepan dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat lebih baik lagi.

Sementara itu pengajian diisi oleh Ridwan dari Kantor Kementrian Agama Sleman yang menyampaikan agar umat muslim hendaknya makan dan minum yang halalal dan toyiban secukupnya dan tidak berlebihan. Karena dengan makan minum secukupnya tubuh akan lebih sehat, ingatan bagus, pemahaman lebih jernih, dan lebih ringan jiwanya. Bila makan berlebihan menyebabkan badan lemas, hati keras, ngantuk, tidak bisa konsentrasi dan untuk ibadah tidak bisa khusuk. Kenyataan inilah yang harus selalu diperhatikan oleh setiap muslim dalam mengatur pola makan.

Sementara itu agar pikiran menjadi cerdas dan cermat diajurkan untuk banyak berpuasa, seperti dalam obat hati ada 5 perkara obat hati ada lima perkaranya yang salah satunya berpuasa. Selengkapnya yang pertama, baca Qur’an dan maknanya, yang kedua, sholat malam dirikanlah, yang ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh, yang keempat, perbanyaklah berpuasa, yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.

Dalam kesempatan  Bupati Sri Purnomo juga menyerahkan 10 Al Quran, dan 2 Al Qur’an dengan terjemahan, 10 rukuh, dan 10 set jus ama. Juga menyerahkan bantuan uang dari berbagai sumber diantaranya dari Bantuan Pemkab Sleman Rp 3,5 juta, dana Baz Sleman Rp 3 juta, Bank Sleman Rp 2 juta, BPD Rp 1,5 juta, PDAM Rp 1 juta, bantuan kecamatan Rp 1 juta, Baz Kecamatan Rp 500 ribu, Bantuan Desa Sumberahayu Rp 1 juta, serta bantuan lainnya serta infak yang terkumpul Rp sehingga diperoleh dana total Rp 15,596 juta.




Bupati Tarling di Masjid Baiturrohim Tegaltirto Berbah

tarling berbahSleman – Pelaksanaan safari tarawih keliling (tarling) Kabupaten Sleman, Sabtu (20/6)  mengambil tempat di Masjid Baiturrohim Dusun Semoya, Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah. Rombongan safari tarling tersebut adalah rombongan kelompok 2 yang dipimpin oleh Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih.

Hadir dalam kegiatan tersbut Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI, Camat Berbah beserta jajarannya, Muspika  Berbah dan juga masyarakat Dusun Semoya Tegaltirto. Dalam sambutannya Sri Purnomo mengajak warga Semoya untuk terus memakmurkan masjid, terutama di bulan Ramadhan ini, Sri Purnomo berpesan kepada takmir Masjid Baiturrohim agar tidak perlu berlomba-lomba dalam bangunan masjidnya tapi berlomba-lombalah untuk memakmurkan masjid dengan kegiatan-kegiatan kajian-kajian yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan.

Selain itu Sri Purnomo juga mengingatkan bahwa sebentar lagi penerimaan siswa baru akan dilaksanakan, Sri Purnomo berharap agar semua anak dapat melanjutkan jenjang pendidikannya di wilayah Berbah ini, Sri Purnomo berharap tidak ada anak yang putus sekolah, kalau ada permasalahan biaya sekolah dapat dilaporkan ke aparat pemerintah setempat, sehingga dapat dicarikan solusinya. Sri Purnomo juga berharap nanti pada saat Pilkades dapat berjalan dengan aman, tertib dan lancar, wilayah Berbah ada 2 desa yang melaksanakan Pilkades.

Pada kegiatan tarling tersebut juga disalurkan Mushab Al-Quran, Iqra’, Mukena dan bantuan uang tunai yang digabungkan dengan infaq jamaah tarawih pada malam itu sebesar Rp 15,95 juta.




Sleman Fashion Festival 2015 Angkat Potensi Batik

Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata akan menggelar event Sleman Fashion Festival 2015 dalam upaya memberikan atraksi wisata dan wadah bagi indusri kreatif, khususnya untuk mengenalkan potensi lokal.

“Sleman Fashion Festival (SFF) 2015 akan dilaksanakan pada 22 dan 23 Agustus, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat dan wisatawan terhadap beragam potensi batik dan lurik yang dikembangkan masyarakat Sleman,” kata Sekretaris Disbubpar Sleman, Drs Endah Sri Widiastuti MPA, Minggu (21/6).

Menurut Endah, pada 2014 Sleman telah meluncurkan delapan motif batik khas Sleman yang terdiri dari motif Sinom Parijoto Salak, motif Salak, motif Parijoto, motif Gajah Kombinasi Parang Rusak, motif Salakann motif Salak Pondoh, motif Belut dan Salak, serta motif Semarak Salak.

“Peluncuran motif batik Sleman tersebut telah memacu tumbuhnya kelompok-kelompok batik di masyarakat Sleman. Selain motif batik di Sleman juga terdapat pengrajin pembuat kain tenun atau lurik yang berkembang di Dusun Kembangan, Moyudan,” katanya.

Ia mengatakan, keberadaan potensi bahan tersebut didukung dengan keberadaan beberapa sekolah menengah kejuruan (SMK) dan juga perguruan tinggi yang memiliki program studi tata busana menjadi pertimbangan penyelenggaraan SFF 2015.

“Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mengembangkan kegiatan kepariwisataan yang melibatkan banyak pihak ke depan untuk mewujudkan agenda wisata yang besar dan rutin di Sleman. SFF diusulkan juga menjadi bagian dari Jogja Fashion Week agar penyelenggaran kegiatan ini juga dapat didukung masyarakat Sleman,” katanya.

Endah mengatakan, tema SFF 2015 akan mengangkat pewarna alami dalam rangka Sleman Go Green.

“Isu Go Green dalam pengembangan industri di Sleman menjadi penting, karena posisi wilayah Sleman yang berada di wilayah hulu dan menjadi tumpuan konservasi air DIY,” tambahnya.

Dikatakan pula bahwa  pelaksanaan SFF 2015 merupakan kerja bareng Disbudpar Sleman, APPMI, Dekranasda Sleman dan Disperindagkop Sleman.

“Direncanakan dalam pelaksanaan SFF 2015 akan diselenggarakan seminar pewarna alam yang digunakan dalam industri batik dan lurik, sebagai upaya mengedukasi dan gerakan kepada pengrajin dan masyarakat dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan,” tutur Endah.

Selain itu, juga akan diselenggarakan eksebisi dan peragaan busana dari dunia pendidikan. Hal ini mempertimbangkan bahwa meningkatnya kreativitas industri fashion yang pesat dan mulai tumbuhnya kesadaran kaum muda dalam melihat peluang pengembangan fashion dalam persaingan pasar bebas.

“Diharapkan dengan memberikan wadah ini akan tampil calon-calon desainer dari Sleman,” katanya.