Bupati, Wabup, Sekda Adakan Open House

Sleman – Seperti lebaran tahun sebelumnya baik Bupati, Wakil Bupati (Wabup) maupun Sekretaris Daerah (Sekda) usai shalat Idul Fitri selalu menyediakan waktu bagi pimpinan/anggota DPRD dan pejabat di lingkungan Kabupaten Sleman untuk saling bersilaturahmi di Rumah Dinas Bupati, Wabup dan kediaman Sekda Sleman.

Bupati, Wabup dan Sekda menggelar open house secara bersamaan di rumah dinas masing-masing Jumat (17/7). Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI bersama keluarga menggelar  open house di rumah dinas Bupati usai shalat Ied. Tamu yang hadir diantaranya pejabat Sleman mulai dari Ketua DPRD, Staf ahli Bupati, Assekda, Kepala dinas,badan, instansi di lingkungan Pemkab Sleman, Camat, Direktur PDAM, Direktur Bank Sleman, juga masyarakat sekitar rumah dinas Bupati dan warga Jaban di tempat tinggal Bupati Sleman.

Selain itu Kapolres Sleman beserta keluarga juga hadir dengan pejabat di lingkungan Polres Sleman. Sementara itu Wabup juga menggelar  open house di rumah dinas Wabup juga dihadiri pejabat Sleman dan  masyarakat sekitar. Open house  dimaksudkan untuk menjalin silaturahmi informal   antar pejabat dengan momen Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, untuk saling memaafkan.

Tradisi open house yang selalu dibuka oleh ketiga pejabat tersebut agar antar pejabat lebih dekat dan harmonis baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam kedinasan. Disamping itu dengan silaturahmi akan mendekatkan persaudaraan yang akan terbawa dalam kedinasan dalam meningkatkan kinerja.




Bupati Jadi Imam dan Khotib Shalat Idul Fitri di Denggung

Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI bertindak sebagai imam dan khotib shalat Idul Fitri di lapangan Denggung Tridadi Sleman, Jumat (17/7). Hadir pada shalat Idul Fitri 1436 H tersebut antara lain Sekda Sleman dr Sunartono MKes, Ketua TP PKK Kabupaten Sleman Hj Kustini Sri Purnomo dan keluarga besarnya, dan beberapa pejabat dilingkungan Pemkab Sleman.

Dalam khotbahnya Sri Purnomo  menyampaikan bahwa  orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu  bahagia ketika berbuka puasa setiap sore hari sebagai tanda selesainya puasa pada hari itu, dan puncaknya adalah hari saat shalat Idul Fitri sebagai tanda kebahagiaan berakirnya puasa Ramadan selama satu bulan.

Dikatakan Sri Purnomo  di bulan Ramadan banyak pelajaran, hikmah, faidah dan fadhilah yang dapat diambil untuk bekal kehidupan kedepan, dan apakah kita bisa meneruskan aktivitas yang dilakukan di bulan Ramadan diteruskan di bulan syawal dan bulan-bulan berikutnya untuk berbuat amal kebajikan dan meningkatkan imam dan taqwa.

Menurut Sri Purnomo  ada tiga pesan dan kesan Ramadan yang bisa dipegang bersama sesudah Ramadan selesai bagi umat Islam/beragama, yaitu pesan moral atau Tahdzibun Nafsi, yaitu harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia yaitu hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai, dan jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri.

Pesan kedua menurut Sri Purnomo adalah  pesan sosial, yaitu saat diakhir Ramadan untuk mengeluarkan zakat fitrah kepada Ashnafuts Tsamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakir miskin.

Sedang pesan ketiga adalah Jihad, jihad dimaksud adalah bukan jihad dalam pengertian sempit, yakni berperang di jalan Allah, akan tetapi jihad dalam pengertian yang utuh, yaitu  jihad yang lebih komprehensip, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, ataupun jiwa untuk mencapai keridhaan dari Allah, terutama jihad nelawan diri sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang palin besar.

Sri Purnomo juga mengajak kepada jamaah untuk bersama-sama memikul tanggung jawab untuk merealisasikan ketiga pesan Ramadan ke dalam  bingkai kehidupan nyata, yaitu untuk mengemdalikan hawa nafsu kita sendiri untuk tidak terpancing pada hal-hal yang terlarang dan merugikan orang lain, menjalin hubungan silaturahmi serta kerjasama sesama muslim tanpa membeda bedakan status sosial serta meyandang semangat jihad untuk membangun sebuah sistem sosial yang bertmartabat, berkeadilan dan sejahtera.

Yang jelas tambah Sri Purnomo bahwa setelah puasa satu bulan tersebut mampu melahirkan spirit baru untuk dapat diteruskan di bulan-bulan setelahnya, yaitu bangkit dengan semangat puasa, bangkit dengan spirit Al-Quran dan bangkit dengan spirit sholat malam. Sedangkan yang bertindak sebagai Imam dan Khotib shalat Idul Fitri 1436 H di Masjid Agung Soedirohoesodo adalah Dr KH Mahrus Munajad MHum.




108 Warga Binaan Lapas Cebongan Peroleh Remisi

Sleman – Sebanyak 108 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman,  memperoleh remisi atau pengurangan masa hukuman khusus Hari Raya Idul Fitri 1436 H dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

“Dari jumlah tersebut, tiga warga binaan langsung bebas setelah mendapat pengurangan hukuman. Setelah mengikuti Shalat Id di Lapas Sleman, mereka langsung dijemput keluarganya,” kata Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sleman Supriyanto, Jumat (17/7).

Menurut Supriyanto, sebelumnya pihaknya mengajukan 108 warga binaan untuk mendapatkan remisi Hari Raya Idul Fitri, dan semua nama yang diajukan disetujui.

“Semua nama yang kami ajukan adalah warga binaan yang telah memenuhi persyaratan untuk bisa mendapatkan remisi khusus, dan semuanya disetujui,” kata Supriyanto.

Supriyanto menambahkan bahwa pengajuan remisi tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas PP 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

“Di Lapas Sleman ini tidak ada warga binaan yang terkait kasus narkoba, terorisme maupun korupsi. Jadi, sesuai aturan, mereka yang telah memenuhi persyaratan kami ajukan untuk mendapatkan remisi,” tuturnya.

Supriyanto mengatakan seluruh warga binaan yang  mendapatkan remisi khusus dipastikan telah memenuhi persyaratan dasar, yakni telah menjalani masa pidana minimal enam bulan penjara, atau dua per tiga dari masa hukuman, berkelakuan baik, serta mengikuti seluruh program bimbingan yang diberikan petugas lapas.

“Sebelum mengajukan remisi, kami juga melihat `rapor` dari masing-masing warga binaan. Mereka yang telah memenuhi syarat langsung kami ajukan untuk mendapatkan remisi khusus,” katanya.

Penyerahan remisi ini dilakukan langsung Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sleman Supriyanto seusai Shalat Id. Sementara pada Senin (27/7) dan Selasa (28/7), Lapas Cebongan membuka kunjungan bebas bagi para keluarga warga binaan, sehingga mereka bisa berlebaran bersama keluarga.