Tahun 2015 Desa Wisata Pulesari Targetkan 50 Ribu Wisatawan

Sleman – Salah satu upaya dalam menumbuhkan semangat kegiatan kepariwisataan perlu adanya target  dari sebuah proses kegiatan yang dikerjakan. Pada  tahun 2015 ini Desa Wisata Pulesari telah  menargetkan kunjungan wisatawan ke Pulesari sebanyak  orang. Pencapaian usaha tersebut dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan juga perlu dukungan dari Pemerintah dan penggiat pariwisata.

“Target ini memang  cukup memberikan tantangan bagi pengelola desa wisata Pulesari untuk mempromosikan keberbagai  pihak agar dapat berkunjung dan  berwisata ke tempat kami,” kata Didik Irwanto selaku pengelola Desa Wisata Pulesari Desa Wonokerto Kecamatan Turi Sleman, Senin (20/7).

Menurut Didik  bahwa dari tahun ke tahun kunjungan wisatawan di Pulesari selalu naik apalagi pada tahun pertama tahun 2013 dan tahun kedua 2014 setelah laounching desa wisata pada tanggal 9 November 2012 naik cukup drastis.

Dikatakan Didik, kunjungan wisatawan pada tahun 2013 mulai Maret hingga Desember telah mencapai wistawan nusantara, kemudian ditahun berikutnya yaitu tahun 2014 mulai bulan Januari hingga  Desember mencapai wisatawan nusantara dan 14 wisatawan mancanegara. Oleh karena  itu desa wisata Pulesari di tahun 2015 menargetkan kunjungan yang cukup drastis sebanyak 50 ribu wisatawan.

Sementara kunjungan wisatawan ke Pulesari yaitu terhitung mulai Januari hingga  Juni tahun 2015 sudah mencapai wisatawan nusantara dan 13 wisatawan mancanegara.

“Dengan jumlah kunjungan selama 6 bulan tersebut kami optimis target kunjungan 50 ribu wisatawan di tahun 2015 akan tercapai,” tutur Didik.

Sedang Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan  Pulesari merupakan desa wisata baru di Sleman. Namun hingga tahun 2015 ini kemajuannya cukup luar biasa.

“Desa wisata Pulesari memang mengalami kemajuan luar biasa sejak berdiri dengan permodalan pokok ada proyeksi alam yang memadai dan seni budaya,” kata Ayu.

Menurut Ayu ada 4 unsur  dalam pengembangan desa wisata Pulesari yaitu asli, menarik, unik dan mandiri. Asli dan menarik karena masyarakat diajak pahan dulu desa wisata. Setelah erupsi Merapi keadaan menjadi terpuruk. Kemudian disepakati dan dilakukan pemahaman tentang desa wisata dan ditumbuhkan.

“Dari awal bukan bisnis oriwntasinya, namun dalam perkembangannya pada tahun 2014 desa wisata Pulesari ini telah dikunjungi 32 ribu wisatawan,” kata Ayu.

Kunci sukses pengembangan desa wisata Pulesari karena dalam pengelolaannya semua warga terlibat, manajemennya unik dan baik karena saling percaya dan tidak ada kata tidak menerima tamu. Karena itu desa wisata Pulesari cepat berkembang.

“Sementara dari Pemkab Sleman hanya membantu fasilitasi pembinaan dan kemandirian masyarakat dalam mengelola desa wisata sangat luar biasa,” kata Ayu.




Sleman Fashion Festival Dorong Kreativitas Kaum Muda

Sleman – Sleman Fashion Festival 2015 di Panggung Ramayana Candi Prambanan, Kabupaten Sleman yang akan berlangsung tanggal  22-23 Agustus 2015 mendatang, mendorong kreativitas kaum muda, terutama pelajar SMK bidang tata busana. Demikian disampaikan  Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA, kemarin.

“Dalam Sleman Fashion Festival ini, selain menampilkan kreator-kreator `fashion` yang telah profesional, juga akan diselenggarakan ekshibisi dan peragaan busana dari dunia pendidikan,” kata Endah.

Dijelaskan Endah kegiatan tersebut dilakukan karena mempertimbangkan bahwa meningkatnya kreativitas industri busana yang pesat dan mulai tumbuhnya kesadaran kaum muda dalam melihat peluang pengembangan produk busana dalam persaingan pasar bebas.

“Dengan kegiatan seperti  ini diharapkan akan muncul calon-calon desainer muda dari Kabupaten Sleman,” tutur Endah.

Secara umum, katanya, Sleman Fashion Festival merupakan upaya memberikan atraksi wisata dan wadah bagi indusri kreatif, khususnya untuk mengenalkan potensi lokal Sleman, seperti batik dan kain lurik. Sleman Fashion Festival ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat dan wisatawan terhadap beragam potensi batik dan lurik yang dikembangkan masyarakat Sleman.

Endah menambahkan keberadaan potensi bahan tersebut didukung dengan keberadaan beberapa SMK dan juga perguruan tinggi yang memiliki program studi tata busana menjadi pertimbangan penyelenggaraan Sleman Fashion Festival 2015.

“Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mengembangkan kegiatan kepariwisataan yang melibatkan banyak pihak ke depan untuk mewujudkan agenda wisata yang besar dan rutin di Sleman,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Sleman sendiri telah meluncurkan delapan motif batik khas Sleman yang terdiri atas motif Sinom Parijoto Salak, motif Salak, motif Parijoto, motif Gajah Kombinasi Parang Rusak, motif Salakan, motif Salak Pondoh, motif Belut dan Salak, serta motif Semarak Salak.

Peluncuran motif batik Sleman tersebut telah memacu tumbuhnya kelompok-kelompok batik di masyarakat Sleman. Selain motif batik di Sleman juga terdapat pengrajin pembuat kain tenun atau lurik yang berkembang di Dusun Kembangan Kecamatan Moyudan.




Lebaran Penggunaan Air PDAM Naik 10 Persen

Sleman – Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kabupaten Sleman memprediksi terjadi lonjakan penggunaan air setiap Lebaran. Berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, setiap Lebaran kenaikan penggunaan air PDAM mencapai 10 persen.

Demikian diungkapkan Direktur Utama PDAM Sleman, Dwi Nurwanta, kemarin. Dan langkah antisipasi terhadap lonjakan penggunaan air tersebut, salah satunya dengan menambah debit air. Selama ini PDAM Sleman mengoprasionalkan 300 liter perdetik. Sedangkan yang tersedia ada 370 liter perdetik. Jadi masih ada simpanan 70 liter perdetik.

“Karena itu kita jamin ketersediaan air akan cukup selama Lebaran. Kecamatan Sleman, Depok, Mlati, Gamping dan Ngaglik merupakan daerah yang terpantau terjadi lonjakan penggunaan air setiap Lebaran,” kata Dwi.

Sedangkan untuk daerah yang banyak perumahannya, justru turun karena ditinggal mudik oleh penghuninya. Kondisi rumah yang bocor memang menjadi perhatian khusus dari PDAM. Sebab jika ada kebocoran tidak ada yang melapor karena ditinggal mudik penghuninya. Untuk itu PDAM Sleman membentuk tim Unit Reaksi Cepat (URC). Tiap tim terdiri dari 5-7 orang.

“Ada empat tim yang disiapkan, mereka ditempatkan di Sleman barat, tengah, timur dan kantor PDAM,” tutur Dwi.

Selain itu Dwi menjelaskan, petugas juga menyiapkan genset keliling guna mengantisipasi listrik padam. Termasuk armada tangki, sehingga jika terjadi masalah bisa langsung tertangani dengan cepat. Tim mulai bekerja tanggal 16-22 Juli.