Sleman Dikunjungi 201.484 Wisatawan Selama Libur Lebaran 2015

Sleman – Selama libur lebaran 2015 destinasi wisata di Kabupaten Sleman  dikunjungi wisatawan. Angka tersebut mencapai 134,32% dari target yang ditetapkan sebanyak wisatawan.

“Hal ini cukup menggembirakan, mengingat libur Lebaran 2015 secara resmi hanya tercatat selama 6 hari,” kata  Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya,  Kamis (23/7).

Ayu menambahkan data kunjungan wisatawan pada libur Lebaran 2015 tersebut dicatat selama enam hari sejak 16 Juli hingga 21 Juli 2015 dari berbagai destinasi wisata di Kabupaten Sleman.

“Hal ini sungguh menggembirakan, karena wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Sleman saat libur Lebaran 2015 dapat mencapai target, meskipun jumlahnya tidak lebih tinggi dari tahun 2014 sebanyak . Hal tersebut karena tahun 2014 jumlah hari libur lebarannya lebih banyak yakni 9 hari,” kata Ayu.

Menurut Ayu, tercapainya target jumlah wisatawan yang berkunjung tersebut dipengaruhi beberapa faktor pendukung, di antaranya libur Lebaran yang bersamaan dengan libur sekolah, adanya cuti bersama yang diterapkan di kantor-kantor pemerintah dan cuaca yang mendukung akibat tidak hujan. Meskipun demikian dari pemantauan ternyata usai libur lebaran pun masih banyak wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata di Sleman namun tidak masuk dalam perhitungan tersebut.

Adapun penyebaran kunjungan wisatawan tersebut meliputi objek wisata Kaliurang sebanyak wisatawan berdasarkan catatan di pintu gerbang Kaliurang yang diantaranya Taman Rekreasi Anak sebanyak , pengguna jeep wisata Kaliurang sebanyak wisatawan dan Museum Ullen Sentalu wisatawan.

Volcano Tour Cangkringan mendatangkan wisatawan, obyek wisata candi wisatawan yang meliputi Candi Prambanan , Candi Ratu Boko , Candi Gebang 17, Candi Sambisari 837, Candi Kalasan 205, Candi Banyunibo 153, Candi Sari 174. Pengunjung museum sebanyak yang terdiri atas Museum Gunungapi Merapi (MGM) .

Monumen Jogja Kembali (Monjali) serta desa wisata wisatawan yang terdiri atas desa wisata Domes , desa wisata Grogol 800, desa wisata Pentingsari 132, desa wisata Brayut 404, desa wisata Tanjung 271, desa wisata Pulesari 213 dan desa wisata Gamplong 250. Sedangkan obyek wisata yang baru operasional diawal tahun 2015 yaitu Sindu Kusuma Edupark mendatangkan wisatawan sebanyak wisatawan.

Sedangkan jumlah wisatawan saat libur lebaran tahun 2014 yang tercatat selama 9 hari dari tanggal 26 Juli hingga 3 Agustus 2014 sebanyak wisatawan diantaranya Kaliurang wisatawan, Volcano Tour Cangkringan wisatawan, obyek wisata museum wisatawan, obyek wisata candi sebanyak , dan desa wisata sebanyak wisatawan.




Panggung Hiburan di Kaliurang Hingga Minggu

Sleman – Destinasi wisata di Kabupaten Sleman banyak menjadi alternatif tujuan kunjungan wisata keluarga . Dan kawasan wisata Kaliurang dengan Museum Gunungapi Merapi (MGM) menjadi obyek wisata keluarga yang banyak menarik pengunjung selama libur Lebaran 2015. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Kamis (23/7).

Dikatakan Ayu, dalam rangka menyemarakkan obyek wisata kawasan Kaliurang selama libur Lebaran  mulai tanggal 18 hingga 26 Juli 2015, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman telah fasilitasi hiburan di Panggung terbuka Tlogo Putri untuk siang hari, untuk malam hari mulai tanggal 18 hingga 21 Juli 2015 di depan kantor Arga Jasa depan obyek wisata taman kanak kanak diselenggarakan pentas malam‬.

Menurut Ayu, selama libur Lebaran ini wisata Kaliurang dan MGM banyak dikunjungi pengunjung. Dari data sementara yang masuk Disbudpar, pada hari Idul Fitri pertama tanggal 17 juli, Kaliurang dibuka mulai pukul WIB hingga pukul  WIB jumlah pengunjung sebanyak 1272 dengan jumlah mobil 281 buah dan motor 81 buah.

Pada Lebaran ke 2 tanggal 18 Juli 2015 jumlah pengunjung meningkat, hingga pukul WIB  jumlah pengunjung mencapai 5675 orang dengan jumlah mobil 970 dan motor 705. Sedang jumlah pengunjung di MGM  yang baru buka pada Lebaran ke 2 kumlah pengunjung sebanyak 1155 dan penonton film 705.

“Pengunjung wisata di MGM lebih banyak didominasi oleh keluarga. Semakin sore kunjungan wisata semakin rame,” tutur Ayu.

Para pengunjung Kaliurang dan MGM banyak yang memanfaatkan juga untuk volcano tour dengan jeep. Sementara ditambahkan Sekretaris Disbudpar Sleman, Dra Endah Sri Widiastuti MPA, selain kerawanan keamanan dalam volcano tour jeep dan antisipasi kemacetan di jalur yang dituju telah dilakukan pengalihan lalulintas jeep yang digunakan dalam wisata volcano tour.

“Hal ini sudah kami koordinasikan dengan Dishubkominfo. Pada saat libur Lebaran, jeep volcano tour hanya diperbolehkan menuju Kaliurang melalui jalur barat (Boyong), sedangkan akses di Ngipiksari hanya untuk turun. Skenario ini kami lakukan agar arus lalulintas wisatawan menuju Kaliurang lancar,” kata Endah.




Forpi Sleman Tolak Toko Modern

Sleman – Maraknya toko berjejaring/toko modern seperti Indomart dan Alfamart yang tumbuh subur dimana-mana banyak dikeluhkan masyarakat, terutama pelaku usaha/toko tradional. Seperti yang terjadi di Corongan Maguwoharjo Depok Sleman di Jalan KH. Muhdi sampai Ringroad Utara Maguwoharjo. 

Di Corongan tersebut sudah ada satu toko modern yang siap buka, namun oleh warga setempat dikeluhkan, terutama pelaku usaha toko tradisional akan mengalami penurunan omset penjualan bahkan mereka beranggapan akan mematikan usahanya. Untuk mencari solusi tersebut sebagian warga Corongan antara lain Sri Sumarsih, Sigit dan Sapto bersama Forpi Sleman antara lain Octo Lampito, Dr Hempri Suyatna melakukan audensi dengan Bupati Sleman di Pemkab Sleman, Kamis (23/7).

Pada kesempatan tersebut Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI didampingi antara lain Kepala Bagian Tata Pemerintahan Dra Endang Wedowati, Kepala Dinas Perindakop Drs. Pustopo, Staf Ahli Bupati daan juga Camat Depok Drs Budiharjo.

Kepada Sri Purnomo, baik Octo Lampito maupun Hempri Suyatna menyampaikan keluhan menjamurnya toko modern yang marak dimana-mana, kalau hal tersebut dibiarkan berkembang secara bebas maka akan mengurangi omset bahkan mematikan usaha tradisional seperti toko tradisional maupun pasar tradisional, untuk itu Forpi Sleman maupun sebagian warga Corongan meminta agar perlunya dibatasi menjamurnya toko modern, terutama di sepanjang Jl. KH Muhdi/Corongan Maguwoharjo Depok.

Lebih lanjut disampaikan Hempri bahwa pertumbuhan pasar modern tumbuh 31,4 % sedang pasar rakyat minus 8,1 %, sedang menurut Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat sekitar 400 los pasar tradisional tutup tiap tahunnya.

Pembatasan yang dimaksud yakni Pemkab dapat melakukan pengawasan dan pengendalian toko modern/toko berjejaring sesuai dengan Perda Nomor 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, dan Peraturan Bupati Nmr 44 tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 18/2012. Selama belum punya izin dan persyaratan yang lengkap dapat ditindak tegas.

Menanggapi keluhan ini Sri Purnomo  menyampaikan bahwa  penegakan Perda selama ini tetap dilakukaan dengan melibatkan SKPD terkait, terutama Satpol PP , hingga bila terjadi pembangunan pasar modern dimana-mana belum tentu sepengetahuan Pemda, dan biasanya mereka membangun lebih dulu. Namun, tambah Sri Purnomo kalau pembangunan toko modern/berjejaring tidak memiliki izin tentu akan ditertibkan

Sedangkan  Pustopo pada kesempatan tersebut menambahkan selama ini toko modern biasanya membangun lebih dulu baru mengurus izinnya, namun pemerintah tetap akan menertibkan, selama izin belum lengkap tidak boleh buka toko modern tersebut.

“Yang jelas kalau membuka toko modern/berjejaring harus ada IUTM ( Ijin Usaha Toko Modern) sebelum ada  IUTM maka tidak boleh membuka usaha toko modern tersebut,” kata Pustopo.

Dan untuk menerbitkan IUTM tersebut perlu persyaratan antara lain harus ada HO dulu, termasuk ketentuan menggunakan tenaga kerja 60 % dari warga sekitar, dan mendapat persetujuan warga sekitar minimal 2/3.




Jika Belum Jelas Jangan Ikut Urbanisasi

Sleman – Arus urbanisasi ke ibukota pasca Lebaran biasanya meningkat, untuk itu Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menghimbau warga Sleman agar tidak mengikuti arus urbanisasi pasca lebaran. Terlebih bagi warga yang belum memiliki tujuan yang jelas dan menjadi tujuan urbanisasi.

Menurut Sri Purnomo, alasan mencari pekerjaan biasanya yang mendorong untuk tujuan urbanisasi ke ibukota.

“Jika memang belum ada kejelasan ketika mengikuti urbanisasi, lebih baik tidak ikut-ikutan  arus urbanisasi,” kata Sri Purnomo, Kamis (23/7).

Diakui Sri Purnomo bahwa keberhasilan seseorang di luar daerah banyak memberi dorongan bagi orang lain untuk mengikutinya. Terutama bagi warga yang belum memiliki pekerjaan dan mempunyai keinginan untuk mengubah nasibnya. Sementara yang ingin ikut-ikutan urbanisasi dan belum memiliki tujuan yang jelas, dampaknya justru akan menambah beban angka pengangguran di daerah lain yang menjadi tempat tujuan urbanisasi.

“Kami tidak melarang warga ikut arus urbanisasi, selama sudah jelas tujuannya tentu tidak akan menjadi masalah. Jika memang belum pasti, manfaatkanlah peluang di daerah sendiri,” kata Sri Purnomo.

Apalagi lanjut Sri Purnomo, di  Sleman peluang mencari pekerjaan dan membuka usaha  masih cukup banyak.