Forpi Sleman Tolak Toko Modern

Sleman – Maraknya toko berjejaring/toko modern seperti Indomart dan Alfamart yang tumbuh subur dimana-mana banyak dikeluhkan masyarakat, terutama pelaku usaha/toko tradional. Seperti yang terjadi di Corongan Maguwoharjo Depok Sleman di Jalan KH. Muhdi sampai Ringroad Utara Maguwoharjo. 

Di Corongan tersebut sudah ada satu toko modern yang siap buka, namun oleh warga setempat dikeluhkan, terutama pelaku usaha toko tradisional akan mengalami penurunan omset penjualan bahkan mereka beranggapan akan mematikan usahanya. Untuk mencari solusi tersebut sebagian warga Corongan antara lain Sri Sumarsih, Sigit dan Sapto bersama Forpi Sleman antara lain Octo Lampito, Dr Hempri Suyatna melakukan audensi dengan Bupati Sleman di Pemkab Sleman, Kamis (23/7).

Pada kesempatan tersebut Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI didampingi antara lain Kepala Bagian Tata Pemerintahan Dra Endang Wedowati, Kepala Dinas Perindakop Drs. Pustopo, Staf Ahli Bupati daan juga Camat Depok Drs Budiharjo.

Kepada Sri Purnomo, baik Octo Lampito maupun Hempri Suyatna menyampaikan keluhan menjamurnya toko modern yang marak dimana-mana, kalau hal tersebut dibiarkan berkembang secara bebas maka akan mengurangi omset bahkan mematikan usaha tradisional seperti toko tradisional maupun pasar tradisional, untuk itu Forpi Sleman maupun sebagian warga Corongan meminta agar perlunya dibatasi menjamurnya toko modern, terutama di sepanjang Jl. KH Muhdi/Corongan Maguwoharjo Depok.

Lebih lanjut disampaikan Hempri bahwa pertumbuhan pasar modern tumbuh 31,4 % sedang pasar rakyat minus 8,1 %, sedang menurut Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) mencatat sekitar 400 los pasar tradisional tutup tiap tahunnya.

Pembatasan yang dimaksud yakni Pemkab dapat melakukan pengawasan dan pengendalian toko modern/toko berjejaring sesuai dengan Perda Nomor 18 tahun 2012 tentang Perizinan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, dan Peraturan Bupati Nmr 44 tahun 2013 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 18/2012. Selama belum punya izin dan persyaratan yang lengkap dapat ditindak tegas.

Menanggapi keluhan ini Sri Purnomo  menyampaikan bahwa  penegakan Perda selama ini tetap dilakukaan dengan melibatkan SKPD terkait, terutama Satpol PP , hingga bila terjadi pembangunan pasar modern dimana-mana belum tentu sepengetahuan Pemda, dan biasanya mereka membangun lebih dulu. Namun, tambah Sri Purnomo kalau pembangunan toko modern/berjejaring tidak memiliki izin tentu akan ditertibkan

Sedangkan  Pustopo pada kesempatan tersebut menambahkan selama ini toko modern biasanya membangun lebih dulu baru mengurus izinnya, namun pemerintah tetap akan menertibkan, selama izin belum lengkap tidak boleh buka toko modern tersebut.

“Yang jelas kalau membuka toko modern/berjejaring harus ada IUTM ( Ijin Usaha Toko Modern) sebelum ada  IUTM maka tidak boleh membuka usaha toko modern tersebut,” kata Pustopo.

Dan untuk menerbitkan IUTM tersebut perlu persyaratan antara lain harus ada HO dulu, termasuk ketentuan menggunakan tenaga kerja 60 % dari warga sekitar, dan mendapat persetujuan warga sekitar minimal 2/3.




Jika Belum Jelas Jangan Ikut Urbanisasi

Sleman – Arus urbanisasi ke ibukota pasca Lebaran biasanya meningkat, untuk itu Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menghimbau warga Sleman agar tidak mengikuti arus urbanisasi pasca lebaran. Terlebih bagi warga yang belum memiliki tujuan yang jelas dan menjadi tujuan urbanisasi.

Menurut Sri Purnomo, alasan mencari pekerjaan biasanya yang mendorong untuk tujuan urbanisasi ke ibukota.

“Jika memang belum ada kejelasan ketika mengikuti urbanisasi, lebih baik tidak ikut-ikutan  arus urbanisasi,” kata Sri Purnomo, Kamis (23/7).

Diakui Sri Purnomo bahwa keberhasilan seseorang di luar daerah banyak memberi dorongan bagi orang lain untuk mengikutinya. Terutama bagi warga yang belum memiliki pekerjaan dan mempunyai keinginan untuk mengubah nasibnya. Sementara yang ingin ikut-ikutan urbanisasi dan belum memiliki tujuan yang jelas, dampaknya justru akan menambah beban angka pengangguran di daerah lain yang menjadi tempat tujuan urbanisasi.

“Kami tidak melarang warga ikut arus urbanisasi, selama sudah jelas tujuannya tentu tidak akan menjadi masalah. Jika memang belum pasti, manfaatkanlah peluang di daerah sendiri,” kata Sri Purnomo.

Apalagi lanjut Sri Purnomo, di  Sleman peluang mencari pekerjaan dan membuka usaha  masih cukup banyak.




Hari Pertama Masuk Kerja Bupati Syawalan dengan PNS

syawalanSleman – Hari Rabu  (22/7) bertepatan dengan hari pertama masuk kerja setelah cuti bersama libur Lebaran 2015 di Pendopo Parasamya Pemkab Sleman, Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Sleman mengadakan syawalan/halal bil halal dengan Bupati, Ketua & Wakil Ketua DPRD, Sekda, Assekda serta Kepala Dinas/Kantor/Badan di lingkungan Pemkab Sleman. 

Kegiatan syawalan ini tidak hanya diikuti oleh PNS di lingkungan Pemkab Sleman tetapi juga diikuti oleh karyawan-karyawati Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Kejaksaan, BPN, dan Depag. Selain para PNS, hadir pula karyawan-karyawati BUMD seperti PDAM, Bank Sleman dan BPD Sleman, Bank Mandiri Sleman.

Kegiatan Syawalan ini diikuti oleh sekitar 1500-an Pegawai. Hadir pada kesempatan tersebut, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI beserta istri, Ketua DPRD & Wakil Ketua DPRD serta para pejabat di lingkungan Pemkab Sleman.

Syawalan ini berlangsung mulai pukul hingga WIB.  Syawalan diawali dengan jabat tangan Bupati Sleman dengan Ketua DPRD yang kemudian diikuti oleh pejabat-pejabat lainnya, serta karyawan yang telah berjajar antre dengan tertib. Para PNS tidak merasa berkeberatan untuk antri dan berjejalan untuk bersalaman dengan para pejabat, mengingat momen semacam ini hanya berlangsung setahun sekali dan hanya terjadi di Hari Raya Idul Fitri.

Setelah berjabat tangan dengan para pejabat, karyawan-karyawati kemudian bersalam-salaman dengan para rekan kerja lainnya sambil menikmati hidangan yang telah disediakan di depan Pendopo Parasamya. Menu yang disiapkan antara lain  bakso, soto, kupat tahu, dan lainnya serta aneka minuman baik panas maupun dingin. Bupati Sri Purnomo pada kesempatan tersebut mengatakan PNS di lingkungan Pemkab Sleman mulai hari pertama masuk kerja telah siap bekerja sesuai dengan tupoksi masing-masing dan siap memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Dan moment hari pertama kerja secara rutin selalu diadakan halal bil halal/salam-salaman terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan kepada PNS di lingkungan Pemkab Sleman berjabat tangan dan saling memaafkan dengan para pejabat maupun dengan sesama rekan kerja. Namun setelah selesai mereka siap untuk bekerja kembali,” kata Sri Purnomo.***




Bupati Sidak Hari Pertama Masuk Di 3 Instansi

SidakSleman – Hari pertama masuk kerja Rabu (22/7) setelah cuti bersama hari raya Idul Fitri 1436 H,  Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSI mengadakan sidak di instansi yang memberikan pelayanan yakni Badan perizinan satu atap, Dinas kependudukan dan Catatan Sipil dan Kecamatan Mlati. Ikut mendampingi Sri Purnomo dalam sidak tersebut antara lain Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sleman Drs Iswoyo Hadiwarno, Kepala Inspektor Kabupaten Suyono SH dan Kepala Bagian Humas Dra Sri Winarti.

Sidak pertama dilakukan di pelayanan perizinan satu atap, pada kesempatan tersebut Sri Purnomo dan rombongan diterima Kepala BPMPPT Purwatno Widodo, SHCn. Disampaikan Purwatno Widodo bahwa hari pertama masuk setelah cuti bersama semua pegawai masuk kerja termasuk di pelayanan satu atap, disamping itu hari pertama masuk aktivitas perkantoran telah berjalan normal dan memberi pelayanan kepada masyarakat.

Kebetulan saat sidak dilakukan telah dijumpai aktivitas kantor sedang memberikan pelayanan kepada masyarakat, yaitu permohonan izin usaha. Sedangkan di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil,  Bupati Sri Purnomo  diterima kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil  Supardi SH.

Dijelaskan Supardi bahwa menjelang Lebaran dan setelah Lebaran di saat pegawai yang lain melakukan cuti bersama, sebagian pegawai Kependudukan dan Catatan Sipil Sleman tetap melayani masyarakat, meskipun pegawai yang masuk dijadwal sesuai kebutuhan. Yang jelas tambah Supardi bahwa hari pertama masuk semua pegawai masuk 100 % .

Disampaikan Supardi bahwa pelayanan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sebelum dan sesudah Lebaran yaitu satu hari sebelum Lebaran dan setelah hari Lebaran sampai hari Rabu (22/7) pukul WIB telah melayani  keperluan masyarakat berupa mutasi penduduk keluar Sleman sebanyak 5, mutasi masuk Sleman sebanyak 10, pelayanan KTP elektronik 74, Akte kelahiran 28, akte kematian 14, akte perkawinan 6, akte perceraian 1, permohonan surat keterangan penghapusan data perorangan 1, Surat Keterangan akte ke Bank 1 dan legalisasi akte sebanyak 167.

Sementara  saat sidak di Kecamatan Mlati Bupati Sri Purnomo diterima Camat Mlati Drs Suyudi yang pada kesempatan tersebut menyampaikan bahwa hari pertama masuk semua pegawai Kecamatan Mlati masuk semua, dan pelayanan normal seperti semula, bahkan ketika hari pertama masuk saat sidak dilakukan dijumpai masyarakat yang sedang mencari KTP.

Disaat yang sama di Kecamatan Mlati juga sedang dilakukan pelayanan SIM Keliling oleh Ditlantas Polda DIY. Sedang satu hari sebelum Lebaran pelayanan yang dilakukan Kecamatan Mlati berupa pelayanan SKCK sebanyak 2, KTP 1 orang dan konsultasi masuk penduduk 1 orang. Sedang untuk pelayanaan tanggal 22  Juli 2015 sampai pukul WIB berupa pelayanan KTP 12, Akte kelahiran 1, SKCK 7, masuk penduduk  4 dan keluar sebanyak 2 orang.

Saat dijumpai disela-sela sidak Sri Purnomo  menyampaikan rasa bangganya karena semua pegawai di lingkungan Kabupaten Sleman, termasuk yang di kecamatan semua masuk kerja seperti biasa, artinya semua pegawai telah mentaati ketentuan dari pemerintah, hal tersebut dilakukan semata-mata untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Lebih lanjut disampaikan Sri Purnomo bahwa tertibnya pegawai dalam mentaati ketentuan mengenai jam kerja maupun disiplin pegawai berkat pengawasan melekat yang berjalan dengan baik. Namun secara umum hari pertama masuk kerja masyarakat yang membutuhkan pelayanan masih sedikit dan diperkirakan hari ketiga masuk kerja sudah mulai normal kembali.***




Olahan Belut Godean Banyak Diburu Pemudik

Olahan Belut Godean Banyak Diburu Pemudik

Sleman – Godean Sleman memang sudah dikenal sebagai pusatnya olahan belut. Karena itu setiap musim liburan banyak wisatawan yang berburu aneka olahan belut. Seperti pada libur Lebaran sekarang ini banyak pemudik yang memanfaatkan kesempatan liburan dengan membeli oleh-oleh khas Sleman berupa keripik belut. Olahan belut ini bisa dibeli di pusat kuliner belut Godean. Ditempat tersebut, wisatawan bisa membeli olahan belut basah maupun kering.

Bagi yang sudah tahu keberadaan kuliner belut Godean tersebut ada kewajiban tersendiri untuk mengunjungi kuliner belut khas Sleman saat ke Jogja. Awal tahun 2014 lalu Dinas Pasar Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Sleman  meresmikan Pusat Kuliner Belut Godean yang terletak di Jalan Godean Km 10 atau  sekitar 1 km sebelah timur Pasar Godean.

Awalnya, seperti dituturkan Atin, salah seorang penjual olahan belut basah, Selasa (21/7) kuliner belut ini berada di area Pasar Godean, dengan alasan ketertiban karena para pembeli bermobil seringkali memarkir kendaraan di pinggir jalan yang menyebabkan macet, maka dilokalkanlah olahan belut ini oleh Pemkab Sleman.

Ketika memasuki sentra olahan belut ini, yang terlihat adalah   puluhan pedagang jajanan keripik belut dengan losnya yang rapi. Jika lebih masuk lagi  akan menemui olahan belut basah (makanan berat) yang mana mereka adalah pemenang lomba olahan belut yang diadakan pemerintah. Untuk olahan kering sudah lebih dulu yaitu sejak Februari 2014, sedangkan olahan basah baru sejak Januari 2015.

“Warung-warung belut ini biasanya ramai ketika akhir pekan dan hari libur seperti pada libur Lebaran sekarang ini banyak yang datang,” kata Atin.

Sekarang ini karena libur Lebaran yang beli kebanyakan pemudik dari luar Sleman. Namun kalau libur akhir pekan sering ada yang pesan dimasakin khusus untuk rombongan, terus mereka makan bareng-bareng.

Di sentra kuliner ini, belut didapat dari Jawa Timur sebab budidaya belut yang ada di Kulonprogo masih belum mampu memenuhi kebutuhan belut di sini. Harga belut hidup kisaran Rp tergantung ukuran serta musim. Semisal saat bulan purnama belut malah menjadi langka.

Empat warung olahan belut basah di pusat kuliner belut Godean masing-masing menyediakan menu yang berbeda. Di Lesehan Pendopo milik Mbak Atin tersedia rica-rica belut, gulai belut, belut geprek, bothok belut, aneka sambal belut, belut goreng pedas manis, serta aneka saos belut. Warung yang lain menawarkan rendang belut, tongseng belut, balado belut, opor belut, serta oseng belut.

Lain lagi warung Rahmah, di sini disajikan belut goreng pandan, sambel belut goreng, wader goreng, sambel wader. Sedangkan warung Yu Sud punya masakan khas mangut belut. Untuk keripik belut harganya standar antara  Rp per kg. Serta olahan basah kisaran Rp per porsi.