Kunjungan Kerja Menteri ESDM ke MGM

Sleman – Menteri ESDM, Sudirman Said melakukan kunjungan kerja ke Museum Gunungapi Merapi (MGM) Sleman. Menteri ESDM didampingi oleh Surono, Kepala Badan Geologi dan rombongan. Rombongan Menteri ESDM diterima langsung oleh Asisten Bidang Pembangunan, Dra Suyamsih MPDi dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MMbeserta jajarannya.

Menteri ESDM sebelumnya mengunjungi BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) dan TNGM (Taman Nasional Gunung Merapi). Dalam kunjungannya ke MGM, Surono memandu langsung Menteri ESDM didampingi oleh Kepala UPT MGM Drs Suharno.

Surono menerangkan secara detail tentang MGM dari proses pembangunan hingga saat ini, Surono mengatakan tidak kurang 150 ribu wisatawan yang berkunjung ke MGM setiap tahunnya. Pengunjung MGM didominasi oleh pelajar.

Setelah berkeliling Sudirman Said beserta rombongan menyempatkan diri menonton film Mahaguru Merapi. Sudirman mngatakan bahwa MGM ini syarat dengan edukasi dan seharusnya menjadi lokasi pembelajaran bagi masyarakat, MGM cukup memadai untuk memberikan edukasi tentang Gunungapi Merapi. Sudirman juga berpesan kepada pengelola MGM agar merawat dengan sebaik-baiknya aset-aset yang ada di MGM sehingga terus dapat dinikmati oleh para pengunjung museum.




Isi Prasasti Candi Kedulan Mulai Terkuak

Sleman – Prasasti yang ditemukan di Candi Kedulan akhir bulan lalu, mulai terkuak. Secara garis besar, prasasti tersebut berisi tentang penetapan ‘sima’ atau suatu daerah  yang merupakan anugerah raja yang ditetapkan menjadi daerah perbukitan untuk kepentingan  tertentu. Seperti bangunan suci, bendungan atau kepentingan lainnya.

Hal tersebut diungkapkan pakar ‘epigrafi’ (suatu keahlian yang memang bisa membaca tulisan dari masa lampau seperti prasasti) Jogja, Djoko Dwiyanto MHum. Meski belum membaca secara menyeluruh namun untuk struktur dipastikan sama dengan prasasti yang ditemukan sebelumnya di Candi Kedulan.

Jika dalam dua prasasti sebelumnya berisi ‘dawuhan’ untuk membuah bendungan, sekarang ini tidak. Melainkan lebih lengkap karena terdapat 25 baris aksara Jawa Kuno. Dia berharap prasasti tersebut berisi terkait tanah ‘sima’ untuk mendirikan bangunan suci yang kini disebut Candi Kedulan.

“Apakah memang benar nama bangunannya Kedulan atau apa, masih belum tahu. Termasuk peruntukkan bangunannya untuk apa dan dimana masih terus kita kaji. Sebab ketika ditemukan prasastinya sudah dalam kondisi patah menjadi dua,” katanya di kantor Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCBB) Jogja, kemarin.

Menurutnya, prasasti tersebut ditulis pada 791 tahun saka atau 869 masehi pada kepemimpinan Sri Maharaja Rake Kayuwangi Raja Sri Sajanot Sawatungga. Kepastian itu berdasarkan isi pembuka dalam prasasti terdapat tulisan “om sangkara”yang merupakan salam pembuka Agama Hindu.

Hal terpenting yang sedang berusaha dia temukan dalam prasasti tersebut, yakni ‘sambandha  yang merupakan alasan ditetapkannya prasasti itu untuk apa. Seperti prasasti sebelumnya yang berisi perintah untuk membuat bendungan.




Musim Kemarau, Petani Dihimbau Tak Tanam Padi

Sleman – Pada musim kemarau seperti sekarang ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman tidak merekomendasikan para petani di Sleman untuk menanam padi, namun petani dihimbau untuk menanam palawija. Selain karena sulitnya air irigasi, menanam palawija juga bisa untuk mengganti tanaman agar tanahnya lebih baik dan memutuskan hama.

“Debit air saluran irigasi pada musim kemarau memang terus menurun, bahkan lima sungai besar di Sleman dalam kondisi kering di hulunya. Karena itu puluhan pompa air disediakan untuk memberikan daya dukung irigasi pertanian,” kata Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Sleman, Edy Sriharmanto di Sleman, Kamis (6/8).

Karena itu lanjut Edy pihaknya menghimbau para petani di Sleman mengerti kondisi alam ini dan tidak memaksakan menanam padi dimusim kemarau saat ini. Jika lahan pertanian memungkinkan untuk ditanami padi karena ketersediaan air, hal itu harus sudah diatur oleh tiap kelompok tani untuk bergantian menggunakan air.

Sehingga lanjut Edy sudah ada persetujuan antar kelompok tani dalam penggunaan air irigasi. Misalnya tahun lalu kelompok A sudah menanam padi maka tahun ini menanam palawija, gantian kelompok lain yang menanam.

Ditambahkan Edy masih banyak wilayah di Sleman yang tetap menanam padi di musim kemarau, seperti sebagian wilayah Kecamatan Berbah, Prambanan, Gamping, Mlati, Moyudan, Minggir dan Seyegan.

Tahun 2015 ini dikatakan Edy melalui koordinasi dengan dinas terkait, telah memberikan bantuan sekitar 30 pompa air portabel melalui kelompok tani di wilayah Sleman. Pompa tersebut bisa dipinjam sewaktu-waktu oleh para petani jika membutuhkan, terutama untuk mengangkat air dari sungai menuju permukaan atau lahan pertanian.

“Peminjaman dikoordinir oleh kelompok tani, dan poma bisa dipinjam secara gratis. Tapi mungkin ada beberapa kelompok tani yang misalnya sesuai kesepakatan ada biaya operasional untuk bahan bakar pompa,” tuturnya.

Musim kemarau in juga sudah ada beberapa lahan pertanian di Sleman yang mengalami kekeringan. Dan diperkirakan jumlah lahan pertanian yang mengalami kekeringan bisa bertambah sebab musim kemarau diperkirakan hingga November 2015 mendatang.




Berkas Calon Bupati-Wabup Sleman Belum Lengkap

Sleman – Berkas persyaratan pasangan bakal calon (balon) Bupati dan Wakil Bupati Sleman belum memenuhi syarat atau belum lengkap. Baik pasangan Sri Purnomo-Sri Muslimatun maupun Yuni Satia Rahayu-Danang Wicaksana, sama-sama belum menyerahkan legalisir ijazah pendidikan dan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara(LHKPN).

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman, Ahmad Shidqi membenarkan beberapa persyaratan yang belum dipenuhi pasangan balon, seperti, surat LHKPN yang dikeluarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ijazah SMA dan pendidikan tinggi terakhir jika ada, surat keterangan tidak punya tunggakan pajak yang dikeluarkan kantor pajak, surat tidak memiliki utang yang berpotensi merugikan negara, dan surat keterangan dari pengadilan bahwa hak suara tidak dicabut.

“Susunan tim kampanye juga belum ,” kata Shidqi, Kamis (6/8).

Karena masih kurang banyak, masing-masing balon diberi tenggat waktu hingga Jumat (7/8). Namun jika sampai batas yang ditentukan ternyata ada yang masih kurang, balon akan diberi waktu hingga waktu yang ditentukan KPU Sleman.

“Kalau setelah penelitian ternyata syaratnya masih kurang, bisa dinyatakan tidak sah atau gugur. Calonnya harus diganti,” kata Shidqi.

Penggantian calon hanya berlaku bagi pihak yang tidak memenuhi berkas persyaratan. Jadi tidak sepasang calon yang diganti namun hanya satu pihak yang bersangkutan. Namun jika tidak ada pengganti sampai penetapan calon pada tanggal 24 Agustus, berarti balon tersebut dinyatakan mundur. Sehingga Pilkada Sleman terancam batal kalau salah satu pasangan mundur.

Sementara untuk hasil tes kesehatan, Shidqi menyatakan bahwa berdasarkan dokter, keempat calon tidak memiliki faktor risiko yang mengakibatkan keempatnya tidak dapat bekerja dengan baik. Hasil kesehatan jasmani maupun rohaninya dinyatakan baik. Menurutnya tiga calon yakni Sri Purnomo, Sri Muslimatun, dan Yuni Satia, sudah pernah mencalonkan diri sebagai Bupati maupun Wakil Bupati. Oleh karenanya Shidqi optimis mereka mampu memahami persyaratan yang masih kurang.

“Danang saya kira bisa juga,” ungkapnya.

Sementara Yuni Satia beralasan, terkait prosedur pelaporan LHKPN kali ini berbeda dengan saat ia mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati pada 2010 silam. Menurutnya ada yang berbeda dari format biasanya. “Kemarin sudah menyerahkan tapi ternyata beda.

“Jadi Pilbup sekarang ini harus beda. Ada draf sendiri,” ungkapnya.

Sementara Sri Purnomo mengaku saat ini sedang dalam proses melengkapi. “Ya karena kesibukan, punya pekerjaan. Jadi belum melengkapi tetapi besok akan segera dilengkapi,” tutur Sri Purnomo.