Pilkades 35 Desa di Sleman Lancar

Perhitungan SuaraSleman – Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 35 Desa di Kabupaten Sleman berjalan lancar, tanpa hambatan berarti, Minggu (9/8). Pelaksanaan Pilkades serentak tersebut juga dipantau Sekretaris Daerah dr Sunartono MKes yang pada kesempatan tersebut didampingi Asekda Bidang Pembangunan Dra Suyamsih, Kepala Bagian Pemerintahan Desa Drs Mardiyana, Kepala Bagian humas Dra Sri Winarti.

Untuk rombongan Sekda pemantauan dilakukan di Desa  Sidoarum Kecamatan Godean, Sumbersari Moyudan, Ambarketawang Gamping dan  Sendangadi Mlati. Sedang untuk tim kedua yang dipimpin Asekda Bidang Pemerintahan Sunaryo SH yang didampingi antara lain Kepala Bagian Tata Pemerintahan Dra Endang Wedowati, Kepala Bagian Hukum Hery Dwi Kuryanto SH, Kepala Bagian Umum Sukarno SH melakukan pemantauan di desa Madurejo dan Bokoharjo Kecamatan Prambanan, Desa Condongcatur Depok, Selomartani Kalasan dan Bimomartani Ngemplak.

Saat dijumpai disela-sela pemantauan Sekda Sleman  Sunartono antara lain menyampaikan bahwa pelaksanaan Pilkades di 35 Desa di Kabupaten Sleman dengan 112 calon Kepala Desa tersebut berjalan lancar. Dari data calon kepala desa tersebut mayoritas masih didominasi kaum laki-laki yaitu 103 orang sedang wanitanya hanya 9 orang.

Dari 112 calon kepala desa tersebut yaang berpendidikan S2 ada 6 orang, S1 ada 11 orang, D3 ada 5 orang, berpendidikan SLTA ada 85 orang dan yang berpendidikan SMP ada 5 orang.

Lebih lanjut disampaikan bahwa meskipun pelaksanaan Pilkades secara serentak tersebut berjalan lancar namun diharapkan pengamanan tidak hanya saat pelaksanaan Pilkades saja, namun diharapkan pasca pelaksanaan Pilkades harus juga tetap ada pengamanan. Hal tersebut untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

“Yang jelas kepada semua calon Kepala Desa yang maju dalam pemilihan tersebut diharapkan untuk menjaga situasi yang kondosif baik yang menang maupun yang kalah,” kata Sunartoni.

Dan yang lebih penting tanbah Sunartono, bagi calon Kepala Desa yang menang jangan umuk, tetapi sebaliknya yang kalah juga jangan ngamuk, karena pada prinsipnya pemilihan tersebut bukan seperti pertandingan diatas ring. Tetapi yang menang sebagai amanah dan memikul bebang tanggung jawab yang lebih besar, sebaliknya yang kalah diharapkan mendukung yang menang agar program pembangunan di desa bisa berjalan dengan baik.

Disampaikan pula bahwa dalam pemilihan tersebut semua calon diharapkan tetap siap, artinya siap kalah dan siap menang, yang kalah harus mendukung yang menang agar roda pemertintahan di desa tetap berjalan lancar.

Pelaksanaan Pilkades di beberapa TPS yang sempat disambangi Sunartono cukup menggembirakan, karena antusias masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya cukup tinggi, seperti yang terjadi di salah satu TPS di Ambarketawang Gamping pada pukul WIB jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya sudah mencapai dua pertiga, dan harapannya di TPS yang lain juga seperti itu.




Bupati Sleman Resmikan Tata Pencahayaan Candi Sambisari

Penanadatanganan NotaSleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI meresmikan tata pencahayaan destinasi wisata sejarah budaya Candi Sambisari di Purwomartani Kecamatan Kalasan Sleman, Sabtu (8/8) sore.

“Peresmian tata pencahayaan di Candi Sambisari ini diharapkan dapat semakin meningkatkan daya tarik kunjungan wisatawan,” kata Sri Purnomo.

Menurut Sri Purnomo, dengan penambahan tata pencahayaan ini maka Candi Sambisari dapat menjadi alternatif wisata malam hari di wilayah Kabupaten Sleman.

“Namun ini tentunya juga harus diikuti dengan pengelolaan yang lebih profesional. Termasuk retribusi yang saat ini masih terlalu murah yakni Rp untuk dewasa dan Rp untuk anak-anak. Dengan harga yang lebih mahal maka pengunjung juga akan lebih menghargai warisan budaya ini,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan, penata cahayaan Candi Sambisari merupakan upaya Pemkab Sleman untuk meningkatkan sarana prasarana objek wisata.

“Penambahan lampu-lampu ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik Candi Sambisari sehingga wisatawan yang berkunjung dapat lebih meningkat,” katanya.

Ayu juga mengatakan, penatacahayaan Candi Sambisari dengan lampu LED sorot 12 lampu utama masing-masing 60 watt (baru terpasang 8 lampu utama).

“Kemudian sekitar 80 lampu `landscape` bervariasi 5 hingga 12 watt, dan lampu-lampu `wall-washer`. Saat ini baru terpasang dengan 480 watt dari rencana sekitar watt lebih,” katanya.

Ayu menambahkan, lampu tersebut berteknologi Jerman produksi Tiongkok.

“Kelebihan lampu-lampu tersebut `water proving` yang mampu bertahan hingga 10 tahun lebih, selain itu lampu dapat set program tampilan warnanya,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta dengan Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mengelola situs-situs peninggalan sejarah budaya untuk pengembangan destinasi wisata.

Penandatanganan dilakukan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo dan Kepala BPCB Jogja Tri Hartono.

“Di Kabupaten Sleman, masih ada sejumlah candi yang siap dipasarkan, meskipun sarana dan prasarana belum mencukupi. Kami berharap dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan dan dapat menbambah kesejahteraan warga sekitar,” tambah Ayu.




Ugadi Sleman Jadi Percontohan Nasional

Panen UgadiSleman – Udang galah padi (ugadi) yang dikembangkan di Kabupaten Sleman ternyata menjadi percontohan nasional bahkan FAO Lembaga Pangan Duniapun mengakui dan akan membawa 26 negara di dunia untuk melihat langsung dan belajar tentang budidaya ugadi serta mina padi di Sleman.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan DIY, Anung Pribadi dihadapan Irjend Kementrian Pertanian RI Justam Siahaan pada saat panen ugadi  yang diterapkan oleh petani di Kumendang Candibinangun Pakem Sleman, Sabtu (8/8). Sistem Ugadi terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Karena selama ini dengan sistim mina padi mampu meningkatkan pendapatan petani. Terlebih dengan sistim ugadi tersebut pendapatan petani akan lebih meningkat.

Sementara Slamet Haryanto, Ketua Kelompok Ulam Sari menyampaikan budidaya udang galah dengan sistim ugadi telah dilakukan di kelompok Mino Ulam Asri yang penebaran perdananya telah dilakukan Sabtu 23 Mei 2015 oleh beberapa pejabat baik pusat maupun daerah.

Sementara untuk tanaman padi dengan tanam sistim jajar legowo keuntungan akan lebih meningkat disamping ongkos produksi bisa ditekan, karena tidak memerlukan pupuk kimia/Urea. Karena sisa dari makanan Udang/ikan tersebut merupakan pupuk yang sangat baik.

Menurut Slamet kelompoknya terdiri dari 36 Pokdakan (Kelompok Pembudidaya Ikan) dan 2 diantaranya Kelompok Pengolah dan Pemasaran dengan luas budidaya ugadi/mina padi 7 ha. Terdiri dari 5,23 ha untuk lahan mina padi dilakukan oleh 12 Pokdakan di 4 desa dan ugadi 1,77 ha dilakukan 5 pokdakan di 3 desa.

Menurut uji coba yang telah dilakukan kenaikan produksi Padi dengan sistim ugadi tersebut untuk padi tertinggi mencapai12 ton/ha GKP dan terendah 8,8 ton/ha GKP sehingga kenaikan produksi  mencapai 20 % dibanding dengan sistim biasa. Disamping kenaikan produksi padi yang meningkat 20 % maka pendapatan yang lain berupa udang yang mencapai produksi tertinggi 173 kg dan terendah 152 kg untuk jumlah tebaran ekor udang.

Namun Slamet juga mengungkapkan adanya kendala yang dialami yakni adanya jamur dan belum sinkronnya antara waktu tanam padi dengan ketersediaan bibit. Sedang Irjend Kementrian Pertanian RI Justam Siahaan menyampaikan bahwa keberhasilan dalam bidang ketahanan pangan sesungguhnya menjadi faktor utama yang sangat menentukan kuatnya  ketahanan Negara. Untuk itulah Pemerintah terus memberikan stimulus untuk mendorong bagi kemajuan para petani.

Panen perdana ugadi dilakukan oleh Irjend Kementrian Pertanian RI, Kepala Litbang Kementrian Pertanian RI, Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan RI, Assek II, Dandim Sleman dan Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman.