Sleman Masuk Kategori Kekeringan Ekstrim
Sleman– Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Jogja, Tony Agus Wijaya SSi mengatakan saat ini DIY termasuk Sleman berasa di musim kemarau yang diperkirakan sifat hujannya dibawah normal yaitu jumlah curah hujan berkurang 50 – 70 persen dari kondisi rata – ratanya. Hal ini salah satunya disebabkan adanyua anomali atau gangguan iklon selama musim kemarau 2015 berupa peristiwa El Nino.
“Dalam kondisi normal, musim kemarau di Sleman terjadi pada bulan Mei hingga Oktober. Namun dengan adanya El Nino diperkirakan awal musim hujan menjadi mundur dan diperkirakan akhir November 2015 dan jumlahj curah hujan dibawah normal yaitu jumlah curah hujan berkurang lebih dari 15 persen dari rata – ratanya,” kata Tonykepada wartawan di Ruang Sekda B Pemkab Sleman, Selasa (11/8).
Dijelaskan Tony dari hasil monitoring sampai tanggal 10 Agustus 2015, seluruh wilayah Sleman mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan berturut – turut dan masuk dalam kategori kekeringan ekstrim. Daerah byang mengalami hari tanpa hujan berturut – turut yang terpanjang adalah di Dolo Wedomartani Ngemplak yaitu 74 hari dan terpendek di Beran Tridadi Sleman yaitu 60 hari.
Menurut Tony di musim kemarau tetap terjadi potensi cuaca berawan dan hujan ringan dengan durasi singkat disiang hari dan sore hari, karena bariasi dan dinamika cuaca lokal.
“Bulan Agustus adalah puncak musim kemarau diwilayah Sleman yaitu jumlah curah hujan paling sedikit selama satu tahun terjadi di bulan Agustus,” tutur Tony.
Karena itu lanjutnya perlu kesiapsiagaan dan langkah antisipasi saat menghadapi potensi bencana kekeringan yaitu dengan menghemat air, mencari sumber air baru, penyediaan pompa air penyediaan pipa distribusi air, droping air bersih dan menyesuaikan jenis komoditas tanaman pertanian yang sesuai dengan curah hujan yang sedikit.
Sementara mengantisipasi musim kemarau panjang di wilayah Sleman ini Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan ada dua hal yang perlu diantisipasi selama musim kemarau panjang selama enam bulan yang akan datang.
“Dua hal tersebut adalah pelayanan air minum masyarakat dan kemungkinan adanya kebijakan pertanian sebab Sleman merupakan lumbung padinya DIY,” kata Gatot.
Dikatakan Gatot, tahun ini kemarau panjang karena ada el nino moderate sehingga perlu dilakukan antisipasinya terutama selalu memantau sumber air di Sleman, mewaspadai sumur dalam. Dalam bidang pertanian dipilih kearifan lakal dnegan memanam palawija dimusim kemarau dan perikanan memilih ikan yang membutuhkan air sedikit.
