Pemkab Selalu Dukung Program Perikanan Sleman

1308 SLEMAN PANEN IKANSleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman selalu berupaya untuk memberikan dukungan dalam pelaksanaan program dan kegiatan di bidang perikanan.

Seperti dukungan dalam bentuk alokasi anggaran dari Pemkab Sleman, selain itu dukungan alokasi anggaran juga dikucurkan oleh Pemerintah Pusat melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kemernterian Kelautan dan Perikanan.

Untuk program Pengelolaan Sumberdaya perikanan dimana salah satu kegiatannya adalah percontohan budidaya ikan dengan padi/mina padi dan percontohan budidaya nila.

Menurut Gatot, pengelolaan kawasan perikanan dengan pengembangan budidaya perikanan dan pembinaan petani ikan di Sleman selama ini dilakukan dengan sistem kelompok, dimana dengan sistem tersebut diharapkan pelaksanaan transfer  pengetahunan dan transfer teknologi dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

“Tingginya animo masyarakat di Kabupaten Sleman untuk ikut serta dalam kelompok pengelola perikanan, dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi, tercatat hingga saat ini  terdapat 552 kelompok,” kata Gatot ketika menghadiri acara Temu Lapang Petani di Pokdapan Mina Murakabi Cibuk Kidul Desa Margoluwih Kecamatan Seyegan Sleman, Kamis (13/8).

Temu lapang petani ikan ini untuk melihat percontohan mina padi ikan nila dan panen ikan serta upacara wiwit sebelum panen padi. Hadir pada acara tersebut  Kadinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman Ir Widi Sutikno, Camat Seyegan, Kades  dan Muspika Kecamatan Seyegan.

Dikatakan Gatot dengan meningkatnya kelompok pengelola perikanan membuat produksi perikanan di Kabupaten Sleman juga meningkat, yakni pada tahun 2013 sebesar ton meningkat menjadi ton di tahun 2014. Diungkapkan Gatot, menurut data yang ada, tercatat pada tahun 2014 sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu mencapai 23,56% dari jumlah penduduk Sleman yang mencapai jiwa.

Sektor pertanian juga menjadi penyumbang PDRB primer terbesar di Kabupaten Sleman yaitu sebesar 12,59% pada tahun 2014, hal ini didukung dengan luas lahan pertanian di Kabupaten Sleman yang mencapai ha, dimana didalamnya termasuk areal perikanan seluas 874,85 ha atau sebesar 3,9 %.

Besarnya potensi di sektor perikanan Kabupaten Sleman juga dapat terlihat dari peningkatan benih ikan yang dihasilkan yakni sebesar ekor di tahun 2014, sehingga Sleman mampu menyumbang 80% dari kebutuhan benih ikan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan 55% untuk kebutuhan konsumsi di DIY.

Sementara Kelompok Mina Murakabi, Timbul Prasetyo mengatakan bahwa lahan pertanian dengan luas M2 akan menghasilkan gabah/padi 8-9 kwital gabah dan ditaburi benih ikan nila 6,5 kg akan mengasilkan panen ikan nila sebesar 5 kwintal (0.5  ton) dengan demikian langkah para petani yang mempunyai lahan dan cukup air irigasi.

Dengan tambah modal sedikit untuk bibit ikan dan pakan (tanam padi dan dipelihara bibit nila), namun juga diberikan  makan berupa pelet dan pupuk sesuai dengan takaran, pola mina padi ikan ini memberikan nilai tambah  penghasilan bagi para petani, karena pada saat ini pasar untuk ikan nila banyak diminati oleh masyarakat.




Membuat Hujan Buatan, Butuh Biaya Banyak

Sleman – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Kelas 1 Jogja telah menyatakan jika saat ini Kabupaten Sleman sedang mengalami kekeringan ekstrim. Berdasarkan kondisi ini, tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan hujan buatan.

Berdasarkan kondisi sekarang, bisa saja dilakukan hujan buatan, tetapi tetap harus mempertimbangkan dari segi biayanya. Jika memang lebih murah droping air, lebih baik itu saja,” kata Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jogja. Tony Agus Wijaya, Kamis (13/8).

Memang ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum dilakukan hujan buatan. Seperti adanya bibit-bibit awan. Jika kondisi langitnya cerah sama sekali, akan sulit turun hujan.

“Harus ada sekumpulan awan-awan untuk disemai dengan garam, sehingga bisa menurunkan hujan,” kata Tony.

Terkait biaya, harus benar-benar dipertimbangkan. Jika memang lokasi hujan buatan bisa memberikan manfaat luas bagi masyarakat tidak masalah. Harus diperhatikan dari segi ekonomis mengingat biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit.

“Di daerah waduk misalnya. Lokasi tersebut cukup menguntungkan dari segi biaya. Sebab air hujannya bisa meningkatkan penjualan listrik. Itu tidak masalah,” jelasnya.

Sementara Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi tidak memungkiri jika tahun ini wilayah Sleman akan mengalami kemarau panjang akibat dari peristiwa El Nino. Namun terkait hujan buatan, membutuhkan koordinasi antar semua pihak.

“Pemerintah pusat memang sudah mencanangkan ada hujan buatan untuk beberapa daerah yang mengalami kemarau panjang. Namun untuk diterapkan di Sleman, tidak bisa begitu saja,” kata Gatot.

Selama menghadapi kemarau panjang ini hal yang perlu diperhatikan terutama di sektor pertanian. Sebab ada sejumlah komoditas yang memang bisa tumbuh sumur ketika musim kemarau.

Seperti tembakau dan buah-buahan lain. Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, dr Sunartono MKes mengungkapkan, perubahan iklim yang terjadi sekarang ini tidak lepas dari peran manusia. Untuk itu, Sunartono mengharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat terutama warga Sleman untuk bisa bersama-sama menjaga keseimbangan alam.

Menurut Sunartono masyarakat juga harus bisa berbuat sesuatu. Jika hanya mengandalkan pemerintah saja, tentu akan sulit. Yang dilakukan bisa dengan memperbanyak resapan air, seperti lubang biopori atau menanam pohon. Sebab yang terjadi selama ini, banyak resapan dan saluran air sudah tertutup semen. Ini tentu menjadi perhatian bersama.***