KPU Launching Riset dan Pemetaan Partisipasi Pemilih
Sleman– Kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu Pileg dan Pilpres 2014 cukup tinggi, hal ini dibuktikan dengan target nasional 75 %. Sementara di Sleman 81,4 untuk Pileg dan 81,7 untuk Pilpres hasil ini tertinggi di DIY dalam tingkat partisipasi pemilih.
Kenyataan itulah menurut Ketua KPU Sleman Ahmad Shidqi yang perlu diteliti penyebab tingginya partisipasi pemilih, apakah karena tingkat pendidikan atau ada hal lain, yang akan digunakan sebagai dasar dalam sosialisasi maupun mengambil kebijakan dalam Pilkada di Kabupaten Sleman.
Ahmad Shidqi menyampaikan hal tersebut pada Launching Riset dan Pemetaan Partisipasi Pemilih, di Aula Lantai III Pemkab Sleman, Senin (31/8). Acara ini juga dihadiri Penjabat Bupati Sleman, Dandim Sleman dan Kapolres Sleman serta pejabat Sleman lainnya.
Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan partisipasi pemilih merupakan element yang sangat penting dalam berlangsungnya pemilihan umum. Tidak dapat dipungkiiri keberadaanya merupakan simbol dari demokrasi itu sendiri. Pelaksanaan pemilu sendiri pada hakikatnya untuk dapat mewakili, mengakomodir aspirasi dan keinganan masyarakat melalui kandidat – kandidat yang maju dalam pemilu.
Namun demikian dewasa ini banyak masalah yang menyelimuti partisipasi pemilih dalam pemilu yang masih belum dapat terungkap secara penuh permasalahannya, yang secara nyata berpengaruh dalam proses pesta demokrasi tersebut.
“Masalah-masalah yang memperngaruhi itu menjadi tanggungjawab kita bersama untuk dapat diantisipasi dan diselesaikan. Banyak faktor yang pada akhirnya mempengaruhi partisipasi masyakarakat dalam pemilu,” kata Gatot.
Tidak jarang masyarakat memilih lanjutnya, hanya berdasarkan ikut-ikutan tanpa memahami betul kredibilitas dari kandidat yang dipilihnya bahkan kondisi terparah pemilih, adalah memilih untuk golput atau tidak memilih sama sekali.
“Hal ini merupakan PR kita bersama sebagai pemangku kebijakan untuk dapat mengantisipasi dan menyelesaikan. Semoga regulasi yang dihasilkan dapat meningkatkan dan memperkuat partisipasi warga Sleman dalam Pilkada yang akan berlangsung pada tanggal 9 Desember 2015 mendatang, sehingga dapat terselenggara Pilkada yang demokratis, yang mampu mengakomodir seluruh aspirasi masyarakat Sleman, dan dapat menjadi momentum pembelajaran demokrasi yang sehat dan baik bagi semua element,” tutur Ahmad Shidqi.
Dalam paparannya Abdul Gaffar Karim dari Fisipol UGM setelah melakukan riset dengan metode kualitatif yang terbatas, timnya menemukan hal positif yakni masih ada pemilih yang memilih dengan kesadaran dan pengetahuan khususnya para pemilih dari kalangan terdidik. Namun yang mengkhawatirkan politik uang sebagai motivator pemilih masih hadir hingga kawasan-kawasan yang dihuni oleh kelompok masyarakat yang memiliki pendidikan formal yang baik.
Praktik politik uang ini menyebabkan tingkat apatisme masyarakat yang tinggi terhadap politisi yang telah berubah menjadi sikap oportunis untuk turut serta dalam pemberian suara, tetapi sekaligus juga menyebabkan rendahnya kontrol masyarakat terhadap yang dipilihnya.
Banyak yang menanti jatah yang diberikan dalam bentuk uang maupun beragam fasilitas yang ditawarkan oleh kandidat. Pemberian uang dari caleg kepada pemilih membuat mereka dengan ringan datang ke TPS dan memberikan hak suara tanpa beban tertentu.
Demikian juga caleg terpilih juga secara tanpa beban akan menjalankan aktivitasnya karena tanggung jawabnya telah diberikan dlam bentuk uang saat pemilu. Masih terkait dengan politik uang yang mendorong tingkat partisipasi pemilih yakni faktor mobilisasi suara oleh broker poliitik terutama yang berasal dari kalangan perangkat pemerintahan terendah, desa maupun tokoh masyarakat lainnya.
Para pemilih yang belum cukup terdidik secara politik sering dihadapkan pada mobilisasi oleh para tokoh masyarakat yang nota bene terlibat dalam deal-deal politik dengan caleg. Misalnya negosiasi mereka mendapat fasilitas pembangunan, dan lainnya kemudian sebagai konsekwensinya dipertukarkan dengan mobilisasi suara anggota masyaakat untuk calon tersebut.

