KPU Sleman Tentukan 5 Titik Pemasangan APK

Sleman – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman telah menentukan titik untuk pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) terutama baliho. Kini KPU sedang dalam proses penyusunan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan titik-titik itu.

Kelima lokasi yang akan dipasang di Simpang empat Ngablak Tempel, Simpang empat Denggung, Simpang tiga Adisucipto, Simpang Demak Ijo dan Posko BPBD Pakem. Baliho kedua paslon akan diletakkan berjejer dalam satu titik. Demikian disampaikan Komisioner KPU Sleman Divisi Hukum, Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Imanda Yulianto, Jumat (28/8)

Imanda mengatakan, selain baliho juga akan dipasang spanduk. Ada 172 titik yang akan disebar di desa se Kabupaten Sleman. Pembagiannya tiap desa ada dua spanduk untuk masing-masing paslon.

“Kita masih terus berkoordinasi dengan Pemda Sleman. Terutama untuk pemasangan baliho. Sedangkan spanduk kita serahkan ke masing-masing PPS. Namun yang pastinya lokasinya tidak akan melanggar aturan. Seperti sekolah, tempat ibadah dan instandi pemerintah,” katanya.




Kesbang Gelar Silaturahmi Penyelenggara Pilbup

IMG_0638Sleman – Dalam rangka mendukung sukses Pemelihan Bupati (Pilbup) tahun 2015 di Kabupaten Sleman, serta antisipasi konflik sosial, Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) Sleman mengadakan forum silaturahmi Forum Pimpinan Daerah dengan para penyelenggara Pilbup, jajaran aparat keamanan dan ormas.

Menurut Kepala Kantor Kesbang, Drs Ardani, acara ini dikemas dalam bentuk pengarahan dari Kapolres Sleman yang menyampaikan materi peran masyarakat dalam menciptakan kamtibmas yang kondusif menjelang Pilbup/Wabub.

Dandim Sleman menyampaikan materi Deteksi dan cegah dini potensi ancaman Pilbup/wabub, Ketua KPU  Ahmad Shidqi dengan materi tahapan dan permasalahan aktual Pilbup/Wabup Sleman, dan Ketua Panwaslu menyampaikan materi pengawasan Pilbub/Wabup menuju demokrasi yang bermartabat.

Yang diundang dalam acara ini personil dari Polres Sleman, Kodim Sleman, Danramil, Kapolsek, Camat, Ketua PPK di 17 Kecamatan, Ketua Panwascam di 17 Kecamatan, PPS di 86 desa, parpol, tokoh masyarakat, tokoh agama, Forum Kemitraan Masyarakat, Organisasi Pemuda dan Desk Pilkada DIY.

Sementara itu Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan pada akhir tahun 2015 ini, masyarakat Kabupaten Sleman memiliki agenda besar dalam tahap demokrasi yakni Pemilihan Kepala Daerah. Sehubungan dengan hal tersebut banyak hal yang harus dipersiapkan terkait dengan komitmen untuk menyelenggarakan Pilbup yang jujur dan bersih.

Kesuksesan dan kelancaran pelaksanaan Pilbup 2015 merupakan penentu kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Sleman ke depan. Keberhasilan penyelenggaraan Pilbup 2015 tidak hanya diindikasikan dengan seberapa besar warga yang punya hak pilih dapat menggunakan hak suaranya saja.

Keberhasilan Pilbup juga diindikasikan dengan pelaksanaanya yang lancar dan tertib, serta situasi dan kondisi yang tetap kondusif, aman dan nyaman, di semua tahapan Pilbup 2015 ini.

Kegiatan Forum Silaturahmi Pemerintah Daerah, Pimpinan Parpol,  Ormas, OKP, LSM, Tokoh  Agama Dan Tokoh Masyarakat Kabupaten Sleman   merupakan sarana diskusi dan silaturahmi  yang mengedepankan peningkatan partisipasi semua unsur pimpinan  dalam menjaga dan meningkatkan ketertiban, kenyamanan dan keamanan menuju Kabupaten Sleman yang lebih kondusif terutama menjelang diadakannya Pilbup 2015.

Gatot menekankan untuk menyelenggarakan Pilbup sesuai dengan asas-asas Demokrasi Pancasila. Pemilihan Kepala Daerah harus diselenggarakan dengan baik sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku dan menjunjung tinggi nilai kejujuran, adil, bersih dan tanpa ada paksaan dari oknum-oknum tertentu.

Kondisi keamanan dan ketertiban di DIY termasuk wilayah Sleman menjadi barometer keamanan dan ketertiban Nasional. Oleh karena itu, Pilbup sebagai awal demokrasi rakyat kita selenggarakan sebaik-baiknya dan memiliki keistimewaan.

“Kita  tunjukan bahwa kita sebagai masyarakat DIY memiliki kesadaran politik dan melaksanakannya sesuai  demokrasi  Pancasila. Marilah kita tampilkan pelaksanaan  pemilihan Kades yang memperlihatkan kecerdasan calon yang dipilih dan yang memilih,” kata Gatot.




Polres Sleman Petakan Titik Rawan Kampanye Pilbup

Sleman – Kepolisian Resort Sleman memetakan sejumlah titik rawan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat saat pelaksanaan kampanye Pemilihan Bupati (Pilbup) Sleman khususnya kegiatan yang mengerahkan massa.

“Titik yang dipetakan kerawanan saat kampanye meliputi wilayah Kecamatan Sleman, Gamping, Godean dan wilayah perbatasan Tempel dan Prambanan, termasuk kerawanan adanya mobilisasi masa pendukung dari luar wilayah,” kata Kapolres Sleman AKBP Faried Zaulkarnaen, kemarin.

Menurut Faried, tindakan tegas akan dilakukan pada simpatisan pasangan calon yang melanggar seperti larangan pawai/ arakan-arakan, baik helm, kelengkapan kendaraan dan knalpot blombongan.

“Kami akan melakukan razia sebelum kampanye di bengkel tempat memasang/mengganti knalpot blombongan,” katanya.

Ia mengatakan, selain itu pihaknya juga akan melaksanakan cipta kondusif dengan melakukan razia penjualan minuman keras.

“Ada dugaan biasanya ada kebiasaan massa kampanye yang minum minuman keras saat kampanye, yang bisa menimbulkan gesekan,” katanya.

Faried mengatakan, kekuatan personel yang disiapkan jajarannya disesuaikan dengan pentahapan Pilbup.

“Saat kampanye disiapkan 700 personel dibantu dengan aparat keamanan lainnya, saat pemungutan suara melibatkan bantuan dari Polda DIY sebanyak personel dibagi di masing-masing TPS,” katanya.

Ia mengatakan, ancaman setiap tahapan kemungkinan terjadinya gesekan antar pendukung, adanya kampanye hitam maupun perusakan alat peraga kampanye dan serangan fajar untuk mendapatkan suara.

“Kami juga mengupayakan cara bertindak yang efektif dan antisipasi bentrok masa dan bentuk-bentuk pelanggaran Pilbup, lakukan terus langkah-langkah preventif dengan meningkatkan kesadaran berbagai pihak agar tidak melakukan tindakan kekerasan dan melanggar hukum,” katanya.

Koordinasi dengan aparat keamanan lainnya, dan penyelenggara pemilu serta pemangku kepentingan untuk menyelesaikan permasalahan pada Pilbup.

“Yang tidak kalah penting tetap waspadai serangan teror terhadap personel atau markas personel,” katanya.




Darma Wanita Sleman Antusias Kunjungi Destinasi Wisata

Dharma Wanita SlemanSleman – Sebanyak 40 orang anggota Darma Wanita Persatuan Kabupaten Sleman yang dipimpin oleh Nanik Hermawati Sunartono melakukan pengenalan wisata ke berbagai destinasi wisata di Kabupaten Sleman, kemarin. Destinasi yang dikunjungi tersebut adalah UMKM di Huntap Pagerjurang, Desa Wisata Pentingsari, Museum Gunungapi Merapi (MGM) dan Taman Anggrek “Titi Orchid”. 

Menurut Nanik, kunjungan ke beberapa destinasi yang dikemas dalam bentuk famtrip dengan difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman memberikan kesempatan yang luas bagi anggota Darma Wanita Kabupaten Sleman untuk mengenal lebih dalam terkait dengan destinasi wisata di Kabupaten Sleman. Dan ternyata dari sekian banyak anggota sebagian besar belum pernah mengunjungi destinasi kunjungan, sehingga jelas program ini sangat bermanfaat bagi mereka.

Nanik tidak menyangka ternyata bila masyarakat di Huntap Pagerjurang Cangkringan memiliki UMKM aktif yang bergerap dalam industri rumah tangga pembuatan bakpia telo, minuman instan, budidaya sapi perah, kripik jamur, abon lele, dsb. Ini tentunya dapat meningkatkan perekonomian warga masyarakat. Begitu pula warga masyarakat Pentingsari yang mampu menunjukkan kreativitasnya mengelola desa wisata, sehingga aktivitas ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat setempat.

Koleksi Museum Gunungapi Merapi (MGM) memberikan pembelajaran yang berharga tentang kegunungapian dan kegempaan bagi pengunjung, khususnya film “Mahaguru Merapi” yang memberikan gambaran riil tentang Gunung Merapi. Yang paling berkesan bagi peserta adalah Taman Anggrek “Titi Orchid” sehingga para peserta dapat mengenal dan belajar langsung tentang budidaya anggrek.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Priwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM saat menemui peserta famtrip di Desa Wisata Pentingsari Cangkringan mengharapkan agar anggota Darma Wanita peserta famtrip menularkan pengalaman dan ilmunya kepada teman, sahabat dan keluarganya.

Sehingga diharapkan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sleman dapat dipromosikan secara positif berdasarkan testimoni yang dapat dipercaya berdasarkan pengalaman langsung berkunjung.




Kenaikan Kedelai Tak Pengaruhi Tempe Secara Signifikan

Sleman – Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian dan Koperasi (Disperindakop) Sleman, Drs Pustopo menyampaikan kenaikan harga kedelai impor tidak mempengaruhi harga tempe secara signifikan. Sebab di Sleman sendiri sempat terjadi penurunan harga kedelai. Sehingga kenaikan saat ini tidak begitu terasa memberatkan.

“Beberapa bulan lalu kan sudah pernah Rp sampai Rp , lalu turun jadi Rp . Sekarang kan naik sedikit, jadi tidak terlalu terasa dampaknya,” kata Pustopo , Rabu (26/8).

Pustopo menilai harga kedelai dan tempe saat ini masih stabil, meskipun para perajin mulai berinisiatif mengurangi ukurannya. Hingga sekarang Disperindakop masih memantau kondisi perindustrian tempe. Jika memang terjadi hambatan produksi karena kenaikan harga kedelai impor akibat melemahnya nilai rupiah, Pemkab Sleman akan segera melaporkannya pada pemerintah Provinsi DIY.

Pustopo menyampaikan, sebelumnya Disperindakop sempat mengadakan operasi pasar (OP) saat harga kedelai sedang tinggi-tingginya. Namun saat ini kebijakan tersebut belum bisa dilaksanakan.

“Sekarang masih normal jadi belum perlu OP. Yang penting persediaannya di pasaran masih aman,” katanya.

Sementara itu, salah satu perajin tempe di Dusun Krajan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Arifin Saputra (42) mengaku sudah merasakan dampak kenaikan harga kedelai impor. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran per kg dari sebelumnya per kg.

“Meskipun baru naik Rp 400, ukurannya mulai kita kurangi sedikit saja,” tuturnya.

Menurut Arifin kenaikan harga kedelai terjadi sejak Jumat pekan lalu. Meski begitu pasokan kedelai dan tempe tetap tersedia. Perajin pun tidak menaikan harga tempe. Hingga saat ini kedelai impor masih menjadi pilihan utama bahan baku tempe. Karena ukurannya yang lebih besar. Kualitas kedelai lokal pun sebenarnya bagus. Namun persediaannya sedikit.

“Kalau pemerintah bisa merangkul petani kedelai, kita pasti bisa menghasilkan ribuan ton per hari,” ujar Arifin.

Ia mengungkapkan perajin tempe baru kelimpungan jika harga kedelai mencapai Rp per Kg. Kalau sudah begitu terpaksa perajin harus menaikan harga tempe.