Sleman Fashion Festival 2015: “Glam of Sinom Parijoto Salak” Karya Terbaik Pertama

IMG_0496Sleman – Design batik “Glam of Parijoto Salak” karya Aditya Pangestika berhasil meraih penghargaan sebagai karya terbaik pertama dalam ajang Sleman Creatif Award 2015 dalam rangkaian Sleman Fashion Festival 2015 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Minggu (23/8) malam di Panggung Kinara Kinari Prambanan.

Penghargaan diberikan oleh Asisten Sekda Bidang Pembangunan Kabupaten Sleman, Dra Suyamsih MPd. Menyusul karya terbaik kedua “Pesona Ratu Kalong” karya  Sera Syarifah Rahmania, dan karya terbaik ketiga “Isvara” karya Syema Rahmania. Ketiga karya terbaik tersebut secara berurutan mendapatkan hadiah sebesar Rp 5 juta, Rp 4 juta dan Rp 3 juta.

Adapun tim juri dalam rangka Sleman Creatif Award 2015 tersebut adalah Lia Mustafa SE dari Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), ahli pewarnaan alam Dr Ir Edia Rahayuningsih MS, Sekretaris Disbudpar Dra Endah Sri Widiastuti MPA, Joko Margono dan Putri Indonesia DIY 2015 Annisa Yunas.

Suyamsih yang mewakili Penjabat Bupati Sleman dalam kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa sektor pariwisata merupakan sektor unggulan dalam pembangunan. Secara khusus event Sleman Fashion Festival 2015 yang dilaksanakan pertama kalinya ini diharapkan dapat mempromosikan potensi wisata serta produk ekonomi kreatif khususnya karya batik.

“Saat ini Sleman telah memiliki batik khas Sinom Parijotho yang terinspirasi dari tanaman Parijotho yang tumbuh di daerah pegunungan di kawasan lereng Merapi. Potensi ini diharapkan dapat mengembangkan sektor ekonomi kreatif khususnya bidang fashion di Kabupaten Sleman,” kata Suyamsih.

Ketua panitia Sleman Fashion Festival 2015 Wurandika Chloridianti mengatakan bahwa dengan  terpilihnya karya-karya terbaik yang memperoleh Sleman Creative Award 2015 tersebut rangkaian Sleman Fashion Festival 2015 masih berlanjut.

Dengan demikian masyarakat luas khususnya pecinta batik masih dapat menikmati beberapa agenda kegiatan, diantaranya Seminar Sleman Fashion Festival 2015 “Memperkenalkan Pewarnaan Batik Alami” 26 Agustus 2015 pukul WIB di Jogja City Mall (Hall Timur – Barat Ground Floor) dengan menampilkan narasumber praktisi fashion Lia Mustafa dan ahli pewarna alam Dr Edia Rahayuningsih MS.

Selain itu juga terdapat Bazar Produk Kreatif Sleman yang akan digelar pada tanggal 26 – 30 Agustus 2015 pukul – WIB di Jogja City Mall (Hall Timur – Barat Ground Floor). Seminar ini juga terbuka untuk umum dan gratis.




Jamaah Haji Sleman Terbagi 4 Kloter

Sleman – Jumlah jamaah haji dari Kabupaten Sleman pada tahun 2015 ini  tercatat sebanyak 925 orang, dengan perincian 424 laki-laki, dan 501 perempuan.

“Mereka terbagi dalam 4 kelompok terbang (kloter) yang akan berangkat dari embarkasi Bandara Adisoemarmo di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama, Kabupaten Sleman, Lutfi Hamid, Minggu (23/8).

Menurut Lutfi,  kloter pertama yaitu Kloter 25 SOC dengan jumlah jamaah 118 orang pemberangkatan pada 28 Agustus 2015 pukul WIB dan pemulangan 8 Oktober 2015 pukul WIB tiba di Sleman.

Setelah itu diberangkatkan Kloter 27 SOC jumlah jamaah 352 orang pemberangkatan 30 Agustus 2015 pukul WIB dan pemulangan 9 Oktober 2015 pukul tiba di Sleman, Kloter 28 SOC jumlah jamaah 105 orang pemberangkatan 30 Agustus 2015 jam WIB. Dan tiba di Sleman 9 Oktober 2015 jam dan Kloter 29 SOC jumlah jamaah 350 orang pemberangkatan 30 Agustus 2015 pukul dan tiba di Sleman 9 Oktober 2015 jam WIB.

“Seluruh kloter berangkat dari Sleman menuju Donohudan tiga jam sebelum jam keberangkatan,” katanya.

Ditambahkan, calon jamaah haji tertua untuk laki-laki atas nama Mujiharjo Abdul Rajak yang baerusia 82 tahun dari Dusun Sumber Kulon 06/31 Kalitirto Berbah Sleman, calon jamaah haji tertua wanita atas nama Parinem Darmo Suwito berusia 89 tahun berasal dari Gamplong 03/02 Sumberahayu Moyudan.

Sedangkan calon jamaah haji termuda laki-laki atas nama Muhammad Fandi Asnan baerusia 20 tahun berasal dari Taegalsari, Dawukan, Sendangtirto, Berbah dan calon jamaah haji wanita termuda atas nama Mia Intan Anisa baerusia 21 tahun berasal dari Tegalsari, Dawukan, Sendangtirto, Berbah. Luyfi juga menghimbau  kepada calon jamaah haji Kabupaten Sleman untuk mempersiapkaan kondisi fisik mengingat kondisi di Arab Saudi sangat berbeda dengan kondisi di tanah air.

Terlebih lagi menurut informasi dari Kementrian Kesehatan RI, cuaca musim haji tahun ini diprediksi cukup ekstrem, hal itu terkait dengan gelombang udara panas yang melanda Arab Saudi, khususnya Makkah, selama pelaksanaan ibadah haji nanti. Jamaah dihimbau memperbanyak minum air untuk mencegah dehidrasi, karena saat musim haji nanti suhu di Makkah bisa mencapai 50 derajat Celsius. Selain iklim dan kondisi pemondokan, aktifitas ibadah haji juga membutuhkan kondisi fisik yang prima.




Tanaman Kopi Merapi Mati Kekeringan

Sleman – Sekitar 2,5 hektare tanaman kopi di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman mati akibat kekeringan.

“Tanaman kopi mati akibat kemarau panjang. Selain udara yang cukup panas, kopi tidak ada pohon-pohon perindang di sekitarnya,” kata Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) Kebun Makmur Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Sumijo, Minggu (23/8).

Menurut Sumijo, tanaman yang mati tersebut berada di lahan yang pada erupsi Merapi 2010 terlewati lahar panas.

“Jadi tanaman kopi yang mati tersebut merupakan tanaman yang baru. Penanaman baru dilakukan awal tahun ini,” katanya.

Menurut Sumijo, sebenarnya tanaman kopi bisa bertahan asalkan banyak pohon perindang di sekitarnya yang dapat menahan sinar matahari.

“Pohon-pohon perindang seperti sengon, lamtoro, atau yang lainnya di lahan tersebut belum ada. Sehingga tanaman kopi banyak yang kering. Belum lagi daun-daunnya yang menjadi kuning. Tapi yang daunnya mengering masih bisa diselamatkan,” katanya.

Sumijo mengatakan tanaman yang mati tersebut harus diganti dengan tanaman baru.

“Para petani harus kembali menanam bibit yang baru. Selain didapatkan dari koperasi, juga bisa nantinya diajukan ke dinas terkait. Awal musim hujan nanti baru bisa menanamnya lagi,” katanya.

Sumijo menambahkan meski masih ada tanaman baru yang tidak berhasil, namun angkanya mulai mengecil. Di tahun sebelumnya, sekitar 60 hektare tanaman kopi mati.




Jelajah Wisata “Kaliurang – Kalikuning 2015”, Kuota Hampir Terpenuhi

Sleman – Jelajah Wisata “Kaliurang – Kalikuning 2015” yang akan diselenggarakan Minggu 30 Agustus 2015 hampir mendekati kuota yang ditetapkan sejumlah peserta. Saat ini peserta yang mendaftar untuk jelajah wisata sudah mencapai 700 peserta lebih. Oleh karenanya calon peserta yang ingin bergabung dalam kegiatan sangat menarik ini agar segera mendaftarkan diri di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Hal tersebut untuk menghindari kejadian seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu banyaknya peserta yang datang mendaftar saat setelah kuota habis. Demikian dinyatakan oleh Koordinator Lapangan Jelajah Wisata “Kaliurang – Kalikuning 2015 Christian Awuy, Minggu (23/8).

Menurut Christian Awuy, jelajah wisata yang dikemas dalam bentuk trekking jalan kaki di kawasan perbukitan lereng Gunung Merapi tersebut akan menempuh jarak ­± 8  kilometre dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Adapun start dan finish di kawasan Tlogoputri Kaliurang dengan jalur menyusuri kawasan hutan wisata Pronojiwo, Gandok, Ledok Lutung Lor, Watu Kemloso, Kalikuning, Ledok Lutung Kidul, dan Gandok. Melalui jalur tersebut para peserta akan dapat menikmati indahnya panorama di lereng Gunung Merapi sekaligus akan dapat menyaksikan sisa-sisa erupsi tahun 1906 di Watu Kemloso serta perkembangan dan perubahan pasca erupsi 2010 silam.

“Hanya dengan mendaftar sebesar , setiap peserta akan memperoleh fasilitas T-Shirt, konsumsi, asuransi dank upon undian untuk memperebutkan hadiah utama 2 buah motor dan puluhan hadiah menarik lainnya,” kata Christia Awuy.

Adapun syarat pendaftaran adalah fotocopy kartu identitas diri/KTP/SIM, minimal berusia 12 tahun. Pendaftaran bisa dilakukan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman . Pendaftaran akan ditutup apabila kuota peserta terpenuhi.




FKY ke 27 Sleman

IMG_1982Sleman– Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) Sleman ke 27 digelar Jumat (21/8) dilapangan Sendangadi Mlati Sleman, dibuka oleh Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi. Acara dihadiri juga oleh Sekda Sleman, Anggota DPRD Sleman, Kadin Budpar, Camat dan pejabat Sleman lainnya.

Gatot  dalam sambutannya mengatakan penyelenggaraan FKY tingkat Kabupaten Sleman ini merupakan upaya  dalam melestarikan, mengembangkan serta memperkenalkan kesenian yang ada di wilayah Sle­man kepada masyarakat luas. Selain itu penyelenggaraan FKY merupakan salah satu media bagi para seniman untuk menampilkan kreativitasnya.

Sehingga diharapkan kesenian yang ada di Sleman akan mampu bertahan dan berkembang ditengah-tengah gempuran budaya dari manca negara.

“Terlebih, kita akan segera memasuki era Komunitas ASEAN, dimana seluruh bangsa-bangsa ASEAN akan menjadi satu komunitas yang saling terbuka satu sama lain. Tidak hanya terbuka dalam hal akses ekonomi, namun juga terbuka dalam hal akses budaya. Jangan sampai, budaya dan kesenian lokal kita, tenggelam di bawah dominasi budaya dan kesenian asing,” kata Gatot.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana untuk menggali, mengenalkan, memasyarakatkan, dan mengukuhkan budaya dan kesenian Sleman, yang juga merupakan bagian dari ruh keistimewaan Yogyakarta. Dengan demikian, di era Komunitas ASEAN mendatang, budaya dan kesenian kita tetap mampu bertahan bahkan mampu menjadi daya tarik bagi bangsa lain untuk berkunjung ke Kabupaten Sleman.

FKY ini juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan refleksi bagi seniman dalam berkesenian, sehingga diharapkan kedepannya para seniman dan pelaku seni akan menghasilkan ide atau konsep berkeseniaan secara lebih baik lagi. Dengan terlibatnya semua seniman atau pelaku seni yang ada di Sleman, kegiatan FKY akan menjadi lebih bergema di tengah masyarakat, dengan demikian masyarakat dapat tergerak untuk mengapresiasi kegiatan tersebut dengan datang ke tempat penyelengaraan FKY.

Diharapkan kedepannya FKY dapat terselenggara tidak hanya sebagai event pemerintah, namun dapat menjadi event bersama antara pemerintah, para pelaku seni dan masyarakat. Untuk merealisasikan hal tersebut sudah barang tentu diperlukan kepedulian, dukungan dan keterlibatan dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun para pelaku seni itu sendiri.

“Oleh karena itu saya berharap agar para pelaku seni terus berkolaborasi dan menjalin relasi agar FKY menjadi agenda rutin wisata Sleman di masa-masa mendatang dan menjadi ajang pagelaran kekayaan budaya dan  seni warga Sleman,” tutur Gatot.

Penjabat Bupati Sleman membuka FKY dengan memukul gong kemudian menyaksikan kirab kesenian dari 17 kecamatan dari lapangan Sendangadi dan berakhir di lapangan Denggung dan dilanjutkan dengan peninjauan pameran seni dan budaya di seputaran lapangan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman , Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan FKY digelar selama 3 hari mulai 21 s/d 23 Agustus digelar siang, sore hingga malam hari. Pada siang dan sore menampilkan potensi seni dan budaya sementara pada malam harinya juga ditampilkan atraksi seni budaya yang dimiliki oleh 17 kecamatan.