Sleman Dorong Petani Salak Pondoh Jadi Ekportir

salak primaSleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terus mendorong dan membina petani salak pondoh di Sleman menjadi eksportir agar dapat mandiri dalam memasarkan hasil produksinya ke sejumlah negara.

“Selama ini meski permintaan tinggi dari luar negeri masih belum maksimal terpenuhi karena ada ketergantungan dengan pihak ketiga,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Sub Terminal Agribisnis (STA) Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Hestirah, Sabtu (12/9).

Menurut Hestirah, permintaan salak pondoh yang dihasilkan dari kebun di wilayah Kabupaten Sleman sebenarnya banyak, seperti dari Eropa, dan ke depan ke Australia.

“Namun meski sudah mulai ada ketertarikan, belum bisa dipenuhinya. Karena saat ini petani salak yang ada masih tergantung eksportir untuk memasarkannya. Petani salak masih belum bisa cari jalan sendiri. Jadi tergantung dari eksportirnya,” katanya.

Hestirah mengatakan, ketertarikan permintaan dari Australia tersebut, setelah ada jalinan kerja sama dengan New Zealand.

“Ekspor salak ke New Zealand sudah tinggal jalan. Sebelumnya, sample sudah dibawa ke sana, ada utusan di sana juga melakukan pengecekan di sini. Dari mulai lahan, hama dan penyakit, memang ada ketertarikan,” katanya.

Hestirah mengatakan, pihaknya selama ini juga telah melakukan berbagai pembinaan kepada para petani salak untuk bisa menjadi eksportir, namun masih perlu waktu agar bisa benar-benar mandiri.

“Sudah dilatih, tapi perlu waktu, sambil jalan nanti. Apalagi ekspor salak seperti ini juga sangat menguntung petani. Dari pada harus dijual kepada para tengkulak. Seperti harga jualnya yang lebih terjamin, dan tak terpengaruh dengan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing,” katanya.

Saat ini lanjutnya, ekspor salak yang sudah jalan salah satunya ke Singapura. Setiap minggunya melakukan pengiriman dari mulai 500 sampai 800 kilogram.

“Sedangkan ke Tiongkok, harusnya setiap minggu dikirim dua ton. Tapi kemarin kirim satu ton, dan masih belum ada permintaan lagi,” tambah Hestirah.

Sementara Ananta, petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Sleman, mengatakan untuk harga dari petani sudah ditetap sejak awal perjanjian. Dari mulai Rp sampai per kilogramnya.

“Jadi meski nilai rupiah turun, ini tidak akan terlalu berpengaruh,” katanya.




Sleman Gelar Pelangi Budaya Merapi

IMG_0888Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersiap menggelar Gebyar Pelangi Budaya Merapi. Kegiatan tersebut untuk mengenalkan potensi budaya dan pariwisata di Sleman.

“Rencananya kegiatan tersebut akan digelar pada 25-27 September 2015 dan dipusatkan di Lapangan Denggung,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM di Sleman, Minggu (13/9).

Dikatakan Ayu, nama Pelangi Budaya Merapi diambil karena wilayah Sleman yang berada lereng Gunung Merapi dan terdapat banyak kebudayaan di dalamnya. Sehingga nama tersebut merepresentasikan Kabupaten Sleman. Sleman memiliki berbagai kebudayaan yang berpotensi untuk dikemas sebagai pariwisata. Di lokasi penyelenggaraan akan diisi dengan pentas budaya. Di antaranya ketoprak Mataraman, Sendratari Ramayana, jathilan, karawitan serta seni budaya lainnya.

Menurut Ayu, pada saat penyelenggaraan juga akan digelar kirab seni tiga dimensi dari 17 kecamatan. Kegiatan tersebut diungkapkan Ayu juga akan dimeriahkan dengan kirab bregada dari masing-masing kecamatan. Selain memberikan suguhan budaya bagi masyarakat, pergelaran ini juga sebagai daya tarik wisatawan, baik lokal maupun manca negara. Kegiatan tersebut juga untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap seni budaya lokal.