Dinas Pasar Terus Melengkapi Fasilitas di Pusat Kuliner Belut Godean

Sleman – Dinas Pasar Kabupaten Sleman terus berupaya melakukan pembenahan dan melengkapi beberapa fasilitas di Pusat Kuliner Belut Godean dengan harapan agar aktivitas perdagangan di pusat Kuliner Belut bisa lebih optomal dan semarak.

Kepala Dinas Pasar Sleman, Dra Tri Endah Yitnani mengatakan pusat kuliner belut Godean yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Sleman sebagai salah satu upaya pemerintah daerah dalam penataan kawasan pasar Godean dan difungsikan untuk merelokasi pedagang belut yang sebelumnya berjualan di halaman parkir Pasar Godean.

“Karena itu pusat kuliner belut Godean  diharapkan dapat menjadi sentra kuliner olahan dari belut dan serta jajanan lain dengan  kemasan yang lebih modern dan menarik serta meningkatkan produk unggulan Kecamatan Godean yaitu kripik belut dan jajanan tradisional yang menggugah selera,” kata Endah di Sleman, Senin (14/9).
Menurut Endah, seiring dengan masih tingginya minat masyarakat terhadap batu mulia dan batu akik  maka salah satu upaya untuk mempromosikan keberadaan pusat kuliner belut Godean Dinas Pasar akan menggelar  event pameran batu mulia dan batu akik berkerjasama dengan  Event Organizer Jalani Production Jogja.
Event pameran akan dilaksanakan pada hari  Rabu hingga  Minggu (16-20/9) mulai pukul  hingga. WIB bertempat di halaman Pusat Kuliner Belut Godean.
“Tujuan kegiatan ini selain untuk mendekatkan pedagang kepada  peminat batu mulia  dan akik yang ada di kawasan Kecamatan Godean dan sekitarnya juga turut melestarikan salah satu potensi alam nusantara, sebagai wadah hiburan dan rekreasi alternatif bagi keluarga dan mendukung promosi bagi Pusat Kuliner Belut Godean,” kata Endah.
Acara juga dimeriahkan Live Music Pop, Dangdut, Keroncong dan Campursari dari “Temu Kangen Community”. Event ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan dan transaksi penjualan produk belut di  Pusat Kuliner Belut Godean.



Pelanggaran Alat Peraga Kampanye Masih Marak

Sleman – Dalam Peraturan KPU No 7 tahun 2015 telah disebutkan bahwa pemasangan Alat Peraga Kampanye (APK) pasangan calon bupati dan wakil bupati difasilitasi oleh KPU. Namun fakta di lapangan masih banyak ditemukan pelanggaran.

Demikian diungkapkan Kasi Penegakan Perundangan Satpol PP Sleman, Rusdi Rais di Sleman, Senin (14/9). Menurut Rusdi, pihaknya sudah mengerahkan 15 petugas khusus untuk memantau pemasangan APK ilegal. Jika kedapatan, petugas akan langsung mencopot.

Dalam menjalankan tugas pengawasan, selain melakukan patroli tim juga mengecek lokasi dugaan pelanggaran pemasangan alat peraga yang dilaporkan oleh Panwas. Namun demikian, tetap saja pemasangan spanduk dan baliho ilegal itu marak bermunculan di sejumlah titik.

“Hari ini tim menurunakn spanduk dan baliho ilegal, besoknya sudah ada lagi. Mungkin dipasangnya pada waktu malam hari saat tim tidak berpatroli,”  kata Rusdi.

Hingga saat ini lanjut Rusdi, pihaknya belum memiliki rencana untuk memburu pelaku pemasangan APK ilegal. Sejauh ini upayanya baru sebatas penertiban. Sebab untuk melangkah ke arah penangkapan pelaku, dikatakan  Rusdi, butuh koordinasi dengan pihak terkait yakni Panwaslu.

Terpisah, Ketua Panwaslu Sleman Djajadi, mengatakan, pelanggaran kampanye berupa pemasangan alat peraga ilegal menjadi catatan tersendiri karena laporannya paling banyak. Dia menegaskan, spanduk dan baliho kampanye hanya boleh dipasang oleh KPU. Selain dari lembaga itu, artinya ilegal.

“Lokasi pemasangannya pun berdasar aturan yang disepakati. Untuk baliho hanya ada lima titik yakni pertigaan ringroad Maguwoharjo, Denggung, Pakem, Ngablak Turi, dan Demak Ijo. Kalau ditemukan pemasangan diluar lima titik itu berarti sudah melanggar ketentuan,” tandasnya.

Sedangkan APK yang berupa spanduk, jumlahnya dibatasi yakni dua buah di masing-masing desa. Jika dihitung, kebutuhan jumlah spanduk selama masa kampanye ini sebanyak 172 lembar untuk dipasang di 86 desa. Jumlah itu termasuk kebutuhan spanduk untuk kampanye terbuka.

Sementara, APK yang berupa selebaran nantinya dibagikan ke tiap kepala keluarga. Kewenangan pembagiannya ada di tangan KPU. Sedangkan jadwal kampanye di media elektronik maupun cetak, hanya dibatasi selama 14 hari terakhir masa kampanye dari 22 November-5 Desember 2015.




Meninggal, Jamaah Haji Sleman Jadi Korban Crane di Mekkah

1409 SLEMAN KORBAN CRANE MEKKAHSleman –  Setelah dinyatakan hilang selama 3 hari, seorang jamaah haji asal Kabupaten Sleman akhirnya ditemukan menjadi korban tewas dalam musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram Mekkah Arac Saudim, Jumat (11/9). 
Setelah mendapat kabar duka tersebut  pihak keluarga menangis histeris, karena  mengetahui ayah 3 anak tersebut tidak bisa kembali lagi ke rumah. Korban jamaah haji yang meninggal tersebut adalah jamaah haji kloter 27 SOC atas nama  Sriyana warjo Sihono bin Warjo Sihono warga Rewulu Kulon RT 3 RW 22 Desa Sidokarto Kecamatan Godean Sleman.
Tangisan histeris istri dan anak-anak tidak tertahankan lagi setelah mendengar kabar bahwa suami dan ayah mereka yang sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah dikabarkan meninggal dunia akibat misibahg jatuhnya crane di Masjidil Haram.
Putri pertama Sriyono, Khusnul Latifah (21) terlihat lemas dengan mata yang sembab. Ia bebebarap kali sempat pingsan dan sejumlah sanak saudara mencoba menenangkannya. Sementara sang istri, Suryatiningsih terlihat tegar saat menerima tamu yang datang meski sisa air mata masih terlihat di kelopak mata.
Sejumlah tamu perempuan yang mengenalnya mengucapkan belasungkawa sembari memberikan pelukan untuk menenangkannya. Di rumah duka juga tampak putri kedua almarhum, Alfiah Nur Hidayah (18) dan putri ketiga, Zakia Nur Afifah (11) Beberapa rekan kerja dan guru sekolah datang melayat. Rombongan siswa SMK N 2 Depok juga mendatangi rumah duka.
“Beliau merupakan salah satu guru di SMK N 2 Depok,” kata Muhammad Fauzan, kakak sepupu Sriyono
Pasca kejadian tersebut mereka memang sempat kehilangan kontak dengan korban Sriyana. Namun karena tidak tercantuim dalam daftar korban mereka masih berharap Sriyana bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
Namun setelah 3 hari dinyatakan hilang, karapan untuk bertemu kembali dengan Sriyana akhirnya harus sirna karena pria berusia 48 tahun itu dilaporkan turut menjadi korban meninggal dalam musibah jatuhnya crane tersebut. Kontak terakhir dilakukan pihak keluarga pada hari Jumat lalu sesaat sebelum pergi ke Masjidil Haram untuk melakukan sholat ashar.
Sementara menurut Kepala Kantor Kementrian Agama Sleman, Lutfi Hamidm dikalangan pengelola haji di  Sleman, Sriyana yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di SMK Depok ini dikenal aktif memposting info-info dari tanah suci. Terutama jika ada jamaah haji yang hilang. Tak hanya itu , Sriyana juga sempat mengunggah sebuah puisi dalam postongannya di grup medi a sosial.
Sriyana mendaftar haji sejak tahun 2000, dan korban berangkat ke tanah suci tanggal 30 Agustus lalu dan bergabung di kloter 27 SOC. Pihak keluarga sebenarnya berharap jenazah korban bisa dibawa pulang ke tanah air untuk dimakamkan, Namun karena terkendala aturan dari Pemerintah Arab Saudi , mereka mengaku pasrah dan mengiklaskan jenazah Sriyana dimakamkan di tanah suci.