Kirab Gebyar Pelangi Budaya Bumi Merapi 2015 Berlangsung Meriah

DSC_5491BernasSleman – Kegiatan Pelangi Budaya Bumi Merapi berlangsung yang berlangsung mulai 25 hingga 27 September 2015 dipusatkan di Denggung Tridadi Sleman. Kirab Tiga Dimensi/ Ogoh-Ogoh, Jumat (25/9) mengawali kegiatan Gebyar Pelangi Budaya Bumi Merapi 2015 berlangsung meriah disaksikan masyarakat Sleman dan sekitarnya.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sleman , Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM untuk hari pertama ditampilkan ogoh-ogoh dari 17 kecamatan. Untuk kecamatan Depok menampilkan Ogoh-Ogoh patung Affandi, Kecamatan Kalasan menampilkan Ogoh-Ogoh Ayam goreng, Kecamatan Prambanan menampilkan Ogoh-Ogoh Candi, Kecamatan Cangkringan menampilkan Ogoh-Ogoh Raksasa Berantas Durjono, Kecamatan Ngemplak menampilkan Ogoh-Ogoh Buto.

Kecamatan Berbah menampilkan Ogoh-Ogoh Ikan dan Jambu Dalhari, Kecamatan Mlati menampilkan Ogoh-Ogoh Semar, Kecamatan Ngaglik menampilkan Ogoh-Ogoh Baurekso, Kecamatan Sleman menampilkan Ogoh-Ogoh Buto Growong, Kecamatan Turi menampilkan Ogoh-Ogoh Orang-orangan sawah Gunung, Kecamatan Pakem menampilkan Ogoh-Ogoh Buto, Kecamatan Tempel menampilkan Ogoh-Ogoh Demit Krasak, Kecamatan Seyegan menampilkan Ogoh-Ogoh Buto.

Kecamatan Minggir menampilkan Ogoh-Ogoh Kuda, Kecamatan Moyudan menampilkan Ogoh-Ogoh Buto, Kecamatan Godean menampilkan Ogoh-Ogoh Tikus/Koruptor yang harus dibasmi, Kecamatan Gamping menampilkan Ogoh-Ogoh Semar Pitutur.

Kirab ini mengambil start dari Lapangan Denggung menuju Lapangan Pemda Sleman melalui Jl. KRT Pringgodiningrat. Penjabat Bupati Sleman dalam Sambutan yang dibacakan Assekda III Dra Suyamsih mengatakan kegiatan Pelangi Budaya Bumi Merapi ini merupakan salah satu upaya strategis, untuk melestarikan warisan budaya tradisional jangan sampai, warisan budaya yang kita  miliki ini punah.

” Kita patut bersyukur dan bangga, bahwa kita memiliki potensi seni dan budaya yang sangat beragam. Dengan upaya regenerasi, diharapkan pelaku-pelaku kesenian dapat berlangsung secara berkesinambungan dan tidak terputus, sehingga kelestarian seni dan budaya dapat terus terjaga,” kata Suyamsih.

Dan dengan pengemasan yang baik, potensi seni dan budaya yang kita miliki dapat menjadi nilai tambah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sleman. Sementara itu pada malam harinya akan ditampilkan Ketoprak  dari PS Bayu Pajangan Sleman dan di panggung 2  Lapangan Tenis ditampilkan pentas Dimas Diajeng Sleman.

Untuk hari kedua Sabtu, 26 September 2015 mulai pukul  WIB berupa Festival Bregada Prajurit yang melibatkan 32 kontingen dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman dengan start dari lapangan Pemda menuju Lapangan Denggung. melalui Jl. KRT Pringgodiningrat.  Pada malam harinya akan ditampilkan pentas sendratari Ramayana, pentas orkes pensil alis dari Anang Batas.

Dan hari ketiga, Minggu 27 September 2015 pukul – WIB berupa acara puncak yaitu Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi yang melibatkan lebih dari 50 kontingen dengan kekuatan lebih dari personil dari berbagai elemen komunitas seni budaya dan stakeholder pariwisata  serta komunitas mahasiswa luar daerah diantaranya komunitas mahasiswa Bali, Banjarnegara dan Kalimantan Barat.




Pemkab Siap Dampingi Pengelolaan Dana Desa

Sleman –  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan melakukan pendampingan kepada desa dalam hal pengelolaan dana desa. Mengingat hal tersebut merupakan hal yang baru bagi desa.  Demikian antara lain disampaikan Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi, Jumat (25/9). Menurut Gatot soal pengelolaan dana desa ini memang  menjadi perhatian serius Pemkab Sleman.

“Kalau sebagian Kepala Desa yang lama dan terpilih kembali  mungkin sudah paham tentang pengelolaan dana desa tersebut. Sementara untuk Kepala Desa yang baru tentu membutuhkan pendampingan lebih,” tutur Gatot.

Dijelaskan  Gatot, pengelolaan dana desa perlu dilakukan lebih detail. Apalagi berkaitan dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBDes) hingga nanti laporan pencairan. Jika desa paham tentang mekanisme pengelolaan dana desa. Tentu proses penciran dan pelaporannya bisa tepat waktu.

“Untuk termin pertama sudah selesai semua. Sedangkan termin kedua kini sedang berjalan 25 persen. Kami harap semua desa dapat mengedepankan akuntabilitas dalam mengelola dana desa,” tutur Gatot.




Ratusan Sapi Kurban di Sleman Kena Cacing Hati

Sleman – Hasil pantauan petugas pemantau dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (DPPK) Sleman mencatat ratusan hewan kurban yang disembelih selama dua hari pada hari raya Idul Adha terkena cacing hati. Demikian disampaikan Kepala DPPK Sleman, Ir Widi Sutikno, Jumat (25/9).

Menurut Widi, berdasarkan data yang masuk selama pengawasan dua hari, mulai 23 sampai 24 September, terdapat lokasi penyembelihan. Sapi yang dipotong ekor, domba ekor, kambing ekor. Sementara itu temuan cacing hati pada sapi sebanyak 504 kasus atau 7,96 persen, cacing hati domba 20 kasus atau 0,31 persen, cacing hati kambing tujuh kasus atau 0,31 persen.

“Temuan ini mungkin akan semakin bertambah. Karena pemotongan masih akan berlangsung dalam tiga hari ke depan,” kata Widi.

Sementara Kepala Bidang Peternakan DPPK Sleman, Ir Suwandi Aziz mengatakan  jika organ hati yang rusak lebih dari 40 persen, maka bagian tersebut sebaiknya tidak dikonsumsi. Bahkan disarankan untuk dikubur dalam tanah atau dimusnahkan. Meski tidak membahayakan, kadar gizi, rasa dan tekstur daging pada hati sudah jelek sehingga tidak layak dimakan.

Hewan bisa terserang cacing hati karena memakan rumput yang mengandung telur cacing. Sehingga telur tersebut ikut termakan dan masuk ke dalam tubuh. Lalu berkembang di hati hewan.

“Cacingnya hanya bisa hidup di hati. Di organ lain tidak bisa hidup,” kata Suwandi Aziz.

Karena itu lanjutnya untuk memutus mata rantai cacing hati cukup sulit. Sebab mengawasi pakan yang diberikan bebas dari telur cacing juga tidak mudah. Maka itu cara yang dapat dilakukan hanya dengan memusnahkan bagian hati yang terkena cacing. Namun begitu, Suwandi Aziz berharap temuan cacing hati tahun ini tidak sebanyak tahun lalu yang mencapai 9,9 persen.