Jalan KRB II Merapi Dibiarkan Rusak

Sleman – Beberapa ruas jalan beraspal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) II Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman  kondisinya rusak parah akibat lalu lalang truk angkutan pasir, dibiarkan belum akan diperbaiki.

“Beberapa jalan memang kondisinya rusak parah, jalan yang sebelumnya beraspal saat ini sudah seperti jalan tanah. Namun kerusakan jalan itu sengaja dibiarkan, karena jika diperbaiki nantinya tidak akan bertahan lama, mengingat masih digunakan lalu-lalang truk penambangan pasir,” kata Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Kabupaten Sleman, Mirza Anfansury, di Sleman, Minggu (27/9).

Menurut Mirza, kondisi jalan yang rusak tersebut memang banyak dikeluhkan, terutama di sebelah timur Hunian Tetap (Huntap) Pagerjurang Desa Kepuharjo. Selain itu, beberapa jalur yang ada di Desa Glagaharjo dan Umbulharjo juga banyak yang rusak, katanya lagi.

Mirza menjelaskan, pada 2012 DPUP Kabupaten Sleman sempat memperbaiki kondisi jalan yang rusak akibat aktivitas penambangan pasir, namun jalan yang sudah mulus beraspal lagi tersebut juga tidak berusia lama.

“Pada tahun 2012 kami sempat melakukan perbaikan setelah jalan rusak parah akibat lalu-lintas truk pasir, namun pada 2013 jalan mulai rusak lagi karena digunakan untuk akses truk pengangkut pasir,” katanya pula.

Mirza mengatakan, pihaknya selama ini sudah menyarankan agar aktivitas truk pengangkut pasir tidak melewati jalur tersebut, namun saran tersebut tidak dilaksanakan.

“Kami sudah sarankan, tapi tetap saja dilewati. Sekarang pun masih, meski tak sebanyak dulu. Ya sudah, perbaikan jalan ditunda dulu. Kalau pun nantinya diperbaiki, hanya akan sia-sia saja, kami sampai kini belum akan melangkah. Tidak tahu pasti akan sampai kapan,” katanya lagi.

Selain itu, untuk melakukan perbaikan jalan di Kecamatan Cangkringan, sesuai prosedur harus diusulkan terlebih dahulu oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Kesepakatan ini sudah berlangsung setelah bencana erupsi Gunung Merapi 2010.

“Seluruh jalan di Cangkringan, kesepakatannya harus diusulkan oleh BPBD dulu jika akan melakukan perbaikan jalan,” katanya.

Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto mengatakan, jalan yang rusak tersebut dirasakan cukup penting karena selain untuk akses warga Sleman, juga merupakan jalur alternatif dari Klaten.

“Jalan tersebut juga digunakan untuk akses transportasi siswa sekolah. Kerusakannya sekitar empat kilometer,” katanya pula.




34 Bregada Prajurit Menghipnotis Pengunjung

bregadaSleman – Kirab Bregada Prajurit yang merupakan agenda hari kedua dalam event Pelangi Budaya Bumi Merapi 2015 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mampu menghipnotis pengunjung. Sebanyak 34 kontingen Bregada Prajurit dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman masing-masing menampilkan suguhan yang berbeda.

Selain melakukan kirab sepanjang 1 kilometer, masing-masing bregada juga melakukan display di hadapan dewan juri dan pengunjung, Sabtu (26/9) di panggung Lapangan Denggung Sleman.

Suguhan dari 17 kecamatan tersebut adalah Bregada Kyai Bokeri dari Kecamatan Bregada Kecamatan Mlati, Bregada Kyai Ganjur dari Kecamatan Sleman, Bregada Kismo Kuncoro dari Kecamatan Godean, Bregada Sastro Wilogo dari Kecamatan Moyudan, Bregada Gandrung Arum dari Kecamatan Cangkringan, Bregada Songsong Wirosuto dari Kecamatan Gamping.

Bregada Kyai Rebyug dari Kecamatan Mlati, Bregada Turonggo Suro dari Kecamatan Ngemplak, Bregada Ngrowhod dari Kecamatan Turi, Bregada Condongcatur dari Kecamatan Depok, Bregada Gotri Selo Aji dari Kecamatan Kalasan, Bregada Buana Aji dari Kecamatan Godean, Bregada Tunggulwulung dari Kecamatan Minggir, Bregada Joyo Dino dari Kecamatan Prambanan.

Bregada Tunggularum dari Kecamatan Turi, Bregada Tirto Muncar dari Kecamatan Ngaglik, Bregada Wirotani dari Kecamatan Gamping, Bregada Jonggrang dari Kecamatan Prambanan, Bregada Tlogo Sandhang dari Kecamatan Berbah, Bregada Bahu Dendho dari Kecamatan Tempel, Bregada Surenglogo Tohino dari Kecamatan Sleman.

Bregada Kyai Kelir dari Kecamatan Minggir, Bregada Tambak Kali dari Kecamatan Cangkringan, Bregada Hargo Merapi dari Kecamatan Pakem, Bregada Mbah Prembun dari Kecamatan Ngaglik, Bregada Kromodipo dari Kecamatan Pakem, Bregada Umbul Kamulyan dari Kecamatan Kalasan, Bregada Purboyo dari Kecamatan Seyegan.

Bregada Wonolelo dari Kecamatan Ngemplak, Bregada Mertoyudan dari Kecamatan Tempel, Bregada Ki Angklung dari Kecamatan Moyudan, Bregada Gadung Mlati dari Kecamatan Seyegan, Bregada Sentono Rejo dari Kecamatan Berbah, dan Bregada Kudha Karengga dari Kecamatan Depok.

Dilanjutkan pukul WIB dengan pentas seni angklung di Panggung Utara Lapangan Denggung dan pukul WIB dengan atraksi Pentas Musik Pensil Alis dan Pentas Anang Batas di Panggung Utama Lapangan Tennis di Jl. KRT Pringgodiningrat Tridadi Sleman.

Hari ketiga, Minggu (27/9) pukul – WIB merupakan acara puncak yang berupa Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi yang melibatkan lebih dari 50 kontingen dengan kekuatan lebih dari personil dari berbagai elemen komunitas seni budaya dan stakeholder pariwisata yaitu hotel, restoran, museum, perguruan tinggi, desa wisata, upacara adat.

Bahkan komunitas mahasiswa luar daerah juga akan bergabung dalam event ini, diantaranya komunitas mahasiswa Bali, Banjarnegara, Kalimantan Barat dan kontingen dari Surabaya.




Depok Gelar Kegiatan Prokasih dan Penghijauan

Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi memimpin langsung kegiatan program kali bersih atau prokasih dan penghijauan di wilayah Sungai Pelang, Gandok, Kecamatan Depok, Sabtu (26/9).

Kegiatan tersebut juga diikuti  oleh Camat Depok Drs Budiharjo dan segenap anggota forum komunikasi pimpinan Kecamatan Depok. Kegiatan diawali dengan apel bersama persiapan kegiatan prokasih dan juga penyerahan secara simbolis peralatan kebersihan.

Dalam sambutannya Gatot memberikan apresiasi kepada Kecamatan Depok atas usahanya untuk menghijaukan kembali serta menggerakkan masyarakat dalam membersihkan sungai dari sampah yang menghambat aliran sungai pelang di Padukuhan Gandok.

Gatot juga berharap  kegiatan ini tidak hanya dapat mengembalikan daya dukung Sungai Gandok bagi kelestarian alam namun juga memberikan contoh bagi masyarakat di daerah sekitar sungai lainnya untuk melakukan kegiatan serupa.  Gatot juga menghimbau agar, selain dengan upaya membersihkan sungai ini juga harus dilakukan dengan penghijauan.

“Saat ini kelestarian peraian sungai dapat terancam oleh banyaknya sampah dan limbah yang dibuang ke aliran sungai,” kata Gatot.

Menurut Gatot, tingginya sampah di sungai berbanding terbalik dengan kebutuhan air bersih yang terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk. Gatot juga mengingatkan agar sungai itu dijadikan halaman depan rumah kita, sehingga jangan  menjadi lokasi untuk membuang sampah.

“Bila kelestaraian dan kebersihan sungai dapat terjaga bukan tidak mungkin nantinya juga dapat menjadi obyek wisata,” tutur Gatot.

Upaya menjaga kelestarian dan kebersihan sungai ini tentunya butuh dukungan semua pihak, baik itu pemerintah, masyarakat dan swasta, oleh karena itu one river one management harus diwujudkan, jadi pengelolaan sungai tidak terikat oleh batas wilayah.




Wisatawan Asal 8 Negara Asing Ikut Menari Tayub

Wisatawan asing bersama menari tayub2Sleman – Acara puncak Gebyar Pelangi Budaya Bumi Merapi yang berupa kirab budaya dari berbagai komunitas seni, budaya, dan stakeholder pariwisata yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Minggu (27/9)  berlangsung meriah.

Semua kontingen yang hadir selain melakukan kirab sepanjang 3 kilometer juga melakukan display dihadapan dewan juri. Setidaknya terdapat 17 wisatawan asing yang berasal dari 8 negara turut hadir menyaksikan rangkaian kirab tersebut. Mereka berasal dari Jepang, Thailand, Vietnam, Ukraina, Filipina, Meksiko, Singapura dan Perancis. Bahkan mereka turut menari tayub bersama dengan 18 penari tayub serta para pejabat di Kabupaten Sleman yaitu Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman dr Sunartono MKes dan Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi.

Peserta kirab Pelangi Budaya Bumi Merapi tersebut meliputi Drum Band sdar Akademi Maritim Jogja, Bregada Purna Paskibraka Indonesia, Bregada KRT Pringgodiningrat, Bregada Upacara Adat Bathok Bolu, Komunitas Paes Sekar Sedah, Desa Wisata Sidoakur, Batik Permata Bunda, Sadranan Agung Pangeran Purboyo, Desa Wisata Gabugan, Prodi Pariwisata UGM, Batik Sleman Mukti Manunggal, Bregada Waneng Caki Tempel, Ogoh-Ogoh Saparan Bekakan, Fakultas Teknik UNY, Desa Wisata Brayut.

Upacara Adat Labuhan Merapi, Bregada Sentana Budaya, Desa Wisata Pajangan, Upacara Adat Saparan Kwagon, Tradisi Merti dusun Sri Tanjung, Desa Wisata Grogol, Desa Wisata Pulesari, Desa Wisata Brajan, Museum Gunungapi Merapi, Museum Geoteknologi Mineral UPN, Poeri devata Resort, Hotel Royal Ambarukmo, Bank Sleman, Dimas Diajeng Sleman, Museum Sisa Hartaku, Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA, SMKN 1 Tempel, Rwestoran Mr. Blangkon, Monumen Jogja Kembali, Museum TNI AU Dirgantara Mandala, Museum Gempa Prof Sarwidi, dan Bank BRI Sleman.

Selain itu juga tampil perwakilan mahasiswa luar daerah dari Provinsi Bali, Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, Kabupaten Banjarnegara serta kontingen dari Kota Surabaya.