Pascaerupsi, Kesenian Warga Merapi Dibangkitkan

Sleman – Bencana erupsi Merapi tahun 2010 tidak hanya mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda, tapi juga aset budaya. Untuk membangkitkan kesenian khususnya di lingkungan lereng Merapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memberikan bantuan seperangkat gamelan. Dan bantuan gamelan tersebut belum lama ini telah diserahkan oleh Pelaksana harian BPBD DIY GBPH Yudaningrat.

“Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sosial ini sudah rutin dilaksanakan sejak tahun 2012. Tahun ini, bantuan gamelan diberikan kepada kelompok seni “Cahyo Budoyo” dari Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Selasa (29/9).

Sampai saat ini setidaknya sudah 15 kelompok kesenian mendapat bantuan peralatan dari BPBD DIY. “Bantuan ini diharapkan dapat memberikan stimulan untuk membangkitkan aktivitas sosial budaya di kawasan rawan bencana,” kata Sri Winarti.

Ditambahkan pula bahwa  musibah erupsi lima tahun silam memberikan dampak berat bagi warga khusus­nya yang tinggal di zona KRB. Butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk dapat pulih dari kondisi tersebut.




Rumah Korban Merapi Dijadikan Wisata Minat Khusus

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengkaji kemungkinan rumah-rumah di Dusun Bakalan, Argomulyo Kecamatan Cangkringan Sleman yang terdampak erupsi Gunung Merapi 2010 dijadikan tempat wisata minat khusus.

“Wisata minat khusus ini akan  menampilkan cerita, layaknya Museum Gempa Kobe, Jepang,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Disbudpar Kabupaten Sleman Dra Shavitri Nurmala Dewi, Selasa (29/9).

Menurut dia, ada hal menarik dari rumah-rumah warga yang sudah tidak tak ditinggali oleh pemiliknya pascaerupsi Merapi.

“Dengan diberi sedikit sentuhan, bisa dijadikan wisata minat khusus. Daya tariknya dari ceritanya. Sedikit diberi kreasi, akan menjadi wisata minat khusus,” katanya.

Evi panggilan Shavitri mengatakan, penggarapan rumah-rumah warga tersebut akan mengadopsi Museum Gempa Kobe, Jepang, namun tanpa pembangunan fisik karena wilayahnya termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Gunung Merapi yang dilarang membangun fasilitas atau infrastruktur.

“Hanya sentuhan-sentuhan kecil untuk penataan kawasannya. Kemudian ditambahkan suatu `tetenger` (penanda) terjadinya erupsi Merapi 2010,” katanya.

Evi menambahkan penataan ini masih belum bisa dipastikan kapan selesai dan mulai dinikmati oleh pengunjung. Karena membutuhkan proses yang cukup panjang.

“Sekarang masih penyelesaian tanahnya. Masih dibutuhkan proses yang panjang,” katanya.

Di wilayah yang masuk dalam KRB III, memang banyak rumah-rumah warga yang sudah tidak ditinggali akibat bencana Merapi 2010. Kondisinya pun sudah tak terawat lagi, karena pemiliknya direlokasi ke tempat-tempat yang aman, di beberapa hunian tetap (huntap) di KRB II maupun I. Camat Cangkringan Edi Harmana, mengatakan di daerah Dusun Bakalan tersebut memang kedepannya  akan dibuat suatu objek wisata.

“Pemda Sleman nanti yang menggarapnya. Di sekitar Dusun Bakalan tersebut memang ada suatu kawasan sebagai tempat pemberhentian Jeep Lava Tour. Namun, masih sebatas dikelola oleh masyarakat setempat saja. Belum ada campur tangan dari pemerintah,” katanya.




Asia Tri Jogja Kembali Digelar

IMG_9890Sleman – Asia Tri Jogja kembali digelar di Yogyakarta, tepatnya di Omah Petruk Wanarejo Karang Klethak Hargobinangun Pakem Sleman, Senin (28/9).  Asia Tri Jogja 2015 didukung sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

Asia Tri pertama kali digelar di Seoul, Korean Selatan pada tahun 2005, dan selanjutnya pada 2006 Asia Tri digelar di Jogja. Pada 2015 ini, Asia Tri sudah 10 kali digelar. Festival Asia Tri sendiri diprakarsai oleh tiga orang yakni Yang Hye Jin (Korea), Soga Masaru (Jepang), Bimo Wiwohatmo dan Bambang Paningron (Yogyakarta-Indonesia).

Hari pertama, Senin (28/9), Asia Tri Jogja menampilkan beberapa seniman dalam dan luar negeri. Penampilan pertama oleh Anterdance (Indonesia), dilanjutkan penampilan dari Rangranga Dance Academy (Sri Langka), Jun Amanto (Jepang), Jan Malibela feat Endi dan Bagas (Papua, Indonesia),  Cynthia (Timor Leste), Miho Konai dan Shigeki Yamada (Jepang), Cakil Squad (Indonesia), dan ditutup dengan penampilan oleh Folknery Music (Ukraina).

Dan Hari Kedua Asia Tri Jogja 2015 akan menampilkan Basingsai, Kalimantan Timur (Indonesia), Suhaimi Magi (Malaysia), Rina Takahashi (Jepang), Pondok Art  Community (Indoensia), Ayu Permata (Indonesia), Minoru Hideshima (Jepang), Wisnu HP (Indonesia), KURI – Miho Igi (Jepang – Indonesia).

Asia Tri Jogja 2015 digelar selama tiga hari mulai dari Senin (28/9) sampai Rabu (30/9) September 2015.