Realisasi Penerimaan PBB Capai 68,19 Persen

Sleman – Sampai dengan tanggal 29 September 2015 realisasi penerimaan PBB tahun 2015 mencapai 68,19 % dari ketetapan dengan total tagihan Rp 70,572 miliar terealisir Rp 48,123 miliar.

“Tagihan Kecamatan Cangkringan paling rendah yakni Rp 618,31 juta namun realisasinya cukup tinggi yakni Rp 592,014 juta atau mencapai 95,75 %,” kata Kepala Dinas Dispenda, Hardo Kiswoyo, Rabu (30/9).

Sementara untuk tagihan tertinggi lanjut Hardo, ada di Kecamatan Depok Rp 25,795 miliar tetapi realisasinya baru  Rp 17,007 miliar atau 65,93 %. Ditambahkan Hardo, akhir masa jatuh tempo pembayaran PBB adalah tanggal 30 September 2015. Biasanya menjelang akhir jatuh tempo  antrian masyarakat untuk membayar PBB perorangan cukup banyak di Bank BPD.

“Untuk pembayaran secara kolektif sudah ditutup tanggal 25 September, sehingga masyarakt membayarkan sendiri ke Bank. Pembayaran masih bisa dilakukan hingga tanggal 30 September , selain di Bank BPD pembayaran PBB bisa dilakukan di BRI Syariah, maupun KUD Puskud Mataram yang ada di desa, sehingga masyarakat tidak perlu berjubel di BPD,” kata Hardo.

Sebelumnya lanjut Hardo, Dipenda Sleman terus gencar mendorong masyarakat untuk segera melunasi PBB karena sudah hampir jatuh tempo baik kepada desa maupun Kadus yang mengumpulkan pembayaran secara kolektif.

Dukungan dan kerja keras perangkat ditingkat desa maupun kecamatan dalam memotivasi masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan ini memegang peranan yang penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat.




270 Siswa SD dan SMP Terima Bantuan Lembaga Orang Tua Asuh DIY

Sleman – Sebanyak 270 siswa SD/MI dan SMP/MTs di Kabupaten Sleman menerima bantuan dari Lembaga Orang Tua Asuh (L-OTA) DIY, penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi di Gedung Serbaguna Sleman, Rabu (30/9).Dana bantuan L-OTA DIY  tersebut berasal dari Pamella Supermarket bagi 60 siswa SD/MI dengan alokasi  bantuan sebesar Rp ,- per siswa sehingga bantuan dari Pamella Supermareket sebesar Rp 7,2 juta.

Sedang dari PT Sari Husada Generasi Mahardika untuk 200 siswa SD/MI  dan 10 siswa SMP/MTs, masing-masing siswa SD/MI juga menerima bantuan Rp. , sedang untuk tingkat SMP/Mts sebesar Rp ,-, hingga total bantuan dari PT Sari Husada sebesar Rp 25,8 juta.

Pada kesempatan tersebut Gatot menyampaikan bahwa Pemberian bantuan L-OTA ini merupakan salah satu wujud kepedulian bersama terhadap kesinambungan pendidikan anak-anak. Terlebih lagi pada saat ini masih banyak anak-anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan­nya karena masalah biaya.

“Di Kabupaten Sleman, jumlah siswa putus sekolah pada tahun 2014 untuk jenjang SD/MI sebanyak 42 anak. Sedangkan untuk jenjang SMP/MTs sebanyak 18 dan jenjang SMA/ SMK sejumlah 54 siswa,” kata Gatot.

Oleh karena itu lanjut Gatot, melalui bantuan anak asuh L-OTA tentunya dapat membantu mengurangi angka siswa putus sekolah.

Selain itu melalui bantuan ini, diharapkan anak-anak teruta­ma dari kalangan kurang mampu dapat terus mengenyam pendidikan yang layak, bahkan dapat menempuh pendidikan sampai jenjang yang tertinggi. Sedang  kepada anak-anak penerima bantuan, Gatot minta agar bantuan tersebut sebagai motivasi untuk terus giat belajar.

“Tunjukkanlah terimakasih kalian dengan meraih prestasi di berbagai bidang. Jangan pernah putus asa dan teruslah berusaha. Ingatlah akan nasehat : dimana ada kemauan disitu pasti terbuka jalan. Jadi tinggal bagaimana kita berusaha sekuat tenaga mengejar cita-cita,” tutur  Gatot.

Sedangkan Kepala Bagian Kesra  Drs Hery Sutopo mengatakan bahwa mulai bulan September  diadakan pendataan anak dari keluarga miskin di wilayah Kabupaten Sleman sebagai tindak lanjut surat dari L-OTA DIY.

Dan setelah penyerahan bantuan tersebut akan diadakan monitoring untuk bantuan anak asuh di Kabupaten Sleman baik oleh Tim Monitoring L-OTA DIY maupun dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

Sementara itu pembina L-OTA DIY Wahyuntono Kusumo Broto menyampaikan bahwa bantuan beasiswa tersebut bukan untuk membeli pulsa, namun untuk biaya sekolah. Lebih lanjut disampaikan bahwa penerima bantuan beasiswa warga kurang mampu di Kabupaten Sleman kedepan semakin berkurang. Artinya anak di Sleman sudah mampu membiayai sekolah.




Pascaerupsi, Kesenian Warga Merapi Dibangkitkan

Sleman – Bencana erupsi Merapi tahun 2010 tidak hanya mengakibatkan kerugian jiwa dan harta benda, tapi juga aset budaya. Untuk membangkitkan kesenian khususnya di lingkungan lereng Merapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY memberikan bantuan seperangkat gamelan. Dan bantuan gamelan tersebut belum lama ini telah diserahkan oleh Pelaksana harian BPBD DIY GBPH Yudaningrat.

“Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sosial ini sudah rutin dilaksanakan sejak tahun 2012. Tahun ini, bantuan gamelan diberikan kepada kelompok seni “Cahyo Budoyo” dari Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan,” kata Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti dikantornya, Selasa (29/9).

Sampai saat ini setidaknya sudah 15 kelompok kesenian mendapat bantuan peralatan dari BPBD DIY. “Bantuan ini diharapkan dapat memberikan stimulan untuk membangkitkan aktivitas sosial budaya di kawasan rawan bencana,” kata Sri Winarti.

Ditambahkan pula bahwa  musibah erupsi lima tahun silam memberikan dampak berat bagi warga khusus­nya yang tinggal di zona KRB. Butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk dapat pulih dari kondisi tersebut.




Rumah Korban Merapi Dijadikan Wisata Minat Khusus

Sleman – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman mengkaji kemungkinan rumah-rumah di Dusun Bakalan, Argomulyo Kecamatan Cangkringan Sleman yang terdampak erupsi Gunung Merapi 2010 dijadikan tempat wisata minat khusus.

“Wisata minat khusus ini akan  menampilkan cerita, layaknya Museum Gempa Kobe, Jepang,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Disbudpar Kabupaten Sleman Dra Shavitri Nurmala Dewi, Selasa (29/9).

Menurut dia, ada hal menarik dari rumah-rumah warga yang sudah tidak tak ditinggali oleh pemiliknya pascaerupsi Merapi.

“Dengan diberi sedikit sentuhan, bisa dijadikan wisata minat khusus. Daya tariknya dari ceritanya. Sedikit diberi kreasi, akan menjadi wisata minat khusus,” katanya.

Evi panggilan Shavitri mengatakan, penggarapan rumah-rumah warga tersebut akan mengadopsi Museum Gempa Kobe, Jepang, namun tanpa pembangunan fisik karena wilayahnya termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Gunung Merapi yang dilarang membangun fasilitas atau infrastruktur.

“Hanya sentuhan-sentuhan kecil untuk penataan kawasannya. Kemudian ditambahkan suatu `tetenger` (penanda) terjadinya erupsi Merapi 2010,” katanya.

Evi menambahkan penataan ini masih belum bisa dipastikan kapan selesai dan mulai dinikmati oleh pengunjung. Karena membutuhkan proses yang cukup panjang.

“Sekarang masih penyelesaian tanahnya. Masih dibutuhkan proses yang panjang,” katanya.

Di wilayah yang masuk dalam KRB III, memang banyak rumah-rumah warga yang sudah tidak ditinggali akibat bencana Merapi 2010. Kondisinya pun sudah tak terawat lagi, karena pemiliknya direlokasi ke tempat-tempat yang aman, di beberapa hunian tetap (huntap) di KRB II maupun I. Camat Cangkringan Edi Harmana, mengatakan di daerah Dusun Bakalan tersebut memang kedepannya  akan dibuat suatu objek wisata.

“Pemda Sleman nanti yang menggarapnya. Di sekitar Dusun Bakalan tersebut memang ada suatu kawasan sebagai tempat pemberhentian Jeep Lava Tour. Namun, masih sebatas dikelola oleh masyarakat setempat saja. Belum ada campur tangan dari pemerintah,” katanya.




Asia Tri Jogja Kembali Digelar

IMG_9890Sleman – Asia Tri Jogja kembali digelar di Yogyakarta, tepatnya di Omah Petruk Wanarejo Karang Klethak Hargobinangun Pakem Sleman, Senin (28/9).  Asia Tri Jogja 2015 didukung sepenuhnya oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

Asia Tri pertama kali digelar di Seoul, Korean Selatan pada tahun 2005, dan selanjutnya pada 2006 Asia Tri digelar di Jogja. Pada 2015 ini, Asia Tri sudah 10 kali digelar. Festival Asia Tri sendiri diprakarsai oleh tiga orang yakni Yang Hye Jin (Korea), Soga Masaru (Jepang), Bimo Wiwohatmo dan Bambang Paningron (Yogyakarta-Indonesia).

Hari pertama, Senin (28/9), Asia Tri Jogja menampilkan beberapa seniman dalam dan luar negeri. Penampilan pertama oleh Anterdance (Indonesia), dilanjutkan penampilan dari Rangranga Dance Academy (Sri Langka), Jun Amanto (Jepang), Jan Malibela feat Endi dan Bagas (Papua, Indonesia),  Cynthia (Timor Leste), Miho Konai dan Shigeki Yamada (Jepang), Cakil Squad (Indonesia), dan ditutup dengan penampilan oleh Folknery Music (Ukraina).

Dan Hari Kedua Asia Tri Jogja 2015 akan menampilkan Basingsai, Kalimantan Timur (Indonesia), Suhaimi Magi (Malaysia), Rina Takahashi (Jepang), Pondok Art  Community (Indoensia), Ayu Permata (Indonesia), Minoru Hideshima (Jepang), Wisnu HP (Indonesia), KURI – Miho Igi (Jepang – Indonesia).

Asia Tri Jogja 2015 digelar selama tiga hari mulai dari Senin (28/9) sampai Rabu (30/9) September 2015.