Sleman Pertahankan Program Jamkesda

Sleman – Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Sleman  tetap mempertahankan program Jaminan Kesehatan Daerah   Mandiri meskipun saat ini pemerintah pusat telah meluncurkan program jaminan kesehatan melaluii Badan Pelaksanan Jaminan social (BPJS).

“Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) dan Jamkesda Mandiri tetap dipertahankan, karena masih banyak warga miskin yang belum terlindungi jaminan kesehatan yang ada seperti BPJS Kesehatan,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, dr Sunartono MKes  di Sleman, Senin (7/9).

Menurut Sunartono, Jamkesda merupakan program untuk memberika layanan kesehatan bagi keluarga miskin dan rentan miskin dengan dana dari APBD bagi mereka yang belum terdata dalam program pemerintah pusat karena adanya perbedaan data.

Selama ini ada masyarakat miskin yang belum terdata dalam jaminan kesehatan. Pendataan keluarga miskin dari pusat dengan menggunakan data dari BPS, di lapangan ini ternyata terdapat keluarga miskin yang tidak masuk, mereka yang belum terdata ini  difasilitasi dengan Jamkesda dan Jamkesda Mandiri.

“Untuk Jamkesda Mandiri ini jenis layanannya sama dengan Jamkesda biasa yang diperuntukkan bagi keluarga miskin.  Hanya saja untuk Jamkesda Mandiri ini peserta bebas tidak harus berasal dari keluarga miskin, dan untuk kepesertaan dipungut iuran sebesar Rp 60 ribu  per jiwa per tahun. Sedangkan untuk Jamkesda keluarga miskin, iuran dibayar atau disubsidi oleh pemerintah daerah,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr. Mafilindati Nuraini   mengatakan, keluarga miskin yang mendapat jaminan ini adalah mereka yang tercantum dalam daftar keluarga miskin secara `by name` dan `by address` berdasarkan Surat Keputusan Bupati terbaru.

Menurut Linda, Jamkesda ini merupakan sistem jaminan kesehatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Sleman yang penyelenggaraannya atas dasar usaha bersama dan kekeluargaan.

“Program ini dimaksudkan untuk menggabungkan risiko seseorang ke dalam suatu kelompok masyarakat yang pembiayaannya dilakukan secara praupaya serta mutu terjamin,” kata Linda.

Sedangkan jenis pelayanan yang didapatkan meliputi rawat jalan dan rawat inap di puskesmas dan di rumah sakit (kelas 3), persalinan bagi yang tidak mendapatkan jaminan persalinan, obat dan bahan medis serta tindakan medis.




Upacara Adat Saparan Bekakak “Juarai” Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya

0709 SLEMAN BEKAKAKSleman – Kontingen upacara adat Saparan Bekakak dari Kecamatan Gamping berhasil meraih sebagai penyaji terbaik I pada Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya Kabupaten Sleman 2015 yang diselenggarakan dua hari yaitu hari Sabtu (5/9) dan  Minggu (6/9) di taman parkir Meseum Gunungapi Merapi (MGM). Upacara Adat Saparan Bekakak ini mampu menyisihkan 16 Kecamatan lainnya se Kabupaten Sleman.

Penyerahan kejuaraan disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM. Diselenggarakannya Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya Sleman tersebut disamping untuk memberikan hiburan kepada masyarakat juga sebagai upaya pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan budaya khususnya upacara adat dan tradisi budaya di wilayah Sleman serta penguatan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal pada masyarakat.

Adapun urutan kejuaraan Festival Upacara Adat dan Tradisi Budaya Sleman Sleman tersebut adalah sebagai penyaji terbaik I upacara Adat Saparan Bekakak dari Kecamatan Gamping dengan nilai 907 mendapat uang pembinaan Rp 6 juta dan tropy, penyaji terbaik II upacara Adat Labuhan Merapi dari Kecamatan Cangkringan dengan nilai 840 mendapat Rp 5 juta dan tropy, penyaji terbaik III Tradisi Budaya Saparan Kwagon dari Kecamatan Godean dengan nilai 832 mendapat Rp 4 juta dan tropy.

Penyaji terbaik IV Tradisi Budaya Tingkeban dari Kecamatan Depok dengan nilai 821 mendapat Rp. 3 juta dan penyaji terbaik V Tradisi Budaya Merti Sendang Lojajar dari Kecamatan Ngaglik dengan nilai 808 mendapat Rp 2 juta. Sedangkan Dewan Juri dalam penyelenggaraan Festival ini yaitu Juri I Dr Agung Suryahadi, Juri II Drs Suharyoso dan Juri III Purwatmadi.

Tradisi Saparan bekakak ini berupa penyembelihan “bekakak” yakni sepasang boneka temanten (pengantin Jawa)  muda yang terbuat dari tepung ketan.  Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali dalam bulan Sapar dalam Kalender Jawa. Tradisi ini terkait dengan tokoh Ki Wirasuta, satu dari tiga bersaudara dengan Ki Wirajamba, dan Ki Wiradana yang merupakan abdi dalem Hamengku Buwono I yang sangat dikasihi.

Ketika pembangunan Keraton Yogyakarta sedang berlangsung, para abdi dalem tinggal di pesanggrahan Ambarketawang kecuali Ki Wirasuta yang memilih tinggal di sebuah gua di Gunung Gamping. Pada bulan purnama, antara tanggal 10 dan 15, pada hari Jumat, terjadi musibah, Gunung Gamping longsor.

Ki Wirasuta dan keluarganya tertimpa longsoran dan dinyatakan hilang karena jasadnya tidak ditemukan. Hilangnya Ki Wirasuta dan keluarganya di Gunung Gamping ini menimbulkan keyakinan pada masyarakat sekitar bahwa jiwa dan arwah Ki Wirasuta tetap ada di Gunung Gamping.

Upacara Saparan semula bertujuan untuk menghormati kesetiaan Ki Wirasuta dan Nyi Wirasuta kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tapi kemudian berubah dan dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan bagi penduduk yang mengambil batu gamping agar terhindar dari bencana.  Sebab pengambilan batu gamping cukup sulit dan berbahaya.

Terkait dengan penyelenggaraan festival ini Ayu kepada wartawan dikantornya, Senin (7/9) mengungkapkan bahwa pihak pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengharapkan agar festival ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap upacara adat di wilayah Kabupaten Sleman dan sebagai sarana menginternalisasi simbol-simbol nilai-nilai tradisi budaya masyarakat di era globalisasi.

Dikatakan bahwa Upacara Adat dan Tradisi Budaya merupakan produk budaya lokal yang memiliki fungsi penguatan antara manusia dengan Tuhan, Identitas budaya, pewarisan nilai inspirasi gagasan dan ilmu, pemberdayaan pelaku budaya, pengembangan potensi ekonomi masyarakat serta pengembangan kebudayaan.

Diungka[kan Ayu,  festival upacara adat ini diikuti 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman masing-masing mengirimkan satu kontingen. Ke 17 kontingen perwakilan kecamatan se-Kabupaten Sleman tersebut masing-masing terdiri  atas minimal 50 orang.

Ayu menambahkan upacara adat dan tradisi budaya ini secara esensi menggambarkan keluhuran budi bagi masyarakat yang mengajarkan ketulusan, keikhlasan dna rasa syukur terhadap anugerah yang diberikan Tuhan.

“Hal ini penting untuk dilestarikan dan dikembangkan karena akan membentuk lingkungan masyarakat yang memiliki toleransi, kegotongroyongan dan rasa kebersamaan yang tinggi,” katanya.***




Berbagai Kisah dan Legenda Ditampilkan Dalam Festival Adat

IMG-20150905-WA003Sleman – Berbagai kisah dan legenda dibalik pelaksanaan sejumlah upacara adat ditampilkan dalam Festival upacara adat dan tradisi budaya yang berlangsung di halaman parkir Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Desa Hargobinangun Pakem Sleman, Sabtu-Minggu (5-6/9). Festival digelar sebagai upaya untuk lebih mengangkat dan mengenalkan upacara adat dan tradisi budaya masyarakat Sleman.

Festival upacara adat dan tradisi budaya Sleman tahun 2015 di MGM tersebut dibuka dengan penampilan legenda di balik munculnya upacara adat atau Merti sendang Tohino dari Pandowohajo Sleman. Penampilan legenda Merti sendang Tohino mampu memikat ratusan pengunjung festival karena disajikan dengan sendratari yang
Sangat tertata rapi dan menarik.

Legenda berawal dari kisah masa lampau yang menggambarkan banyaknya perempuan di Pandowoharjo, sulit mendapatkan jodoh akibat mempunyai toh atau tompel di pipinya. Karenanya tempat itu disebut Tohino yang artinya terhina akibat toh atau tompel. Saat mereka sedang mandi di sendang diwilayah setempat tiba-tiba muncul seekor belut putih yang sebenarnya adalah seorang putri cantik yang sedang bertapa di sendang tersebut.

Ia sengata menampakkan wujudnya untuk memberitahukan pada warga bahwa disekitar sendang terdapat bambu usodo sehingga bisa dijadikan lokasi menyembuhkan penyakit. Karenanya jika ingin cantik dan cepat mendapatkan jodoh para wanita diminta mandi di sendang tersebut selama 7 hari berturut-turut diwaktu yang sama. Hasilnya sangat mengejutkan karena para perempuan berubah menjadi cantik dan cepat mendapatkan jodoh seperti yang diminta.

Berkah ini disyukuri warga setempat sehingga kini dengan menggelar upacara adat Merti sendang Tohino setahun sekali setiap bulan Ruwah. Tidak hanya Merti sendang Tohino saja yang ditampilkan tetapi 17 kisah dan legenda upacara adat lain dari 17 kecamatan di Sleman ditampilkan dalam festival yang berlangsung dua hari tersebut.

Sementara menurut Kepala Disbudpar Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM  festival ini merupakan sebuah gelar kolosal tradisi unggulan yang bertujuan menjaga eksistensi budaya lokal.

“Kegiatan semacam ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk penguatan sekaligus mewariskan nilai tradisi kepada generasi muda,” kata Ayu, Minggu (6/9).

Sedang bagi pelaku ritual upacara adat dan tradisi, festival ini bisa menjadi wahana apresiasi yang memiliki banyak makna. Ayu menambahkan, penyelenggaraan upacara adat dan tradisi budaya secara esensi menggambarkan keluhuran budi sekaligus rasa syukur kepada Tuhan. Hal ini penting untuk dilestarikan karena akan membentuk lingkungan masyarakat yang memiliki toleransi.

Melalui ajang ini diharapkan tumbuh kompetisi positif sehingga ke depan akan meningkatkan kualitas SDM pelaku ritual upacara adat di wilayah Sleman.

“Pada gilirannya melalui event ini wisatawan akan semakin tertarik berkunjung ke Sleman,” kata Ayu.




17 Kecamatan Tampil Dalam Festival Upacara Adat

IMG-20150905-WA004Sleman – Sebanyak 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman ikut berpartisipasi menampilkan berbagai atraksi kesenian dari masing-masing Kecamatan dalam Festival upacara adat dan tradisi budaya 2015 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman selama dua hari, Sabtu dan Minggu (5-6/9).

Event ini diadakan di taman parkir Museum Gunungapi Merapi (MGM) Hargobinangun Pakem dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Dari  17 Kecamatan tersebut masing-masing wilayah mengirimkan satu kontingen minimal berjumlah 50 orang. Menurut Kepala Disbudpar Sleman Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM  festival ini merupakan sebuah gelar kolosal tradisi unggulan yang bertujuan menjaga eksistensi budaya lokal.

“Kegiatan semacam ini bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk penguatan sekaligus mewariskan nilai tradisi kepada generasi muda,” kata Ayu, Minggu (6/9).

Sementara bagi pelaku ritual upacara adat dan tradisi, festival ini bisa menjadi wahana apresiasi yang memiliki banyak makna. Ayu menambahkan, penyelenggaraan upacara adat dan tradisi budaya secara esensi menggambarkan keluhuran budi sekaligus rasa syukur kepada Tuhan. Hal ini penting untuk dilestarikan karena akan membentuk lingkungan masyarakat yang memiliki toleransi.

Melalui ajang ini diharapkan tumbuh kompetisi positif sehingga ke depan akan meningkatkan kualitas SDM pelaku ritual upacara adat di wilayah Sleman.

“Pada gilirannya melalui event ini wisatawan akan semakin tertarik berkunjung ke Sleman,” kata Ayu.

Karena itu pula dipilih destinasi Museum Gunungapi Merapi (MGM) sebagai lokasi penyelenggaraan agar bisa lebih mengenalkan museum kepada masyarakat.

Dalam festival upacara adat ini  diambil lima penyaji terbaik. Hadiah yang diperebutkan berupa trofi dan uang pembinaan.




Kurang Peminat, 5 Paket Lelang Dishubkominfo Gagal

Sleman – Sebanyak lima paket lelang di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sleman gagal. Gagalnya lelang tersebut dikarenakan kurangnya peminat peserta lelang dan tidak ada yang lolos evaluasi tim dari Unit Layanan Pengadaan (ULP). Demikian dijelaskan Kasubag TU ULP, Ruling Yulianto, Sabtu (5/9).

Menurut Ruling,  lelang yang gagal itu meliputi pengadaan fotosel, kontaktor dan suku cadang pemeliharaan jalan Merapi-Kamdanen senilai Rp 365 juta, lelang pemasangan LPJU dan meterisasi Widodomartani senilai Rp 967 juta, pengadaan dan pemasangan LPJU senilai Rp 550 juta, serta pengadaan armatur titik strategis Rp 463 juta.

“ULP menangani beberapa proses pengadaan lelang sejak Januari-Agustus kemarin dari SKPD di Sleman. Tapi yang gagal hanya di Dishubkominfo, bahkan untuk pengadaan meterisasi Widodomartani diulang dua juga gagal lagi,” kata Ruling.

Gagalnya proses lelang ini karena kurangnya peserta lelang. Ada juga peserta cukup banyak, namun saat dilakukan evaluasi administrasi, teknis, harga dan kualifikasi, para peserta lelang tidak lolos.

“Setelah gagal ini, kami akan tanya ke PPK apakah diulang lagi atau tidak. Kalau tidak diulang, berarti proses dihentikan. Tapi jarang sekali proses lelang ini dihentikan,” katanya.

Dijelaskan pula bahwa paket lelang ini kebetulan pengadaan barang sehingga masih banyak waktu untuk proses lagi. Namun tidak dipungkiri, dengan gagalnya proses lelang ini mengganggu proyek dari Dishubkominfo Sleman. Gagal lelang pengadaan barang memang berbeda dengan lelang fisik. Kalau fisik, gagal lelang bisa berpengaruh pada pengerjaan fisik.

“Mudah-mudahan nanti proses lelang ini bisa ada pemenangnya,” tambah Ruling.