Gatot Serahkan Bantuan Sapi

Serahkan Bantuan SapiSleman – Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi menyerahkan bantuan sapi kepada Kepala Desa Margomulyo Seyegan yang akan diteruskan kepada Ta’mir Masjid Hidayatul Muttaqin Mansel Margomulyo Seyegan. Sapi yang diserahkan kira-kira bobotnya 230 kg supaya disembeli dalam rangka Hari Raya Idhul Adha.

Menurut Gatot penyerahan bantuan sapi kurban tersebut sebagai wujud melaksanakan perintah Alloh untuk saling berbagi terlebih bagi warga Mansel yang masih merupakan daerah minus dengan 300  KK, 200 KK diantaranya masih KK miskin.

“Dengan bantuan sapi ini diharapkan masyarakat dapat ikut merasakan menikmati makan daging sapi yang tidak mesti mereka konsumsi,” kata Gatot.

Penyerahan bantuan dilakukan Rabu, (23/9) di depan Mushola Setda, disaksikan oleh Camat Seyegan, Sekda Sleman, Kabag Kesra, Kabag Umum, Kabag Pemdes, Kabag Adpem dan Kabag Humas.




Selama Dua Hari Ribuan Umat Islam Sholat Idhul Adha

Sleman – Selama dua hari Rabu dan Kamis (23-24/9) ribuan umat Islam melaksanakan ibadah sholat Idul Adha. Sholat Hari Raya Idul Adha 1436 H hari Kamis (24/9) dilaksanakan di Masjid Agung Dr Soediro Hoesodo Sleman dengan imam dan Khotib Kepala Kantor Kementarisn Agama Kabupaten Sleman Drs Ludfi Hamid dijejali ribuan jamaah yang datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Sleman, bahkan tidak sedikit jamaah yang datang dari luar Sleman.

Beberapa pejabat Pemkab Sleman ikut dalam sholat Idhul Adha tersebut. Dalam khotbahnya  Ludfi Hamid  menyampaikan bahwa berkurban dalah berjuang dengan memberikan sesuatu yang telah dimiliki secara benar atas dasar taqwa dan sabar. Sedang berkurban yang dikeluarkan bukan atas dasar taqwa, sabar dan ridho Allah maka harta dan jasa yang telah dikeluarkan menjadi sia-sia.

Disampaikan Ludfi bahwa ada lima hikmah yang dapat diambil dalam berkorban, antara lain   akan mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan di dalam kehidupan dunia dan akherat nanti, kecuali jika  mau mengorbankan apa yang dicintai. Selain itu kehidupan ini tidak kekal, dan banyak hal yang terjadi secara tiba-tiba diluar perkiraan manusia, kadang  didapatkan dalam kehidupan dunia ini hal-hal yang dicintai justru malah cepat pergi, sabaliknya hal-hal yang  Ðibenci malah datang terus.

“Maka Allah menyebut kesenangan dunia tersebut dengan kesenangan yang menipu (mata’u al ghurur) karena akan sirna bahkan berubah menjadi malapetaka, jika cara mengolahnya tidak sesuai tuntunan Allah SWT,” kata Ludfi.

Yang perlu diingat menurut Ludfi bahwa tidak setiap perkara yang dibenci pasti membawa mudharat bagi kehidupan manusia. Terkadang yang terjadi adalah sebaliknya, musibah yang  dianggap akan mendatangkan malapetaka, ternyata malah membawa  kepada kesuksesan besar dalam hidup.

Sementara sholat Idul Adha hari Rabu (23/9) dilaksanakan di lapangan Denggung Tridadi Sleman juga dihadiri oleh ribuan masyarakat sekitar dan para Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemkab Sleman Bertindak sebagai Imam dan Khotib HM Farchan Hariem SE dari Kaliurang, Pakem, Sleman.

Dalam khotbahnya Farhan menyampaikan setelah sholat ied, hari raya Idul Adha mengingatkan pada umat muslim bagaimana perjalanan hidup, perjuangan dan segala ujian yang dialami oleh sosok manusia Ibrahim dan puteranya Ismail.  Ada 3 suri tauladan, pertama sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Alloh adalah yang paling bertaqwa. Yang dinilai dihadapan Alloh bukan derajat, bukan kekayaan, bukan pula jabatan, kedudukan serta pangkat melainkan ketaqwaan.

Dikatakan Farhan semua mahluk hidup pasti akan mati sedang tidak tau kapan ? Dimana ? Dan sebab apa? Akan mati siap tidak siap kita harus siap mati.

“Oleh karenanya kita harus menjaga komitmen keislaman kita kapanpun, dimanapun dan kondisi bagaimanapun,” kata Farhan.

Potret perjalanan Nabi brahim as diabadikan dalam ritual Ibadah Haji, setiap Muslim pasti merindukan dapat menjalankan ibadah haji sesuai dengan Rukun Islam. Kewajiban manusia terhadap Alloh adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah bagi yang mampu sudah barang tentu mampu menurut Alloh, bukan menurut kita, mampu fisik, mampu ilmu, mampu financial/keuangan , bagimana cara kita agar bisa ibadah haji, kita harus yakin sudah dipanggil Alloh SWT.




Sleman Gelar Pelangi Budaya Bumi Merapi

IMG_0888Sleman – Dalam rangka untuk mengekspose dan menginternalisasikan potensi ragam budaya sekaligus untuk mempromosikan sektor pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman akan menggelar event budaya dengan tajuk “Pelangi Budaya Bumi Merapi”, yang akan digelar selama tiga hari berturut-turut mulai Jumat – Minggu ( 25 – 27/9) mendatang, di kompleks Pemkab Sleman.
“Gelaran event ini diharapkan akan menjadi magnet bagi pengunjung dan wisatawan baik domestik maupun manca negara untuk berkunjung ke Kabupaten Sleman,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM dikantornya, Selaa (22/9).
Menurut Ayu, event tahun ini dikemas beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kemasan Pelangi Budaya Bumi Merapi merupakan perpaduan antara 3 event besar di Kabupaten Sleman yang sudah ada sebelumnya, yakni Festival Kesenian Sleman, Festival Bregada Prajurit dan Kirab Pelangi Budaya.
Dengan perpaduan ini diharapkan akan menjadi sajian fenomenal yang mampu menghadirkan pengunjung dan wisatawan untuk menikmati atraksi budaya di akhir bulan ini. Event yang dikemas dalam bentuk kirab budaya ini merupakan wujud ekspresi kehidupan seni budaya masyarakat Sleman. Masyarakat Sleman adalah masyarakat ‘Bumi Merapi’ yang secara riil memiliki kompleksitas dan realita budaya yang masih kental dan terinternalisasi di kalangan masyarakat.
Pada hari pertama, Jumat (25/9)  pukul WIB akan disajikan kegiatan utama berupa Festival Kesenian Sleman dengan format Pawai Seni Tiga Dimensi atau yang kebanyakan orang mengenal dengan ogoh-ogoh dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman. Start dari Lapangan Denggung menuju finish di Lapangan Pemda Sleman.
Selain itu pada pukul WIB juga disajikan 2  jenis atraksi yaitu pentas aneka seni oleh Dimas Diajeng Cilik Sleman di Panggung Utama Lapangan Tennis serta pentas kethoprak PS Bayu dari Pajangan Sleman di Panggung Utara Lapangan Denggung. Pada hari pertama ini diawali dengan pementasan kesenian jathilan pada pukul – WIB di Panggung Utara Lapangan Denggung.
Pada hari kedua, Sabtu (26/9) mulai pukul WIB akan disajikan Festival Bregada Prajurit yang melibatkan 32 kontingen dari 17 kecamatan se Kabupaten Sleman dengan start dari lapangan Pemda menuju Lapangan Denggung. Dilanjutkan pada sore harinya jam dengan pentas seni angklung di Panggung Utara Lapangan Denggung.
Malam harinya mulai pukul WIB dipentaskan Sendratari Ramayana Full Story di Panggung Utara Lapangan Denggung serta Pentas Musik Pensil Alis oleh seniman Anang Batas di Panggung Utama Lapangan Tennis.
Hari ketiga, Minggu (27/9) pukul – WIB merupakan acara puncak yang berupa Karnaval Pelangi Budaya Bumi Merapi yang melibatkan lebih dari 50 kontingen dengan kekuatan lebih dari 1700 personil dari berbagai elemen komunitas seni budaya dan stakeholder pariwisata yaitu hotel, restoran, museum, perguruan tinggi, desa wisata, upacara adat. Bahkan komunitas mahasiswa luar daerah juga akan bergabung dalam event ini, diantaranya komunitas mahasiswa Bali, Banjarnegara dan Kalimantan Barat.



Produk Topi Bordir Joho Rambah Pasar Nasional

Mesin Bermata JarumSleman– Dusun Joho Desa  Condongcatur Kecamatan  Depok Sleman  adalah sentra produksi topi, emblem bordir, jaket dan kaos serta tas. Adalah Jupriyono yang merupakan Kepala Dukuh Joho yang memulai produksi topi di tahun 1975-an. Produksi topi semula hanyalah sebatas perorangan, namun lama kelamaan berkembang menjadi sebuah produksi massal. Tenaga kerja yang direkrut adalah dari lingkungan keluarga. Hingga saat ini terdapat sekitar 30 pengrajin topi dan bordir dengan 2 kelompok yaitu Bordir Mandiri dan Bordir Koprinka.

Sementara untuk pemasaran produk Joho ini, Jupriyono menjelaskan bahwa tidak menghadapi kendala yang berarti. Selama ini warga Joho memperoleh order yang berskala nasional, bahkan Papua pun pernah  memesan produk dari Joho.

Pada tahun 2002, kelompok bordir di Joho memperoleh hibah berupa mesin senilai Rp  450 juta, sehingga produk topi berkembang menjadi berbagai produk lainnya seperti emblem/logo perusahaan dan instansi. Sayangnya saat ini mesin tersebut tidak dioperasikan karena operator mesin sedang keluar kota.

“Hal ini merupakan satu kemajuan mengingat sebelum menggunakan mesin, pengrajin Joho harus membordir topi dan produk lainnya di luar daerah. Dengan mesin bermata jarum 12, warga Joho mampu memproduksi topi dan produk lainnya dalam jumlah ribuan,” kata Jupriyono, Selasa (22/9).

Sedang Supriyono, ketua kelompok bordir menjelaskan bahwa produk yang cukup menguntungkan adalah topi pet, yaitu topi yang dipakai TNI. Order di Joho biasanya padat di bulan Agustus yang merupakan tahun ajaran baru. Pesanan bisa mencapai puluhan ribu item. Dalam satu hari warga Joho bisa memproduksi 3000 topi.

Hingga saat ini, juga masih ada perajin yang mengerjakan topi sulam dengan cara manual. Kebetulan mereka yang mengerjakan topi sulam manual ini adalah para difabel.




200 Siswa SD Ikut Lomba Lukis

Lomba LukisSleman – Sebanyak 200 siswa SD yang merupakan perwakilan dari 17 Kecamatan di Kabupaten Sleman mengikuti Lomba Lukis. Lomba tersebut dimaksudkan untuk menggali potensi anak Sekolah Dasar melalui seni dan budaya, menumbuhkembangkan sikap peduli terhadap seni dan budaya bangsa, memperkenalkan ikan sejak usia dini dan mengetahui manfaatnya bagi kesehatan dan kecerdasan, serta pengenalan produk hasil perikanan kepada masyarakat melalui lomba lukis.

Lomba terbagi dalam dua kategori yaitu kategori A untuk siswa Sekolah Dasar Klas I-III, kategori B untuk siswa Sekolah Dasar klas IV-VI. Lomba lukis itu sendiri dilaksanakan di KPI Mina Taruna Garongan Wonokerto Turi, Selasa (22/9).  Bertindak sebagai juri dalam lomba lukis tersebut P4TK Sani dan Budaya Jogja.

Para masing-masing kategori akan mendapatkan  hadiah berupa  juara I mendapat Trophy Bupati dan 1 buah sepeda lipat, juara II Trophy Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman dan 1 buah sepeda MTB, juara III Trophy Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan 1 buah meja belajar.

Sedang kategori B juara I mendapat Trophy bupati sleman dan 1 buah sepeda lipat, juara II trophy Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan kabupaten sleman dan 1 buah sepada MTB, dan juara III Trophy Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan 1 buah meja belajar.

Sementara  Sekretaris  Dinas Pertanian, Perikanan dan Kabupaten Sleman, Ir Dwi Anta Suidibya MT menyampaikan bahwa lomba lukis tersebut lomba lukis untuk tingkat SD tersebut sebagai salah satu upaya dalam mengkampanyekan gemar makan ikan. Disamping itu juga untuk mengembangkan bakat di bidang seni dan budaya bagi anak-anak sejah usia dini, karena dengan bakat tersebut bisa menjadi faktor keberhasilan dimasa datang.

Setelah melalui penjurian maka untuk lomba lukis tingkat SD Kategori A juara I Labdawara Nirbana SD Suryo III Sleman, Juara II Afifah Zahrani  SD Klenggung Tempel, Juara III Maulana Farel Neal,  SDN Sleman I Sedang kategori B sebagai juara I   Mifka Alivia D SDN Klenggung Tempel, Juara II Laila Farha Paini SD Muh Kronggahan, Gamping dan Juara III Amelia Syahla A SDN Bener Gamping.