PMI Sleman Telah Salurkan Air Bersih ke Prambanan dan Gamping 710.000 Liter

Foto BersamaSleman – Ketua PMI Kabupaten Sleman, dr Sunartono MKes mengatakan pada musim kemarau tahun 2015 ini PMI Kabupaten Sleman telah memberikan bantuan air bersih di wilayah Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Gamping yang mengalami kekeringan sejumlah liter air.

“Bantuan air bersih yang disalurkan tersebut merupakan bantuan dari  Rotary Club Jogja, Taft Disel Indonesia dan  RM Pringsewu,” kata Sunartono, disela-sela peringatan HUT ke 70 PMI Kabupaten Sleman di Pendopo Rumah Dinas Bupati, Minggu (20/9).

Sementara Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi dalam sambutan HUT Ke-70 PMI Kabupaten  Sleman  mengajak untuk membangun komitmen yang lebih baik guna melakukan konsolidasi, koordinasi, sinkronisasi dan revitalisasi dalam tubuh PMI Kabupaten Sleman. Mengingat tugas, tanggung jawab serta tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh PMI Kabupaten Sleman di masa mendatang tidak semakin ringan namun justru semakin berat dan kompleks.

Diharapkan dengan adanya konsolidasi, koordinasi, sinkronisasi dan kerja sama yang baik maka tugas dan tanggung yang berat tersebut akan dapat dilaksanakan dengan baik. Menyikapi tantangan tugas PMI dimasa mendatang yang semakin berat dan sarat dengan berbagai tantangan, perlu disikapi dengan pengembangan manajemen kepengurus­an yang teratur, tertata rapi, baik tenaga, sarana dan dana yang dilakukan secara demokratis dan transparan.

Sebagai konsekuensinya seluruh jajaran pengurus maupun anggota PMI Kabupaten Sleman harus senantiasa meningkatkan penge­tahuan, wawasan dan kemampuannya. Namun upaya pening­katan kualitas SDM tersebut jangan hanya mengan­dalkan dukungan dan bantuan dari PMI, namun hendaknya dapat dilaksakan secara mandiri dan swadaya.

Untuk menunjukkan kiprah dan kinerjanya kepada ma­sya­rakat secara nyata, hendaknya PMI Kabupaten Sleman dapat membuat program penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat. Hal ini dikarenakan pada hakekatnya penanggu­langan bencana bukan hanya pertolongan pada saat darurat saja, tetapi juga upaya pencegahan yang dilakukan bersama-sama masyarakat dan para relawan.

“Saya harapkan agar seluruh Pengurus PMI Kabupaten Sleman periode ini bisa mengoptimalkan peran, ke­mam­puan dan profesioanlismenya, walaupun keberada­annya hanya me­ru­pakan kerja sosial kemanusiaan yang bersifat pengabdian. Peningkatan profesionalisme pengurus PMI sangat diperlukan agar dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan lebih optimal lagi,” kata Gatot.

Pada acara HUT PMI tersebut diberikan bantuan kepada 5 Sekolah Sehat berupa alat-alat UKS Binaan dari PMI Sleman yaitu SMPN 3 Sleman, SMP N 2 Cangkringan, SMK N 2 Depok, SDN  Grunggon, Cangkringan dan SMP Taman Dewasa Ngemplak serta piagam penghargaan bagi yang 25 kali donor darah oleh Penjabat Bupati didampingi Ketua PMI Sleman.

Dilanjutkan juga penandatanganan MOU  PMI Sleman oleh  Sunartono dengan PT Astra,   guna untuk kebutuhan donor darah setiap saat. Juga diberikan piagam penghargaan kepada Rotray Club  dan Taft Diseil Indonesia atas bantuan air bersih melalui PMI Sleman.




Sukses dengan Bisnis Aneka Olahan Ikan

Olahan IkanSleman – Sementara banyak orang sibuk mencari lowongan kerja, Aray D Harjunatin justru mampu membuka lowongan kerja baru melalui kreativitasnya mengolah benih ikan nila menjadi keripik ikan nila yang bernilai ekonomis tinggi. Bermula dari surplus benih Aray D Harjunatin yang biasa dipanggil Aray memulai usahanya dengan berjualan ikan siap konsumsi. Melalui usaha ini Aray mengenal petani ikan nila dan lele yang mensuplai bahan baku usahanya. 

Rupanya ide Aray tidak berhenti hanya dengan usaha ikan konsumsi. Sebagai upaya membantu pemasaran petani pembenih ikan nila yang sering mengalami kendala pada musim kemarau, Aray mengolah benih ikan nila yang tidak dipasarkan menjadi keripik ikan nila.

Balibu, demikian nama usaha ini, yang merupakan akronim dari Bawah Lima Bulan. Aray memang hanya menggunakan ikan nila yang usia pembenihannya tidak lebih dari 3 bulan untuk menjamin kualitas produknya. Ide ini kemudian dipresentasikan di Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman pada tahun 2009.

Gayung bersambut, Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman menyambut baik inovasi baru ini. Aray mendapat dukungan dalam bentuk modal dan peralatan pembuatan keripik ikan nila seperti mesin peniris minyak dan chiller pendingin tempat penyimpanan ikan. Melalui usaha ini, Aray dapat membantu para petani pembenih ikan Kabupaten Sleman yang selama ini sangat bergantung pada tinggi rendahnya air selokan mataram untuk ternak ikan nilanya.

Selain itu melalui usaha ini, Aray dapat membuka lapangan pekerjaan bagi karyawannya. Saat ini Aray telah mempekerjakan 3 orang karyawan tetap yang bertugas produksi dan marketing.

“Saya juga tetap menggunakan tenaga kerja keluarga sehingga sangat membantu usaha saya ini,” kata Aray yang ditemui Bernas di kiosnya Jl Mejing Gamping, Senin (21/9).

Diakui Aray sebelum terjun dalam usaha olahan ikan ini dirinyasempat mengabdi menjadi pekerja kontrak Perhutani Purworejo sebagai tenaga penyuluh ini,  sering diundang menjadi nara sumber diberbagai pelatihan bagi wirausaha muda. Talenta dan pengalaman menjadi tenaga penyuluh sangat membantu bapak satu anak ini untuk  menekuni dunia usaha ini,  ditengah-tengah pemerintah gencar mensosialisasikan masyarakat gemar makan ikan.

Usaha Aray rupanya juga dapat membantu warga sekitar memperoleh penghasilan. Saat ini Aray mampu mempekerjakan 3 orang tenaga kerja dari lingkungan tempat tinggalnya di Jalan Kutilang Perum Sidoarum, Godean, Sleman. Proses pengerjaan yang mudah dan tidak banyak memakan waktu memudahkan Aray dalam memproduksi kripik ini. Oleh karena itu, Aray tidak perlu mempekerjakan terlalu banyak orang dalam proses produksinya.

Untuk proses membersihkan ikan Aray mempekerjakan  orang dari Kelompok Tani Harum dari Kecamatan Gamping. Ikan yang sudah dibersihkan isi perut dan durinya kemudian dibumbui dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin agar hasil gorengan nantinya menjadi lebih renyah.

Setelah didinginkan ikan kemudian dibalut tepung untuk kemudian digoreng dan dikemas. Proses membumbui ikan dan menggoreng dilakukan langsung oleh Aray dan istrinya. Hal ini dilakukan untuk menjaga bumbu rahasia dan kualitas rasa ikan.

“Kita memang lebih enak kerja dengan keluarga sendiri, apalagi pekerjaannya juga tidak terlalu berat,” tambah Aray.

Untuk menambah cita rasa kripik ikan nilanya, Aray memiliki tips khusus. Krispi ikan nila ini melalui dua kali proses penggorengan untuk menambah kerenyahannya. Setelah dari lemari pendingin kemudian langsung digoreng dan sebelum kering diangkat dan ditiriskan. Setelah gorengan pertama dingin baru digoreng untuk kedua kalinya hingga gorengan kering dan renyah.

Berbasis kemitraan Usaha kripik ikan nila ini rupanya telah mendorong perekonomian para petani ikan dan sejumlah tenaga kerja yang bergabung dalam usaha ini. Aray mengakui bahwa usaha ini tidak hanya erorientasi profit namun juga bertujuan untuk membantu para petani pembenih bibit ikan nila. Untuk itu, Aray hanya bermitra dengan kelompok Tani Mina Harum, Mina Kepis dan beberapa petani pembenih yang ada di Kabupaten Sleman.

Dengan demikian Aray dapat berbagi hasil melalui kemitraan yang terjalin sehingga menjadi solusi permasalahan petani pembenih ikan. Demikian juga dalam hal pemasaran, Aray juga menerapkan prinsip yang sama yang berbasis kemitraan. Meskipun telah mampu memasarkan hingga ke luar Provinsi seperti Banjarmasin dan Jakarta namun Aray tetap mengirim produknya ke toko-toko dan rumah makan yang selama ini telah bermitra dengan Balibu meski dalam jumlah kecil.

Untuk memenuhi kebutuhan pemasaran ini, Balibu dikemas dalam 3 macam kemasan yaitu kemasan dengan berat 200 gram seharga , 500 gram seharga dan kemasan 1000 gram seharga . Saat ini, Aray juga bermitra dengan banyak produsen lain untuk menambah variasi produknya menjadi kripik ikan lele, keripik wader, keripik belut, keripik ikan tuna, keripik kulit ikan, abon nila, abon ikan tuna, otak-otak bandeng, bandeng presto dan aneka olahan ikan lainnya.

Produk varian terbaru Aray adalah makanan untir-untir rasa nila, lele, tuna dan bandeng. Selain itu ada kacang telur varian ikan nila, tuna, lele dan bandeng.

“Kedua jenis makanan untir-untir dan kacang telur ini baru beberapa bulan kita produksi namun ternyata banyak juga masyarakat yang menyukai,” tutur Aray.

Dengan basis kemitraan ini Aray juga menggemas produknya dengan berbagai label.

“Saya yakin bahwa konsumen akan tetap mengenali cita rasa krispi ikan nila saya meskipun dengan label yang berbeda,” tutur Aray yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (ASPPIN) Kabupaten Sleman.

Dengan memegang prinsip iklas, tekun, dan jujur serta tidak mudah putus asa dalam menjalankan usaha, diyakini Aray akan membawa berkah dan rejeki yang telah diatur Yang Maha Kuasa. Aray berharap dengan berbagai olahan ini, Aray dapat mendorong para petani ikan menambah penghasilannya. Disamping itu, usaha ini merupakan bentuk dukungan Aray dalam mensukseskan Program Gemar Makan Ikan yang tenggah dicanangkan Kabupaten Sleman.




Kemarau, 2,5 Hektare Lahan Kopi Mati

Sleman – Sebagian tanaman kopi di lereng Merapi, mati akibat kekeringan selama musim kemarau ini. Data sementara, luasan lahan kopi yang terkena dampak kekeringan sekitar 2,5 hektare. Kebanyakan tanaman yang mati itu merupakan bibit baru yang ditanam di lahan bekas erupsi Merapi 2010.

“Sebagian tanaman mati karena kepanasan. Di sekitar area itu memang belum ada pohon perindang,” ungkap Sumijo, salah satu petani kopi asal Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Senin (21/9).

Namun dibandingkan tahun lalu, tingkat kegagalan itu jauh berkurang. Tahun sebelumnya, luasan tanaman yang mati mencapai 60 hektare. Sebenarnya, kata Sumijo, tanaman kopi bisa bertahan selama kemarau. Asalkan banyak pohon perindang di sekitarnya seperti sengon atau lamtoro, sehingga mampu menahan terpaan sinar matahari secara langsung.

Untuk meminimalisir kerugian, petani mengganti tanaman kopinya dengan bibit baru. Bibit itu bisa diperoleh dari koperasi atau mengajukan permohonan bantuan kepada dinas terkait.

“Di koperasi masih ada bibitnya. Tapi untuk menanam sebaiknya menunggu awal musim hujan,” kata Sumijo yang juga Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) “Kebun Makmur”.

Terpisah, Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan, pihaknya terus berupaya mendorong produksi maupun pemasaran biji kopi. Selain fasilitas penunjang, dinas juga memberikan bantuan pupuk dan bibit. Untuk menghindari tengkulak, petani disarankan menjual hasil panennya melalui koperasi.




Tegaltirto Berbah Dikukuhkan Jadi Kampung Siaga Bencana

GladiSleman – Desa Tegaltirto Kecamatan Berbah Sleman dikukuhkan sebagai Kampung Siaga Bencana. Pengukuhan dilakukan Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi bersamaan dengan dilakukannya gladi lapang penanggulangan bencana gempa bumi dan angin puting beliung di Tegaltirto Berbah, Minggu (20/9). 

Dalam gladi lapang digambarkan sebanyak 30 orang mengalami luka berat dan 40 orang luka ringan dan sedang, sementara puluhan rumah mengalami rusak berat dan ringat saat terjadi gempa bumi dan puting beliung di Tegalterto Berbah. Saat gempa terjadi sekitar pukul   WIB  suasanya di Tegaltirto Berbah betul-betul kacau, masyarakat banyak yang menyelamatkan diri tanpa membawa bekal, bahkan ada sebagian keluarga yang lupa penyelamatkan anaknya yang masih balita.

Beruntung sebagin besar anak yang masih balita selamat dari bencana tersebut. Sebagian besar masyarakat menyelamatkan diri di lapangan Tegaltirto, namun tidak sedikit masyarakat yang menyelamatkan diri di pinggir jalan, dengan harapan ada relamat yang menyelamatkan mereka. Beruntung saat kejadian tersebut tidak ada hewan peliharaan yang menjadi korban.

Selain banyak yang luka, banyak pula bangunan dan rumah yang roboh, juga banyak rumah yang gentengnya beterbangan akibat puiting beliung tersebut. Karena suasana saat itu gelap disertai hujan lebat, bahkan masyarakat kebingungan harus menyelamatkan diri kemana.

Hadir sekaligus menjadi Inspektur pada gladi lapang tersebut Gatot Saptadi, yang pada kesempatan tersebut didampingi antara lain Kepala Dinas Sosial DIY, Drs Untung Sukaryadi, dan Kepala Dinas Nakersos, Drs Untoro Budiharjo.

Menanggapi dikukuhkannya  Kampung Siaga Bencana Desa Tegaltirto Berbah, Gatot  menyampaikan bahwa menjadi tantangan agar Desa Tegaltirto lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terjadi bencana, disamping itu dengan pengukuhan tersebut Tegaltirto harus selalu menempa diri dengan berbagai latihan penanggulangan bencana, terutama kesiapan masyarakatnya.

Dikatakan Gatot  bahwa  kampung siaga bencana tersebut jangan hanya sebagai seremonial belaka, namun harus betul-betul siap termasuk menerima menerima limpahan pengungsi dari daerah lain. Termasuk persiapan beberapa divisi seperti divisi Shelter, Bankam, Logistik, pertolongan pertama, TRC maupun dapur umum.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peninjauan lumbung logistik desa tegaltirto yang isinya cukup lengkap,  Gatot pada kesempatan tersebut minta agar lumbung logistik tersebut dikelola dengan baik.

“Yang jelas  saat terjadi bencana jangan mengharapkan bantuan dan kehadiran saat itu juga, karena penanganan bencan ujung tombaknya adalah masyarakat,” tambah Gatot.

Sedangkan Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi melaporkan bahwa maksud penyelanggaraan Kampung Siaga Bencana tersebut untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari resiko dan ancaman bencana. Sedang Gladi lapang tersebut bertujuan memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat  tentang bahaya dan resiko bencana, mengorganisir potensi masyarakat terlatih dalam penaggulangan bencana, dan lainnya.

Peserta dalam gladi lapang dan pembentukan KSB tersebut sebanyak 250 orang yang terdiri Dinas Sosial DIY, instansi sosial Kabupaten/Kota, aparatur desa dan warga masyarakat desa Tegaltirto Berbah. Ditambahkan Untung Sukaryadi bahwa nilai  lumbung logistik tersebut senilai Rp 252 juta.  Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan secara simbolis isi lumbung logistik oleh penjabat Bupati Sleman.




Kementan Evaluasi Pelayanan Publik Pertanian di Sleman

Tim Evaluasi KementanSleman – Tim Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian melakukan evaluasi kinerja pelayanan publik bidang pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Wilayah III, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Jumat (18/9). Evaluasi ini setelah Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Wilayah III Seyegan berhasil mewakili Kabupaten Sleman, untuk mengikuti kompetisi Abdi Bakti Tani 2015.

“Kompetisi ini akan menjadi media bagi BP3K wilayah III Seyegan untuk mengevaluasi penerapan pelayanan publik di bidang pertanian yang selama ini telah dilaksanakan,” kata Asisten Sekda III Kabupaten Sleman, Djoko Handoyo SH.

Menurut Djoko, dalam upaya menerapkan pelayanan publik yang prima bagi masyarakat, BP3K wilayah III Seyegan berusaha untuk mencanangkan berbagai hal untuk mendukung upaya tersebut.

“Beberapa hal yang dicanangkan adalah dengan memberikan informasi secara jelas mengenai jam pelaksanaan pelayanan di BP3K wilayah III Seyegan, baik secara langsung maupun melalui laman (website),” katanya.

Djoko menambahkan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat pelayanan dapat dilaksanakan di luar jam kerja karenanya BP3K wilayah III Seyegan memfasilitasi dengan memasang papan informasi tentang nama petugas dan nomor telepon yang bisa dihubungi, sehingga pengguna layanan dapat menghubungi masing-masing petugas sesuai kebutuhan pelayanan yang diinginkan, termasuk pelayanan di luar jam kerja tetap dilayani.

“Adanya moto dan maklumat pelayanan, sebagai suntikan semangat bagi para petugas dalam memberikan pelayanan sekaligus sebagai refleksi dalam menjalankan tugasnya agar selalu dalam jalurnya,” katanya.

Kepala UPT BP3K Wilayah III Seyegan Ipnu Sutopo mengatakan, wilayah kerja UPT meliputi tiga Kecamtan Seyegan, Tempel, dan Mlati, terdiri dari 18 desa dan 237 dusun/padukuhan.

“Luas wilayah binaan mencapai ,7 hektare lebih dan jumlah kelompok binaan sebanyak 549 kelompok tani, 18 gabungan kelompok tani (gapoktan) dan didukung 36 petugas penyuluh lapangan (PPL),” katanya.

Sementara Mardianis dari Sekretariat Jenderal Kementrian Pertanian RI setelah melakukan pengamatan lapangan dan menyimak paparan dari Kepala UPT BP3K wilayah 3 Seyegan mengatakan menemukan kesesuaian antara kegiatan lapangan dan laporan yang disampaikan.

“Penilaian yang dilakukan dimaksudkan untuk mengevaluasi sejauh mana kinerja pelayanan yang terbaik dilakukan para PPL diberikan kepada petani sehingga dapat meningkatkan produktivitas dalam mendukung swasembada pangan,” katanya.

Dalam kesempatan ini juga ditampilkan aneka produk pertanian meliputi salak pondoh organik dan aneka olahannya, beras organik, pupuk organik, buah-buahan dan hasil bumi serta aneka olahan makanan dan minuman hasil binaan PPL BP3K wilayah III Seyegan.***