BPBD Sleman Himpun Komunitas Relawan

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menghimpun komunitas relawan yang ada di wilayahnya. Hingga saat ini ada 39 komunitas yang dihimpun dengan jumlah anggota orang.

Selanjutnya, organisasi itu akan dipersatukan dalam Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS). “Kami sengaja himpun berbagai komunitas ini dengan tujuan untuk memudahkan koordinasi, terutama saat melaksanakan tugas evakuasi korban bencana alam,” kata Kepala BPBD Sleman, Julisetiono Dwi Wasito, Minggu (4/10).

Para relawan yang sudah tergabung dalam forum ini akan mendapat beberapa fasilitas. Semisal pelatihan SAR, dan bantuan jika mengalami kecelakaan saat bertugas.

Dikatakan Julisetiono bahwa selama ini jika ada relawan yang menjadi korban ketika menjalankan tugas hanya diberi santunan seadanya. Dengan adanya FKKRS akan dialokasikan anggaran khusus. Dia menambahkan, sebenarnya ada 52 komunitas relawan yang terdata di BPBD tapi belum seluruhnya terhimpun. Meski demikian, secara bertahap semuanya akan diajak bergabung.

“Dengan adanya satu jalur komunikasi itu, diharapkan semua pihak lebih siap ketika menghadapi bencana. Selama ini, koordinasi kadang masih saling tumpah tindih,” tutur Julisetiono.




Sleman Menerima Penghargaan WTP

Sleman – Kabupaten Sleman tahun 2015 ini kembali menerima penghargaan WTP atas prestasinya dalam bidang keuangan, dimana dalam laporan keuangannya tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku secara tersebut diserahkan Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro di Gedung Danapala Kementarian Keuangan RI  dan diterima Asekda Bidang Pemerintahan, Sunaryo SHCn mewakili penjabat Bupati Sleman, Jumat (2/10).

Disampaikan Kabag Humas Sleman, Dra Sri Winarti disamping Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Bantul juga menerima penghargaan serupa. Tiga Kabupaten di DIY tersebut diantara 150 Kabupaten di Indonesia yang juga menerima penghargaan.

Sedangkan penghargaan juga diserahkan kepada 50 Kota di Indonesia . Sementara untuk Provinsi yang juga menerima penghargaan serupa sejumlah 26 , dan DIY salah satu penerimanya.

“Penghargaan tersebut tentu prestasi yang harus dipertahankan ditahun mendatang agar predikat WTP tetap bisa dipertahankan,” kata Sri Winarti.




Omzet Petani Ikan Sleman Turun Akibat Kemarau

Sleman– Omzet petani ikan di Kabupaten Sleman mengalami penurunan  drastis akibat dampak musim kemarau yang cukup panjang dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Kemarau panjang menyebabkan pembibitan ikan banyak yang gagal, juga harga pakan mengalami kenaikan akibat dolar naik,” kata Ketua Kelompok Petani Ikan Dusun Bokesan, Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman, Saptono, Minggu (4/10).

Menurut Saptono, kondisi air yang tidak menentu pada saat kemarau membuat benih ikan banyak yang mati.

“Kalau jumlahnya bibit yang mati banyak. Siang panas, pagi hari dingin. Ini Menyebabkan bibit ikan tidak tahan dan banyak yang mati,” katanya.

Saptono menambahkan bibit ikan yang mati tersebut, diantaranya seperti nila dan gurami. Sementara, untuk jenis lele masih bisa bertahan dengan kondisi cuaca seperti ini.

“Kalau jenis lele, masih bisa hidup bibitnya,” kata Saptono.

Saptono yang juga sebagai Pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Mina Ngremboko tersebut mengatakan, permasalahan lain yang dihadapi adalah sejak dua minggu terakhir ini harga pakan ikan naik.

“Nilai tukar rupiah juga berpengaruh. Perkilogram, pakan naik Rp100, kalau dihitung hasil penjualan, tidak nutup, karena penjualan ikan dari kolam harganya tak ada kenaikan,” tuturnya.

Akibat kondisi seperti ini lanjutnya, petani ikan pun harus pintar-pintar untuk memanajemen keuangannya. Agar tetap bisa bertahan, paling tidak hingga akhir tahun nanti.

“Kami perkirakan kondisi ini akan berlangsung sampai Desember. Jadi ya harus pintar-pintar mengelola keuangannya,” kata Saptono.