Penghargaan WTP, Prestasi Yang Harus Dipertahankan

DSC_6292bernasSleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengatakan  Kabupaten Sleman  kembali penghargaan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) atas keberhasilannya menyusun dan menyajikan laporan keuangan, tahun 2014 dengan capaian standar tertinggi dalam Akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah.

“Penghargaan tersebut tentu prestasi yang harus dipertahankan ditahun mendatang agar predikat WTP tetap bisa dipertahankan,” kata Gatot di Sleman, Senin (5/10).

Menurut Gatot  penghargaan ini dapat dicapai berkat kerja keras smua SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab)Sleman dalam upaya untuk mewujudkan pemerintahan yang efektif dan akuntable.

Gatot juga berharap agar seluruh SKPD beserta jajarannya tidak lekas puas dan agar selalu meningkatkan kinerjanya. Bentuk apresiasi tersebut hendaknya mendapat feedback positif, berupa upaya peningkatan dan penyempurnaan baik dalam segi administrasi baik dalam perencanaan strategi implementasi sistem keuangan maupun implementasi serta evaluasi, Pemantapan Regulasi dan Kebijakan SAP yang lebih up date lagi.

Selain itu juga lebih mengoptimalkan sistem aplikasi dan pengendaliannya, Dan peningkatan kapasitas SDM untuk lebih mendukung implementasi SAP berbasis akrual. Seperti diketahui Penghargaan WTP  tersebut diserahkan Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro di Gedung Danapala Kementarian Keuangan RI.
Disamping Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Bantul juga menerima penghargaan serupa.

Tiga Kabupaten di DIY tersebut diantara 150 Kabupaten di Indonesia yang juga menerima penghargaan. Sedangkan penghargaan juga diserahkan kepada 50 Kota di Indonesia. Sementara untuk Provinsi yang juga menerima penghargaan serupa sejumlah 26 , dan DIY salah satu penerimanya.




ASITA DIY Ingin Tingkatkan Kemitraan dengan Pemkab

0510 SLEMAN ASITASleman – ASITA DIY berkomitmen untuk meningkatkan jalinan kemitraan dengan pihak pemerintah daerah. Melalui kemitraan ini diharapkan akan menumbuhkan dan meningkatkan sinergitas dalam pengembangan kepariwisataan di Yogyakarta, termasuk Kabupaten Sleman. Hal tersebut terungkap saat audiensi jajaran Pengurus DPD ASITA DIY Periode 2015-2019 dengan Jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman di Ruang Golong Gilig Disbudpar, Senin (5/10).

Ketua Umum DPD ASITA DIY Periode 2014-2019, Udhi Sudhiyanto didampingi 6 orang jajaran pengurus lainnya, yaitu Sekretaris Jenderal Ratih Puspasari, Waksekjen Mira Rahimudin, Bidang SDM Willy, Bidang Tata Niaga M. Rizky Akbar,  dan Bidang IT Viko dan Dony. Udhi mengatakan bahwa Kepengurusan DPD ASITA DIY Periode 2014-2019 akan turut mendukung pengembangan dan kemajuan kepariwisataan di DIY, termasuk Kabupaten Sleman dengan berbasis IT.

Melalui sinergitas antara para pelaku pariwisata di DIY bersama dengan pemerintah daerah serta didukung dengan fasilitas IT diharapkan perkembangan dan kemajuan pariwisata kedepan akan semakin baik. Pihaknya juga mengajak stakeholder pariwisata yang lain untuk meningkatkan kolaborasi dan kerjasama demi kemajuan kepariwisataan di DIY.

Sementara Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi komitmen ASITA DIY untuk memajukan kepariwisataan di DIY, khususnya Sleman. Dalam kesempatan tersebut Ayu menyatakan bahwa daya tarik wisata bukan hanya semata obyek wisata secara fisik, akan tetapi juga termasuk atraksi seni, budaya maupun kemasan event pariwisata.

Oleh karena itu dikatakan Ayu untuk memadukan potensi dan atraksi wisata tersebut diperlukan adanya pengemasan yang berupa paket-paket wisata. Dalam hal inilah biro perjalanan memiliki peran yang penting, mengingat mereka yang tahu secara riil akan kebutuhan dan tipe-tipe wisatawan baik domestik maupun manca negara. Dengan demikian paket-paket wisata yang tersedia akan dapat memenuhi kebutuhan wisatawan dan mendatangkan kepuasan tersendiri.




Kemarau Panjang, Peternak Jual Sapi

Sleman – Sejumlah peternak di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman terpaksa menjual sapi miliknya karena kesulitan mencari pakan rumput. Meski mereka sudah mengupayakan menanam rumput sendiri tapi hasilnya tidak memuaskan. Banyak tanaman rumput yang mati kering akibat kemarau panjang.

“Terpaksa sapinya dijual dulu karena susah cari pakan. Nanti kalau musim hujan sudah tiba, beli sapi lagi dengan ukuran lebih kecil,” kata Subur (47), salah satu peternak sapi asal huntap Pagerjurang, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Minggu (4/10).

Uang hasil penjualan sapi itu sebagian digunakan untuk membeli pakan konsentrat. Ke depan, dia berharap dinas terkait bisa memberikan edukasi kepada peternak terkait upaya antisipasi menghadapi kemarau. Selama ini, peternak hanya menggunakan ilmu titen dengan menanam rumput di dekat pohon perindang agar tidak terlalu kering. Tapi ternyata cara itu belum efektif. Terlebih pascaerupsi Merapi 2010, lahan mereka banyak yang rusak akibat tertimbun material vulkanik.

“Lebih bagus kalau ada sosialisasi dari pemerintah, bagaimana sebaiknya menghadapi kemarau agar peternak tidak merugi,” katanya.