Jamaah Haji Telah Kembali ke Sleman

Disambut KeluargaSleman – Setelah hari Kamis (8/10), jamaah haji kloter 25 SOC  kembali di Sleman sebanyak 119 jamaah, hari Jumat (9/10) kembali jamaah haji Kloter 27 SOC sebanyak  352 orang, tiba di Sleman  di Masjid Agung Sleman, pukul WIB disambut langsung oleh Penjabat Bupati Sleman Ir Gatot Saptadi. Jamaah haji kloter 27 tersebut tercatat 3 orang meninggal dunia yakni Sriyono, Sofiah dan Damsuki.

Sementara untuk Kloter 28 SOC jumlah jamaah 105 orang, kesemuanya kembali dengan selamat, tiba pukul WIB dan terakhir Kloter 29 SOC jumlah jamaah 350 orang tiba pukul WIB, 3 orang meninggal dunia yakni Ardani, Suyatini dan Washingah.

Gatot pada kesempatan menerima jamaah haji mengatakan begitu banyak hikmah ibadah haji yang diperoleh, baik meningkatkan kedisiplinan, meningkatkan ibadah dan rasa solidaritas juga memunculkan kesabaran.

Dikatakan Gatot setiap kejadian selama menjalankan ibadah haji dapat diambil hikmah agar diri ini semakin tunduk dan taat, karena sesungguhnya  tiada daya upaya melainkan atas kehendakNya. Serta dapat berbagi hikmah dan ilmu yang diperoleh selama menjalani ibadah haji kepada sanak saudara, kerabat dan lingkungan sehingga dapat menularkan nilai-nilai positif guna peningkatan keimanan.




BPBD Sleman Menghimbau Masyarakat Bersihkan Drainase

Sleman – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono SH menghimbau masyarakat untuk bergotong royong membersihkan saluran air hujan dan drainase di wilayah sekitarnya guna mengantisipasi terjadinya luapan air dan banjir saat datangnya musim hujan.

“Masyarakat dapat bersama-sama melakukan pembersihan Saluran Air Hujan (SAH) di sekitarnya, semisal sudah terjadi pendangkalan dilakukan pengerukan dan pembersihan kotoran-kotoran yang menyumbat agar nanti saat datang musim hujan aliran air lancar dan mampu menampung air hujan sehingga tidak menggenang serta menimbulkan banjir,” kata Julisetiono, Jumat (9/10).

Menurut Julisetiono, pada saat musim kemarau SAH memang tidak berfungsi dan kering sehingga kurang mendapat perhatian dan perawatan sehingga penuh dengan kotoran berbagai sampah dan terjadi pendangkalan.

“Ada juga perilaku oknum masyarakat yang membuang sampah di SAH dan drainase di perumahan atau perkampungan. Ini mengakibatkan SAH penuh, sehingga saat musim hujan aliran tersumbat dan meluap di permukiman,” katanya.

Ia mengatakan, pihaknya juga menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terjadinya tanah longsor khususnya di daerah perbukitan dan kawasan bantaran sungai.

“Tanah longsor rawan terjadi di perbukitan di wilayah Kecamatan Prambanan, khususnya di Desa Wukirharjo dan Bokoharjo. Selain itu tebing-tebing sungai juga rawan longsor, terutama di daerah padat pemukiman,” tutur Julisetiono.

Julisetiono menambahkan, kemarau panjang tahun ini mengakibatkan tanah-tanah di kawasan perbukitan Prambanan menjadi kering dan merekah sehingga terjadi beberapa retakan tanah, kondisi ini dapat memicu terjadinya tanah longsor saat musim hujan.

“Jika turun hujan deras, retakan-retakan tanah tersebut kemudian terisi air akan mudah memicu terjadinya tanah longsor. Kami himbau masyarakat di daerah-daerah rawan untuk mulai meningkatkan kewaspadaan,” tambah Julisetiono.

Ia mengatakan, pihaknya juga telah beberapa kali melakukan simulasi penanggulangan bencana tanah longsor di perbukitan Prambanan, sehingga diharapkan masyarakat lebih peka dan tanggap bencanna saat hujan deras turun.

“Kami juga telah membentuk beberapa desa siaga bencana di Prambanan sehingga masyarakat diharapkan lebih siap saat hujan turun yang berpotensi terjadi tanah longsor. Saat ini untuk logistik kedaruratan bencana juga masih sangat mencukupi,” ungkap Julisetiono.

Sementara Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Tony Agus Wijaya mengatakan, diperkirakan musim hujan di DIY akan terjadi pada pertengahan November, dan datangnya musim hujan memang dapat memicu terjadinya bencana alam.

“Musim hujan memang kadang dapat menjadi pemicu bencana, seperti banjir, tanah longsor maupun bencana angin kencang atau puting beliung. Selain itu yang juga patut diwaspadai adalah terjadinya petir,” katanya.




Musim Penghujan Mundur Akibat Pemanasan Global

Sleman – Pemanasan global yang terus menerus terjadi selama bertahun-tahun belakangan mulai dirasakan efeknya oleh masyarakat di Indonesia. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Tony Agus Wijaya mengatakan bahwa musim penghujan di Indonesia di akhir tahun 2015 ini, khususnya Sleman baru akan hadir di minggu ketiga bulan November mendatang.

Hal tersebut menurut Tony mengindikasikan adanya perubahan siklus cuaca, di mana biasanya musim penghujan hadir mulai bulan Oktober.

“Fenomena perubahan iklim tersebut dirasakan oleh semua masyarakat di seluruh dunia. Iklim sekarang seperti jadwal kereta api, ada terlambatnya. Semua ini karena ulah kita sendiri karena banyak memakai kendaraan bermotor ke sana kemari. Fenomena ini tak bisa dielakkan,” kata Tony, Jumat (9/10).

Tony sendiri menjelaskan bahwa walaupun musim penghujan baru dimulai bulan November, namun pihaknya memprediksi akan ada turun hujan pada minggu depan meski hujan ringan. Hal tersebut lanjut Tony merupakan petunjuk bahwa Sleman telah memasuki musim pancaroba yang perlu diwaspadai.

“Musim pancaroba yang akan terjadi di bulan Oktober ini adalah musim peralihan dari kemarau ke penghujan atau sebaliknya. Anomali cuaca berubah drastis di musim pancaroba seperti seringnya terjadi angin kencang yang kecepatannya mencapai 45-60 km per jam, hujan deras ekstrim dalam waktu singkat, dan fenomena petir. Jika hal tersebut terjadi masyarakat diminta berlindung, hindari pohon-pohon tinggi yang rawan tumbang dan rawan tersambar petir serta tebing tinggi yang rawan longsor,” pungkasnya.




Satu Jamaah Haji Sleman Meninggal di Pesawat Saat Pulang

Sleman – Satu orang jemaah haji asal Sleman, H Damsuki (79) warga Dusun Mlangi Nogotirto Kecamatan Gamping Sleman, meninggal dunia di pesawat, Jumat (9/10). Dia mengembuskan nafas terakhir saat pesawat transit di Banda Aceh. Damsuki tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) SOC 27. Saat ini jenazah berada di rumah orang yang sebagian besar tetangga dan kerabat datang bergantian melayat di rumah duka.

Istri dan anak-anak almarhum tampak sedih dan menahan tangis saat menerima ucapan bela sungkawa dari tetangga dan pelayat. M Khoiron salah satu anak Damsuki di rumah duka mengungkapkan ayahnya saat sebelum berangkat di tanah suci kondisinya sudah kurang sehat. Hal itu terlihat saat pemeriksaan kesehatan.

“Karena capek dan selama di tanah suci juga harus dibantu dengan kursi roda,” katanya.

Menurutnya pihak keluarga diberitahu saat pesawat mendarat di Aceh sekitar pukul WIB.

“Dari Bandara Solo langsung dibawa ke sini menggunakan mobil ambulans,” katanya.

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Sleman, HM Luthfi menambahkan kloter S0C 27 yang kembali ke tanah air sebanyak 358 jemaah. Satu orang yakni H Damsuki meninggal saat transit di Aceh.

“Almarhum sakit jantung, saat berangkat dari Jeddah dan Mekah kondisi masih sehat. Dia meninggal di pesawat,” katanya.

Menurutnya total jamaah Sleman yang meninggal ada 6 orang, satu orang meninggal karena musibah crane roboh di Mekkah. Satu orang meninggal saat tragedi Mina dan 4 orang karena sakit.