Seluruh Wilayah Sleman Rawan Bencana Angin Kencang

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman sudah bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana angin kencang pada musim pancaroba. Musim pancaroba yang merupakan peralihan dari musim kemarau ke penghujan.

“Hal yang perlu diwaspadai adalah perubahan cuaca secara ekstrim, salah satunya berupa angin kencang. Dan sekarang ini seluruh wilayah Sleman rawan terhadap bencana angin kencang,” kata Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MHum, Minggu (11/10).

Menurut Julisetiono hal tersebut berdasarkan fakta bahwa pada tanggal 22 April 2015 lalu ketika juga terjadi musim pancaroba tercatat ada sekitar 400 pohon yang tumbang di wilayah Sleman.

“Kecamatan terbanyak terjadinya kasus pohon tumbang adalah Sleman dengan 25 titik kejadian, Seyegan 21 kasus, dan Minggir 14 titik kejadian. Semua wilayah Sleman rawan terhadap bahaya pohon tumbang,” kata Julisetiono.

Sebagai langkah antisipasi lanjutnya, BPBD Sleman menyatakan sudah bekerja dengan beberapa dinas terkait untuk melakukan pendataan berapa banyak pohon di wilayah Sleman yang rawan tumbang.

“Selain itu kami juga akan tertibkan baliho-baliho dan papan iklan di wilayah Sleman, terutama bagian selatan yang rawan rubuh jika ada angin kencang,” tutur Julisetiono.

Lebih lanjut, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Sleman, telah terjadi 19 kali angin kencang di 32 titik di wilayah Sleman pada tahun 2014. Tahun lalu, dalam satu kali kejadian angin kencang sampai menumbangkan 400 pohon. Kejadiannya tersebar di Kecamatan Pakem, Moyudan, Mlati dan Seyegan. Sedangkan pada tahun 2015 tercatat ada 45 kejadian di 112 titik yang tersebar di Kecamatan Minggir dan Seyegan.

“Harapannya sampai akhir 2015 tidak terus bertambah,” tutur Julisetiono.

Untuk mengurangi risiko adanya korban angin kencang dan petir, BPDB Sleman mengimbau masyarakat melakukan kegiatan gotong royong memangkas pohon. Tujuannya untuk mengantisipasi pohon tumbang karena angin kencang.

“Tapi jangan semua pohon lalu ditebang,” tegasnya.




Waspada Mers, Dinkes Lakukan Pantauan Intensif

Sleman – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman melakukan pemantauan intensif terhadap kesehatan jamaah haji Sleman yang baru pulang. Pemantauan itu dilakukan guna mengantispasi kemungkinan penularan Mers pada mereka.

“Guna mengantisipasi kemungkinan penularan Mers bagi jemaah haji yang baru pulang ke Sleman. Kami dari  Dinas Kesehatan secara intensif melakukan pengamatan kesehatan jemaah haji, apakah mereka mengalami gangguan kesehatan yang mengarah pada Mers yang ditandai dengan panas badan tinggi dan sesak nafas,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes, Minggu (11/10).

Untuk setiap jemaah haji yang baru pulang tersebut, menurut Linda sudah diberikan edukasi tentang gejala awal penyakit Mers, termasuk kartu kuning kewaspadaan. Meski demikian guna mengantisipasi kasus Mers di Sleman, tiap Puskesmas tetap menurunkan petugas untuk melakukan surveylance bagi setiap jamaah haji diwilayahnya.

Bagi jamaah haji yang terindikasi terpapar Mers, dijelaskan Linda akan diminta tidak melakukan kontak dengan banyak orang. Bahkan lanjutnya jika terjadi panas tinggi disertai sesak nafas harus dilakukan perawatan di rumah sakit.

“Dari jamaah haji Sleman tahun lalu  terdapat beberapa jamaah haji diantaranya yang dicurigai terpapar Mers. akan tetapi setalah dilakukan perawatan dan uji laboratorium ternyata semuanya negative,” tutur Linda.